Di kampung kecil, di malam yang sepi, di hiasi hujan rintik dan suara hewan kecil.
Malam itu rumah kami kedatangan tamu, teman dari almarhum ayah ku, beliau bernama pak purnama.
Di ruang tamu kami, ibuku tengah duduk menghadap pak purnama, yang tidak kami sangka datang malam ini.
Ia kemari karna satu tujuan, yaitu meminang ku, atas janji beliau dengan almarhum ayahku semasa beliau masih tinggal di kampung kami.
Karena malihat ku dan kak Radit sangat akrab dan sering bermain bersama, mereka merasa cocok dan sepakat untuk menjodohkan kami.
"Bagaimana nak putri, maukah kamu menerima pinangan saya, untuk putra saya Radit?" Tanya pak purnama, wajahnya menunjukan harapan agar aku menerimanya.
Aku melirik ibuku yang duduk di sebelahku, meminta pendapat, namun beliau hanya mengangguk, yang berarti, beliau menyerahkan keputusan padaku.
Sejujurnya, aku sudah sangat menyukai kak Radit sedari ia masih di kampung kami, siapa yang tidak suka padanya, ia baik, manis, penyayang, pintar dan rendah hati, bahkan ia sangat tampan dan rupawan, siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh cinta padanya, termasuk aku.
Kak Radit kini tengah menempuh pendidikan di universitas tahun terakhirnya, sedangkan aku baru saja lulus SMA.
"Jika memang ayah sudah menyetujuinya, maka saya bersedia!" Jujursaja mendapat pinangan untuk di persunting pujaan hati siapa yang tidak bahagia, bahkan bibirku tidak bisa menyembunyikan senyumannya, meski sudah ku gigit untuk menahannya tetap saja sulit.
Pak purnama membawa kami ke kota, seminggu kemudian, kami pun di nikahkan, meski hanya acara sederhana, hanya menghadirkan beberapa sanak saudara, jujur aku sangat bahagia.
Setelah pernikahan, ibuku kembali ke kampung halaman, sedangkan aku mengikuti kak Radit menuju apartemen nya.
"Kamarmu di sebelah Sanah!" Kami sedang berada di ruang tengah, kak Radit menunjuk pintu kamar sebelah kanan, yang berada di lantai dua, yang bisa kami lihat dari bawah karna memang tidak terhalang.
"Jangan pernah masuk ke kamar kiri, itu kamarku dan ingat ini baik-baik, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, mengerti."
Aku hanya mengangguk, tanpa membantah, sejujurnya itu kalimat terpanjangnya yang pernah kak Radit katakan padaku, namun sayang perkataannya sangat dingin dan tegas.
Jujur aku sangat bahagia dengan pernikahan kami, namun tidak dengan kak Radit yang sepertinya hanya mengikuti kemauan ibu dan ayah mertua.
Bahkan surat kontrak pernikahan yang semalam ia berikan, berisi pasal-pasal tegas tentang peraturan hidup kami yang tidak boleh saling ikut campur.
Tidak ada senyuman di bibirnya barang sedetikpun yang dulu selalu ia tunjukan padaku di masa kecil.
Aku tidak berani bertanya, hanya mengikuti kemauannya saja.
Setiap hari, ku jalani rutinitas ku membuat sarapan untuk ku dan kak Radit sebelum kami pergi kuliah, meski kak Radit tidak pernah sekalipun menyentuh masakan yang ku buat.
"Kak sarapan dulu!"
Namun seperti biasa, ia hanya melintas tanpa melirik sedikitpun.
Hati ini merasa sakit, seberapa keras pun aku memberi perhatian, namun tidak pernah mendapat balasan.
Sedikit demi sedikit, aku mulai melenceng dari surat kontrak, coba merayu dan mencari perhatian darinya, setiap hari bahkan jika ada kesempatan tidak pernah aku lewati untuk berdekatan dengan nya meski awalnya hanya hal kecil lama-lama aku mulai mencoba lebih berani, namun itu tidak membuatnya melihat ku.
