Sebuah Cerpen Psikologis
CHAPTER 1: TERBANGUN
Jam menunjukkan pukul 01.13 dini hari.
Arjuna Simbolon terbangun dengan napas tersengal. Tanpa dia sadari, tangannya meremas selimut dengan kuat. Keringat dingin membasahi dahinya, rambutnya yang hitam legam lengket menempel di pelipis. Jantungnya berdetak begitu kencang seolah ingin meledak dari dadanya.
Lagi.
Mimpi itu datang lagi.
Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, berusaha mengatur napas. Dinding kamarnya yang biasa terasa asing di tengah kegelapan malam. Cahaya bulan menyusup tipis melalui celah gorden, menciptakan bayangan-bayangan yang bergoyang.
Kepompong raksasa.
Itulah yang dia lihat. Seperti biasa. Seperti yang sudah terjadi ratusan kali sejak dia berusia lima tahun.
Arjuna masih bisa merasakan tekstur dinding kepompong itu—lembut tapi menjerat, hangat tapi mencekik. Dia terjebak di dalamnya, tubuhnya melengkung mengikuti bentuk ruang sempit itu. Cahaya redup menyusup dari luar, tapi tidak cukup untuk melihat dengan jelas. Hanya cukup untuk membuatnya tahu bahwa dia sendirian. Sangat sendirian.
Yang paling mengerikan adalah perasaan itu—perasaan bahwa kepompong itu hidup. Dindingnya bergerak, berdenyut, seperti jantung raksasa yang mengelilinginya. Dan setiap kali dia mencoba berteriak, suaranya tertelan. Setiap kali dia mencoba bergerak, ruang itu menyempit.
Arjuna meraih ponselnya, cahaya layar menyilaukan matanya yang masih menyesuaikan. Tidak ada pesan. Tidak ada notifikasi. Hanya angka 01.13 yang berkedip di layar.
Selalu jam 1 atau jam 3.
Tidak pernah jam lain.
Dia bangkit dari tempat tidur, kakinya terasa berat. Berjalan ke jendela kamarnya. Dari lantai dua rumahnya di kawasan Medan, dia bisa melihat jalanan yang sunyi. Lampu jalan menyala redup, sesekali ada motor yang melintas. Masih malam, udara juga terlalu dingin.
Tapi di ujung jalan, dia melihat sesuatu.
Sesosok bayangan berdiri di bawah pohon asam. Tidak bergerak. Hanya berdiri. Menatap ke arah rumahnya.
Jantung Arjuna berhenti sedetik.
Dia mengedipkan mata, dan bayangan itu menghilang.
'Aku mulai gila,' pikirnya.
Arjuna kembali ke tempat tidur, tapi matanya tidak bisa terpejam. Di kepalanya, memori-memori mimpi lama mulai bermunculan seperti slideshow yang tidak bisa dihentikan.
Usia lima tahun: Rumah asing dengan jendela-jendela tinggi. Tawa perempuan yang memekakkan telinga. Seorang anak perempuan seusianya berdiri di ujung koridor, menatapnya dengan mata kosong, tersenyum—senyuman yang terlalu lebar, terlalu tidak wajar. Saat dia mencoba berlari, kakinya tidak bisa bergerak. Saat dia mencoba berteriak, tidak ada suara yang keluar.
Terbangun. Jam 03.00.
Usia tujuh tahun: Tempat yang sama. Selalu tempat yang sama. Koridor panjang dengan pintu-pintu identik. Dia membuka satu pintu—di dalamnya cermin besar. Tapi pantulan di cermin bukan dirinya. Itu adalah anak laki-laki lain dengan wajah yang sama, tapi matanya... matanya berbeda. Gelap. Kosong. Pantulan itu tersenyum dan mengangkat tangannya. Arjuna tidak mengangkat tangannya.
Terbangun. Jam 01.00.
Usia sembilan tahun: Mimpi tentang tempat itu lagi. Kali ini dia tidak sendirian. Ada anak-anak lain—berjejer di sebuah ruangan putih. Mereka semua duduk diam, menatap ke depan. Ada orang-orang berkostum putih di sekeliling mereka. Salah satu orang itu mendekatinya, wajahnya blur, tidak jelas. Orang itu berbicara, tapi Arjuna tidak mendengar suara—hanya dengungan rendah yang membuat kepalanya sakit.
Terbangun. Jam 03.00.
Usia dua belas tahun: Pulau terpencil. Tidak ada orang. Hanya pasir putih, laut yang tenang tapi terlalu tenang, dan langit yang warnanya salah—terlalu orange, seperti sedang terbakar. Dia berjalan di pantai itu, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak yang langsung terhapus oleh ombak. Dia merasa sedang mencari sesuatu. Atau seseorang. Tapi dia tidak tahu siapa atau apa.
Terbangun. Jam 01.00.
