"Maaa! Aku mau naik itu, boleh ya?!" Seru anak lelaki kecil dalam gandengan ibunya sambil menunjuk salah satu wahana mainan di arena bermain di sebuah mall di kota tempat tinggal mereka.
"Boleh, tapi jangan terlalu lama ya nak, nanti kita kemalaman pulangnya". Jawab sang ibu mengiyakan apa yang anaknya mau.
Saat itu malam minggu sehingga mall begitu ramai dipadati pengunjung, dan kini ibu dan anak itu sedang berada di sebuah bombom car, dengan lihainya sang ibu mengendarai mainan tersebut membuat sang anak begitu bahagia.
Ketika keduanya asyik tertawa dengan kebahagiaannya, tiba-tiba mainan yang mereka naiki bertabrakan dengan mainan lainnya, walaupun tidak begitu kencang tetapi itu cukup membuat keduanya terkejut.
"Hati-hati maa." pesan sang anak terdengar begitu dewasa, dan sang ibu hanya tersenyum mendengar perkataan buah hatinya tersebut.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja, ini tadi..." Perkataan seorang lelaki yang tidak sengaja menabraknya itu tiba-tiba terhenti dan menatap perempuan beranak satu itu dengan seksama, sang perempuan pun nampak begitu jengah, tetapi ia pun akhirnya tergagap dan segera menggerakkan bombom car ke tepi dan mengajak sang anak turun.
Tanpa banyak pertanyaan lagi, sang anak pun hanya mengikuti ajakan ibunya karena kebetulan mereka sudah cukup puas bermain.
"Mira tunggu!" Seru sebuah suara bariton tepat dibelakang ibu dan anak itu yang berjalan agak tergesa.
Ibu satu anak itu pun menghentikan langkahnya saat si pemanggil menghadang tepat didepannya karena tak menghiraukan panggilannya.
"Maaf mas, jangan halangi jalanku karena aku dan anakku mau pulang!" Hardik pelan Mira kepada lelaki di depannya, ternyata mereka telah kenal satu sama lain di masa lampau karena terlihat Mira begitu jengah dan gugup.
"Tapi ma, Vano masih belum mau pulang, kita kan belum lama mainnya ma." Rajuk sang anak Mira yang bernama Devano.
"Nak, lain kali lagi ya, kepala mama tiba-tiba agak pusing." Bujuk Mira lembut pada anaknya dengan sesungging senyum manis dibibirnya.
"Jangan membiasakan berbohong pada anak kecil Mira!" Bisik lelaki didepan ibu dan anak itu lalu berlutut mensejajarkan tingginya dengan bocah tampan di depannya.
"Hallo Vano kenalan dong sama om, nama om Bimo, teman mamamu dulu, sudah lama sekali tidak bertemu eh pas ketemu sudah bawa anak seganteng kamu, boleh dong om Bimo jadi teman Vano juga?" Sapa lelaki bernama Bimo itu dengan ramah sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Vano.
"Saya Devano om, om Bimo boleh kok berteman sama Vano." Dengan berani Vano membalas uluran tangan Bimo yang mengajaknya berkenalan.
Sementara Mira mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Vano seolah melarang anaknya itu untuk bersikap manis pada Bimo.
"Tenang saja ma, Vano merasa kalau om Bimo orang yang baik, makanya Vano mau diajak berteman sama om Bimo." Vano yang bisa merasakan kekhawatiran ibunya mencoba untuk menenangkan perasaan wanita yang melahirkannya itu.
Mira hanya tersenyum kaku mendengar perkataan anaknya itu, sementara Bimo begitu takjub dengan kedewasaan seorang anak kecil yang ditaksirnya berusia sekitar tujuh tahunan dan juga ucapannya yang begitu santun.
"Ya Tuhan, baru kali ini om bertemu seorang anak kecil dan merasa begitu jatuh cinta, begitu sopannya kamu nak, orang tua kamu sangat berhasil mendidik kamu sejak dini." Bangga Bimo seraya mencium jemari Vano.
"Hi hi hi... Geli om kena kumis om Bimo." Kata Vano terkikik seraya berusaha menarik tangannya dari genggaman Bimo karena geli tersentuh kumisnya yang baru dicukur beberapa hari yang lalu.
"Ha ha ha, besok om cukuran tiap hari deh biar saat ketemu Vano lagi enggak kegelian pas om cium." Bimo tergelak mendengar alasan Vano.
Mira yang menyaksikan interaksi keduanya hanya bisa mematung takjub dengan keakraban yang ia lihat, padahal sangat jarang bagi Devano menerima orang asing dengan mudah.
"Sebagai ucapan terima kasih om Bimo pada Vano dan mama Mira karena sudah memperbolehkan om berteman dengan Vano, bagaimana kalau om traktir makan buat kalian." Usul Bimo berusaha memikat hati Vano untuk lebih dalam mengambil hati anak kecil tersebut.
Vano reflek menatap mata Mira seolah meminta persetujuan ibunya, tapi sepertinya Mira tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Maaf om lain kali saja ya, karena sepertinya mama tidak setuju, Vano enggak mau buat mama marah." Suara Vano terdengar lesu karena merasa agak kecewa tidak bisa menerima ajakan Bimo tapi juga tidak mau menentang ibunya.
Bimo yang mendengar alasan Vano segera berdiri dan menatap Mira seraya berkata penuh harap.
"Boleh ya Mir, setidaknya untuk kali ini saja sebagai perayaan pertemuan kita, aku tidak ada niat untuk menganggu rumah tangga kamu, aku sangat suka dan bangga sama Vano walau baru saja kenal, ia begitu sopan, kamu sangat berhasil dalam mendidik sopan santunnya sedari dini, dan juga aku ingin melepas rindu aku sama kamu yang telah ku tanggung begitu lama." Bimo memoerkecil ucapannya diakhir kalimat agar Vano tidak mendengar ucapan kerinduannya pada ibunya itu agar tidak banyak pertanyaan yang keluar dari mulut bocah itu.
