Cinta yang tulus itu berasal dari lubuk hatimu, bukan dari matamu.
***
Maxime adalah seorang vampir, namun dia tidak seperti vampir lainnya yang tampan dan menawan. Sejak lahir ada kecacatan di area wajah sampai ke setengah tubuhnya.
Meskipun begitu dia punya kekuatan rahasia di dalam tubuhnya. Kedua orang tuanya dan Maxime sendiri masih berusaha merahasiakan itu dari kaum vampir lainnya.
Selain merahasiakan kekuatan itu, Maxime juga punya rahasia lain, yaitu tentang persahabatannya dengan seorang manusia. Manusia itu bernama Wilona, dan wanita itu seumuran dengan Maxime.
Setiap hari Maxime selalu mengunjungi rumah Wilona diam-diam. Hal itu dilakukannya karena Maxime sangat mencintai Wilona sepenuh hati.
Maxime selalu melindungi dan menjaganya, meskipun wanita itu sudah memiliki pendamping hidupnya. Dia sama sekali tidak peduli akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Yang jelas wanita itu sudah menjadi sahabatnya sejak dia berusia sepuluh tahun. Maxime sangat menghargai orang yang mau menerima dia apa adanya, dan Wilona adalah salah satu orang itu.
Sekarang baik Maxime maupun Wilona telah menginjak usia ke-seratus tahun. Wilona memang sudah menjadi tua dan renta, namun berbeda dengan Maxime, yang masih terlihat bugar seperti layaknya manusia yang berumur dua puluh tahunan. Bagi kaum vampir, umur yang dimiliki Maxime saat ini masih tergolong sangat muda.
***
Akhir-akhir ini Maxime sangat sering mengunjungi Wilona dari biasanya, karena wanita itu sedang sakit keras. Tidak ada siapapun yang merawat Wilona. Orang tua dan suami Wilona sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Sedangkan anak perempuan Wilona selalu menghilang entah kemana.
Wilona selalu merasa bersalah jika mengingat anak perempuannya yang dia beri nama Emma itu. Menurutnya dia sudah salah mendidiknya, hingga membuat anak semata wayangnya itu menjadi liar dan sering memberontak.
TRAKK!
Tampak seorang lelaki berperawakan tinggi dan bugar dari balik pintu. Seperti biasa dia tidak pernah membuka kain hitam yang menutupi setengah wajahnya. Hanya tampak dahi dan matanya saja yang terlihat dari wajah lelaki itu.
"Max. . .?" Wilona memanggil dengan lirih, dia sudah tahu lelaki yang masuk ke kamarnya itu adalah Maxime.
"Willy-ku, aku membawakan sesuatu untukmu!" ucap Maxime sambil meletakkan nampan yang berisi gelas dan sebotol obat misterius ke meja.
Wilona mengernyitkan dahinya, dia yakin Maxime membawa obat yang dia dapat dari penyihir lagi. Sudah puluhan kali dia melakukan itu, dan hingga saat ini tidak ada satu pun obat yang dibawakannya mampu menyembuhkan Wilona.
Wilona sangat lelah dengan apa yang dilakukan Maxime untuknya. Akhirnya hari ini dia memutuskan untuk meyakinkan Maxime, bahwa dia tidak perlu lagi bersikeras menyembuhkan penyakit yang di deritanya.
"Max, kumohon sudahlah. . . aku tidak ingin lagi meminum ramuan yang kamu bawakan. . ." ucap Wilona pelan. Maxime yang mendengarnya langsung menatap tajam Wilona.
"Kenapa? kamu tidak ingin menjadi temanku lagi?" sahut Maxime dengan mengernyitkan dahinya.
"Bukan begitu Max! aku ini manusia, hidupku tidak akan panjang sepertimu . . ."
"Kalau begitu, apa kamu mau menjadi vampir seperti diriku? aku akan melakukannya untukmu!" ujar Maxime yakin.
Wilona yang masih berbaring di tempat tidurnya perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menatap Maxime dengan raut wajah yang di penuhi kesedihan. Dengan pelan Maxine langsung menggenggam erat tangan Wilona yang sudah keriput itu.
"Aku mencintaimu Wilona, di dunia ini hanya kamu yang peduli padaku. Kumohon jangan tinggalkan aku. . ." rengek Maxime dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak Max, kamu tidak sendirian. Aku punya se. . ."
BRAAKK!!!
Suara pintu depan yang terbuka itu, memotong pembicaraan antara Maxime dan Wilona. Dengan cekatan Maxime pun langsung lari menuju sumber suara itu.
