Note;
Bxb, rate M!
Happy Reading
---
Satu-satunya pintu dikunci, dan dibuang kunci ke segala arah.
Haechan duduk di lantai kayu, punggungnya nempel ke dinding dingin. Nafasnya berat, dada naik turun, baju sobek di bagian bahu. Perih, tapi bukan itu yang bikin tubuhnya gemetar.
Mark berdiri di seberangnya, tubuh tinggi itu diselimuti bayangan. Tatapannya kosong, tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang meledak dalam diam. Seperti seseorang yang udah kehilangan kendali... sejak lama.
"Gue udah bilang buat jangan kabur lagi," suara Mark serak dan pelan, nyaris seperti bisikan.
"Tapi lo selalu nyoba ninggalin gue." lanjutnya.
Haechan mendongak, mata tajamnya gak luntur walau ketakutan.
"Karena lo bukan milik gue, dan gue bukan milik lo."
Mark berjalan pelan, sepatunya berdecit di lantai. Dia berjongkok tepat di depan Haechan, tangannya naik ngebelai pipi Haechan dengan gerakan yang anehnya lembut.
Tapi itu cuma topeng.
Dalam sekejap, dia nyeret Haechan ke pangkuannya, nyium bibirnya keras. Nafas mereka bertabrakan. Haechan coba menendang, memukul, tapi Mark tak goyah. Ciuman itu paksaan, tapi penuh kerinduan dan juga amarah.
"Mmh.. ah!"
Tak lama Mark melepas ciumannya, kemudian berbisik.
"Lo tahu, gue bisa punya siapa aja. Tapi gue gak mau siapa pun."
Tangan Mark bergerak liar melepas sisa baju Haechan satu per satu, seolah melepas beban yang selama ini dia tahan. Kulit ketemu kulit. Dingin. Panas. Liar.
Haechan terengah, bibirnya gemetar, dia baru sadar...
Dia sudah pasrah.
Tapi bukan karena dia lemah. Karena jauh di dalam, dia juga udah tidak bisa lari dari obsesi yang sama.
Tangan Mark bergerak pelan menyusuri tulang selangka Haechan, dingin jemarinya menabrak hangat kulit yang lembab oleh keringat dan sisa luka. Nafas mereka menjadi satu, berat, panas, layaknya dua jiwa yang terbakar api dan sulit untuk padam.
"Nghh..."
Haechan menggigit bibir bawahnya sendiri saat Mark ngeresapi aroma lehernya, bibirnya mencium bekas luka di bahu, luka yang dibuat sendiri olehnya. Ada getir di sana, tapi Mark mencium dan menghirup lehernya seolah itu pusaka.
"Ada darah lo di tubuh gue," gumam Mark rendah, suaranya nyelusup masuk ke pori-pori. "Dan itu yang bikin gue tau... lo emang buat gue."
Haechan memejamkan matanya, tapi tubuhnya tak bisa bohong. Tiap gerakan Mark yang liar tapi penuh kendali membuat tubuhnya terasa terbakar, sekaligus merasa ketakutan.
Jari-jari Mark turun ke perut Haechan, ngelacak tiap lekuk, menyimpan semuanya seperti hafalan. Dia tidak buru-buru. Dia ingin Haechan ingat, bahwa di tempat ini, tak ada jalan untuk dirinya kabur. Cuma ada mereka. Dan hasrat yang sudah terlalu rusak buat disebut cinta.
"Gue harus ngelukain lo, babe" bisik Mark di telinganya, napasnya hangat. "Karena itu satu-satunya cara lo tetap di sini. Di sisi gue."
Dan Haechan tahu... dari getar suara itu, dari cara Mark nyentuh dia, bahwa ini bukan tentang seks. Ini tentang keputusasaan. Tentang kehilangan yang terlalu dalam, sampai satu-satunya cara buat ngerasa hidup... adalah dengan ngehancurin.
Tangan Mark nyeludup ke area bawah Haechan, bergerak dan menusuk pelan lubangnya yang masih rapat tanpa pernah di sentuh maupun dimasukki.
"Sshh... Mmhh.. M-mark" Haechan mendesis, merasakan kala jari-jari besar Mark mulai menusuk-nusuk lubang keringnya.
