“Apa kau tidak memperhatikan tubuhmu? Bukankah ada daging yang bisa kau makan disana,”
# #
# # #
Aku melangkah di bebatuan terjal dengan hati-hati. Terlihat dikiri kananku hanyalah ilalang kering yang mudah terbakar sejauh puluhan hektar. Dibawahku sebuah jurang yang curam dan gelap. Apakah ini ujung dari duniaku?
Aku sangat kehausan dan kelaparan, ini sudah lebih dari seminggu sejak aku terdampar ditempat ini secara misterius. Aku tidak ingat bagaimana caraku sampai disini, yang kutahu sekarang bekalku habis dan penampilanku juga lusuh.
“Kau haus? Kau penuh dengan air bukan.”
Suara yang tidak asing lagi sejak seminggu ini kembali mengajakku bicara, kurasa itu imajinasi yang kuciptakan sendiri.
“Aku tak punya air, lihat!” Balasku seraya menunjukkan bahwa aku tidak memiliki apapun selain pakaian yang melekat padaku.
“Hahaha.... Jangan bercanda, kau penuh dengan air. Tubuhmu penuh dengan air, ada air dinadimu dan kau bisa meminumnya.” Kata suara itu lagi.
“Aku tak yakin itu bisa diminum, bukankah rasanya amis?”
“Kau takkan tahu sebelum mencobanya. Ayolah, hanya satu tegukan kecil dan kau takkan kehausan....”
Aku rasa dia tidak berbohong, kuamati pergelangan tanganku. Aku bisa melihat nadiku dibalik kulit putih pucat ini. Ada air yang mengalir didalam sana, yang bisa melepaskan dahagaku. Kukeluarkan nadi itu lalu meminum isinya seteguk.
“Benarkan, itu baik-baik saja untuk diminum.”
“Ya, ini tidak terlalu buruk.”
Maksudku ini sangat enak, dahagaku langsung hilang setelah beberapa tegukan yang nikmat. Sebaiknya aku tidak terlalu boros, akan kusimpan sebagian untuk nanti.
“Apa sekarang kau lapar?” Tanya suara itu lagi.
“Sangat, dan aku tidak punya sesuatu untuk dimakan saat ini.” Jawabku sedih.
“Hahahaha.... Kau memang suka bercanda padahal kau punya banyak makanan.”
Aku memiringkan kepalaku tanda tidak mengerti apa yang suara itu bicarakan. Makanan ku sudah habis tiga hari lalu dan tidak ada apapun ditempat ini yang bisa kumakan.
“Apa kau tidak memperhatikan tubuhmu? Bukankah ada daging yang bisa kau makan disana,” terangnya.
Kuperhatikan tubuhku, ya, memang ada daging disana dan sepertinya enak. Apakah aku bisa memakannya? Aku tidak yakin, tapi suara itu tidak pernah membohongiku selama ini.
“Kau bisa mengambil satu gigitan kecil kalau kau masih ragu, untuk meyakinkanmu kalau itu enak.”
Aku mengikuti sarannya, kugigit daging dilenganku, mengunyahnya perlahan lalu menelannya. Suara itu benar, daging ini sangat enak dan manis. Jadi kuambil lagi beberapa gigitan untuk menghilangkan rasa laparku. Setelah cukup makan, kusimpan sisanya untuk nanti.
Sekarang aku punya air dari nadiku untuk diminum dan daging untuk dimakan dari tubuhku. Aku tidak akan kelaparan lagi, aku pasti bisa bertahan sampai bantuan datang. Aku sangat yakin itu. Ah, sekarang tiba-tiba aku mengantuk, mataku terasa berat.
“Apa kau mengantuk? Kau memang anak manja hahaha...baik, sekarang berbaringlah di atas ilalang itu dan pejamkan matamu.”
Aku mengikuti perintah suara itu dan menempatkan diriku senyaman mungkin, lalu kupejamkan mataku. Sayup-sayup kudengar suara nyanyian nina bobo mengantar tidurku. Hingga semua yang samar menjadi gelap dan aku tertidur pulas.
“Mati mati matilah. Kau anak manja yang tersesat, matilah kau. Mati mati matilah kau. Tidurlah dalam kematianmu dan jangan bangun lagi. Mati mati mati....”
# #
Dua hari kemudian tim SAR menemukan sesosok mayat yang hampir membusuk dengan daging yang sudah terkoyak-koyak serta nadi yang keluar dari lengannya. Dan dimulut mayat itu masih tersisa potongan daging yang terlihat sedang dikunyah.
Saat tim SAR membawa mayat itu pergi, dikejauhan terdengar sebuah lagu pengantar tidur mengiringi mereka.
“Mati mati matilah. Kau anak manja yang tersesat, matilah kau. Mati mati matilah kau. Tidurlah dalam kematianmu dan jangan bangun lagi. Mati mati mati....”
The end.
# # # #
by IndahRashie