Saat sudah berada di ruang tamu, tampak seorang gadis dengan rambut yang di kepang rapi melingkar ke sebelah bahu kanannya. Gadis itu tampak cantik, namun memiliki raut wajah yang sangar. Terdapat juga alat pemanah yang menggantung di punggungnya. Perlahan dia memalingkan wajah untuk menatap Maxime.
"Hei, kamu Maxime Andreas kan?" tanya gadis itu dengan seringai di wajahnya.
"Siapa kau?!" sahut Maxime sambil mengernyitkan dahi.
"Aku Emma!" ucap gadis itu dengan nada angkuhnya.
"Cuih! dasar anak tidak tahu diri! mau apa kau ke sini?!" pekik Maxime sambil menatap tajam Emma. Dia sangat tahu gadis itu sudah menelantarkan ibu kandungnya sendiri.
"Warisan! aku mau warisanku, bukankah nenek tua itu sudah mati?" Emma sengaja berbohong untuk membuat kesal Maxim. Perkataannya pun langsung membuat Maxime geram.
Dia pun langsung berusaha mencengkram leher Emma. Namun Emma dengan cekatan mengambil busur panahnya, dan sudah dalam posisi siap untuk menembakkan panah ke arah Maxime.
"Panah ini terbuat dari kayu Sycamore, vampir sepertimu akan langsung melemah bila tertusuk panah ini!" ujar Emma, masih dengan posisi siap meluncurkan panahnya.
Maxime yang saat itu terhenti karena ancaman Emma, mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan pengetahuan Emma yang sangat tahu betul tentang dirinya dan juga vampir. Sekarang rasa penasaran begejolak di pikiran Maxime.
"Dari mana kamu tahu bahwa aku seorang vampir?" tanya Maxime sambil mencoba berjalan mengitari Emma.
"Hah! Entahlah! yang jelas kaum-kaummu sedang mencarimu saat ini kan?" sahut Emma masih menatap tajam ke arah Maxime.
Maxime semakin di buat kaget dengan pernyataan Emma itu. Perasaannya semakin tidak karuan. Dia menghentikan langkah kakinya sambil menundukkan wajahnya, terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa Maxime sedang memikirkan sesuatu. Melihat raut wajah yang ditunjukkan Maxime, Emma pun mengambil kesempatan itu untuk mengarahkan busur panahnya ke kaki Maxime.
Syuutt!
Anak panah itu langsung mengenai sasaran. Maxime pun perlahan tumbang dan tubuhnya langsung melemah. Namun dia masih bisa menatap Emma yang berjalan mendekat ke arahnya. Emma menendang tubuh Maxime yang saat itu berada dalam posisi miring. Tendangan itu langsung membuat Maxime mengubah posisinya menjadi telentang. Maxime menatap kosong langit-langit rumah hunian Wilona itu.
Dengan tiba-tiba Emma muncul dari pandangannya. Dia memasukkan sejenis ramuan ke dalam mulut Maxime. Saat itu pandangan Maxime perlahan kabur dan langsung menggelap seketika.
***
Tak. . . tak . . . tak . . .
Emma melangkahkan kakinya keluar dari rumah Wilona, dia berjalan menyusuri kaum-kaum vampir yang saat itu bergerombol untuk membawa Maxime.
Dengan rokok di tangan kanannya dia berdiri dengan percaya diri menghadap pimpinan kaum vampir. Emma bertingkah seolah tidak takut sama sekali, padahal kaum vampir itu akan dengan mudah menyerang dan menghisap darahnya.
"Sekarang mana upahku!" tanya Emma pada Erica sang pemimpin vampir.
"Peter cepat serahkan permatanya!" perintah Erica pada salah satu bawahannya.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian para kaum vampir sangat takut pada Maxime, bukankah dia kaum kalian juga?" tanya Emma sambil menyedot rokoknya, lalu perlahan dikeluarkannya asap yang mengepul dari mulutnya.
"Kamu tidak perlu tahu urusan kami manusia tamak!!" sahut Erica dengan seringai di wajahnya. Emma hanya memutar bola mata untuk merespon ejekan Erica. Toh lagi pula dia sudah sering mendengar ejekan-ejekan buruk yang ditujukan untuk dirinya.
Akhirnya permata vampir yang langka itu di serahkan ke tangan Emma. Emma langsung merekahkan bibirnya untuk tersenyum lebar. Dia langsung beranjak pergi dengan menaiki kuda hitamnya, tanpa peduli pada keadaan ibunya.
"Peter!! kau tahu harus melakukan apa!" ucap Erica dengan nada suara yang tinggi. Peter pun langsung paham maksud pimpinannya itu. Dia langsung bergegas mengikuti Emma.
