Suara tangisku yang memecah keheningan malam. Meratapi kehidupan yang aku anggap tidak adil dan ingin aku hentikan. Harus kah aku melanjutkan kehidupan yang bagaikan neraka ini?
Yah, aku masi terlalu muda untuk semua ini. Tetapi dosa ku mungkin sudah tidak bisa di ampuni.
Brakk! Suara jendela kamar ku yang tiba-tiba terbuka.
"Siapa disana?" teriak ku
Bahkan detik berikutnya menjadi lebih mencekam tatkala aku mendengar suara goresan yang menyayat tembok kamar ku.
"Sudahlah, aku terlalu lelah untuk semua ini." Ucap ku dengan lesu
"Temani Aku ... Mama, aku ingin merasakan pelukan mu."
Terdengar suara seseorang yang membuat ku semakin cemas dan ketakutan.
"Siapa? Siapa disana? Keluar lah, perlihatkan wujud mu. Jangan menakuti ku!" teriak ku dengan isak tangis yang semakin menjadi jadi-jadi.
"Mama ...."
Dapatkan kalian berfikir siapa dia? Siapa yang memanggil ku mama?
Yah, dia adalah anakku. Lebih tepat nya anak yang aku aborsi ketika masi berusia satu bulan. Ini bukan sepenuhnya kesalahan ku, ini adalah ulah para bajingan yang merenggut kesucian ku beberapa waktu lalu. Hancur ... Hidupku sudah hancur. Dan lebih bodoh nya bahkan aku menghancurkan hidup calon anakku.
Ingin rasanya aku mengakhiri kehidupan yang menyakitkan ini untuk menebus kesalahan ku kepada anakku.
"Sayang, maafkan mama. Mama aku menemani mu disana. Kamu tenang ya nak." ucapku sambil menangis dan bersiap untuk melompat dari lantai 11 apartemen ku.
Brukk!
Ada yang menarik kaki ku, siapa?
"Mama ... Hiduplah dengan tenang disini. Aku tidak akan menakuti mu lagi. Aku hanya merindukan mu.
Mama ...."
Anakku, itu anakku. wajahnya pucat dengan tangan dan kaki yang terpotong. Mata nya pun menghilang satu dengan tengkorak kepala yang remuk. Aku merasa sudah tidak pantas lagi untuk di maafkan. Aku ingin menebus semua dosa ini dengan cara mati.
Tuhan, tolong ampuni aku. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku. Berikan aku waktu untuk menjadi lebih baik demi almarhumah anakku.
"Maafkan mama nak, mama tidak akan mengecewakan mu lagi. Maafkan mama."