Mira yang melihat sirat kesungguhan dari tatapan Bimo akhirnya hanya bisa mengangguk setuju.
"Horee!! Terima kasih ma." Seru Vano kegirangan seraya memeluk ibunya begitu erat, Mira pun hanya bisa tersenyum mendengar reaksi anaknya, adegan itupun tak luput dari pandangan pengunjung yang lain yang hanya bisa tersenyum melihat interaksi tiga insan itu.
"Pengen deh punya keluarga seperti mereka." Celetuk sang pengunjung lain yang sempat tertangkap telinga Mira dan juga Bimo membuat keduanya spontan saling pandang dan terlihat wajah Mira memerah karena tersipu.
"Ayo kita cari makanan yang Vano suka." Ajak Bimo untuk mencairkan suasana, dan Vano dengan riang berjalan mendahului kedua orang dewasa itu menuju food court di mall tersebut untuk memilih makanan yang ia sukai.
Keakraban terlihat dari interaksi ketiga insan itu saat berada didepan makanan yang sudah mereka pesan, kini Mira terlihat lebih rileks daripada beberapa saat yang lalu, dia tidak lagi canggung dihadapan lelaki yang pernah jadi masa lalunya itu, itulah alasan yang membuat sikap Mira seperti menjaga jarak saat awal pertemuan tadi.
"Terima kasih mas atas traktirannya, ehmm sekarang kami pamit pulang." Kata Mira setelah beberapa saat mereka selesai dengan makannya.
"Naik apa tadi kalian? Kalau boleh biar aku antar kalian pulang." Tawar Bimo sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Terima kasih mas tapi gak usah, biar aku pesan taksi online saja." Tolak Mira tak mau merepotkan Bimo.
"Jangan begitu lah Mir, mana tega aku membiarkanmu sama Vano pulang sendiri malam-malam begini." Bimo terlihat khawatir.
"Kami sudah biasa kok mas." Sahut Mira berusaha menghapus kekhawatiran Bimo.
"Tapi baru kali ini kami pergi naik kendaraan umum om, karena mobil mama masih ada di bengkel." Tiba-tiba Vano ikut menyahuti percakapan kedua orang dewasa itu.
"Tuh kan! sudah jangan banyak alasan lagi, biar aku antar kalian!" Kata Bimo sambil membawakan tas belanjaan Mira dan juga menuntun Vano.
Melihat anaknya yang menurut saja kepada Bimo, Mira hanya pasrah dan mengikuti kedua lelaki beda usia tersebut di belakangnya, dan tiba-tiba dada Mira menghangat melihat pemandangan di depannya itu.
"Jadi aku harus mengantar kalian ke alamat mana?" Tanya Bimo sambil membukakan pintu mobil di parkiran gedung tersebut. Dan Mira pun menyebutkan alamat tinggalnya.
"Wah! Kita searah rupanya, ya sudah ayo kalian segera naik." Kata Bimo, dan Mira yang menghargai Bimo duduk dijok depan sedangkan Vano duduk di belakang. Dan tak lama mobil itupun meluncur menuju alamat tujuan.
"Masuk ke gang Sadewa nomor 5 ya mas!" Mira memberikan petunjuk arah saat mereka sudah melewati gerbang kompleks perumahan yang Mira tinggali.
"Siap!" Sahut Bimo penuh semangat. Dan tak berapa lama mereka telah sampai di tempat yang dituju.
"Terima kasih om baik, besok kalau hari tidak malam om boleh main ke rumah Vano, ya ma?." Kata Vano sambil membuka pintu mobil, dan hanya di sambut senyuman kedua orang dewasa itu.
"Sampaikan salamku buat suami kamu ya Mir, dia dokter Indra kan?" Pesan Bimo kepada Mira saat wanita itu sudah turun dari mobil dan hendak mengucapkan terima kasih kepada Bimo, dan Mira hanya mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih karena sudah kami repotkan ya mas." Kata Mira yang sudah lebih rileks daripada saat awal pertemuan tadi.
"Aah enggak repot kok, kapan-kapan boleh dong aku main, sekalian ingin kenal sama dokter Indra." Pinta Bimo.
"Datang saja mas saat hari libur, bawa juga anak istri kamu." Jawab Mira mempersilahkan.
"Oh iya Mir, boleh aku minta nomor telepon kamu, biar aku bisa memastikan kalian sedang di rumah saat aku mau main." Pinta Bimo sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, dan Mira pun tidak keberatan, ia menyebutkan angka satu persatu dan Bimo dengan tekun menuliskan nomor yang Mira sebutkan di daftar kontak teleponnya.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, selamat istirahat. Bye bye anak ganteng, om Bimo pulang dulu ya, assalamualaikum!" Seru Bimo pada Vano yang sudah duduk di kursi teras.
"Da dah om! Hati-hati di jalan, wa'alaikumsalam!" Sahut Vano setengah berteriak.
"Hati-hati mas." Pesan Mira.
"Oke, terima kasih Mir, assalamualaikum." Jawab Bimo sambil melambaikan tangannya dan segera melajukan mobilnya menuju kediamannya. Dan Mira pun segera masuk ke pekarangan rumahnya setelah menjawab salam Bimo dengan gumamnya karena Bimo sudah berlalu.
Beberapa waktu berlalu, setelah pertemuan mereka tempo hari ponsel Mira berdenting di hari Minggu pagi saat Mira sedang sibuk di dapur untuk membuat sarapan dan membereskan pekerjaan yang lain.
Terlihat nomor baru di layar ponsel Mira, dilihatnya sekilas pesan yang tertulis.
"Selamat pagi Mira, ini Bimo. Hari ini aku mau main ke rumah, kamu dan keluarga ada di rumah tidak? Aku mau memastikan kalau aku tidak kecele saat nanti tiba di rumah kamu." Ternyata Bimo yang mengirimkan pesan.