Jangankan balasan, kami bahkan seperti hidup di dua alam yang berbeda, ia seperti mengangpku makhluk halus yang tidak terlihat.
"Lebih baik cepat sekolah, jika tidak mau terlambat."
Karna aku tidak ingin berlarut dalam kesedihan, sering kali aku mengalihkan fikiran dengan hal lain.
Setelah beberapa bulan kami lewati, aku baru tau, jika suamiku ternyata memiliki kekasih.
Namanya Arin, satu tingkat dengannya, ia begitu cantik, manis juga pintar, pantas saja kak Radit selalu pulang malam, ternyata selama ini tanpa ku ketahui mereka selalu bersama.
Beberapa kali aku mencoba menarik perhatian suamiku, karna tidak mempan dengan makanan dan hal lain, aku mencoba dengan menggoda suamiku.
Aku berdandan sangat cantik dan seksi menunggu kak Radit pulang di kursi sambil menonton televisi.
Saat pintu terbuka, aku buru-buru berlari menyambutnya seperti biasa.
"Kak sudah pulang?" Tanyaku dengan nada manja.
"Apa yang kamu lakukan?"
Kak Radit menatapku seperti musuh, membuat ku takut, sampai tubuhku bergetar.
"Apa sekarang kamu menjadi j*l*Ng."
Sungguh perkataan kak Radit melukai hatiku, apakah salah jika aku ingin tampil menggoda di depan suami sendiri, apakah salah berpenampilan seperti ini didepan suamiku, begitukah aku di matanya.
"Tidak bisakah kakak.."
Bahkan aku belum selesai berkata, kak Radit sudah pergi menuju kamarnya.
Aku menangis sendiri, apakah tidak ada sedikitpun perjuanganku yang menyentuh hatinya, jika sudah sampai seperti ini pun masih tidak menggerakkan hatinya, lalu harus seperti apa lagi.
Bolehkah aku menghentikan perjuangan ku, aku sudah lelah, akhirnya aku memasuki kamarku dan menumpahkan semua kesedihanku di sana.
"Tidak jika aku berhenti, aku takut ayah kecewa dan ibu pasti sedih, setidaknya sekali lagi saja, aku akan berjuang."
Pasalnya memang sudah berapa kali aku berjuang dan berapa kali pula aku putus asa, namun kali ini, jika memang masih tidak bisa maka aku akan benar-benar menyerah meski akan memberikan kesedihan dan kekecewaan untuk ibu, aku tidak ingin selamanya hidup dalam perjuangan seorang diri, aku juga ingin di cintai.
Setelah satu Minggu, aku bertekad untuk terakhir kalinya, aku mengirim undangan pada kak Radit untuk datang di sebuah restoran yang sudah ku pesan.
Sejujurnya ini adalah hari ulangtahun ku.
dulu aku dan kak Radit pernah bermain tanah mencetak kue ulangtahun karna aku pernah bilang, belum pernah mendapat kue di hari ulang tahunku, dan kala itu kami banyak membahas tentang ulang tahunku, dan ia membuatkanku kue dua tingkat dan ia menambah lilin di atasnya agar bisa ku tuiup.
"Jika nanti aku sudah besar, aku janji akan merayakan hari ulangtahun mu, aku akan memberikanmu kue, dan kita akan merayakan nya!" Janji kak Radit bahkan ia mengaitkan jari kelingking kami, janji masa kecil yang manis.
Sungguh hri itu sangat teringat jelas dalam ingatan ku, tidak pernah sedetikpun aku lupakan, dan kini aku sangat menantikan nya, bolehkah aku menagih janjinya sekarang.
Setelah dua jam, aku menunggunya, namun tidak ada tanda-tanda kak Radit sampai di restoran yang ku pesan.
Namun harapanku seperti bersambut, karna kini aku melihat mobil kak Radit memasuki parkiran.
"Untunglah kak Radit tidak mengingkari janjinya." Karna memang aku menyematkan janji mu dulu bisakah kamu tepati sekarang.
