Sempat terpikir olehku setiap kali aku memandangi langit, memandang langsung pada awan yang jauh ada di angkasa dengan berbagai bentuk abstraknya. Pertanyaan yang selalu muncul setiap kali aku melakukannya, memandang langit dengan tatapan hampa. "Apa mungkin di atas sana adalah gumpalan uap air atau coretan seseorang?", Itulah yang selalu mengganggu pikiranku.
Senja hari, sang surya sudah mencapai akhir tugasnya pada hari itu, sama seperti hari-hari pada umumnya. Di sini, pada jalan sama yang kulalui setiap harinya, aku menatap sungai, pada pantulan cahyaa langit jingga kemerahan itu. Dan sama seperti hari-hari lainnya, tidak ada hal yang menarik yang terjadi, membuatku mengira-ngira apakah hidupku yang membosankan ini akan bertahan selamanya.
Aku menghela nafas, mengangkat kepalaku menatap awan-awan yang tersapu oleh angim membentuk goresan kuas yang indah di atas sana. Aku terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahku pulang menuju rumah.
Namun, hanya berselang sesaat setelah mengambil beberapa langkah, aku mendengar suara samar yang menggangguku.
"Ingat...! Ingatlah...! Jangan pejamkan matamu...!"
Ujarnya dengan suara yang samar terdistorsi.
Aku berhenti untuk memeriksa sekitar, namun tidak membuahkan hasil. Tidak ada orang lain selain diriku saat ini. "Apa mungkin ini hanya imajinasiku?", pikirku saat itu sebelum akhirnya melanjutkan kembali langkah kakiku.
Belum lama berjalan, aku sampai pada perempatan jalan di mana lampu lalu lintas berdiri tegak di sisi jalan mengatur laju kendaraan yang melintas saat aku kembali mendengar suara yang sama berdengung di telingaku.
"Awas...!"
Sebelum aku sempat menghiraukannya, sebuah mobil datang dari kejauhan dengan kecepatan tinggi. Tidak heran jika banyak mobil yang melaju kencang di jalan raya, namun yang menjadi kecemasanku pada yang satu ini adalah dia melaju tepat di jalur yang sedang merah lampunya.
"Dia pasti terburu-buru..." Adalah hal yang terpintas di benakkau pada saat itu. Aku pun mengabaikannya, meski aku tahu yang dia lakukan melanggar peraturan. Tapi, mau bagaimana lagi, aku bukan polisi atau orang yang punya cukup kuasa untuk menghentikannya.
Dan tepat ketika ia melintasi persimpangan, secara tidak terduga sebuah truk datang dari sisi lain jalan di sampingnya. Pengemudi mobil yang terkejut sontak membanting setirnya, berusaha menghindarinya. Dan sebelum aku menyadarinya, mobil itu mengarah padaku yang tengah melihat ke arah lain jalan, berniat untuk segera menyebrang.
Kejadian selanjutnya bisa ditebak. Tubuhku terhempas oleh badan mobil yang melaju ke arahku. Aku melayang beberapa senti dari tanah akibat hantaman gaya yang melebihi berat tubuhku sendiri untuk beberapa saat sebelum akhirnya aku berhenti setelah menghantam papan nama sebuah toko yang berada tak jauh dari lokasi.
"Guh...!"
Dan malang, alih-alih meredam kejatuhanku, papan nama itu justru hancur dan menjadi bumerang bagiku. Bingkai papan nama yang hancur itu justru menusuk leher serta perutku, menembus pakaian hingga mencuat keluar dari dalam tubuhku.
Sejenak aku terdiam karena syok sebelum akhirnya aku berteriak kesakitan saat rasa sakit itu menyebar ke seluruh tubuhku.
"AAAAAAAAARRRHHHH...!"
Darah mengucur keluar dari potongan bingkai yang mencuat keluar dari tubuhku, membasahi trotoar dengan warna merah saat orang-orang yang mendengar teriakanku berdatangan menghampiriku.
Aku bisa melihatnya dengan jelas, sang supir yang panik dikerumuni warga, serta beberapa dari pengunjung toko yang menyaksikan kejadian ini bergidik ngeri melihat keadaanku.
Aneh, meski aku sedang dikerumini oleh orang-orang yang berusaha menolongku, aku sama sekali tidak bisa mendengar suara mereka. Aku tahu niat baik mereka, namun setelah melihat reaksi mereka dan potongan besi yang menusuk perutku ini, aku tahu kalau ini adalah akhirnya. Aku tahu jika luka ini terlalu fatal untuk bisa diselamatkan. Membawaku ke rumah sakit hanya akan mengulur waktu, pendarahanku terlalu cepat untuk bisa ditangani. Dengan kata lain, ini adalah waktuku.
Menyedihkan memang harus berakhir seperti ini, namun bagaimana pun juga aku tidak bisa menduga maupun menebaknya. Ini semua terjadi begitu tiba-tiba tanpa bisa kuatasi. Benar, ini tidak lain adalah nasib yang memang sudah seharusnya terjadi padaku. Aku bukan pesimis, tapi ini murni tidak terhindarkan.
Dalam kesunyian, aku kembali mendengar suara yang sama yang sebelumnya memanggilku, namun kali ini jauh lebih jelas.
"Dia datang...! Jangan sampai kau menerima tawarannya...!"