Segera Mira menuliskan balasan pesan dari Bimo.
"Datang saja mas, hari ini aku tidak berencana kemana-mana." Mira segera mengirim setelah selesai mengetik.
"Oke." Balasan dari Bimo pun langsung masuk. Setelah itu Mira kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jarum jam menunjuk angka 10.10 saat terdengar deru suara mobil berhenti di depan rumah Mira. Mira yang saat itu tengah merapikan tanaman hias di halaman minimalisnya spontan melihat ke luar pagar. Dan tak lama terdengar suara pintu pagar diketuk.
"Assalamualaikum Mira!" Sapa si pengetuk pagar yang ternyata adalah Bimo.
"Wa'alaikumsalam mas." Jawab Mira sambil membuka pintu pagar dengan senyum ramah terulas di bibirnya.
"Silahkan masuk!" Lanjut Mira, dan Bimo yang datang hanya sendirian pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah Mira yang sudah terlebih dahulu jalan menuju teras rumahnya.
"Ayo masuk ke dalam saja mas!" Ajak Mira saat dilihatnya Bimo duduk di kursi teras.
"Di sini dulu saja Mir, tidak pantas rasanya kalau suami kamu belum menemuiku dan aku masuk ke rumah kamu begitu saja, lagian di sini juga sejuk kok, pemandangannya bagus, banyak tanaman yang begitu terawat." Bimo menolak ajakan Mira dan Mira pun hanya memakluminya.
"Ya sudah, aku ambilkan minuman dulu mas, kamu mau minum apa? Teh atau kopi?" Tanya Mira.
"Kopi boleh Mir, jangan manis-manis ya!" Jawab Bimo.
"Oke, tunggu sebentar." Mira pun segera masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kemudian ia keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan juga beberapa toples kecil camilan.
"Sepertinya rumah kamu sepi Mir, suami sama anak kamu dimana?" Tanya Bimo sambil mengedarkan pandangannya saat Mira menurunkan cangkir dan toples dari nampan, dan Mira hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bimo.
"Silahkan di minum mas, tapi hati-hati masih panas." Mira menawarkan minumannya alih-alih menjawab pertanyaan Bimo.
"Ya makasih, biar agak dingin dulu." Jawab Bimo.
"Vano sedang les beladiri, tadi aku antar jam setengah sepuluh, biasanya pulang jam duabelas." Mira menjawab apa yang Bimo pertanyakan tadi.
"Loh, enggak kamu tungguin?! Pasti gara-gara aku mau datang." Seru Bimo terlihat khawatir tapi Mira hanya tersenyum menanggapi ekspresi Bimo.
"Enggak gitu mas, setiap latihan memang selalu aku antar dan aku tinggal pulang, nanti pas jam pulang aku jemput atau pengasuhnya yang jemput, ya kali mas dua jam aku bengong nungguin Vano latihan, mendingan aku beres-beres rumah karena kan aku kerja, bisanya beres-beres hanya saat libur seperti ini. Lagian tempat latihannya cuma dekat pos satpam depan." Jelas Mira membuyarkan kekhawatiran Bimo.
"Ooh begitu, ya ya aku paham. Lalu suami kamu, dokter Indra kemana?" Tanya Bimo kembali mengedarkan pandangannya, lalu kembali menatap wajah Mira yang sedang tersenyum tapi seolah menyimpan luka.
"Ada apa dengan rumah tangga kamu Mir? Apa kalian telah ber...?" Bimo tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Tidak usah sungkan mas." Kata Mira yang melihat Bimo tampak sungkan hingga tak meneruskan pertanyaannya.
Lalu pandangan mereka menerawang seolah mengingat kembali masa lalu mereka.
(Flashback on)
"Mira! Kami ingin bicara sama kamu." Seru suara Dini, ibu dari Mira yang tengah duduk di ruang keluarga bersama Arif suaminya yang juga ayah kandung Mira, saat Mira baru saja pulang dari kuliahnya.
"Ya bu." Jawab Mira sembari melangkahkan kakinya menuju tempat kedua orang tuanya duduk. Lalu Mira duduk di kursi seberang kedua orang tuanya, kini posisi mereka berhadapan.
"Ada apa pak, bu?" Tanya Mira dengan sopan setelah mendudukkan panggulnya.
"Kamu segera bersiap, kita akan pergi membahas perjodohan kamu dengan anak teman masa kecil bapak, seperti yang sering ibu bilang dulu." Kata Dini to the point bagai sebuah todongan bagi Mira.
"Kok tiba-tiba begini sih bu? Lagipula dari dulu aku selalu bilang kalau aku enggak mau dijodohkan kan bu? Biarlah aku menemukan jodoh yang tepat sesuai harapan hatiku." Mira sedikit membantah perkataan ibunya.
"Pilihan orang tua tidak akan pernah salah nak, jadi kamu mesti mengikuti apa yang sudah kami tentukan!" Suara Dini mulai agak meninggi demi mendengar bantahan Mira.
"Pak, aku tahu siapa bapak, bapak tidak mungkin menyetujui kemauan konyol ibu, iya kan pak?" Mira meminta pembelaan.
"Ini bukan hal konyol Mira, kami serius melakukannya, bapak dan ibu sangat yakin akan hal ini demi masa depan kamu kelak, karena anak teman bapak ini seorang dokter muda yang sangat berbakat." Beber ayah Mira tidak seperti yang Mira harapkan.
"Lalu apa hubungannya dengan masa depan aku?" Tanya Mira naif.
"Kamu itu pura-pura bodoh apa memang beneran bodoh sih Mir? Ya sudah tentu kamu kelak tidak akan hidup susah karena akan berlimpah materi." Sahut Dini menjawab pertanyaan Mira.
"Kita tidak tahu masa depan kita seperti apa bu, karena kita hanyalah pemain dan sutradara hidup ini adalah Allah sang maha kuasa, jadi jangan merasa yakin kalau kelak aku pasti akan bahagia karena menikah dengan lelaki pilihan bapak dan ibu." Bantah Mira diplomatis.
