"Dasar anak tak tahu di untung!"
Brak!!!
Piring berisi nasi dan sepotong ikan asin, berserakan di atas lantai. Beberapa butirnya menempel di baju seragam Kayara.
Gadis bersurai hitam panjang itu hanya bisa menangis tersedu, membersihkan tubuhnya yang baru saja di lempari sepiring makanan.
"Sudah ku katakan, kau harus menikah dengan Tuan Bram!" Wanita yang berteriak adalah ibu tiri Kayara, namanya Miranda.
"Sudah ku bilang bu, gadis ini memang tidak tahu di untung!" Seorang gadis keluar dari kamarnya. Dia duduk di depan TV, mengokang kaki sambil menikmati nasi padang yang di beli Miranda pagi tadi.
Sudah dua minggu sejak Miranda mendesak Kayara untuk menikahi Tuan Bram, seorang pria berusia 45 tahun.
Setelah kematian suaminya, yakni ayah kandung Kayara, Miranda yang terbiasa hidup santai, tidak memiliki pilihan lain. Dia berhutang, dan sayang nya, pada seorang rentenir ulung, Bram Komer, seorang pria tua, mata keranjang.
Karena tak mampu melunasi, utang yang dimiliki Miranda membuat Tuan Bram mengambil keputusan agar Miranda mau memberikan salah satu putrinya, untuk dinikahi. Tidak rela memberikan putrinya yang padahal sudah berusia 25 tahun, Miranda memilih Kayara;gadis berusia 17 tahun, sebagai pilihan nya.
Dan hari ini, Miranda marah besar karena Tuan Bram baru saja menghubunginya untuk melapor perihal ketidakhadiran Kayara dalam pertemuan kemarin.
"Kurung saja, dia Bu. Biar nanti Tuan Bram sendiri yang datang menjemputnya!" saran Jihan, kakak tiri Kayara. Miranda berpikir sejenak.
"Ya, betul juga! Lebih baik begitu ... Kau cerdas sekali, putri ku!" Miranda tersenyum riang. Seringainya membuat Kayara ketakutan.
"Hari ini, kau tidak akan ke sekolah!"
"Tapi Bu, hari ini Kayara ada ujian tengah semestet kala_"
"Halah! Sekolah pun tak akan ada gunanya! Kau tidak bisa membayar hutang, bukan? Jadi dari pada membuang waktu di sekolah, lebih baik aku mengurung mu."
Miranda berdiri, menyeret tubuh Kayara.
Cengkraman kuat nya membuat Kayara yang berusaha memberontak pun tidak berhasil melepaskan diri.
"Tolong lepaskan aku, Bu! Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi!"
Jeritan demi jeritan, permohonan demi permohonan, tak satupun menggerakan hati Miranda yang telah buta oleh kemarahan. Justru, dengan kasarnya, Miranda malah mendorong Kayara, begitu merrka tiba di depan kamarnya.
Tanpa menunggu lama, Miranda langsung menggembok kamar Kayara, mengurungnya di sana.
"Jangan harap kau bisa keluar!" hardik Miranda, berjalan menjauh, mengahampiri Jihan dan kembali menikmati makanan nya.
°
°
°
Di dalam kamar, Kayara hanya bisa menangis. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Membayangkan apa yang akan terjadi padanya beberapa jam kedepan, membuat Kayara ketakutan setengah mati.
Walau bagaimana pun, Kayara pernah mendengar bahwa Tuan Bram merupakan seorang pria yang suka menyiksa wanita. Beberapa perempuan yang pernah menikahinya pun, kadang melarikan diri karena kekejaman nya.
"Ya Tuhan, jika kau memang ada, tolong bawa aku pergi dari dunia in_"
Wushhh...
Belum juga, Kayara menyelesaikan permintaan, udara dingin yang entah dari mana, menelisik begitu saja ke dalam tulang-tulannya.
Dengan agak malas, Kayara mengedarkan pandangan ke seisi ruang kamar minimalis miliknya.
Menatap ke bawah kolong ranjang, tempat ia bersandar, lalu menyingkap gorden abu-abu yang baru ia sadari, masih tertutup.
"Perasaan sudah ku buka tadi," batin Kayara, kembali menelisik seisi kamar, namun tak menemukan apa pun. Hanya ada dirinyaa di sana.
"Aku, tidak tahu siapa diri mu, tapi tolong jangan mengganggu ku! Saat ini ... saat ini, aku tidak ingin meladeni siapa pun, atau apa pun kalian!" ucap Kayara, kembali tertunduk lesu.
Namun, tiba-tiba, karena merasa hawa dingin yang semakin menusuk, Kayara mendongak.
"Kyaaa...!"
Mendadak, gadis itu berteriak kaget saat mendapati sesosok manusia bekulit pucat, berada tepat di depan wajahnya.
Saking dekatnya, Kayara bahkan bisa merasakan hawa dingin menerpa wajahnya yang polos.
Ya, bukan napas, tapi hanya ada hawa dingin.
"Siapa ka_"
"Hmmpp..." Kayara membelalakan mata! Jantungnya berdegup tak karuan. Dia bisa merasakan sensasi dingin, yang amat dingin ketika bibir pria itu, membungkam mulutnya.
