...
Lara adalah seorang gadis sederhana yang selalu menutupi perasaannya dengan senyuman. Di sekolah, ia dikenal ceria, tetapi hanya sedikit yang tahu bahwa di balik keceriaannya, ia menyimpan luka dari masa lalu.
Fajar, di sisi lain, adalah cowok dingin yang baru pindah ke sekolah Lara. Ia jarang berbicara, tapi tatapannya selalu dalam. Banyak gadis yang tertarik padanya, tapi Fajar tak pernah menunjukkan ketertarikan pada siapa pun. Hingga suatu hari, tatapan dinginnya jatuh pada Lara.
Semua berawal ketika Lara menangis sendirian di ruang musik sepulang sekolah. Fajar, yang tak sengaja lewat, mendengar isakan itu. Ia mendekat dengan ragu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Fajar dengan suara pelan.
Lara terkejut, buru-buru menyeka air matanya. "Aku baik-baik saja," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
Fajar duduk di sampingnya. "Kamu nggak perlu pura-pura. Kadang, nggak apa-apa kelihatan lemah."
Kata-kata Fajar membuat benteng yang selama ini dibangun Lara runtuh. Ia menangis lebih keras, dan untuk pertama kalinya, seseorang mendengarkan tanpa menghakimi.
Sejak saat itu, keduanya menjadi dekat. Fajar yang awalnya dingin mulai menunjukkan sisi lembutnya hanya kepada Lara. Ia melindungi Lara dari siapa pun yang mencoba menyakitinya, sementara Lara membuat Fajar merasa hidup kembali.
Namun, hubungan mereka diuji ketika masa lalu Fajar terungkap. Ternyata, alasan Fajar pindah sekolah adalah karena ia terlibat perkelahian besar yang hampir merenggut nyawa seseorang. Banyak siswa mulai menjauh dari Fajar, dan Lara pun tak luput dari tekanan untuk menjauhi Fajar.
Suatu sore, Lara menemui Fajar di taman belakang sekolah. "Kenapa kamu nggak cerita tentang ini?" tanyanya dengan suara gemetar.
Fajar menunduk. "Aku takut kamu juga bakal pergi."
Lara terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku nggak peduli apa yang mereka bilang. Kamu bukan orang yang mereka pikirkan. Aku kenal kamu, Fajar."
Fajar menatap Lara, matanya berkaca-kaca. "Kamu nggak takut aku bakal nyakitin kamu?"
Lara menggeleng. "Kalau kamu mau nyakitin aku, kamu udah melakukannya dari dulu. Tapi kamu nggak. Kamu yang selalu melindungi aku."
Fajar tersenyum tipis, rasa hangat mengisi hatinya. "Terima kasih karena nggak ninggalin aku, Lara."
Sejak itu, Lara dan Fajar menjadi lebih kuat bersama. Mereka saling melengkapi, saling menyembuhkan luka masing-masing. Bagi mereka, cinta bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang menerima satu sama lain apa adanya.
-----