Usia lima belas tahun: Kepompong untuk pertama kalinya. Gelap. Sempit. Hangat tapi menakutkan. Dia bisa mendengar suara dari luar—tapi teredam, seperti mendengar dari bawah air. Suara perempuan. Suara laki-laki. Suara yang familiar tapi tidak bisa dia kenali. Dia mencoba keluar, tapi tidak ada jalan keluar. Kepompong itu adalah penjara. Dan sesuatu di luar sedang menunggu.
Terbangun. Jam 03.00.
Dan sekarang, usia delapan belas tahun, mimpi kepompong itu semakin nyata. Bukan lagi seperti mimpi. Lebih seperti... ingatan.
Tapi ingatan dari apa?
Arjuna meraih buku diary lama yang dia simpan di laci nakas—buku yang dia temukan bulan lalu saat membersihkan loteng. Tulisan tangannya sendiri dari usia tujuh tahun, kekanak-kanakan tapi jelas:
"Aku bermimpi tentang tempat itu lagi. Tempat dengan koridor panjang. Ada anak perempuan di sana. Dia selalu di sana. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi aku merasa aku harus mengingatnya. Kenapa aku harus mengingatnya?"
Di bawahnya, ada sketsa sederhana: seorang gadis kecil dengan rambut panjang, berdiri di kejauhan.
Dan di margin halaman, dengan tulisan yang lebih gelap, seperti ditekan keras:
"Dia ada di sana. Dia selalu ada."
Arjuna menutup buku itu, merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Pagi akan segera datang. Dia harus bersiap untuk sekolah. Hari ini ada rapat OSIS penting. Dia adalah ketua OSIS SMA Kartika Utama, peringkat dua di sekolah, dan dia harus memimpin rapat tentang festival sekolah.
Tapi yang ada di pikirannya bukan festival. Bukan rapat. Bukan bahkan ujian minggu depan.
Yang ada di pikirannya adalah mimpi itu. Dan pertanyaan yang sama yang terus menghantuinya sejak kecil:
Apa sebenarnya yang terjadi padaku?
________________________________________
Pagi datang dengan langit mendung. Arjuna berdiri di depan cermin, menatap pantulannya sendiri. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap. Wajahnya yang biasanya segar sekarang tampak lelah. Tapi dia harus pergi. Hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa tidur yang cukup.
"Arjuna! Sarapan!" suara ibunya, Rosinta, terdengar dari lantai bawah.
Arjuna turun dengan langkah berat. Di meja makan, ayahnya Bastian sudah duduk sambil membaca koran, ibunya menyiapkan nasi goreng—favorit Arjuna.
"Kau terlihat lelah, Nak," kata Rosinta, matanya penuh kekhawatiran. "Mimpi buruk lagi?"
Arjuna mengangguk pelan sambil duduk. "Seperti biasa, Ma."
Bastian menurunkan korannya, menatap anak laki-lakinya dengan serius. "Kau sudah dewasa sekarang, Jun. Mimpi itu pasti ada penjelasannya. Mungkin stress karena sekolah?"
"Mungkin," jawab Arjuna, meski dia tahu itu bukan jawabannya. Mimpi-mimpi ini sudah ada sejak jauh sebelum dia punya tanggungjawab sebagai ketua OSIS. Sejak jauh sebelum dia harus khawatir tentang nilai atau kuliah.
Rosinta duduk di sampingnya, mengusap rambut Arjuna dengan lembut. "Kalau kau mau, kita bisa ke psikolog, Jun. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan."
Arjuna tersenyum tipis pada ibunya. "Nanti ya, Ma. Aku harus fokus dulu sama festival sekolah. Setelah itu... mungkin."
Tapi deep down, Arjuna tahu. Psikolog tidak akan bisa menjelaskan kenapa dia bermimpi tentang tempat yang sama selama 13 tahun. Kenapa dia selalu terbangun di jam yang sama. Kenapa mimpi itu terasa seperti... ingatan.
________________________________________
SMA Kartika Utama adalah sekolah favorit di Medan. Gedungnya megah, fasilitas lengkap, siswa-siswa berprestasi. Arjuna sampai di sekolah pukul 07.00, masih tiga puluh menit sebelum bel masuk.
Koridor sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa siswa yang datang pagi. Arjuna berjalan menuju ruang OSIS, tas di punggungnya terasa lebih berat dari biasanya.
Tapi saat melewati koridor lantai dua, dia berhenti.
Ada yang aneh.
Koridor itu... familiar. Terlalu familiar.
Dinding putih. Jendela-jendela tinggi. Pintu-pintu kelas yang berjejer.
Seperti di mimpinya.
Arjuna menggelengkan kepala. 'Jangan paranoid,' pikirnya. 'Semua sekolah seperti ini.'