***
Maxime membuka matanya dengan pelan, di sebelahnya sudah tampak seorang gadis yang di rantai sepertinya. Maxime mengangkat tubuhnya yang mulai sedikit bertenaga. Dia langsung melotot ke arah gadis di sampingnya. Gadis yang sudah menyerangnya dan menjadi penyebab dia juga ikut di tawan di sini.
"Hah! tertangkap juga kau!!" ucap Maxime dengan suara seraknya. Namun Emma malah terdiam dan hanya menatap Maxime dengan tatapan kosong. Dia tampak menyandarkan dirinya di dinding yang terbuat dari batu itu.
"Hei anak tidak tahu diri!, apa yang telah terjadi?, mana ibumu?" tanya Maxime dengan melotot ke arah Emma.
"Aku tahu semuanya. . ." gumam Emma tanpa menjawab pertanyaan Maxime.
"Kau adalah vampir yang selama ini aku dan teman-temanku cari! aku menyadarinya saat melihat wajahmu," sambungnya lagi masih dengan tatapan kosongnya.
"Maksudmu?" tanya Maxime penasaran.
"Kau adalah vampir yang ditakdirkan untuk membunuh kaummu sendiri, kami para manusia sudah mencarimu kemana-mana, sampai banyak dari kami melakukan misi bunuh diri untuk masuk ke kerajaan vampir. Ternyata kau selama ini bersembunyi bersama ibuku. . ." jelas Emma dengan panjang lebar.
"Kau! kenapa kau menelantarkan ibumu sendiri?" tanya Maxime dengan mengernyitkan dahinya.
"Ibu! . . . Hahaha, dia bukan ibuku vampir jelek!" sahut Emma dengan tawa gelinya. Saat mendengar perkataan Emma, Maxime pun baru menyadari bahwa kain penutup wajahnya sudah tidak menempel lagi menutupi kecacatan yang ada di bagian wajahnya.
"Aku sudah melepas kain itu sejak awal kau tidak sadarkan diri!" lanjut Emma lagi menatap Maxime dengan datar. Maxime masih menyentuh area cacat di wajahnya, dia terlihat menundukkan kepalanya.
"Ekspresi itu lagi! kau tahu?, karena ekspresi itulah aku bisa menyerangmu. Aku tidak tahu apa yang di kepalamu, tapi yang jelas hal itulah yang membuatmu lengah!" ujar Emma lagi.
"Ketika aku memikirkan kecacatan yang ada di tubuhku, wajah Wilona selalu terlintas di kepalaku. Dia satu-satunya orang yang paling peduli padaku. . ." kata Maxime dengan memasang wajah sendu.
"Pantas dia jarang pulang dan lupa mengurusku dan ayahku, ternyata dia menghabiskan waktu bersamamu?"
"Apa maksudmu?"
"Gara-gara Wilona, ayahku berselingkuh dan pergi meninggalkanku! apa kau tahu sejak umur delapan tahun aku selalu di tinggal sendirian di rumah!! sepertinya ibuku lebih memilih menghabiskan waktu bersamamu di banding dengan diriku!!!" ujar Emma dengan wajah yang memerah karena naik pitam.
Maxime hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Maxime baru menyadari bahwa dia terlalu banyak menyita waktu Wilona untuk menghabiskan waktu untuk menemaninya.
Setelah percakapan itu Maxime dan Emma saling terdiam di balik jeruji besi yang mengurung mereka. Para vampir hanya memberi Emma makan, sedangkan Maxime sengaja dibiarkan kelaparan oleh mereka.
Maxime hanya bisa menelan salivanya ketika melihat Emma menikmati hidangan. Emma beberapakali memberikan makanan untuk Maxime, namun makanan yang diberikannya itu bukanlah selera Maxime. Sebagai vampir dia sangat merindukan darah.
"Kau tahu kenapa teman-temanmu tidak memberimu makan?" tanya Emma sambil mengunyah makanannya.
"Apa?!" Maxime berbalik bertanya.
"Karena akulah makananmu!" ujar Emma masih mengunyah makanannya.
"Aku tidak selera dengan dirimu!" sahut Maxime singkat sambil terkekeh. Perlahan Emma ikut tertawa kecil bersamanya. Emma sebagai manusia berusaha menganggap apa yang dikatakan Maxime adalah hal yang lucu. Toh lagi pula Emma yakin dia akan tetap mati di tempat itu.
***
Lima hari berlalu, Maxime dan Emma menjadi lebih akrab karena dikurung dalam jeruji besi yang sama. Meskipun begitu tubuh Maxime semakin melemah karena tidak ada asupan darah yang diberikan untuknya.
