Angin terus berhembus dengan kencang hingga membuat kain gorden terus bergerak tidak karuan.
"Kencang sekali, harus segera ditutup nih, " ujarnya seraya menutupkan jendela.
Setelah menutupkan jendela, ia pun melangkahkan kakinya untuk menaiki ranjangnya. Lalu ia menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
Baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba saja terdengar seperti adanya panggilan masuk pada ponsel yang berada di atas laci samping tempat tidurnya.
Ia pun mau tidak mau membuka matanya kembali dan mengambil ponselnya.
📞 Halo?
📞 Haahhh..Raniii...
📞 Halo, kau siapa? tau darimana namaku?
📞 ....
Rani yang bingung dari penelepon tidak dikenal itu, ia pun akhirnya memutuskan telepon secara sepihak.
"Aneh! Nelepon tapi gak ngomong apa-apa, menggangguku saja, "
"Mending lanjut tidur, "
Kini matahari mulai terbit, udara pagi hari begitu segar. Banyak warga sekitar yang membangun pagi harinya dengan olahraga maupun membersihkan halaman depan rumahnya. Sama halnya dengan Rani, ia asik lari pagi dengan santai.
"Eh, neng Rani rajin banget olaharaga pagi-pagi, "sapa bu Susi.
"Iya, bu. Biar sehat terus hehe.. "
"Ya sudah, lanjutkan, "
"Kalo gitu, saya duluan ya, bu? "
"Iya silakan, neng. "
Setelah berbincang-bincang, Rani pun melanjutkan larinya. Namun disaat sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba saja ada yang menghampiri Rani.
"Rani, "
"Kevin? "
Mata Rani begitu berbinar-binar melihat sang kekasih berada di depannya saat ini. Rani pun dengan cepat memeluknya dengan erat dan begitu pun dengan Kevin, ia juga membalas pelukan hangat dari Rani dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu, " ucap Kevin.
"Aku juga, kamu pasti lelah ya selama 3 hari melakukan pendakian? "
"Tidak apa, ini pun demi kamu. Kalau aku bisa lalui tantangan itu, aku kan pasti dapat kerjaan lebih tinggi lagi lalu upahnya semakin tinggi juga. Bisa cepat deh nikahin kamu, "jelas Kevin dengan senyumannya.
Rani mendengar hal itu, ia sangat senang dan juga terharu apa yang dipikirkan kekasihnya selama ini.
"Kamu bela-belain begitu demi aku? "
"Iya, "
"Aku sangat beruntung punya kekasih sepertimu, "
"Aku akan seperti ini hanya selalu padamu, "
"Ya sudah, ayo pulang. Sini tasnya biar ku bantu bawa, " tawar Rani.
"Gak usah, sayang. Ini berat, "
"Baiklah, kalau begitu. "
Akhirnya mereka pun pulang bersama. Sesampainya di rumah, Rani menyiapkan teh hangat dan beberapa makanan untuk dihidangkan pada Kevin.
"Wah, memang gak salah pilih aku, kamu jadi calon istriku. "
"Kamu bisa aja, "ucapnya seraya tersenyum malu.
"Rani? "
"Ada apa, sayang? "
"Sejujurnya, aku merasa bersalah. Apa yang kita lakukan sekarang ini, itu salah Rani. "
"Bagaimana jika, aku antar kamu kembali ke orang tua kamu, ya sayang? " imbuh Kevin.
"Sayang, kamu tau kan orang tuaku gimana? Mereka masih gak setuju sama kamu. Dan aku lakukan ini semua itu karena kamu. Aku hanya mau menikahimu saja gak mau yang lain. "
"Aku ngerti, sayang. Tapi, apakah dengan nikah lari seperti ini akan membuat kehidupan rumah tangga kita akan tenang dan bahagia seterusnya? "
"..."
"Tapi, aku gak mau pisah denganmu, "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, mata Rani mulai meneteskan air mata. Perlahan air mata tersebut mulai membasahi pipinya.
Melihat hal tersebut, akhirnya Kevin memegang pundak Rani dengan kedua tangannya. Lalu berkata..