Mark tak kuat, emosi serta birahinya kian terpancing. Ia menarik jari-jarinya yang semula berada di lubang Haechan dengan sedikit kasar, lalu sebuah hantaman keras terasa. Haechan memekik kuat, tubuhnya lemah, pasrah, sakit.
"ARKHHH" teriak Haechan akan rasa sakit di area bawahnya.
Mark memasukkan kejantanannya ke dalam lubang Haechan, sempit dan sesak. Tapi Mark ga nyerah, dia hanya mendesis pelan dan tetap jejal paksa lubang yang masih kering itu dengan penis besarnya.
Perlahan, sebuah cairan merah keluar dari lubang milik Haechan. Mark melihatnya, ia tau itu- dan tanda adalah ini yang pertama kali bagi Haechan.
Air mata Haechan luruh, mencoba menahan rasa sakit di area bawahnya. Ia tak bisa, sontak tangannya menarik tengkuk Mark, menundukkan dua belah bibir dalam satu waktu. Kecapan lidah, benang saliva yang menjuntai bebas.
Mark perlahan menggerakkan miliknya yang berada di lubang Haechan, tangannya bertengger di pinggang si manis, mencengkram kuat seolah tak membiarkannya pergi.
"Engh... ahh.."
Haechan melepas ciumannya, kini ia menumpukkan wajahnya di pundak kokoh Mark. Merasakan bagaimana kejantanan pria itu bergerak menusuk lubangnya yang awalnya pelan menjadi genjotan cepat dan kasar. Badan Haechan terambul-ambul naik turun di atas pangkuan Mark, desahan serta geraman terus terdengar. Kejantanan Mark menusuk tepat prostatnya, yang mana membuatnya mendesah semakin kencang.
Mark hanya tersenyum miring, ia menikmati segalanya yang ia lihat dan rasa dalam pandangan serta pendengarannya.
Tubuh mereka menyatu. Kasar. Nikmat. Tapi juga menyesakkan. Kuku jemari Haechan mencakar punggung Mark, bibir merahnya tak henti terbuka, matanya berair. Tapi dia tidak bilang berhenti. Tidak juga bilang terus. Karena dia juga bingung... antara benci dan butuh.
Saat Mark melihat matanya, dia menemukan bayangan dirinya sendiri di sana. Sama rusaknya. Sama sepinya.
Dan saat semuanya selesai, mereka hanya diam. Tak ada kata cinta. Tak ada janji manis.
Yang ada hanya nafas yang masih berat, tubuh yang berantakan, dan kenyataan... bahwa dua orang yang patah, cuma bisa menyatu dengan cara yang tidak normal.
_________
Ruangan itu masih sunyi.
Udara terasa berat dan lembab.
Hanya suara nafas mereka berdua yang mengisi di sela-sela diam.
Mark masih duduk bersandar di dinding, tubuh telanjangnya menyisakan bekas cakaran Haechan di dada juga punggungnya. Merah. Berdenyut. Tapi dia hanya tersenyum kecil, senyum yang bukan bahagia, lebih kayak seseorang yang berhasil menyeret mangsanya kembali ke kandang.
Haechan ada di sampingnya, masih setengah tengkurap, napasnya sedikit stabil. Mata tajamnya melirik ke arah Mark, tapi sudah tidak ada api amarah. Yang ada cuma... kekosongan.
"Lo puas?" suara Haechan terasa serak dan retak seperti batu yang patah perlahan.
Mark medongak, memandang Haechan yang seperti artefak mahal yang baru aja dia retakkin menggunakan tangannya sendiri.
"Belum."
"Lo mau apalagi, hah? Tubuh gue? Jiwa gue?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Ambil aja sekalian. Hancurin semuanya."
Mark miringin tubuhnya, mengelus rambut Haechan, jemarinya lembut... tapi dingin.
"Gue gak mau lo hancur, babe" katanya pelan. "Gue cuma... gak bisa ngelepasin lo." ucap Mark dengan wajah datarnya.
"Obsesi bukan cinta, Mark."
"Tapi itu yang bikin gue hidup." balas Mark santai.
Haechan duduk perlahan, menarik selimut di sampingnya yang sudah basah karena cairan kotor aktivitas mereka sebelumnya, persetan ia hanya ingin nutupin dirinya. Bahunya bergetar entah karena dingin atau karena sesuatu yang lain.