"Mira! Kami tidak suka dibantah! Suka atau tidak suka, setuju atau tidak kamu harus ikut bapak ibu bertemu dengan teman bapak, sekarang lekas bersiap!" Suara Arif menggelegar tanpa bisa dibantah lagi oleh Mira, dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Mira berlalu menuju kamarnya untuk bersiap diri seperti keinginan kedua orangtuanya walau dengan keterpaksaan.
Sekitar pukul 19.00 Mira dan kedua orangtuanya sampai di sebuah restoran mewah dengan di antar oleh sopir keluarga mereka, ketiganya segera menuju meja yang sudah ditempati oleh orang-orang yang akan mereka temui.
"Selamat malam, selamat datang Arif dan keluarga." Sapa Lukman teman Arif sambil beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan keluarga Mira diikuti oleh anak dan istrinya yang juga ikut menyapa dengan ramah.
"Selamat malam juga Lukman dan keluarga, maaf kalau sudah membuat kalian menunggu lama". Balas Arif sambil menjabat tangan temannya diikuti oleh yang lain.
"Aah, tidak kok. Kami juga baru saja datang."Sahut Lukman
Setelah berbincang sebentar, Lukman memanggil pelayan restoran untuk menyediakan semua menu yang sudah di pesannya. Setelah semua selasai di hidangkan, mereka pun segera makan malam dengan di selingi obrolan kecil.
Beberapa saat kemudian mereka telah selesai dengan makan malam mereka, kini mereka mulai membahas tentang rencana mereka, terlihat Indra nama lelaki yang akan dijodohkan dengan Mira tidak keberatan dengan rencana orangtua mereka, berbanding dengan Mira yang keberatan dengan rencana itu, sehingga dari tadi Mira memilih diam dan cukup jadi pendengar.
Indra orangnya terlihat lembut dengan wajah tampannya, tetapi hal itu tak menggoyahkan hati Mira untuk menerima perjodohan itu begitu saja.
Sejak perkenalan itu Indra lebih sering datang ke rumah keluarga Arif untuk mengenal Mira lebih dekat, tetapi Mira tetap menjaga jarak walaupun beberapa kali mereka sempat keluar hanya berdua saja dan tentu saja dengan keterpaksaan Mira.
Bukan beralasan kenapa Mira menolak perjodohan itu, semua itu karena hati Mira telah tertambat dengan hati lelaki lain yang menjadi salah satu penghuni kos milik Dini. Ya, Dini ibu Mira memiliki rumah kos khusus mahasiswa karena tempat tinggal mereka berdekatan dengan kampus negeri yang sangat terkenal.
"Mas, mas Bimo! Apa kamu sudah pulang?" Seru Mira memanggil kekasihnya, dan tak berapa lama pintu pun terbuka dengan menampakkan sang penghuni kamar dengan wajah manisnya.
"Ada apa Mira?" Tanya Bimo saat melihat wajah sedih Mira. Tanpa menjawab pertanyaan Bimo, Mira langsung menerobos badan Bimo yang menghalangi pintu lalu terduduk di kursi belajar Bimo sambil terisak, Bimo terlihat panik melihat kondisi Mira lalu ia pun menyusul Mira setelah menutup pintu kamarnya.
"Kamu kenapa Mir? Kenapa kamu sedih dan tiba-tiba menangis?" Tanya Bimo cemas.
"Mas, aku dijodohkan dengan anak teman bapak, aku nggak mau tapi mereka tetap memaksaku, aku hanya mau sama kamu mas." Cerita Mira disela isak tangisnya, dan Bimo tak bisa menahan keterkejutannya, tapi ia segera menguasai diri.
"Mir, aku pun sangat mencintai kamu, tapi mungkin kita tidak berjodoh, mungkin jodoh kamu adalah lelaki pilihan orangtua kamu, aku pun sangat berharap kalau kamu jodoh aku, tapi aku sadar siapa aku Mir, aku hanya berasal dari keluarga miskin dan beruntung bisa kuliah di kampus ini dengan beasiswa yang ku dapat, orangtuamu menjodohkan kamu pasti mereka ingin yang terbaik untuk kamu, pastinya lelaki itu sudah memiliki kehidupan yang lebih mapan dibandingkan aku yang masih berjuang dengan skripsiku dan hanya jadi pekerja magang bahkan kadang menjadi pekerja serabutan disaat libur. Mir, aku akan berusaha merelakanmu bila dia bisa membahagiakanmu." Pelan-pelan Bimo berbicara agar hati Mira bisa menerima perjodohan itu dan tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Apa mas Bimo langsung menyerah hanya dengan mendengar ceritaku tadi?" Tanya Mira tidak terima dengan penuturan Bimo.
"Mir, kamu jangan tersinggung ya? Aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggungmu, aku hanya tak mau menjadi penyebab kamu melawan orang tuamu. Aku bukan menyerah Mira, aku hanya tahu dimana tempatku, saranku bicarakan baik-baik lagi dengan kedua orangtuamu dan juga lelaki yang akan dijodohkan sama kamu, jika memang dia tidak mau dijodohkan sama kamu, aku akan berusaha mendapatkan hati orangtua kamu walau sepertinya sangat berat karena ibu kamu selalu memandang sinis saat bertemu denganku." Bimo menjelaskan apa yang membuatnya tidak berani mempertahankan Mira, dan Mirapun mengerti dengan penjelasan Bimo, Mira pun langsung menghambur ke dalam pelukan Bimo seolah dia tidak ikhlas bila harus berpisah dengan kekasihnya itu, dan dengan berani Mira mecium bibir Bimo untuk pertama kalinya, karena selama mereka berhubungan, tidak sekalipun terjadi hal-hal erotik selain berpegangan tangan.