"Sayang, kumohon turuti ucapanku, ya? Pernikahan kita akan lebih baik, jika ada restu dari orang tuamu, ya sayang? "
"Aku janji, aku akan selalu ada di sisimu. Semoga dengan usahaku sekarang ini, bisa membuat orang tuamu membuka matanya untukku dan menerimaku. "
"Benar, ya? "
"Iya, sayang. "
Keesokan harinya, Rani dan Kevin bersiap akan kembali ke rumah orang tua Rani. Mereka menghabiskan perjalanan selama kurang lebih 2 jam.
"Mau apa kamu? " tanya sang ibu.
"Ibu, aku...-"
"Bu, saya antarkan kembali Rani. Tolong jangan marahi Rani. Kami sadar, apa yang kami lakukan ini salah. Tolong maafkan kami, bu? " ucap Kevin.
"..."
"Ibu? " panggil Rani.
"Masuk sana, "titah sang ibu dengan raut muka datar.
"Kamu masuk ya, sayang? "ucap Kevin.
"Tapi.. -"
"Sayang, turutilah. "
Walaupun dengan berat hati, Rani tetap melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah.
"Sudah, kau bisa pergi dari sini. "
"Baik, bu. Tolong jaga Rani. "
"Dia anak saya, dan saya lebih tau apa yang harus saya lakukan. "
Setelah mengucapkan beberapa kata tersebut, ibu Rani pun kembali menutupkan pintu rumahnya.
Rani memasuki kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di ranjang seraya menangis karena terpaksa harus menuruti keinginan Kevin.
"Ibu, ayah pulang, "
"Eh ayah, sini yah. Ibu sudah buatkan makanan kesukaan ayah, nih. "
"Wah, kelihatan enak ya, bu? "
"Pastilah ayo makan, yah. "
"Iya. "
Di tengah asik menikmati hidangannya, telinga Ayah Rani terusik dengan suara samar-samar seperti isakan tangis perempuan.
"Bu, Rani ada di sini? "
"Iya, ada di kamarnya, "jawabnya dengan malas.
"Kenapa ibu membiarkannya masuk? "
Ayah Rani memutuskan menghentikan aktivitas makannya, lalu ia pun berdiri dan akan pergi ke kamar Rani.
Belum sempat ia langkahkan kaki, ia tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara jatuh barang dari arah dapur.
'Prangg'
"Apa itu, yah? "
"Sudahlah, itu mungkin tikus. Ayah akan ke kamarnya sekarang dan usir anak itu,"
Baru saja melangkahkan satu kaki, ayah Rani merasakan sakit di lehernya dan ia teriak dengan kencang karena kesakitan.
'Aaagghhhhh!!!'
"Ayahhhh!! "teriak sang istri.
"Ayah kenapaa?!! "
Kondisi ayah Rani begitu mengkhawatirkan. Matanya terus menatap ke atas serta urat wajahnya semakin terlihat jelas. Selain itu, dari kulitnya juga terlihat mulai memerah dan ada beberapa juga yang mulai berwarna biru.
"Bb... Bb.. bu to.. to.. tolong a.. ayah, "
"Ayahhh.. Jangan tinggalin ibu! "
Karena teriakan sang ayah tadi, Rani pun keluar kamar dan melihat apa yang terjadi.
"AYAH?! "
'Kalau kau berani mengusirnya, aku akan... -'ucap sosok tak kasat mata seraya mencekiknya.
"Ra.. Ra.. Rani, ayah minta maaf, " ucapnya serak.
"Ngga, ayah gak salah Rani yang salah, maafkan Rani, "
"Kamu.. Hidup dengan rukun.. bersama ibumu, ya? "
"hikss..."
"Agghhhh " teriak sang ayah.
"Ayahh?! "
Setelah berteriak, ayah Rina mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Lalu menoleh pada Rani dan memeluknya.
"hikss...hikss.., "tangis sang ayah.
"Ayah sadar, kamu putri ayah yang paling penting. Ayah tidak akan memaksamu lagi menikahi pilihan ayah. "
"Ayah? Serius? "
"Iya, "
"Makasih, ayah. "
"Iya, nak. "
"Bu? "panggil ayah pada sang istri.