Tapi perasaan itu tidak hilang. Sensasi déjà vu yang kuat. Seperti dia pernah berdiri di tempat ini sebelumnya, di waktu yang berbeda, di kondisi yang berbeda.
"Arjuna!"
Suara itu membuatnya tersentak. Dia menoleh dan melihat sahabatnya, Jonathan Prasetyo, berlari menghampiri dengan senyum lebar.
"Kaget aku, Jon," keluh Arjuna.
"Maaf, maaf. Kau bengong gitu. Mimpi buruk lagi ya semalam?" Jonathan sudah tahu tentang mimpi-mimpi Arjuna. Mereka sahabat sejak SMP, dan Arjuna pernah bercerita tentang masalah tidurnya.
"Iya. Yang kepompong itu lagi."
Jonathan menepuk bahu Arjuna. "Kau butuh liburan, Bro. Atau pacar. Atau keduanya."
Arjuna tertawa kecil. "Liburan mungkin. Pacar? Nanti dulu."
"Kenapa nanti? Kau ketua OSIS, peringkat dua, cakep lagi. Banyak yang naksir tau."
"Aku lagi tidak mood mikirin itu, Jon."
Mereka berjalan bersama menuju ruang OSIS. Tapi di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seseorang yang membuat langkah Arjuna terhenti.
Valencya Gunawan.
Gadis Tionghoa-Indonesia itu berjalan dengan langkah percaya diri, tas di bahu kanannya, rambut panjang hitamnya diikat setengah. Kulitnya putih bersih, matanya tajam di balik kacamata minus tipis. Dia juara pertama di sekolah, rival akademis Arjuna, dan dikenal sebagai gadis yang dingin—tidak banyak bicara, jarang tersenyum, selalu fokus pada tugas.
Tapi yang membuat Arjuna berhenti bukan itu semua.
Yang membuatnya berhenti adalah... perasaan aneh yang muncul setiap kali dia melihat Valencya.
Seperti dia mengenali gadis itu. Dari tempat yang tidak bisa dia ingat.
Valencya melirik Arjuna sekilas—tatapan dingin yang biasa. Tapi untuk sesaat, sangat sebentar, Arjuna melihat sesuatu di matanya. Sesuatu seperti... pengenalan. Seperti dia juga merasakan hal yang sama.
Lalu Valencya berjalan lewat, melanjutkan perjalanannya ke kelas.
"Earth to Arjuna?" Jonathan melambaikan tangan di depan wajah Arjuna. "Kau bengong lagi."
"Aku... tidak apa-apa."
"Kau lihat Valencya seperti kau baru lihat hantu."
Arjuna menggeleng. "Bukan apa-apa."
Tapi di dalam hatinya, pertanyaan itu muncul lagi. Pertanyaan yang sudah mengganggu dia sejak kelas 1 SMA, sejak pertama kali dia bertemu Valencya.
'Kenapa aku merasa seperti pernah mengenal dia?'
________________________________________
Rapat OSIS berjalan seperti biasa. Pembahasan tentang festival, pembagian tugas, perdebatan kecil tentang budget. Arjuna memimpin dengan baik, meski pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Setelah rapat selesai, Arjuna memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Dia punya waktu kosong sebelum kelas dimulai. Mungkin membaca bisa mengalihkan pikirannya.
Perpustakaan SMA Kartika Utama adalah salah satu yang terlengkap di kota. Tiga lantai penuh buku, ruang baca yang nyaman, dan yang paling penting—sepi dan tenang.
Arjuna berjalan di antara rak-rak buku, jari-jarinya menyusuri punggung buku-buku lama. Dia tidak mencari buku tertentu, hanya berjalan, menikmati ketenangan.
Tapi kemudian, di bagian arsip lama, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah kardus berisi kliping koran lama. Kardus itu terbuka sedikit, seperti baru saja ada yang melihatnya.
Arjuna penasaran. Dia membuka kardus itu, mengeluarkan beberapa kliping.
Koran lokal tahun 2014.
Salah satu headline membuat napasnya terhenti:
"LEMBAGA PENELITIAN PSIKOLOGI ANAK 'CAHAYA MASA DEPAN' DITUTUP PAKSA - DUGAAN PRAKTIK TIDAK ETIS"
Arjuna membaca artikel itu dengan cepat. Jantungnya berdebar.
"Lembaga penelitian yang mengkhususkan diri pada terapi memori untuk anak-anak dengan trauma ditutup setelah beberapa orang tua melaporkan perubahan perilaku aneh pada anak-anak mereka. Program yang disebut 'Terapi Adaptif Memori' ini melibatkan 15 anak berusia 5-7 tahun. Metode yang digunakan diduga melibatkan manipulasi ingatan dan eksperimen psikologis yang tidak sesuai dengan etika penelitian..."
Arjuna terus membaca. Ada foto gedung—gedung modern tiga lantai dengan arsitektur yang futuristik.