Bimo sangat terkejut dengan perlakuan Mira dan sebagai seorang lelaki normal tentu saja Bimo langsung merespon apa yang Mira lakukan, mereka pun semakin larut dengan ciuman itu, naluri lelaki Bimo merasuki pikirannya dan refleks tangannya mulai bergerilya ke seluruh tubuh Mira, dan saat jemarinya mulai menyentuh kancing baju Mira, ia pun tersentak dan mulai menguasai akal sehatnya kembali.
"Astaga! Maafkan aku Mira, aku hampir saja melakukan hal yang tidak pantas sama kamu." Sesal Bimo sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak perlu minta maaf mas, aku yang memulainya, tapi aku rela bila aku harus kehilangan itu demi kamu." Mira terlihat tenang tak ada penyesalan karena hampir saja terjadi hal terlarang itu.
"Jangan bicara seperti itu Mir, tidak boleh. Ya sudah sebaiknya kamu pulang, ini sudah sangat malam, nanti kamu di cari orangtuamu." Bimo menyuruh Mira untuk segera pulang karena waktu telah menunjukkan pukul 22.15, tetapi Mira seperti enggan beranjak, dan tiba-tiba Bimo mengecup bibir Mira.
"Pulanglah, aku tidak mau lebih dibenci ibu kamu kalau sampai dia tahu kamu masih berada disini diwaktu selarut ini." Kata Bimo setelah melepas kecupannya, dan dengan terpaksa Mira menuruti perkataan Bimo.
Siang itu Bimo hendak pulang karena mendapat kabar kalau ibunya sakit, saat ia mengunci pintu kamarnya ia dikejutkan dengan suara seorang wanita yang sudah sangat familiar di telinganya.
"Bimo!" Seru Dini dan membuat Bimo spontan membalikkan badan membelakangi pintu.
"Ah iya bu Dini, saya tidak telat bayar kos kan? Beberapa hari yang lalu sudah saya bayar." Bimo yang terkejut langsung menjelaskan kepada ibu kostnya, karena ia hanya berbicara pada Dini saat wanita itu menagih uang kost apalagi bila terlambat.
"Harusnya kamu tahu diri bila ingin menaruh hati kepada anak saya, bayar kost saja kamu sering terlambat, tapi kamu berani-beraninya mencintai seorang gadis apalagi itu anak saya!" Seru Dini tidak menggubris omongan Bimo dan langsung berbicara ketus kepada Bimo.
"Mulai sekarang kamu harus pergi dari tempat kost saya, karena saya tidak mau Mira kamu cuci otaknya dan menjadi tidak menurut pada orangtuanya dan tidak bersedia kami jodohkan dengan lelaki pilihan kami yang tentunya sangat jauh derajatnya dibandingkan kamu." Dini menunjuk muka Bimo dengan tatapan berapi-api dan penuh kebencian.
"Asal kamu tahu, Mira sudah kami jodohkan dengan seorang dokter muda yang masa depannya sudah terjamin, bukan lelaki sepertimu yang buat bayar kost saja sering terlambat!" Sambung Dini memerahkan telinga Bimo.
"Tidak perlu anda ingatkan saya dengan kondisi saya, karena saya selalu ingat itu bu. Maaf bila saya telah lancang mencintai Mira, tapi saya akan berusaha bagaimanapun cara untuk membuat Mira bahagia." Kata Bimo dengan menahan amarah karena sedikit tersinggung dengan perkataan Dini.
"Jangan mimpi kamu! Sekarang kamu tidak perlu repot-repot untuk berusaha membahagiakan anak saya, karena dia sudah saya jodohkan dengan orang yang punya masa depan, sekarang kemasi barang-barang kamu dan pergi dari tempat kost saya!" Dini mengusir Bimo tanpa perasaan, lalu berlalu dari hadapan Bimo tanpa menunggu sanggahan dari Bimo.
Bimo pun kembali membuka pintu kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa, untung saat itu rumah kost sedang sepi karena semua penghuni kost sudah berangkat ke kampus, jadi tidak ada yang melihat kalau dia diusir dari tempat tersebut.
Sebelum pergi, Bimo pergi ke rumah Mira yang berada di samping rumah kost untuk mengembalikan kunci kamar dan mengucapkan terima kasih, tapi sambutan Dini begitu dingin, dan sempat menghina Bimo lagi, tapi Bimo tak ambil pusing dan segera berlalu dari rumah Dini.
Mira yang diam-diam mendengar semuanya sangat sakit hati dengan perkataan ibunya yang ditujukan kepada Bimo.
Terdengar suara denting di ponsel Mira, dan Mira melihat Bimo yang telah mengirim pesan kepadanya dan ia pun segera membuka ponselnya.
Dalam pesannya Bimo meminta maaf pada Mira karena ia harus menyerah karena ia ingin Mira bahagia seperti keinginan orangtuanya, dan juga Bimo berpamitan tak akan kembali lagi ke rumah kostnya tetapi tidak menjelaskan bahwa ia telah diusir oleh ibu Mira, tetapi Mira tahu kalau Bimo diusir oleh ibunya karena tak sengaja mencuri dengar saat Bimo mengembalikan kunci kamar kost.
"Sekarang kamu dimana mas?" Mira membalas pesan Bimo dan menanyakan keberadaan lelaki itu saat ini.
"Aku pulang ke rumah Mir, ibuku sakit." Balas Bimo.
"Ya mas, salam buat ibu, semoga lekas sehat, in sha Allah aku akan menjenguk ibu mas." Kembali Mira membalas pesan Bimo.
"Tidak perlu Mira, aku tidak mau kamu kena marah ibumu." Balas Bimo, tapi Mira hanya membacanya dan tidak lagi mengirim balasan.
Yah, Mira memang sudah sangat dekat dengan orangtua Bimo yang hanya tinggal ibunya karena ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sementara Bimo adalah anak satu-satunya, untungnya mereka masih punya kerabat yang mau menjaga ibu Bimo saat Bimo sibuk mengejar pendidikannya sekaligus bekerja.