"Ibu juga, tidak akan lagi memaksamu. Ibu juga sadar kebahagiaanmu lebih penting dari apapun, "ucapnya lalu tersenyum.
"hikss.., " tangis Rani lalu memeluk ibunya.
"Sudah, sayang. Jangan menangis lagi. Mari kita makan bersama. "
"Iya. "
"Rani senang, bisa makan bersama seperti dulu lagi sekarang, "
"Ibu juga, ayo makan yang banyak sayang dan ayah juga, "
"Tentu, sayang. "ucap sang suami.
Kini ayah, ibu beserta Rina sangat menikmati kebahagiaan mereka dalam makan bersama. Sampai terdengar suara ketukan pintu yang menandakan ada seseorang yang datang. Ibu Rani pun membukakan pintu tersebut dan terlihatlah seorang pria sedang berdiri.
"Kau? "
"Bu, aku ingin menemui Rani? Bolehkah? "
"Hm, masuklah. "
"Terima kasih, "ucapnya lalu melangkahkan kakinya.
"Kevin? i..i.. ibu membolehkannya..-"
"Iya, sayang. Kamu bicaralah dengan tenang dengannya,ya? "ucapnya seraya tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.
"Rani, aku ingin minta sesuatu padamu. "
"Apa? "
"Kamu hiduplah dengan pria yang sungguh-sungguh mencintaimu, "
"Kenapa kamu bilang begitu? Kamu gak mencintaiku lagi? "
"Bukan, aku...- "
Belum sempat selesai bicara, tiba-tiba ponsel Rani berdering lalu Rani pun pergi ke kamarnya dan mengangkatnya.
📞 Halo?
📞 Apa benar ini, Rani?
📞 Iya, saya sendiri. Anda siapa, ya?
📞 Kami dari tim penyelamat, ingin memberi informasi terkait telah ditemukan jasad sudah tak bernyawa bernama Kevin di Gunung *** 3 hari yang lalu hal ini sepertinya diduga karena tersesat. Dan kami akan mengantarkan jasadnya ke tempat anda. Jadi, bolehkah saya meminta lokasinya dari anda, nona Rani?
📞 Apa?!
Begitu mendengar kabar, Rani pun berlari ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya Rani, ia tidak lagi melihat Kevin yang tadi berdiri bersamanya.
"KEVINNNN!!!" teriak histerisnya.
"hikss... hikss... "
Ayah dan ibu Rani mendengar teriakan Rani. Lalu mereka pun bergegas menghampiri putri mereka.
"Sayang, kenapa? "tanya sang ibu.
"Ibu... hikss.. Kevin udah meninggal.."
"Apa?! "
"Terus tadi, siapa? "tanyanya seakan tak percaya.
"Gatau.. hikss.. "
"Rani, Kevin meninggal kata siapa? "tanya sang ayah.
"Ini, yah, "ucapnya seraya memberikan ponselnya.
Ayah Rani mengambil ponsel dari tangan Rani dan mendengarkan informasi dengan seksama dari tim penyelamat yang berada di telepon tersebut. Pembicaraan mereka pun diakhiri dengan sang ayah memberikan informasi sebuah alamat pada tim penyelamat.
Kini jasad kevin telah diantarkan pada rumah kedua orang tuanya dan selesai sampai sesi pemakaman.
'Rani, aku hanya ingin menyampaikan hal ini. Aku menampakkan diri padamu, sebab aku rindu. Dan itu, rindu yang tidak akan terbalaskan lagi. Aku senang kamu kembali pada orang tuamu dan ingatlah apa yang ku katakan sebelumnya. Hiduplah dengan pria yang sungguh-sungguh mencintaimu. Jadi, ikhlaskan aku, sayang, sampai jumpa lagi.'
Perlahan roh Kevin berubah menjadi beberapa kepingan kecil dan mulai terbawa angin lalu sedikit demi sedikit mulai menghilang dari pandangan Rani.
"Kevinn?! nggaa jangan pergi?!"
"KEVINNN!"
-END-