Dijalanan yang gelap ini aku berjalan sempoyongan sambil membawa sebotol minuman keras. Aku baru saja pulang dari main judi di warung tuak langgananku. Aku sudah mabuk berat sekarang. Parahnya aku pulang dengan kekalahan yang sangat merugikan. Uangku habis tak tersisa.
"Aakhh!" aku berteriak seperti orang gila. Aku menjambak rambutku sendiri karena aku sangat kesal. Dijalanan yang gelap dan sepi ini aku meromet alias ngoceh ngoceh sendiri. Memaki maki mereka yang membuatku jadi kalah main judi. Aku meneglak minuman keras itu hingga habis tak bersisa. Botolnya pun langsung kubanting ke tengah jalan hingga pecah menjadi berkeping keping.
"Kenapa Bang kok marah marah?" Seorang wanita cantik tersenyum padaku. Ia berdiri di bawah pohon bambu di kiri jalan. Kulihat dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutnya hitam dan panjang sampai pinggang. Kulitnya putih bersih seperti salju. Bibirnya berwarna merah menggoda. Gadis yang memakai gaun putih sedengkul itu melangkah mendekatiku.
"Eh ada eneng cantik. Ngapain disini malem malem?" Tanyaku sambil memperhatikan bodynya yang aduhai.
"Nungguin Abang, Eneng takut pulang sendirian." Oh suaranya lembut berbisik ditelingaku. Insting kelaki lakianku pun muncul. Segera kurangkul pinggangnya yang ramping. Kucium aroma tubuhnya yang wangi seperti bunga melati.
"Ayuk, Abang anterin pulang." Kami pun berjalan menyusuri jalanan kebun kebun hingga sampailah kami di rumah megah serba putih. Ia mengajakku masuk. Tentu saja aku mau, siapa yang bisa menolak pesona gadis cantik ini. Apalagi diriku, behh tak akan aku sia siakan kesempatan langka macam ini. Kamipun memadu kasih semalaman hingga aku tertidur di rumahnya.
Pagi menjelang, sinar matahari terasa panas di wajahku. Aku terbangun setelah telingaku mendengar berisik berisik di sekelilingku. Aku membuka mata perlahan.
"Astaga aku dimana?"
Ternyata aku tengah mengapung diatas kolam dengan tubuh telanjang bulat. Aku menjadi tontonan orang sekampung. Semenit kemudian aku langsung terjebur ke kolam dan tenggelam.
TAMAT