Siang itu Mira mengendarai motor maticnya menuju sebuah perkampungan dengan beberapa kantong buah-buahan tergantung di motornya. Ya Mira hendak menjenguk ibu Bimo, ia baru bisa datang menjenguk setelah seminggu lebih kepergian Bimo dari rumah kostnya.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya Mira sampai di rumah Bimo.
Tok tok tok!
Mira mengetuk pintu rumah Bimo.
"Assalamualaikum...!" Seru Mira
"Wa'alaikumsalam!" Seru suara lelaki dari dalam rumah lalu tak berapa lama pintu terbuka, dari dalam muncul wajah lelaki yang Mira cintai, siapa lagi kalau bukan Bimo.
"Mira!? Silahkan masuk Mir." Bimo sedikit terkejut melihat Mira, lelaki itu tidak menyangka kalau Mira akan berani melanggar perkataan ibunya dan masih berani datang kerumahnya.
"Ibu mana mas? Aku kesini mau jenguk ibu." Tanya Mira sambil mengekor dibelakang Bimo, spontan Bimo menghentikan langkahnya dan berbalik kepada Mira lalu segera menuntut Mira duduk di kursi tamu, Mira hanya menurut dengan sedikit bingung.
"Mira, maaf kalau aku tidak memberi tahu kamu, ibu sudah meninggal sehari setelah aku pulang dari rumah kost kamu beberapa hari yang lalu.."
"innalilahi! Mas...?!" Seru Mira tak sanggup melanjutkan perkataannya, matanya berkaca-kaca dan diikuti buliran bening berjatuhan di pipinya, dadanya merasa sesak hingga tak sanggup mengucap kata-kata.
Bimo spontan memeluk Mira agar wanita yang sangat dicintainya itu lebih tenang, tak berapa lama Mira sudah bisa menguasai dirinya kembali. Ia marah karena Bimo tidak memberi tahunya saat itu, tapi dengan tenang dan alasan yang tepat Bimo bisa meredakan amarah Mira dan bisa membuat Mira tenang kembali.
"Lalu bagaimana dengan kamu sekarang mas? Aku berharap bisa jadi penguatmu setelah ibu tak ada, tapi..." Mira tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Jalan kita harus begini sayang, aku harus sadar diri dan kamu harus patuh dengan orang tua kamu, tapi aku harus menatap masa depan agar kelak aku tak diperlakukan lagi seperti ibu kamu memperlakukan aku tempo hari, skripsi aku sudah diterima dan setelah semua selesai aku bisa mencari pekerjaan apapun yang penting halal, pasti Allah akan mempermudah usahaku jika aku tekun dan selalu berserah pada-Nya." Perkataan Bimo membuat Mira bahagia tapi juga kecewa, karena sudah pasti lelaki itu tak akan mau menuruti keinginan konyolnya yang hendak mengajaknya kawin lari, untung Mira belum mengatakannya.
"Aku selalu mendukung niat baik kamu mas." Ucap Mira dengan senyuman getir, ditatapnya lelaki dihadapannya itu dengan penuh cinta dan dengan tidak rela bila harus berpisah dan tiba-tiba Mira memberanikan diri untuk mencium bibir Bimo, tanpa mengelak Bimo juga membalas apa yang Mira lakukan, mereka seolah tak lagi menggunakan akal warasnya, mereka telah larut dengan suasana panas dari dalam tubuh mereka, kini tak hanya lumatan dibibir, bahkan Bimo sudah berani mencumbu Mira yang semakin kehilangan akal sehat, mereka telah dikuasai nafsu, dan terjadilah hal yang seharusnya tidak boleh terjadi.
(Flashback off)
"Aku minta maaf atas kesalahanku waktu itu Mir, aku sangat menyesalinya ketika kamu telah pulang apalagi diam-diam kamu telah meyelipkan surat dan barang yang sangat membantuku saat itu, sekali lagi maafkan aku Mir." Bimo memotong cerita masa lalu keduanya yang sedang Mira tuturkan, lelaki itu meraih jemari wanita si depannya dan ia menunduk dan menempelkan dahinya dijemari Mira.
"Mas! Jangan begitu!" Mira segera menarik tangannya.
"Aku bersalah Mir, aku menyesal telah merusak masa depan kamu dan malah meninggalkan kamu dinikahkan dengan lelaki lain tanpa aku berusaha meluluhkan hati orang tua kamu, dan tentunya aku sangat merasa bersalah pada suami kamu karena..." Bimo tak melanjutkan ucapannya karena Mira langsung memotongnya.
"Tidak ada yang perlu disesali mas, itu semuanya terjadi karena aku yang memulai dan aku pun tak menolaknya saat itu, kita sama-sama bersalah jadi stop menyalahkan diri kamu sendiri mas." Ucapan Mira membuat Bimo menatap dalam binar bening dikedua mata Mira dan Mira pun hanya menganggukkan kepalanya agar Bimo tak berlarut dalam kesalahan masa lalunya.
"Aku terlalu terbawa suasana masa lalu, dan tetap saja aku tak bisa menghilangkan rasa bersalahku itu begitu saja." Bimo masih saja mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan dihatinya.
"Sekarang kamu tak perlu merasa bersalah mas, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, keberadaan Vano memberikan semangat tersendiri buatku mas." Mira semakin menegaskan agar Bimo tak terpuruk lagi dengab kesalahan masa lalunya, walau itu tak bisa merubah apapun bagi Bimo karena ia tetap dibayangi rasa bersalah itu.
"Aku tak tahu mau berkata apa Mir, aku iyakan saja apa katamu, oh ya, apakah kamu berpisah sama suami kamu karena dia tahu masa lalu kamu denganku Mir?" Akhirnya Bimo bertanya tentang hal pribadi Mira karena otaknya sedari tadi dijejali rasa penasaran akan rumah tangga Mira.
