🍲🍲🍲🍲🍲
Luka, dari mana ia berasal? Apakah dapat terobati dengan sekadar obat? Bagaimana dengan luka hati, obat apa yang dapat menyembuhkannya? Juan telah lama terbelenggu dalam kenangan yang menyakitkan, menghempasnya hingga ke dasar lautan terdalam, tanpa setitik cahaya dan sejengkal kehidupan.
"Kenapa kamu selingkuh?"
Genggaman Juan semakin erat, menahan kekecewaan yang siap meledak. Namun, dia mencoba menahannya meski rasa sakit mengganjal di dada, mendesak paru-paru hingga udara terhimpit. Rasa sesak mengingatkannya akan cinta yang membawa luka.
"Aku udah lakukan yang terbaik buat kamu, tapi apa balasanmu?" Suara Juan tertahan dengan emosi yang memuncak.
"Ah, sudahlah. Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan bahwa kamu bukan terbaik buat aku."
Juan merasa hidupnya kini bagai zombi, nyawa tidak lagi bersemayam di dalam raga. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menjalani hidup, seperti bakso kosongan, terombang-ambing di dalam sebuah mangkuk. Hanya satu yang pasti, Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada makhluk-Nya melebihi batas kemampuan.
"Aku tidak boleh begini terus." Juan beranjak dari kursi, mencoba memunculkan semangat yang telah terkubur.
Juan berjalan menyusuri jalan taman yang gelap, di mana luka disembunyikan untuk beberapa saat. Ketengan telah sedikit menghilangkan hal negatif yang tercipta karena tersakiti. Dia tetap harus melanjutkan hidup karena kegagalan cinta bukanlah akhir segalanya.
Tubuh Juan lemah, tidak bertenaga setelah emosi dan pergelutan di dalam hati merajainya. Mungkin energinya telah terkuras untuk meratapi kepergian orang yang tidak pantas. Entah, dia tidak mampu berpikir dalam keadaan perut kosong setelah seharian tidak terisi. Mungkin, dia tidak akan selemah saat ini dengan memasukkan sedikit makanan.
"Sabar ya, perut. Kita akan cari makan." Juan mengusap-ngusap perutnya yang rata.
Juan mengendarai motor bebek berwarna merah dengan laju pelan karena sedang mengintai warung makan di kanan-kiri jalan. Sebuah tenda sederhana mengalihkan perhatiaannya untuk segera merapat ke sisi jalan. Dia merasa ini tempat pelarian sempurna untuk mengusir kekecewaan, dengan semangkuk bakso yang menghangatkan jiwa.
Aroma kuah kaldu sapi sudah melambai-lambai menawarkan ketenangan. Bulatan-bulatan daging yang dicampur tepung mengambang di dalamnya, membuat cacing semakin keras menyuarakan aksinya. Dodi langsung memesan semangkuk bakso komplit untuk melengkapi kembali harinya yang tidak sempurna.
"Ini, Mas, pesanannya." Seorang pelayan menaruh semangkuk bakso di hadapan Juan.
Juan mengucapkan terima kasih, dan pelayan itu pun berlalu. Dia menambahkan kecap dan sambal untuk menyempurnakan rasa, tapi terasa kurang lengkap tanpa acar.
Dia menoleh, memperhatikan meja-meja di sekitarnya. Tepat di ujung belakang, acar itu tergeletak, seolah mengasingkan diri. Juan meraihnya, kembali ke mejanya, lalu menambahkan acar ke dalam mangkuk dan mulai mencicipi.
“Rasanya, kok, beda? Gara-gara acar ini, ya?” Juan mengamati irisan mentimun di mangkuknya, merasa ada yang aneh.
"Maaf, Mas."
Suara lembut menghentikan lamunan Juan. Dia mengangkat kepala, melihat sumber suara yang kini berdiri di depannya. Dahinya menyernyit ketika tidak menemukan sosok wanita itu di dalam ingatan. Seorang wanita asing, tetapi lebih dahulu menyapanya.
"Itu baksoku," ucap wanita itu sedikit malu.
Tanpa diminta,Juan menengok meja di belakangnya. Di sana ada semangkuk bakso yang masih mengepul. Ya, itu miliknya. Dari warna kuah, dia sudah mampu mengidentifikasi racikannya.
"Maaf, Mbak, aku nggak tau." Juan berdiri, lalu menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.
"Nggak apa-apa." Wanita itu tersenyum manis. Andai saja Juan tidak dalam keadaan terpuruk, mungkin hatinya akan bergetar melihat lengkungan lembut sang wanita.
"Itu udah kamu makan, jadi buat kamu saja."
Juan menyetujui usulan wanita itu, walau sebenarnya racikannya berbeda. Ya, memang ini berawal dari kesalahannya, jadi dia harus menerima konsekuensi.
"Kalau begitu, punyaku buat Mbak saja."
"Nggak,ah. Kayaknya pedes banget. Aku nggak suka pedes. Aku pesan lagi saja."
Perasaan Juan semakin tidak enak, malu melanda jiwanya. Dia ingin sekali segera pergi dari sana, tetapi perut menolak. Dua mangkuk bakso kini berada di hadapan dan juga wanita itu yang menatap aneh ke arahnya.