Hujan turun sejak sore, rinai kecil yang mengetuk jendela kamar Hana seperti mengajak bicara. Ia duduk memandangi ponselnya—lebih tepatnya, menunggu pesan yang tak kunjung muncul.
Dari Davin.
Laki-laki yang sudah dua tahun menjadi pasangannya. Laki-laki yang ia sayangi, tapi justru mulai sering membuatnya bertanya-tanya: Apa cinta cukup kalau kita sama-sama lelah?
Di ruang tamu, suara batuk ayahnya terdengar bersahut-sahutan. Sejak sebulan terakhir, kondisi ayah memburuk setelah jatuh di tempat kerja. Hana mengambil tisu, beberapa obat, dan secangkir jahe hangat lalu membawanya ke ruang depan.
“Ayah minum dulu ya,” ucap Hana lembut.
Ayahnya tersenyum, lemah. “Kamu harusnya pergi sama Davin. Jangan karena ayah begini, kamu jadi jarang ketemu dia.”
Hana hanya menggeleng pelan. “Aku nggak apa-apa, Yah.”
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ia memang jarang bertemu Davin, tapi bukan hanya karena ayahnya sakit—Davin pun mulai menghindar. Sibuk, katanya. Banyak kerjaan, katanya. Tapi entah kenapa, hati Hana terasa tidak nyaman.
Malamnya, ketika Hana hendak menutup jendela, ponselnya berbunyi.
Davin:
“Kita bisa ketemu besok? Ada yang mau aku omongin.”
Tiga detik membaca itu saja sudah cukup untuk membuat jantung Hana turun ke kaki.
Ada yang mau diomongin.
Kalimat yang paling ditakuti seseorang dalam hubungan.
Tanpa sadar, Hana menggenggam tirai terlalu erat.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat rumah Hana—tempat favorit mereka dulu. Tapi tidak malam ini. Tidak ketika Davin datang dengan wajah lelah yang tidak lagi menyimpan senyum yang Hana kenal.
“Ada apa, Vin?” Hana memulai.
Davin menatap meja. “Aku… kayaknya kita harus bicara soal hubungan ini.”
Hana mengangguk pelan, meski hatinya sudah mulai pecah.
“Aku tahu kamu lagi susah karena ayah kamu,” Davin melanjutkan. “Tapi akhir-akhir ini kita sama-sama berubah. Komunikasi kita kacau. Kita sering salah paham. Aku merasa… kita jauh.”
Hana menelan napas panas. “Jadi kamu mau pergi?”
“Aku cuma… butuh waktu,” jawab Davin. “Aku nggak mau kita makin saling nyakitin.”
Ada jeda panjang. Hujan di luar seperti membanting-banting kaca.
“Davin,” suara Hana bergetar, “semua pasangan pasti berubah. Kita cuma lagi capek. Tapi bukan berarti kita harus menjauh.”
Davin menatapnya, dan Hana benci karena ia tidak lagi melihat dirinya di mata laki-laki itu.
“Aku takut, Han. Aku takut kita akhirnya benci satu sama lain.”
Kalimat itu justru yang menghantam Hana paling keras.
Bukan karena Davin marah.
Tapi karena Davin takut, bukan ingin memperjuangkan.
Itu lebih menyakitkan.
“Aku pulang dulu,” ucap Davin akhirnya.
Dan ketika ia pergi, Hana sadar—dua tahun bersama bisa terasa tidak berarti ketika satu pihak berhenti mencoba.
Malam itu, Hana pulang dengan langkah berat. Perpisahan yang tidak jelas statusnya menggantung di kepalanya. Sesampainya di rumah, ia mendapati ayahnya duduk di kursi, tampak pucat, napas tersengal.
“Yah? Yah kenapa?” Hana panik.
Ayah memegang dadanya. “Sesak…”
Hana buru-buru membawa ayah ke rumah sakit. Di ruang tunggu yang dingin dan sunyi, ia duduk gemetar. Tangan yang selama ini kuat merawat ayah kini bergetar karena ketakutan.
Seolah hidup menumpuk semua luka dalam satu malam: kehilangan Davin, dan mungkin… kehilangan ayah.
Ketika dokter keluar, ia langsung berdiri.
“Untuk sementara beliau aman,” kata dokter. “Tapi kondisinya harus lebih diperhatikan. Beliau butuh pendampingan yang cukup dan dukungan emosional.”
Hana mengangguk cepat. “Saya akan jaga.”
Saat itulah ponselnya bergetar. Lagi-lagi dari Davin.
Davin:
“Aku nggak enak kalau ninggalin kamu habis ngomong gitu tadi. Kamu baik-baik aja?”
Hana menutup ponselnya. Menahan napas. Menahan air mata.
Sementara ia berjuang mati-matian mempertahankan ayahnya, Davin masih menimbang apakah ia ingin tetap di hidup Hana atau tidak.
Saat itu, sesuatu dalam diri Hana retak—dan sekaligus berubah.
Keesokan harinya, Hana duduk di samping ranjang ayahnya yang sudah lebih stabil.
“Maaf ya, Hana,” ujar ayah lirih. “Kalau ayah nggak ngerepotin kamu, kamu pasti masih bisa bahagia sama Davin.”
Hana menggenggam tangan ayah.
“Ayah…” suaranya lembut, tapi mantap. “Kebahagiaan aku nggak pernah bergantung sama orang lain. Kalau seseorang nggak mau tinggal, itu bukan salah ayah. Itu bukan salah siapa-siapa.”
Ayah tersenyum kecil. “Kamu kuat, ya.”
Hana mengusap mata. “Aku belajar, Yah.”
Di luar, Davin mengirim pesan panjang, meminta bertemu untuk memperbaiki. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Hana tidak langsung membalas.
Ia keluar ke halaman rumah sakit, menghirup udara pagi yang masih basah oleh hujan semalam. Matanya menatap ke langit yang mulai tersibak biru.
Ia mengetik balasan.
“Davin, makasih untuk dua tahun yang indah. Tapi kalau kamu harus berpikir berkali-kali untuk tetap tinggal… mungkin memang kita harus jalan masing-masing dulu. Aku lagi fokus sama ayah, dan sama diriku sendiri. Semoga kamu juga nemu tenangmu.”
Ia menekan tombol kirim tanpa ragu.
Itu bukan akhir.
Itu bukan balas dendam.
Itu keputusan yang akhirnya membuatnya bernapas lega.
Terkadang, cinta tidak harus berakhir buruk—tapi harus berakhir di waktu yang tepat.
Hana kembali ke ruang rawat ayah dan menatap sosok laki-laki yang selalu memperjuangkannya sejak kecil. Yang tidak pernah meminta waktu. Yang tidak pernah memilih pergi.
“Hana sudah pulang,” ucapnya pelan.
Ayah membuka mata dan tersenyum lembut. “Pulang, ya?”
Hana mengangguk sambil menahan tangis. “Iya, Yah. Pulang.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Hana merasa benar-benar kembali pada dirinya sendiri.
" Terkadang kita harus berani melepaskan seseorang yang ragu menetap, karena cinta yang sejati dimulai dari keberanian mencintai diri sendiri dan menghargai keluarga yang selalu menjadi rumah tanpa syarat."
Terima kasih sudah membaca cerpen nya❤🙏
Semoga bahagia selalu😇