"Lo tahu," katanya lirih, "gue dulu benci sama lo karena lo bawa trauma baru dalam hidup gue."
Mark hanya diam.
"Tapi sekarang... gue benci diri gue sendiri. Karena tiap lo sentuh gue, tubuh gue malah nyari lo."
Mark melihat wajah Haechan, menatap matanya dalam-dalam.
"Itu bukan salah lo."
"Terus salah siapa?"
Mark tak menjawab. Karena jauh di dalam, dia tahu jawabannya, Ayahnya. Masa lalunya. Luka-luka yang dia warisin ke orang lain.
Mark mencium kening Haechan pelan.
Ini bukan nafsu.
Ini pengakuan.
"Gue janji, Chan" suaranya hampir tak terdengar, "...gue bakal bikin lo tetap di sisi gue. Dengan cara apa pun."
Dan di balik tatapan Haechan yang kosong, ada sedikit... retak kecil. Yang menyisakan bisikan.
"Kalau gini caranya... gue bakal ikut rusak bareng lo."
---
FLASHBACK.
10 Tahun lalu.
Rumah keluarga Lee.
Hujan turun deres di luar jendela kaca. Tapi di dalam ruangan, lebih dingin dari udara manapun.
Mark yang umurnya masih 18 tahun, duduk kaku di kursi kulit hitam. Kemeja putihnya basah sebagian karena barusan ditarik paksa dari halaman. Dengan sudut bibirnya terluka, dan ada bekas merah di pipinya.
Di seberangnya, sosok tinggi berdiri tegak. Lee Jaehyun, ayah Mark menatap dia dengan mata tajam, tangan bersedekap. Tutur katanya yang dingin, datar, seperti menghakimi pelaku kriminal.
"Kamu lari lagi dari rumah sakit itu. Buat apa, Mark?"
Mark hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya.
"Buat ngunjungin anak itu?"
"Anak tukang obat itu?" lanjut sang ayah.
Mark mendongak pelan. Mata hitamnya yang biasanya kosong, kali ini penuh marah. Tapi juga... ketakutan.
"Dia bukan kayak yang lo pikir."
"Dia cuma kelinci percobaan, Mark."
Dan kemudian, tamparan keras mendarat. Tapi Mark tak menangis. Dia sudah kebal dengan kekerasan ini semua.
Ayahnya berjalan pelan mendekati, memutar di belakang kursi Mark, seperti predator berputar pelan mengelilingi mangsanya.
"Kamu terlalu lemah untuk mewarisi nama keluarga ini. Dan terlalu bodoh untuk mengerti, bahwa hubungan itu hanya bikin kamu lemah."
Mark melirik tajam.
"Kalau gue lemah, kenapa lo takut gue punya pilihan sendiri?"
Jaehyun berhenti dan tersenyum miring.
"Karena pilihan kamu selalu salah."
Mark gemetar. Tapi bukan karena takut. Karena marah yang udah gak punya tempat buat keluar.
Waktu itu, dia udah tahu satu hal.
Kalau dia pengen punya sesuatu, dia harus rebut. Harus kontrol. Harus kuasai.
Dan waktu dia pertama kali lihat sosok manis yang kini mengisi kekosongan hatinya itu. Di tahun-tahun setelahnya, berdiri di koridor rumah sakit dengan darah di seragamnya dan mata yang menantang dunia, Mark tahu,
Orang itu tak bisa dia lepaskan.
Karena di matanya.
Mark melihat pantulan dirinya sendiri.
Rusak. Tapi hidup.
---
4 Tahun setelahnya.
Salah satu rumah sakit khusus milik keluarga Lee.
Mark Lee. 22 tahun, tinggi serta gagah, dan berwajah dingin. Sudah terbiasa dengan segala prosedur rumah sakit dan sistem kontrol ayahnya, ia lagi jalan di lorong steril rumah sakit itu. Dia disuruh inspeksi rutin bagian rehabilitasi remaja 'bermasalah'. Tempat yang katanya buat "menyembuhkan", padahal lebih mirip penjara bersih dengan aroma disinfektan.