Aku memutar mataku, berusaha mencari sumber suara atau "seseorang" yang dimaksud, namun sayangnya aku tidak menemukannya.
Dalam keadaanku sekarang, aku pikir itu tidak ada gunanya. Aku sudah tidak terselamatkan, atau setidaknya itulah yang kupikirkan sesaat sebelum sesosok orang asing dengan pakaian serba hitam yang aneh menampakkan dirinya di hadapanku.
Aku terkejut, dia bahkan tidak kulihat dari kerumunan, namun entah bagaimana bisa ada di hadapanku seolah muncul begitu saja. Dan yang lebih aneh, dengan penampilannya yang mencolok, tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang menyadarinya.
"Siapa orang ini?" Adalah pertanyaan yang muncul pertama kali saat melihatnya. Dia sangat tinggi dibandingkan semua orang yang ada di sekelilingku. Aku tahu ini dari tinggi badannya ketika berlutut di hadapanku. Dan yang paling membuatku heran adalah wajahnya yang sama sekali tidak bisa kulihat meski dia berada tepat di hadapanku. Entah itu karena topinya yang menutupi cahaya, atau karena memang dia memakai topeng, yang jelas wajahnya terlihat layaknya kolam air hitam yang tidak memiliki dasar.
Dalam kebingungan yang menyelimuti pikiranku, ia mengulurkan tangannya. Sejenenak aku memandanginya dan menyadari kalau orang ini memiliki lebih dari 5 jari di tangannya yang sontak membuatku ngeri dan ketakutan. Namun, mengetahui kalau aku ketakutan melihatnya, ia lalu mengeluarkan suaranya, berbicara padaku.
"Aku... Akan membantumu... Hidup, kau hidup... Sekali lagi... Aku bisa... Membantumu... Sekali lagi... Hidup..."
Ucapnya dengan nada terbata-bata.
Aku membeku di tempat mendengar tawarannya. Apakah mungkin masih ada kesempatan bagiku? Dan yang lebih penting, apakah mungkin untuk menolongku dalam kondisiku yang mengerikan ini?
Dalam kebimbangan, aku kembali mendengar suara pertama, untuk sekali lagi memberiku peringatan.
"Jangan... Jangan ulurkan tanganmu..."
Sebelum aku menyadarinya, sosok itu meraih tanganku dengan paksa, seketika mengejutkanku.
"Pejamkan... Matamu... Tutup... Mata..."
Bersamaan dengan itu, rasa kantuk yang tak tertahankan menyerang seolah menggiringku untuk terlelap. Aku yang kebingungan akhirnya hanya bisa pasrah dan akhirnya memejamkan mataku sesuai dengan yang dia katakan.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke tempat awalku di tepi sungai tempat aku berhenti untuk memandangi awan. Aneh, seluruh luka yang ada di tubuhku menghilang beserta dengan rasa sakitnya.
"Aku kembali hidup...?"
Ujarku selagi memeriksa setiap bagian tubuhku.
Tidak bisa dipercaya, namun di sinilah aku sekarang. Aku kembali hidup setelah mengalami kecelakaan mengerikan itu. Ini seperti mukjizat yang mustahil terjadi.
Untuk beberapa saat aku memegangi tubuhku dengan perasaan senang dan lega. Aku tidak menyangka aku akan bisa hidup lagi. Semua ini berkat orang asing itu.
Aku masih bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya orang itu. Dia bisa menghidupkanku kembali dan membuat seolah-olah apa yang menimpaku hanya sebuah mimpi buruk. Apakah dia malaikat? Ataukah mungkin iblis?
Apa pun itu, yang terpenting aku sudah hidup kembali. Dan inilah yang terpenting, atau setidaknya itulah yang kupikirkan.
"A--"
Saat aku menyadarinya, itu semua sudah terlambat.
Langit yang kupandang berubah menjadi sepenuhnya berwarna merah dengan bola mata raksasa yang berperan sebagai mataharinya. Sungai yang ada di hadapanku juga tidak berbeda, airnya berwarna hitam pekat dengan beberapa potongan tubuh mengambang di sepanjang ia mengalir, seketika memicu perasaan dingin di sekujur tubuhku.
"Apa-apaan ini semua...?"
Ucapku terkesima menyaksikan semua itu dengan tubuh menggigil.
Aku memeluk tubuhku sendiri karena ngeri, namun sebelum aku mengetahuinya, tanganku berubah menjadi lilitan tentakel yang menjijikkan.
"WAAAA--"
Aku jatuh terduduk menyaksikan apa yang terjadi pada kedua tanganku. Jari-jariku menghilang dan berubah menjadi gumpalan menjijikkan yang meliuk-liuk layaknya cacing dengan lendir yang lengket sebagai kulitnya.
Ingin rasanya aku muntah, namun anehnya tidak bisa kulakukan. Aku mencoba menenangkan diri dan berpikir bahwa semua ini hanya halusinasiku, namun saat melihat bagian tubuhku yang lain ikut berubah, pikiranku segera menghilang tertelan dalam rasa takut.
Mungkin inilah yang dinamakan kegilaan. Aku akhirnya hanya bisa terdiam dan meringkuk di tanah. Pikiranku menyerah untuk mencerna semua hal ini.
Pada titik inilah aku baru menyadari bahwa tempat ini bukanlah duniaku. Dan pada saat yang sama, aku baru menyadari kesalahan terbesarku.
Selesai...