Layar laptop yang menampilkan angka-angka laporan yang sudah dipoles berkali-kali. Tapi Rara tetap saja tidak bisa fokus dan berkali-kali memeriksanya kembali. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Di ruangan yang sepi itu, tiba-tiba handphonenya berdering, menampilkan nama "Paman Joko"—nomor yang jarang sekali menelponnya. Rara pun langsung mengangkatnya.
"Rara, maaf ganggu kamu malam-malam begini..." Suara paman terdengar lemah dan tertekan.
"Gapapa, Paman. Santai saja. Apa ada masalah?"
Rara, nak. Kakekmu sekarang sedang sakit. Kali ini lebih parah dari biasanya, dan dia minta paman untuk menghubungimu supaya kamu mau menemuinya sebentar.
"Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar hati Rara saat itu juga. Dia terdiam sejenak, berjalan menuju jendela dan melihat ke arah luar. Mobil-mobil yang berjejer dan orang-orang yang sibuk kesana-kemari. "Sudah berapa lama ya orang-orang di sini tidak pulang? Dua tahun? Tiga tahun? Atau bahkan lebih dari itu?" gumam Rara dalam hati.
"Rara, kamu masih dengar paman kan?" Paman Joko memanggil Rara lagi.
"Baik, Paman. Rara akan pulang ke desa. Mungkin besok pagi aku sudah sampai di sana.
"Setelah telepon terputus, Rara secepatnya menutup laptopnya. Di benak dia mulai terbayang wajah kakek dengan rambut putih yang tebal, wajah berkerut yang senantiasa tersenyum, dan tangan yang selalu menciptakan masakan lezat untuknya. Tapi kapan terakhir kali dia melihatnya? Ketika dia lulus kuliah. Saat itu, kakek memberikan tabungan kecil miliknya yang selama ini dijaga dengan baik, sambil berkata: "Jangan lupa pulang ya, Rara. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu.
"Dia keluar dari kantor dan melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke stasiun. Udara malam yang terasa dingin dan sejuk tidak bisa mendamaikan relung hatinya yang gelisah dan bingung. "Kenapa aku harus sibuk dengan semua ini sampai aku lupa dengan hal yang sangat penting ini?" gumam Rara sambil menyesali semuanya.
Setelah lima jam yang terasa abadi di dalam kereta, akhirnya berhentilah di stasiun kecil yang ada di desa dekat rumah kakek. Jam menunjukkan pukul 04.45 pagi. Matahari belum terbit, tapi udara sudah terasa segar dengan bau dedaunan kering yang dia rindukan banget. Dia mengambil tasnya dan melangkah keluar. Langkahnya sedikit goyah karena lelah, tapi hati sudah berdebar kencang tidak sabar untuk berjumpa dengan sang kakek tercinta.
Jalan menuju rumah kakek hanya butuh sekitar lima belas menit dengan berjalan kaki. Dia berjalan melewati lorong yang sempit, pepohonan bambu yang rimbun, dan melihat pohon jambu yang masih ada di depan rumah tetangga.
Mendekati rumah kakek, dia melihat lampu depan rumah masih menyala lembut. Kondisi rumahnya sama seperti dulu, dengan pohon rambutan yang sedang berbuah lebat di depan rumahnya. Suasana rindu makin menyelimuti hatinya. Pintu rumah kebetulan tidak terkunci, jadi dia pun bergegas masuk.
Kemudian Rara berjalan ke halaman belakang dan melihat kakek yang sedang berdiri di sana. "Kakek... Kakek dimana?" panggil Rara.
Kakek menoleh ke belakang. Mata yang sedikit buram langsung menyipit, lalu tersenyum lebar seolah tidak ada yang salah. "Aku tahu kamu akan pulang, nak," ucapnya dengan suara pelan namun sangat senang.
Rara langsung memeluk kakek dengan erat. "Kenapa kakek tidak memberitahu aku kalau kakek sakit?" tanya dia pelan.