Mira hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari Bimo lalu matanya menerawang ke depan.
"Aku tidak pernah menikah dengan mas Indra mas." Jawaban Mira membuat Bimo terkejut.
"Kamu menikah dengan lelaki lain!" Tanya Bimo semakin penasaran.
"Aku tidak pernah menikah dengan lelaki manapun mas." Kembali Bimo dikejutkan dengan jawaban Mira.
"Jangan bercanda Mira! Lalu Vano anak angkat kamu gitu?!" Sentak Bimo sambil menatap dalam netra Mira mengaharap sebuah jawaban, dan kembali Mira mengembangkan senyum mendapat pertanyaan dari lelaki yang pernah ada dihatinya dan mungkin masih sampai saat ini.
"Apa dari kemarin kamu hanya terpukau sama aku mas? Hingga kamu tak menyadari fotocopy kamu?" Jawab Mira santai.
"Maksud kamu apa sih Mir?" Bimo semakin bingung, lalu setelah sadar.
"Tunggu! Apakah maksud kamu Vano?" Tanya Bimo terkesiap.
"Ya! Keberadaan Vano di perutku membuat aku tak jadi dijodohkan dengan lelaki manapun." Jawab Mira.
"Jadi Vano anakku Mir?" Tanya Bimo meminta kepastian.
"Fisik anakku dominan kamu mas, rambut, mata dan bibir Vano itu sangat mirip kamu, hanya hidung saja yang ngikut aku." Jelas Mira membuat Bimo memejamkan mata untuk mengingat kembali wajah bocah yang ditemuinya semalam, Bimo memang kurang begitu memperhatikan Vano karena semalam ia terlalu fokus pada Mira, wanita yang sangat penuh mengisi ruang hatinya.
"Astaga! Aku tak terlalu menyadari itu, yah! Pantas saja aku seperti pernah melihat wajah Vano saat pertama bertemu semalam, ternyata itu wajahku sendiri." Ucap Bimo sembari mengusap wajahnya.
"Mir, biar aku tebus kesalahanku dengan ikut membiayai segala kebutuhan Vano mulai saat ini." Kata Bimo dengan sungguh-sungguh.
"Mas, aku sangat berterima kasih atas niat baik kamu itu, tapi kamu jangan gegabah, sebaiknya kamu berunding dulu." Kata Mira sambil menatap cincin belah rotan di jari manis kanan Bimo.
"Berunding? Ahh..." Bimo menyadari arah tatapan Mira.
"Aku tak perlu berunding dengan siapapun Mir."
"Tapi tetap saja kamu harus meminta persetujuan istri kamu mas, aku tak mau kedatangan Vano dihidupmu malah akan membuat runyam rumah tangga kamu." Protes Mira.
"Kamu melihat ini?" Tanya Bimo sambil mengangkat jemarinya dan terlihat Mira mengangguk lalu terlihat Bimo melepas cincin itu.
"Mas...!" Seru Mira hendak protes karena telah melepas cincin kawinnya.
"Kenalkan nama istriku yang tertera dicincin itu, dia akan sangat setuju dengan keputusanku." Mira pun membaca tulisan yang terukir di cincin Bimo.
"Amira Sanjaya, kok bisa namanya sama persis dengan namaku mas?" Tanya Mira penuh heran.
"Karena itu bukan orang yang berbeda." Jawaban Bimo membuat jantung Mira berdetak lebih cepat dan kencang.
"Jangan bercanda kamu mas." Kata Mira sambil menudukkan kepala menyembunyikan rona merah di wajah cantiknya.
"Aku tak pernah bercanda untuk urusan hati Mir, kamu tetap mengisi penuh ruang hatiku walau aku sadar tak bisa memiliki karena kamu sudah jadi istri orang, tapi kini keyakinanku untuk memiliki kamu akan aku pastikan walau orang tua kamu tak setuju aku akan tetap memperjuangkan kamu dan Vano." Kata-kata Bimo yang sungguh-sungguh membuat hati mira semakin menghangat, tentu saja perasaan Mira untuk Bimo juga masih sangat penuh memenuhi hatinya.
"Jalan yang sekarang sudah lebih mudah mas, orang tuaku sudah tidak sekeras dulu, keberadaan Vano telah meluluhkan gunung ego dalam hati mereka terutama ibuku. Lalu apa alasan kamu tetap bertahan dengan status bujang kamu, bukankah diluar sana begitu banyak wanita yang sangat menggoda apalagi dengan kedudukan kamu tentu sangat gampang memilih wanita mana yang kamu inginkan tuk jadi pendamping kamu mas." Kini Bimo yang dibuat tersenyum dengan pertanyaan Mira.
"Mentang-mentang aku pemilik perkebunan besar yang masih bujangan? Tidak Mira. Aku masih dan selalu teringat dengan gadis yang selalu menyemangatiku dan diam-diam menyelipkan gelang dan surat di waktu dulu hidupku masih susah, aku ingin menebus semuanya walau kemarin-kemarin aku tahu itu hal yang tidak mungkin tapi kini aku akan pastikan akan menjadi mungkin." Ucapan Bimo yang sungguh-sungguh tak pelak membuat mata Mira berkaca-kaca, perempuan cantik itu menundukkan kepalanya untuk menutupi rona merah di wajahnya, hingga tiba-tiba pengasuh Vano keluar dari dalam rumah.
"Maaf bu Mira, sudah waktunya Vano pulang, saya pamit mau jemput Vano dulu." Pamit pengasuh Vano yang bernama Rindu.
"Ya sus, hati-hati ya, saya masih ada tamu jadi tidak bisa jemput Vano" kata Mira sembari mengusap matanya yang sedikit berair.
"Iya bu, saya pergi dulu bu, pak, assalamualaikum." Pamit Rindu lalu berlalu menuju motornya terparkir.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Mira dan Bimo bersamaan.