Paska dia lewat salah satu ruang observasi, langkahnya berhenti.
Di balik kaca satu arah itu, ada satu pasien baru. Umurnya masih belasan. Kurus, luka-luka di lengan, dan rambut berantakan.
Haechan.
Dia duduk di pojok kasur, punggung nempel ke dinding, mata ngeliatin pintu dengan tatapan waspada. Kayak binatang liar yang lagi dijebak.
Mark tidak bisa bergerak. Jantungnya berdetak cepat dan anehnya, bukan karena takut.
"Apa dia pasien gangguan perilaku?" tanya Mark pelan ke salah satu perawat.
Perawat itu ngangguk. "Nama samarannya Harsa. Anak laki-laki korban kdrt. Dititipkan pihak berwenang sementara. Tapi... dia gak gampang diatur. Punya catatan yang mencoba kabur tiga kali dalam dua hari."
Mark ngelirik lagi.
Mata Harsa tiba-tiba balik natap ke arah kaca padahal dari situ, dia tidak mungkin lihat ke dalam.
Tapi Mark merasa... mereka saling bertatapan.
Dan waktu itu, di balik dinding kaca yang dingin, Mark lihat sesuatu dari Harsa yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Perlawanan.
Amarah.
Dan luka yang gak pernah ditolong siapa pun.
Besoknya, Mark minta akses langsung ke ruang rawat Harsa.
Dengan alasan 'evaluasi mental pasien'.
Pintu dibuka.
Mark masuk, langkah tenang. Harsa ngelirik tanpa ekspresi, tapi matanya nyala. Siap nyerang, kalau perlu.
"Mau ngapain lo?" suara Harsa tajam.
Mark duduk di kursi sebelah ranjang. Tenang. Pun tidak memprovokatif.
"Gue cuma pengen tahu nama asli lo."
"Ngapain? Lo pikir lo beda dari mereka?"
Mark senyum kecil. "Mungkin enggak. Tapi gue tahu rasanya disuruh diem pas lo pengen teriak."
Dahi Harsa mengernyit heran.
Mark tak nyentuh, tak maksa. Hanya menatap dirinya.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Harsa tak mencoba kabur.
Karena untuk pertama kalinya juga... ada seseorang yang ngeliat dia.
---
Beberapa Minggu kemudian.
Ruang terapi lantai tiga. Malam.
Rumah sakit udah sepi. Lampu lorong cuma nyala separuh.
Mark lagi duduk di dalam ruang terapi kosong, lampu remang. Di depannya ada Harsa- maksudnya Haechan-nama asli sosok manis itu. Haechan masih memakai baju pasien, tangan masih ada perban, tapi matanya... makin tajam dari hari pertama mereka ketemu.
"Ngapain lo manggil gue jam segini?" tanya Haechan dingin.
Mark menarik napasnya tenang. "Gue pengen ngobrol. Tanpa kaca, tanpa kamera kayak waktu itu."
Haechan melipat tangan, nyender ke dinding.
"Ngobrol atau ngejek gue yang masih 'bermasalah'?"
Mark jalan pelan ke arah Haechan. Nunduk sedikit, suaranya rendah.
"Gue gak pengen lo sembuh, Haechan."
Kening Haechan mengkerut. "Apa maksud lo?"
"Karena luka lo... ngebuktiin kalau lo masih hidup."
Suasana ruangan jadi sunyi. Tegang.
Haechan berdiri tegak, nyorot mata ke Mark.
"Lo sakit."
Mark nyengir. "Mungkin. Tapi kalau lo gak kabur dari gue hari ini. Lagi."
"Karena kalau gue kabur, semua orang makin mikir gue ini gila."
Mark maju satu langkah. "Atau karena lo penasaran kenapa gue satu-satunya orang yang gak nyuruh lo berubah."
Dan itu momen pertama kali mereka berdiri terlalu deket.
Detak jantung Haechan berdenyut keras. Nafasnya mulai tak stabil. Dia bukan tak sadar tatapan ketertarikan itu. Tapi dia tidak suka cara Mark yang mengendap masuk ke celah paling rapuh di dalam dirinya.
"Lo gak ngerti gue, Mark."
"Gue ngerti lebih dari yang lo kira."
