Tiga orang sahabat dari Parepare—Fitri, Tsabita, dan Shinta—berangkat menuju Makassar dengan penuh semangat. Kota besar itu menyambut mereka dengan hiruk pikuk kendaraan, aroma kuliner khas, dan gemerlap lampu pusat perbelanjaan.
🌆 Mengelilingi Kota Makassar
Siang itu mereka berkeliling mall, menikmati suasana modern. Fitri tersenyum sambil berkata,“Rasanya beda sekali ya, kota ini lebih ramai.”
Tsabita menimpali, “Iya, tapi aku penasaran dengan tempat bersejarahnya.”
Shinta hanya tertawa, “Nanti kita cari, sekarang nikmati dulu.”
Mereka bersama-sama berjalan mengelilingi Toko demi toko, mencari Baju dan celana untuk oleh-oleh saat pulang ke Parepare. Ada saat mereka berbincang sambil ingin beli makanan karena ingin mencoba makanan yang tidak ada di Parepare. Karena mereka ingin makanan yang mengenyangkan dan aman di Kantong, mereka memilih untuk makan di warung pinggir jalan.
Warung Coto Ranggong ini terletak di Jalan Ranggong No. 13, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Lokasinya cukup strategis karena dekat dari pusat kota, hanya butuh waktu kurang dari 5 menit dari Pantai Losari.
Mereka memilih Warung dengan tampilan sederhana yang sangat ramai. Tiga sekawan itu segera memilih meja yang dalam karena ingin menikmati keadaan Damai. Setelah itu datang Ammak pemilik Coto Ranggong membawakan Coto Makassar dan Es teh milik kami.
“Tabe, loni manre daeng… panasmi kuahna, janganmi tunggu dingin cotona, nanti jadi es coto!” ucap Ammak sambil tertawa.
Kami mengangguk menanggapi sambil tertawa kecil juga.Sesuap demi suap telah berlalu, Coto yang awalnya penuh dengan bumbu akhirnya kosong, meninggalkan sendok di dalam mangkuk. Begitupun dengan Es teh yang hanya tinggal sedotan. Setelah selesai makan, Mereka segera membayar dan pergi lanjut berjalan-jalan.
Menyusuri Jalanan dengan menggunakan Mobil pada saat sore hari dan berencana mencari tempat yang akan di tuju selanjutnya.
Langit sore Makassar menghiasi perjalanan Fitri, Shinta, dan Tsabita, dengan nuansa hangat yang memikat. Cahaya jingga keemasan merayap perlahan di cakrawala, berpadu dengan bayang pepohonan dan gedung yang terlewati. Awan tipis berarak tenang, seakan melukis kanvas senja yang penuh ketenangan. Dari balik kaca mobil, panorama itu terasa begitu hidup, menghadirkan suasana syahdu yang menenangkan hati. Senja Makassar menjadi saksi perjalanan mereka, seolah memberi isyarat bahwa petualangan berikutnya akan sama indahnya dengan langit yang kini menghiasi perjalanan.
Tibalah saat azan magrib berkumandang, mereka sepakat untuk singgah ke sebuah masjid tua yang Cukup besar di Jalan Syekh Yusuf No 57, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
🕌 Masjid Tua Al-Hilal Katangka
Perjalanan membawa mereka ke Masjid Tua Katangka di kabupaten Gowa. Bangunan itu tampak kokoh dengan dinding tebal, atap bertingkat tiga, dan tiang kayu katangka yang sudah berusia ratusan tahun.
Bangunan tua itu tidak dapat mematahkan semangat Para umat Muslim di sekitar sini, beramai-ramai warga berjalan memasuki masjid tua itu. Suara anak-anak kesenangan sambil berteriak untuk segera cepat ke masjid.
Mereka segera Sholat Berjamaah bersama-sama.Meskipun bukan orang yang tinggal di Gowa, mereka bertiga tetap menunaikan Sholat bersama.
Sholat begitu tenang dan khusyuk dibarengi suara tenang Imam sholat.Imam mengakhir surah Al-Fatihah dibarengi suara ‘Aaaaminnnnnn’ Anak-Anak yang Kencang.
Waktu akhirnya berlalu dan Sholat Maghrib telah ditunaikan dengan baik oleh Fitri, shinta, dan Tsabita. Setelah melipat mukenah Shinta masih mengagumi Masjid ini dengan Mata berbinar terang.
Shinta berbisik, “Masjidnya indah sekali… tapi kenapa disebut masjid tua?” sambil melihat-lihat.
Seorang bapak tua yang tidak sengaja mendengar perkataan tersebut segera menjawab dengan senyum,
“Masjid ini peninggalan Sultan Hasanuddin. Dibangun sejak abad ke-17, dulu menjadi tempat ibadah sekaligus musyawarah kerajaan.”
Fitri menatap kagum, “Jadi ini saksi perjuangan Ayam Jantan dari Timur itu pak?”
Bapak itu mengangguk, “Benar. Setiap sudutnya menyimpan doa dan semangat melawan penjajah.”
“Saya penasaran banget Pak,siapa sih yang bangun masjid bersejarah ini?” tanya Fitri.”
Bapak itu lanjut berbicara “Masjid ini dibangun oleh Sultan Alauddin, kakeknya Sultan Hasanuddin. Beliau Raja Gowa ke-14 dan Sultan Gowa pertama yang masuk Islam. Beliau yang mulai pembangunan masjid ini pada tahun 1603 M.”
“Oh?, saya kira Sultan Hasanuddin yang bangun,” ujar Tsabita.
“Bukan, Nak. Sultan Hasanuddin itu cucunya Sultan Alauddin. Beliau melanjutkan perjuangan kakeknya dan menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan agama dan benteng pertahanan Kerajaan Gowa melawan Belanda,” jelas pak tua.
“Jadi, masjid ini warisan dua Sultan besar, ya?” tanya Tsabita.
“Betul. Sultan Alauddin yang membangun, sementara Sultan Hasanuddin memperkuat dan melanjutkannya,” jawab pak tua.
“Kenapa atapnya tumpuk-tumpuk gitu, Pak?” tanya Shinta.
“Itu atap Tumpang Tiga, gaya masjid kuno Nusantara. Tiga tingkat itu menggambarkan tahapan kita dalam agama, dari yang dasar sampai yang lebih dalam,” jelas pak tua.
“Masjid ini tempat orang Gowa menyatukan agama dan kekuasaan,” ujar pak tua.
“Sejarah itu harus dirawat, bukan Cuma diingat,” kata pak tua lagi.
“Siap, Bapak! Terima kasih banyak!” jawab mereka bertiga.
Bapak Itu selesai Bercerita tentang Kisah Sultan Hasanuddin dalam perjuangannya,Para warga daerah sini menghargai cara Beliau dengan menjaga Masjid ini
📖 Menghayati Sejarah
Mereka terdiam, meresapi cerita itu. Tsabita berbisik lirih,
“Liburan kita ternyata membawa kita ke masa lalu.”
Fitri menambahkan, “Aku merasa beruntung bisa singgah di sini.”
Shinta segera mengangguk.
Setelah salat magrib, mereka duduk di halaman masjid. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma kayu tua dan sejarah yang tak lekang oleh waktu. Mereka sadar, perjalanan ini bukan sekadar liburan, melainkan pengalaman spiritual yang akan mereka kenang selamanya.