Dengan senyuman aku menunggu di kursi yang ku duduki, berharap langkah kak Radit segera sampai di hadapan ku.
Dari dinding kaca mataku tidak pernah lepas darinya.
Namun harapanku langsung sirna saat, kak Radit membuka pintu mobil penumpang dan seorang wanita cantik ia gandeng dengan mesra, siapa lagi jika bukan kekasihnya.
"Sudahlah, jangan pernah berarap pada manusia, jika tidak mau kecewa."
Meski sudah tau, kak Radit datang bukan untuk merayakan hari ulang tahunku, namun entah mengapa kaki ini tidak ingin melangkah pergi, bahkan mata dan telinga ini berfungsi dengan jelas saat melihat mereka bermesraan dan saling lempar rayuan manis yang tidak pernah kak Radit berikan padaku.
"Senyummu bahkan sangat manis kak."
Entah kepan aku melihat mu tersenyum setulus dan sebagai itu, mungkin saat kita masih tinggal di kampung.
Aku bahkan ikut tersenyum karena senyumanmu, meski hati ini terasa tersayat-sayat.
Daripada lebih sakit lagi, lebih baik aku pergi dalam diam.
Namun sayang, saat berdiri waiters tidak sengaja menumpahkan kopi panas tepat di bajuku, bahkan gelas dan nampan yang ia pegang terjatuh, membuat semua perhatian tertuju pada kami, termasuk kak Radit.
Aku berusaha tidak melihatnya, namun sangat sulit mata ini ku kendalikan, membuat ku bisa melihat kak Radit yang memandangku dengan mata terbuka lebar.
Aku hanya memberi senyuman kecil padanya, ingin hati tersenyum manis, namun yang keluar malah senyum getir, bahkan bibirku sampai bergetar.
Aku tidak mendengarkan waiters itu meminta maaf, bahkan menejernya pun ikut mendekat, aku tidak bisa menahan airmata terlalu lama, aku memutuskan berlari dan pergi dari sana.
Aku menangis bukan karna bajuku kotor, atau panas yang menjalar, aku menangis karna hati ini yang merasa tercabik, dikala suamiku yang ku cinta bersikap dingin padaku.
Namun sebaliknya dengan kekasihnya.
Biarkan aku menumpahkan Isak tangisku terlebih dahulu, sebelum ku ikhlaskan hati ini untuk melepasnya.
Karna memang sudah batas perjuangan dan mungkin bukan aku bahagianya, tapi wanita itu, aku akan membiarkan mu menjemput bahagiamu, aku tidak ingin jadi penghalang.
Baju sudah beres ku rapikan, hanya baju yang dulu ku bawa, untung lah aku tidak pernah menggunakan kartu dari mertua, bahkan uang jajan yang kak Radit berikan masih utuh.
Karna selama ini, aku bekerja pada temanku, bukan tidak ingin memberitahu kak Radit, tapi dalam surat perjanjian pun kami tidak boleh mencampuri urusan pribadi.
Map berisi surat cerai dan Secarik krtas ku letakan di meja ruang televisi, karna hanya ini tempat yang mungkin di lewatinya.
Surat itu hanya ber isi
'maaf telah masuk dalam hidupmu dan terimakasih karna namamu pernah ada dalam hatiku, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan mu'
Untuk terakhir kalinya, aku menatap gedung bertingkat yang pernah ku tinggali hanya untuk mengucap, "selamat tinggal."
Aku memasuki sebuah kontrakan kecil, tempatku selanjutnya bernaung, selama menjalani masa perkuliahan dan sebelum kembali ke kampung halaman.
Aku berusaha menghapus kak Radit dalam semua kehidupan, aku bahkan sudah berusaha tidak ingin mendengar berita tentang nya, jikapun kami ber papasan aku berusaha menghindar meski masih berjauhan.
Hari terus berganti, aku tidak pernah menyangka akan datang hari dimana aku melihat kak Radit berada di depan pintu kontrakan ku.