Kakek mengusap punggungnya, suaranya sedikit gemetar: "Aku tidak mau mengganggu urusanmu di kota, nak. Kamu butuh bekerja untuk hidup, kan?"
Setelah bertemu dengan kakek, tidak berselang lama matahari mulai terlihat. Rara kemudian menghampiri kamar yang dulu pernah jadi kamarnya saat masih kecil. "Tempat tidurku dulu ternyata masih dijaga baik oleh kakek ya. Meskipun tidak dihuni, kamar ini tetap bersih dan rapi. Kamar kecil yang sederhana tapi penuh dengan kehangatan." Tiba-tiba Rara merasa sangat lelah dan tertidur pulas ketika membaringkan badan di atas ranjang.
Setelah beberapa jam tidak melihat Rara, kakek bergumam dalam hati: "Matahari sudah mulai terang, tapi dimana Rara sekarang? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" Kakek mencarinya ke sekeliling rumah tapi tidak menemukannya. Di sisi lain, alarm di handphone Rara berdering sangat kencang—alarm yang biasanya membangunkan dia sebelum berangkat kerja. Rara membuka matanya perlahan, mematikan alarm, dan melihat jam menunjukkan pukul 08.30. Dia masih mengantuk dan pelan-pelan menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah kakek. "Ya Tuhan... Aku kan sedang di rumah kakek, kenapa bisa tidur selelap ini?"
Rara pun bergegas bangun dan mencari kakek.
Ketika sampai di dapur, Rara melihat kakek yang sedang menyiapkan sarapan lezat untuknya. "Kakek... Kenapa kakek bekerja? Kamu kan lagi sakit. Ayo duduk dulu, biar aku yang melanjutkannya," kata Rara.
"Kamu dimana aja sih, nak? Dari tadi kakek cari kamu tapi nggak ketemu. Aku mau bilang kalau sarapannya sudah jadi, tapi panggil-panggil kamu tidak nyaut-nyaut," kata kakek sambil melanjutkan menggoreng kerupuk.
"Iya, Kek. Maaf, tadi Rara ketiduran di kamar," ucap Rara.
"Ya udah, kamu duduk aja dulu," kata kakek.
Rara berjalan ke ruang makan dan melihat banyak makanan yang sudah disiapkan di meja. "Kakek hari ini masak banyak banget. Pasti kakek capek banget, aduh... Jadi nggak enak nih," ucapnya.
Kakek datang membawa satu toples kerupuk ikan yang baru saja digoreng. "Kerupuknya sudah siap. Sekarang mari kita makan, pasti enak makan sup ayam ditemani kerupuk ikan gini. Ayo, kamu makan pasti kamu lapar kan?" kata kakek menyeru Rara.
"Maaf ya, Kek. Selama ini Rara jarang pulang dan kurang perhatian sama kakek. Buat kedepannya, Rara bakal sering-sering pulang buat nemenin kakek," ucap Rara dengan penuh penyesalan.
"Iya, cucu. Nggak apa-apa kok. Kakek tahu kamu selama ini sibuk. Lain kali sering-sering aja datang kesini, supaya kamu juga nggak bosen di kota karena nggak ada kakek di sana. Iya kan? Ya udah, makan dulu gih," ucap kakek sambil tertawa ringan.
Rara menarik kursi dan menikmati sup buatan kakek dengan sangat lahap. "Wah, Kakek. Rasa sup buatanmu memang tidak pernah berubah ya! Sejauh apapun aku pergi, aku pasti tidak menemukan cita rasa selezat ini selain di rumah kakek," ucap Rara kepada kakek.
"Bisa aja kamu tuh. Kalau begitu kamu habisin semua juga boleh. Kalau masih kurang, kakek bisa buatkan lagi nanti," ucap kakek sambil tertawa ringan. "Yaudah, Rara. Kamu makan sampai kenyang ya. Setelah itu, tolong ambilkan obat kakek di lemari depan.