Mark angkat tangannya, bukan buat nyentuh, tapi buat ngegenggam udara di antara mereka.
"Karena tiap kali gue pengen lari, gue juga nyari seseorang kayak lo."
Haechan nahan napas. Matanya bergetar.
"Gue bukan pelarian buat siapa pun."
Mark pelan-pelan nyentuh pergelangan tangan Haechan. Dan anehnya, Haechan tidak narik diri.
"Gue tahu," bisik Mark. "Tapi lo satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa... gue bukan cuma bayangan ayah gue."
Dan sebelum Haechan sempat ngebantah, Mark udah menciumnya cepat, menubruk penuh dorongan dan keraguan sekaligus.
Ciuman pertama mereka bukan romantis. Tapi penuh kekacauan.
Mark mundur. Haechan pun menatap, bibirnya masih sedikit terbuka mengeluarkan engahan.
"Jangan pernah ngelakuin itu lagi..." bisiknya.
Mark cuma senyum kecil. "Kecuali lo yang minta?"
Haechan mendorong Mark keras. Tangannya gemetar.
Dan Mark tahu...
Dia sudah menyusup masuk. Pelan, tapi pasti, dan mungkin tak bisa dicabut lagi.
FLASHBACK END.
---
Di ruangan kecil itu.
Langit di luar mulai abu-abu. Cahaya samar masuk lewat celah tirai.
Mark duduk di lantai, punggungnya bersandar ke ranjang. Rokok setengah mati di tangannya, tapi gak dia hisap. Asapnya cuma ngebul pelan, kayak napas terakhir dari sesuatu yang gak bisa dia lepasin.
Haechan lagi tidur telentang di ranjang. Nafasnya pelan, tapi gerak bola matanya nunjukin satu hal kalau dia gak tenang.
Mark ngelirik ke arah tubuh yang setengah kebungkus selimut itu. Mata tajamnya ngelunak. Tapi cuma sebentar.
Karena di dalam kepalanya, ingatan itu terus muter. Haechan di ruang terapi.
Tatapan pertama. Ciuman pertama. Luka pertama. Semua balik lagi.
Dan sekarang Haechan di sini.
Dekat. Tapi tetap gak bisa sepenuhnya dia miliki.
Mark narik napas dalam lalu buang pelan.
"Apa gue terlalu jauh?" gumamnya lirih. "Atau lo yang gak pernah ngerasa benar-benar deket?"
"Lo nanya ke siapa?"
Mark kaget. Haechan buka mata pelan, matanya langsung ngarah ke dia.
Suara itu pelan, tapi tajam.
Mark kemudian buang rokoknya ke asbak.
"Lo denger semua?"
"Gak semua."
Mark berdiri. Jalan pelan ke tepi ranjang, duduk di ujungnya. Haechan belum gerak. Tapi matanya waspada. Gak ada rasa aman, cuma diam yang penuh gesekan.
"Lo mau gue jujur?" tanya Mark pelan.
"Coba."
"Gue gak bisa punya lo. Tapi gue juga gak bisa ngelepasin lo."
Haechan ikut duduk, sandarin punggungnya ke kepala ranjang. Rambutnya berantakan, lehernya masih ada bekas merah semalam. Tapi tatapannya tegas.
"Masalah lo, Mark... lo pikir luka lo ngasih lo izin buat nyakitin orang lain."
Mark nahan napas.
"Tapi masalah gue," lanjut Haechan, "gue selalu jatuh ke orang kayak lo."
Mark tersenyum miris.
"Lo gak jatuh, tapi Lo cuma nyangkut."
"Dan sekarang?"
"Sekarang... gue akan tarik lo makin dalam."
Mark majuin badannya. Tangannya menarik tengkuk Haechan, mencium bibirnya pelan.
Haechan balas ciumannya. Tak sepenuhnya, tapi cukup buat Mark ngerasa menang meski sebentar.
Setelah tautan bibir keduanya terlepas, Haechan berbisik pelan.
"Kalau lo tarik gue lebih dalam... pastiin lo kuat berenang."
Mark senyum kecil. Matanya kian menggelap.
"Gue gak akan berenang, babe."
"Terus?"
"Gue akan tenggelam bareng lo."
----
END.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya sayang.
nitip handuk juga boleh, wkwk.