Meski hati ini bimbang, kaki ku tetap melangkah mendekati kak Radit, yang sampai sekarang masih tertanam dalam hatiku, yang masih dengan jelas aku cintai.
"Ada perlu apa?"
Sebisa mungkin aku berusaha acuh padanya, meski sulit.
Tanpa kata kak Radit merobek map berisi surat cerai yang pernah ku berikan.
"Surat itu sudah tidak ada, tidak ada kata cerai di antara kita!"
Seperti biasa ia berkata dengan tegas, nada perintah.
"Jika kak Radit melakukan ini demi orang tua, maka aku yang akan menjelaskany, kakak tidak perlu khawatir aku tidak akan membawa-bawa nama pacar Kaka atau pun menyalahkan Kaka, aku akan bilang jika ini hanya ke inginanku".
"Ini tidak ada hubungan nya dengan Arin!"
Arin, nama itu sering kali kamu ucapkan, tapi apakah kamu pernah sekali saja memanggil namaku.
Sudahlah putri, itu sudah berlalu, kamu tidak perlu bersedih hanya karna hal kecil seperti itu.
"Mau ada hubungannya atau pun tidak, yang jelas aku sudah membebaskan mu, dan kamu bisa terbebas dariku tanpa harus ada surat kontrak diantara kita!"
Namun di luar perkiraan kak Radit malah berlutut di depanku sambil memohon, bahkan ia menangis dan memegang tangan ku dengan erat.
"Putri, aku mencintaimu!".
Kata yang dulu aku idam-idamkan kini ia ucapkan, namun bukankah ini sudah terlambat.
"Ku mohon, jangan tinggalkan aku, jangan pernah menjauh dariku, aku sepi tanpamu, aku merasa hampa tanpamu di sisiku!"
"Bangun kak jangan seperti ini, kakak bisa bahagia bersama pacar kakak, kakak bisa mendapatkan semua itu dariny!"
"Tidak, kami sudah putus, aku sudah memutuskannya, hari itu hari dimana kita berjanji untuk makan bersama, itu hari terakhir kami!"
Aku coba memalingkan wajah tidak ingin melihat kak Radit.
"Putri dengarkan aku, aku minta maaf aku menyesal telah menyia-nyiakanmu, aku berjanji mulai sekarang tidak ada wanita lain selain kamu, aku berjanji hanya ada kamu di hatiku, aku berjanji aku akan berusaha membahagiakan mua, ku mohon kembalilah padaku!"
"Kak, janji bisa di ingkari, jangan berjanji jika kakak tidak mampu menepatinya,"
"Aku tidak akan pernah ingkar, aku ber sungguh-sungguh, aku minta maaf dengan semua yang pernah aku lakukan."
Apakah aku boleh memaafkannya, apa aku boleh sedikit lagi berharap Padanya, apa aku boleh memilikinya, apa aku boleh egois menginginkan kembali dirinya.
"Baiklah, namun jika sekali saja Kaka ingkar, maka jangan salahkan aku, jika aku pergi dan tidak akan pernah kembali."
Raut ketakutan nampak jelas kala kata 'pergi dan tidak akan kembali' ku ucapkan.
Kak Radit mengangguk dengan ribut, dan akhirnya harapan bisa melihat senyuman kak Radit terarah padaku terwujud, ia tersenyum dengan manis.
Hari, Minggu, bulan tahun kami lewati, dan kak Radit menepati janjinya, bahkania terkesan posesif kala ada lelaki yang mendekatiku, meski hanya sekedar bertanya.
Aku senang dengan perubahan nya.
'ILove You Kakak Radit' kata itu selalu ku sematkan untuk ya setiap waktu dalam hati ku.
Ini dongeng belaka, bukan kisah nyata.
Mohon maaf jika ada salah kata atau menyinggung, tidak ada niat sedikitpun seperti itu.
Cerita ini di dedikasikan untuk 'CERPEN EVENT GC UNTUK RUMAH MRNULIS'