Giska, adik perempuanku yang berumur lima tahun itu tampak senang bermain dengan boneka bayi perempuan imut yang dipanggilnya Susan di halaman depan rumah. Boneka itu tampak lusuh dan usang. Tapi, tunggu dulu! Boneka Susan? Seingatku, ayah dan ibuku belum pernah membelikan Giska boneka seperti itu. Bahkan kerabat dekat pun belum pernah memberinya kado berisi boneka. Untuk memecahkan rasa penasaran, aku pun menghampiri Giska yang sedang duduk di kursi sambil memeluk boneka kesayangannya.
“Adek, kakak boleh ikut main enggak?” tanyaku tersenyum ramah.
“Boleh, Kak. Sini duduk di samping aku,” ujar Giska sambil menepuk kursi ayunan di sebelah kirinya.
Aku duduk di sampingnya sambil memperhatikan boneka yang dipegangnya. “Bonekanya bagus ya, Dek. Omong-omong, Adek dapat boneka itu dari mana?”
“Aku dapatkan boneka ini dari teman baruku. Namanya Maurin,” jelas Giska.
“Maurin? Pasti ia teman baru di sekolahmu. Apa tebakan kakak benar?”
Giska menggelengkan kepala. “Bukan, Kak. Maurin bukan teman sekolah aku. Aku suka main sama Maurin sore-sore. Rumahnya juga dekat kok.”
“Oh, ya? Memang Maurin tinggal di sebelah mana?”
“Itu, rumah yang di seberang jalan,” kata Giska sambil menunjuk ke sebuah rumah di seberang jalan rumahku.
Aku terkejut melihat rumah yang ditunjuk Giska. Setahuku, rumah itu sudah bertahun-tahun tidak dihuni. Menurut penduduk sekitar, si empunya rumah meninggal di hotel prodeo setelah melenyapkan istri dan anaknya gara-gara perusahaannya bangkrut. Dulu, rumah kosong itu sempat dihuni oleh keluarga seorang juragan ayam. Tetapi tidak berlangsung lama. Anak si juragan ayam selalu mengalami halusinasi dan mimpi buruk selama tinggal di rumah itu. Beberapa warga sekitar pun pernah menemukan kejadian-kejadian janggal dari dalam rumah itu. Mengingat semua cerita aneh rumah itu, aku menjadi semakin mencemaskan adikku. Aku berharap, kehadiran boneka Susan tidak membawa malapetaka.
***
Insomnia kembali menyerang. Setelah mengerjakan beberapa tugas sekolah aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku terus mondar-mandir sambil menghitung domba-domba yang melompat di kepalaku. Ah, aku rasa itu percuma. Sebaiknya aku minum segelas susu agar rasa kantuk menjemputku ke dalam mimpi indah malam ini.
Ketika aku keluar dari kamar, aku mendengar suara gaduh berasal dari dapur. Apakah Mbok Inten belum tidur ya? Tapi, sekarang sudah lewat tengah malam. Biasanya di jam begini Mbok Inten sudah tidur pulas, bahkan susah dibangunkan. Ah, sudahlah. Mungkin Mbok Inten juga terkena insomnia sepertiku. Bukankah lebih bagus kalau ada teman begadang?
Langkahku terus bergerak menuju dapur demi segelas susu. Suara gaduh itu masih mengganggu pendengaranku. Terlintas rasa kesal untuk membentak si pembuat gaduh. Tapi aku tidak bisa bertindak seenaknya mengingat penghuni rumah lain sedang tertidur pulas malam ini. Saat aku hendak masuk ke dapur yang gelap, kulihat pintu kulkas sedikit terbuka. Samar-samar aku melihat sosok manusia kecil melompat dari dalam kulkas. Manusia kecil? Ah, tidak, tidak! Itu seperti... Susan?! B-bagaimana bisa, boneka hidup dan mencari makanan?