"Baiklah, Kek," jawab Rara.
Sore hari pun tiba, waktunya kakek untuk meminum obat untuk yang kedua kalinya. Kakek sedang duduk di depan teras rumah sambil melihat sekeliling. Rara yang baru saja selesai mengambil obat menyajikanya di meja teras, lalu ikut duduk tepat di sebelah kakek.
"Kek, rambutan kita sejak dulu hingga sekarang tidak pernah ada duanya ya di desa ini. Pohon inilah yang paling besar, lebat, dan buahnya manis," ujar Rara.
"Iya, nak. Pohon rambutan ini sudah ada sejak kakek masih muda. Wajar saja kalau tumbuh sebesar ini," kata kakek.
"Wah, berarti pohonnya sudah lama banget dong, Kek. Kayak teman setia rumah kita aja ya. Tanpa pohon rambutan ini, nuansa rumah kita pasti berbeda dan terasa ada yang kurang," ujar Rara.
"Apa dulu almarhum Ayah juga suka makan buah rambutan, Kek?"
"Tentu saja. Ayahmu dulu suka banget makan rambutan. Sekalinya dia naik ke atas pohon, susah sekali kakek suruh dia turun," ucap kakek.
"Itu rambutan bakal banyak yang merah sebentar lagi. Yang sebelah sana udah mulai ada yang matang. Kamu kalau mau ambil aja pakai bambu yang ada di sebelah pagar itu," kata kakek.
"Iya, Kek. Oh iya, Kek, ini obatnya. Buruan kakek minum sebelum kesorean ya?" tanya Rara dengan khawatir, sambil mendorong cangkir obat ke arah kakek.
Kakek mengambil cangkirnya dan menelan obat dengan air hangat. "Yaudah, kek. Yang penting kamu jaga kesehatan terus ya dan selalu minum obat tepat waktu ya," kata Rara.
Setelah beberapa hari tinggal bersama kakek, suara kakek makin hari makin melemah. Belakangan ini, kakek semakin sering meriang dan kesulitan berjalan meskipun obatnya sudah diminum rutin. Rasa sakitnya tetap ada.
Karena merasa cemas, Rara menghubungi paman untuk segera mengantar kakek ke dokter. "Paman, Kakek semakin parah nih. Besok pagi usahain antar kita ke dokter ya, supaya kakek bisa ditangani lebih lanjut," ujarnya dengan tegas namun penuh perhatian.
"Iya Ra, kamu benar. Paman akhir-akhir ini terlalu sibuk sampai lupa ngurusin Kakek. Besok pagi kita langsung bawa ke rumah sakit aja," jawab paman dengan kesal pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, mereka membawa kakek ke rumah sakit terdekat. Hasil pemeriksaan menunjukkan kakek menderita tekanan darah tinggi dan radang sendi yang membutuhkan pengobatan teratur, pola makan sehat, dan istirahat cukup.
Kemudian Rara dan paman berunding tentang perawatan kakek. "Sebaiknya untuk sementara Kakek tinggal bersama Paman dulu ya, Kek. Biar ada yang jaga kakek terus selama kakek sakit," ujar Rara sambil membimbing tangan kakek."Yaudah, sementara kakek ikut pamanmu dulu,"jawab kakek pada Rara.
Dulu paman Rara memang pernah mengajak kakek untuk tinggal bersama. Namun, kakek menolaknya karena, tidak bisa meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan itu terbengkalai begitu saja.
Selama di desa, Rara harus mengambil cuti tambahan sedikit, tapi bosnya memahaminya. Rara selalu mengingatkan kakek: "Kek, waktunya minum obat nih. Tepat waktu ya!" Rara juga menyiapkan makanan sehat seperti sayuran dan buah, serta setiap sore mengajak kakek berjalan santai di sekitar kampung.