Dia bisa saja menyerang Emma, namun baik Maxime ataupun Emma masih sama-sama di rantai. Sangatlah sulit untuk menggapai Emma bagi Maxime, itulah salah satu hal yang membuat Emma tampak santai dan tidak takut.
Suatu hari Erica datang bersama bawahannya. Dia membuka pintu jeruji besi tempat Maxime dan Emma berada. Dia sengaja membuka rantai Maxime dan Emma, agar bisa saling menyerang satu sama lain. Erica dan bawahannya pun pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.
"Apa kamu akan menghisap darahku sekarang?" tanya Emma pelan sambil berdiri di pojokan. Bukannya menyerang Emma, Maxime malah menyerang pintu jeruji besi. Dia menarik jeruji besi itu dengan sekuat tenaga. Emma hanya bisa terdiam sambil menontoninya.
"Aaarrrgghhhh!!!" teriak Maxime saat berusaha menghancurkan pintu jeruji besi.
TRANGG!!!
Jeruji besi itu seketika sudah di hancurkan oleh Maxime. Emma yang melihat langsung membelalakkan matanya, karena merasa kagum dan juga tidak percaya.
"Kenapa kau tidak melakukannya dari awal?!" tanya Emma dengan nada tingginya.
"Karena rantai yang mengikatku di beri mantra oleh Erica, membuatku lemah dan tidak berdaya! sekarang ayo kita keluar dari sini!"
"Baik! aku akan melindungimu dari belakang!" sahut Emma dengan percaya diri.
"Astaga Emma, di saat seperti ini kau masih saja bersikap angkuh!" keluh Maxime. Maxime pun berjalan secepat kilat, meninggalkan Emma yang larinya tidak secepat kaum vampir.
"Dasar vampir jelek! dia meninggalkanku!" gumam Emma sambil berlari berusaha mengejar Maxime.
Setelah lama berlari, akhirnya Emma keluar dari tempat yang mengurungnya. Dia langsung di buat kaget ketika melihat mayat-mayat vampir ada di mana-mana.
Sambil berjalan mata Emma menyapu ke sekeliling tempat itu. Lalu dari kejauhan dia bisa melihat Maxime sedang mencengkeram leher Erica. Emma semakin membelalakkan matanya ketika Maxime menghisap darah Erica.
Emma hanya bisa mematung ketika melihatnya, Maxime sangat terlihat ganas saat itu. Bajunya pun sudah terlihat dipenuhi dengan darah. 'Mungkinkah Maxime yang membunuh semua vampir di sini?" batin Emma bertanya-tanya.
Erica pun melemah, dan kehilangan nyawa. Maxime langsung menghempaskan tubuhnya ke tanah. Perlahan Maxime memalingkan wajahnya untuk melihat Emma yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Emma di buat kaget ketika melihat kecacatan yang ada di wajah Maxime sedikit berkurang.
"A-a-apa yang terjadi padamu?" tanya Emma pada Maxime yang berusaha berjalan mendekatinya.
"Bukankah kau bilang kau mengetahui semua tentang diriku?" ucap Maxime sambil menatap Emma yang masih tertegun melihatnya.
Emma tidak menyangka bisa melihat apa yang sering dibicarakan teman-temannya tentang Maxime. Padahal dia dan teman-temannya menganggap keberadaan vampir seperti Maxime hanya mitos saja. Menurut teman-temannya Emma, Maxime hanya tertarik menghisap sesama kaumnya, dia dianggap kanibal berbahaya bagi seluruh kaum vampir. Itulah alasan kenapa para vampir terus berusaha mencari Maxime. Kecacatan di seluruh tubuhnya akan menghilang, jika dia bisa menghisap darah seluruh pimpinan vampir.
"Emma bilang pada teman-temanmu, aku akan menyelesaikan semuanya sendiri!" ucap Maxime pada Emma sambil merapikan bajunya.
"Tapi, bolehkah aku ikut membantumu?" sahut Emma dengan penuh harap, karena setelah melihat apa yang dilakukan Maxime pada kaumnya sendiri. Membuat Emma percaya sepenuhnya pada Maxime.
"Pulanglah Emma, aku akan sekalian mencari ibumu, kata para vampir dia sedang di bawa oleh pimpinan Gerald!"
"Tapi. . ."
Emma langsung terdiam ketika melihat Maxime yang sudah beranjak pergi secepat kilat darinya.
Saat itu Emma melihat dua jalan pilihan. Kembali pada teman-temannya atau mengikuti Maxime. Perlahan dia melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Emma pun melangkahkan kakinya ke jalan yang sama dengan Maxime.
~TAMAT~