Kedua mataku terbelalak melihat kejadian aneh di depan mataku. Rasa takut dan terkejut berbaur dalam desahan napasku. Keringat membasahi dahi, jantungku berdebar amat kencang. Aku menghela napas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan diri. Perlahan tapi pasti, aku memberanikan diri menghadapi boneka misterius itu dan masuk ke dalam dapur.
“S-Susan!” seruku gemetar.
Boneka itu menoleh sambil menyeringai. Wajahnya tak lucu lagi, melainkan semakin menyeramkan. Tangannya yang kecil memegang pisau. Ia berjalan mendekatiku seolah menantangku untuk berduel.
“Kakak, ayo main sama Susan,” ujar boneka itu dengan suara kecil sambil menodongkan pisau ke arahku.
A-apa?! Bagaimana ia bisa bicara? Ini benar-benar tidak masuk akal. Perasaanku semakin tidak karuan. Ketakutan menyerang, seluruh tubuh gemetar. Aku menebarkan pandangan mencari benda lain agar bisa melindungi diri. Kulihat wajan yang menggantung di tembok tak jauh dari kompor. Aku segera berlari dan meraih wajan itu. Setelah kudapatkan wajan, aku pun segera berbalik bersiap melindungi diri dari serangan Susan.
“Jangan coba-coba mendekatiku! Atau akan aku pukul kau,” ancamku panik.
Boneka itu terkekeh dan terus berjalan mendekatiku perlahan-lahan. Aku semakin takut melihat boneka itu. Semakin lama, boneka itu semakin dekat dan melompat menebaskan pisaunya ke arahku. Kakiku seketika lemas dan sulit digerakkan. Ingin aku menjerit sekencang-kencangnya, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Sekujur tubuhku merinding dan gemetar hingga tak bisa lagi berdiri. Aku berusaha mengangkat wajan untuk melindungi diri dari tebasan pisau boneka itu. Dan...
TRANG!!
Pisau itu mengenai wajan yang kuangkat. Aku menurunkan wajan dan kulihat Susan masih berdiri di depanku dengan tatapan mata yang tajam menusuk. Ketika ia hendak menebaskan pisau lagi, terdengar suara anak perempuan memanggilnya. Aku sedikit mengenal suara anak itu, tapi yang jelas itu bukan suara Giska.
Dari dekat jendela dapur terlihat kepulan asap putih menyatu menjadi sosok seorang anak kecil. Samar-samar kulihat wajah anak perempuan yang sangat pucat. Baju putihnya ternoda oleh darah dari luka sayatan di sekujur tubuhnya. Anak perempuan itu mendekati aku dan Susan. Ia saling bertatap-tatapan dengan boneka Susan.
“Jangan lukai kakak itu, Susan! Tujuan kita lebih besar daripada yang kau lakukan sekarang. Sebaiknya kamu kembali ke Giska dan tunggu waktunya tiba,” ujar anak perempuan itu.
“Tapi, bukankah melenyapkan kakak ini juga bagian dari tujuan kita?” tanya Susan.
Anak perempuan itu menggelengkan kepala. Wujudnya lenyap berubah menjadi kepulan asap putih. Sedangkan boneka itu menjatuhkan pisau dan berjalan keluar dari dapur. Ia berhenti sejenak dan memutar kepalanya 180 derajat. Ia melihatku dan menyeringai. Ia tertawa terbahak-bahak dengan suara kecilnya. Ya ampun! Apakah yang kulihat ini benar-benar nyata? Tubuhku tiba-tiba semakin lemas, kesadaranku perlahan hilang.
Keesokan sorenya aku merebut boneka Susan dari Giska secara paksa. Aku tidak peduli walaupun tangisan Giska sangat histeris. Aku begitu trauma melihat kejadian kemarin malam, apalagi setelah mendengar percakapan boneka Susan dan anak perempuan itu. Aku pun melempar boneka itu ke dalam rumah kosong di seberang jalan. Aku harap boneka itu tidak pernah kembali pada adikku dan mengganggu kehidupan kami. Bagiku, keselamatan keluargaku lebih penting dari kesenangan adikku yang ternyata berbahaya.