Selepas kepergian Rindu, Mira masih belum juga berani menatap kearah Bimo, ia tak mau lelaki itu menyadari air muka dan matanya yang berkaca-kaca penuh haru, tetapi ia dikejutkan dengan jemarinya yang diraih oleh Bimo.
"Mas!" Seru Mira yang terkejut dan refleks hendak menarik jemarinya tetapi genggaman Bimo begitu kuat.
"Mira, mari kita sempurnakan kehidupan Vano, aku akan menebus kesalahanku pada kalian, mari secepatnya kita menikah, kamu bersedia kan?" Perkataan Bimo semakin membuat hangat hati Mira, tak dipungkirinya, Mira memang ingin memberikan keluarga yang utuh seperti keinginan Vano selama ini yang selalu menanyakan dimana keberadaan ayahnya, dan Mira hanya bisa menjawab bahwa ayahnya sedang pergi bekerja ditempat yang sangat jauh.
Mira terpaksa berbohong untuk hal itu, karena ia merasa belum waktunya anak sekecil Vano mengetahui rahasia yang sedang disimpan ibunya, tapi kali ini dengan Bimo mengajaknya menikah itu akan membuat hidup Vano yang diimpikan menjadi nyata yaitu punya keluarga yang utuh.
"Kita tanya Vano dulu ya mas, jujur aku mau tapi kita harus meminta pendapat Vano dahulu, kalau anak itu tidak setuju itu tugas kamu untuk mengambil hatinya agar keinginan kita bisa terlaksana." Mira mengesampingkan egonya.
"Benar kata kamu Mira, nanti kita tanyakan dahulu padanya." Sahut Bimo dan tiba-tiba Mira merasakan kalau jemarinya tengah dicium oleh lelaki yang sampai sekarang masih mengisi penuh ruang hatinya.
Terdengar suara deru mesin motor mendekat ke arah mereka, dengan segera Bimo berdiri dari duduknya didepan Mira sebelum Rindu dan Vano tiba di depan gerbang rumah.
Tak lama motor yang dikendarai Rindu telah memasuki gerbang dan terlihat Vano begitu ceria tanpa memperlihatkan lelah setelah latihan beladiri.
"Assalamualaikum mama!" Seru Vano setengah berlari menghampiri Mira yang tengah duduk menemui tamunya, segera diraihnya tangan ibunya untuk bersalaman dan cium tangan.
"Wa'alaikumsalam" sahut Mira dan Bimo bersamaan. Sementara Rindu langsung masuk kedalam rumah.
"Salim juga sama tamu mama sayang!" Perintah Mira pada Vano, dan Vano pun segera melakukan apa yang ibunya perintahkan.
"Halo Vano, masih ingat saya?" Tanya Bimo setelah Vano selesai mencium tangannya, dan spontan Vano memandang ke wajah Bimo untuk meyakinkan ingatannya.
Setengah berkerut alis Vano saat memperhatikan Bimo.
"Aahh Vano ingat, om baik itu kan ma?" Tanya Vano meminta pembenaran dari ibunya dan terlihat Mira menganggukkan kepalanya.
"Tapi Vano tak boleh memanggilnya om." Kata Mira membuat dua lelaki yang dicintainya itu menatap penuh tanya.
"Kenapa ma?" Tanya Vano penasaran.
"Karena dia papa kamu." Jawab Mira mengejutkan Bimo dan Vano.
Bimo tidak menyangka kalau Mira akan mengatakan secepat itu kepada Vano.
"Mama bohong! Kemarin tidak bilang begitu!" Seru Vano tak percaya dan seakan tidak terima.
"Karena papa yang meminta untuk membuat kejutan buat Vano." Sahut Bimo membantu Mira yang terlihat sedikit bingung dengan pertanyaan anaknya. Spontan Vano berganti menatap Bimo seakan meminta penjelasan.
"Vano sayang, maafkan papa yang begitu lama meninggalkan Vano dan mama tanpa ada kabar, papa dulu pergi ke tempat yang jauuuh sekali untuk mencari uang, untuk beli mobil untuk beli rumah tapi papa sangatlah salah karena tak pernah bisa pulang untuk menjemput Vano, hukumlah papa Vano." Kata Bimo sambil berlutut dihadapan anak lelaki berumur tujuh tahun itu.
"Baiklah, karena papa minta dihukum sama Vano, sekarang ajak Vano ke kebun binatang, karena Vano ingin sekali bercerita kepada teman-teman kalau Vano juga punya papa seperti yang mereka pamerkan kepada Vano selama ini, terima kasih ya Allah, sekarang Vano punya papa dan gak akan diejek sama teman-teman lagi." Bimo spontan memeluk anak lelaki dihadapannya itu dengan wajah dan mata memerah demi mendengar apa yang barusan anak kecil itu ucapkan.
Betapa teriris hati Bimo mendengar kenyataan tentang Vano yang sering dapat ejekan dari teman-temannya, lelaki itu sangat merasa bersalah.
"Maafkan papa Vano, mulai sekarang tak akan ada lagi yang berani mengejek Vano seperti itu, karena papa sudah disini bersama Vano dan mama, maafkan papa ya nak." Ucap Bimo dengan bergetar dan dirasakan oleh lelaki itu Vano mengangguk menanggapi ucapan Bimo.
"Bersiaplah ma, kita bertiga akan pergi, ajak suster juga, ya kan Vano?" Perkataan Bimo membobolkan bendungan air mata yang Mira tahan saat menyaksikan percakapan dua lelaki yang dicintainya itu.
"Ahhh, dia memanggilku mama." Batin Mira seperti tidak percaya.
Perempuan beranak satu itu pun membalikkan badan masuk ke dalam rumah untuk memberi tahu suster pengasuh Vano agar mereka segera bersiap untuk pergi ke tempat yang Vano inginkan.
Mira kini sedang merasakan bahagia dan haru karena seulas noda dihidupnya kini akan memudar karena ia akan menjadi seorang istri, istri dari Bimo.
********
TAMAT