Gedung yang dia kenal.
Gedung yang sering muncul di mimpinya.
Tangannya bergetar saat dia membaca lebih lanjut:
"Program ini berafiliasi dengan beberapa TK di Medan, termasuk TK Cahaya Harapan, di mana subjek penelitian direkrut..."
TK Cahaya Harapan.
Arjuna pernah bersekolah di sana. Dia ingat karena ibunya pernah menceritakan.
Dia memasukkan kliping itu ke dalam tasnya, jantungnya berdebar kencang. Dia harus mencari tahu lebih banyak.
________________________________________
Sisa hari sekolah berlalu dalam kabur. Arjuna tidak bisa fokus di kelas. Pikirannya terus kembali ke artikel itu. Ke gedung di foto. Ke mimpi-mimpinya.
Apakah dia... apakah dia adalah salah satu dari 15 anak itu?
Apakah mimpi-mimpinya bukan mimpi, tapi... ingatan?
Bel pulang berbunyi. Siswa-siswa berhamburan keluar. Tapi Arjuna tidak langsung pulang. Dia pergi ke kantor guru BK, mencari Bu Soraya Hanum—guru BK yang dikenal ramah dan bisa dipercaya.
Bu Soraya sedang membereskan meja nya ketika Arjuna mengetuk pintu.
"Arjuna? Ada yang bisa Ibu bantu?"
Arjuna masuk, menutup pintu di belakangnya. "Bu, saya ingin tanya sesuatu. Tentang... TK Cahaya Harapan."
Ekspresi Bu Soraya berubah. Senyumnya memudar, digantikan dengan tatapan serius.
"Kenapa kau tanya tentang itu?"
"Saya menemukan artikel tentang lembaga penelitian yang berafiliasi dengan TK itu. Saya... saya pernah bersekolah di sana, Bu. Saat saya kecil."
Bu Soraya diam sejenak, seperti sedang memutuskan sesuatu. Akhirnya, dia menghela napas panjang.
"Duduk dulu, Arjuna."
Arjuna duduk, menunggu.
Bu Soraya membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah folder lama. "Apa yang akan Ibu katakan... sangat rahasia. Ibu tidak seharusnya memberitahumu. Tapi... Ibu rasa kau berhak tahu."
Dia membuka folder itu. Di dalamnya, ada list nama. 15 nama.
Dan nama Arjuna Simbolon ada di sana.
"Kau adalah salah satu dari mereka," kata Bu Soraya pelan. "Salah satu dari 15 anak yang terlibat dalam program Terapi Adaptif Memori tahun 2011-2013."
Dunia Arjuna berputar.
"Apa... apa yang mereka lakukan pada kami?"
Bu Soraya terlihat sedih. "Program itu dimaksudkan untuk membantu anak-anak dengan trauma—menciptakan 'safe space' dalam pikiran kalian, semacam tempat di mana ingatan traumatis bisa disimpan tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari. Tapi metodenya... metodenya bermasalah. Mereka menggunakan hipnosis mendalam, sugesti, bahkan induced dream states. Mereka tidak hanya menyimpan memori traumatis—mereka juga tidak sengaja menciptakan mimpi-mimpi recurring yang terus menghantui subjek."
"Kepompong," bisik Arjuna. "Aku selalu bermimpi tentang kepompong."
Bu Soraya mengangguk. "Kepompong adalah salah satu simbol yang mereka gunakan. 'Safe cocoon' mereka menyebutnya. Tempat di mana anak-anak bisa 'bersembunyi' dari trauma. Tapi bagi banyak subjek, kepompong itu malah menjadi penjara di pikiran mereka sendiri."
Arjuna merasa mual. "Kenapa orang tua saya tidak pernah cerita?"
"Kebanyakan orang tua tidak tahu detail program. Mereka hanya diberitahu ini adalah 'terapi inovatif'. Dan setelah program ditutup, ada semacam settlement—keluarga diminta untuk tidak membicarakan hal ini. Trauma legal yang rumit."
Arjuna menatap list nama itu. Matanya berhenti di satu nama.
Valencya Gunawan.
"Valencya..." bisiknya.
"Ya," kata Bu Soraya. "Dia juga salah satu subjek. Sebenarnya, ada tujuh dari 15 subjek yang bersekolah di SMA ini."
Arjuna terperangah. Valencya juga mengalami hal yang sama. Gadis yang selalu terlihat sempurna dan terkontrol itu... juga punya mimpi buruk yang sama?
"Bu, apa yang harus saya lakukan?"
Bu Soraya tersenyum sedih. "Itu keputusanmu, Arjuna. Tapi Ibu sarankan... bicaralah dengan subjek lain. Kalian tidak sendirian. Dan mungkin... mungkin dengan saling berbagi, kalian bisa menemukan cara untuk... melepaskan diri dari kepompong itu."