Setelah lima hari di desa, waktu Rara semakin terbatas—dia hanya bisa mengambil cuti satu minggu saja. Di hari keenam, mereka berkemas untuk pergi ke rumah paman.
"Itu dia, Paman udah datang, Kek," kata Rara sambil menunjuk mobil yang memasuki pekarangan.
"Ayo, Kek. Kita masuk aja," ucap Rara. "Udah nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya paman sambil membuka pintu mobil.
"Enggak kok. Semuanya udah Rara siapin tadi," jawab Rara dengan penuh keyakinan.
Mereka pun segera menuju rumah paman yang jaraknya lumayan jauh. "Besok pagi paman aja yang antar kamu ke stasiun ya Ra. Ada stasiun yang nggak jauh dari rumah paman juga kok," ucap paman.
"Oke, Paman," jawab Rara dengan riang.
Keesokan harinya, kakek ikut paman mengantar Rara ke stasiun. Setelah sampai, Rara berdiri di depan gerbang stasiun dengan tas di pundaknya. Matanya berbinar-binar melihat kakek yang berdiri di depannya dengan tangan memegang satu ikat rambutan yang begitu merah menggoda.
"Kek, ini apa lagi? Barang bawaan Rara kan udah banyak loh," ujar Rara sambil tersenyum meskipun matanya sedikit lembab.
"Udah bawa aja buat cemilan kamu di kereta. Siapa tahu pas sampai di kota kamu kangen sama rambutan kakek. Oh iya, di kota jangan sampai telat makan ya, nak. Jangan khawatirin Kakek, fokus aja sama kerjaan kamu. Kalau ada apa-apa, biar paman langsung hubungi kamu," ucap kakek.
Kereta mulai bersiul "Tuuu... Tuuu..." menandakan waktunya Rara pergi telah tiba. Rara memeluk kakek dengan erat. "Baiklah, Kek. Aku pasti telepon Paman setiap hari untuk menanyakan keadaan kakek. Jangan lupa makan yang sehat ya. Aku pergi dulu!"
Di dalam kereta, Rara membuka beberapa rambutan dan memakannya, rasanya sangat manis dan segar. Rasa manis dari kampung yang membuat dia bisa merasakan kehangatan kampung halaman meskipun jarak membentang begitu jauh. Rambutan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Rara selama tinggal bersama kakek di kampung.
Setelah beberapa jam, Rara pun tiba di kota. Dia keluar dari kereta dan melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi berjejer rapi. "Inilah tempatku mengadu nasib saat ini—tempat dimana aku melupakan Kakek dan semua kenanganku di desa selama beberapa tahun terakhir," ucapnya dalam hati.
Dia mengangkat rambutan yang ada di tangannya sambil tersenyum lebar. Dia berkata: "Tapi itu tidak lagi! Sekarang apapun yang terjadi, aku akan sesering mungkin kembali ke desa." Rara pun berjalan pergi dari stasiun dengan langkah sigap untuk memulai semuanya kembali dengan lebih baik lagi.
Beberapa hari telah berlalu. Sekarang Rara sudah mulai bekerja seperti biasa, namun sekarang ada yang berbeda. Di sudut meja ada sebuah foto manis yang begitu berharga, yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Sebuah foto Rara bersama kakek di bawah pohon rambutan yang selama ini menemani kehidupan mereka. Suasana kampung di dalam foto itu begitu mengikat hati.
Setiap kali dia melihatnya, hatinya terpanggil untuk kembali ke tempat dia berasal. Meski foto itu terlihat kecil tapi bagi Rara mampu menghilangkan semua jarak yang memisahkan dirinya dan tempat asalnya.
Dia memang tidak bisa sering pulang, tapi akan berusaha mencoba setidaknya sekali sebulan untuk kembali dan menemui kakeknya yang tercinta. Karena sekarang, dia tidak akan membiarkan jarak menjadi pemisah antara dirinya dengan hal-hal yang dia cintai.