Sementara itu, di saat Kayara nampak ketakutan, pria itu justru terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa, dan mulai memperdalam ciumannya, tanpa ijin dan tanpa permisi.
"Lepa_hmpp..."
Sekuat tenaga, Kayara berusaha melepaskan ciuman nya, namun pria itu justru melingkarkan tangan di pinggang Kayara, dan tanpa aba-aba, mereka melayang, nyaris menyentuh plafon kamar.
Lagi-lagi, mata Kayara melebar, ia memberontak karena ketakutan, namun pria asing itu malah lebih memperdalam ciuman mereka, membuat Kayara yang putus asa, akhirnya harus berpegangan erat pada lengan pria itu.
Selang bebera menit kemudian, pria berwajah pucat itu, baru berhenti saat Kayara telah nyaris kehabisan napas karena ciuman mereka.
"Hah...!"
Dengan sekuat tenaga, Kayara berusaha menghirup udara ke dalam paru-parunya. Ia bahkan belum berani membuka mata, dan masih tetap menggenggam lengan dingin bag es batu tersebut.
"Kau bisa membuka matamu, Charmile."
Suara lembut bagaikan deru sungai yang mengalir tenang, membuat Kayara membuka matanya perlahan. Dia tidak lagi berfokus untuk memastikan dimana dirinya berpijak. Nafas memburu membuat mata bulat Kayara justru berfokus pada wajah tampan di depan nya.
Hidung mancung dengan pahatan rahang yang sempurna, membuat Kayara terdiam. Mata teduh berirish biru pucat, untuk sesaat, berhasil menghipnotis Kayara, membuatnya kembali menatap lebih jauh.
Masih belum berkedip, mata Kayara bergerak turun, menatap bibir pucat tak berwarna yang baru saja menciumnya. Alhasil, secara spontan hal tersebut membuat Kayara menyentuh bibirnya sendiri. Untuk sesaat, ia bisa akui bahwa dirinya terpesona pada sosok yang belum ia kenal tersebut. Ia bahkan lupa bahwa saat ini, wajah mereka masih sangat dekat.
Sejak berulang tahun ke 17 satu bulan lalu, Kayara secara tiba-tiba, dapat melihat sosok-sosok tak kasat mata sehingga membuatnya sudah sedikit merasa terbiasa. Namun, baru kali ini, Kayara benar-benar bisa menyentuh mereka, bahkan...
"Kya...!"
Secara mendadak, Kayara yang tadi nya sempat melamun, sontak tersadar. Dia menjerit lalu mendorong tubuh pria itu, menjauh, namun kembali membekap mulutnya saat melihat pria tersebut justru tersenyum dan menatap ke arah bibirnya.
Ya, Kayara takut jika dirinya harus kembali di cium tanpa permisi.
"Kalau minta ijin sih, boleh saja ... Astaga! Kayara apa yang kau pikirkan?" Kayara buru-buru menggeleng. Ia kembali menatap pria di depannya tajam. Yang mana, pria itu malah tersenyum ke arahnya.
Kayara baru sadar, tadi saat di dorong, pria asing itu sama sekali tidak terjengkang, dan justru berpindah dengan amat cepat, secepat kedipan matanya.
"S-siapa kau?" tanya Kayara gugup. "Kau pasti bukan manusia, tapi sepertinya kau juga bukan hantu ... tapi tadi, kau juga tak bernapas namun, aku bisa menyentuhmu. Hantu kan, tak bisa di sentuh ... tapi manusia juga seharusnya tidak seperti diri mu. Jadi kau ini apa? ... Maksudku, kau manusia atau hantu? Tapi kayaknya bukan dua-dua nya. Lalu kalau bukan dua-duanya, apa kau ini?"
Melihat Kayara yang kebingungan, dan terus berceloteh, pria
asing itu justru menyunggingkan senyum menawan,lalu sesat kemudian, kembali mendekat, memangkas jarak antar mereka.
Dia membelai wajah Kayara yang lembut, mebuat Kayara kembali tak berkomentar. Mata bulat Kayara menatapnya tanpa berkedip saat pria tersebut mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Kayara.
"Ingin rasanya segera menyentuh, menjamah mu saat ini juga. Namun, aku tak bisa melanggar hukuman ku, kau tak boleh ku sentuh di kehidupan ini, kekasihku." Pria itu menggertakan giginya, rahangnya menegang, nampak begitu tersiksa.
Kayara bisa melihat penderitaan dalam mata birunya yang dingin. Luka yang sama seperti yang Kayara rasakan saat ini, di tinggal oleh orang-orang terkasih. Sehingga tanpa sadar, Kayara meneteskan air matanya.
"Aku hanya akan mencintaimu di kehidupan ini, Charmile. Seperti kehidupan mu yang sebelum-sebelumnya, aku hanya akan melindungimu, dan memuluskan jalan hidup mu sampai kita bertemu di lima ribu tahun kemudian, tepat di saat kau bisa mengingat ku lagi," ujar pria itu, semakin membuat Kayara kebingungan.
"Aku tak mengerti, apa maksud mu?"
Pria itu terdiam. "Aku sudah melanggar aturan karena mencium mu tadi. Jadi, setelah ini, kita tak akan bertemu lagi. Tapi, akan ku pastikan tidak ada seorang pun bisa menyakiti mu, Charmile ku," ujarnya lagi, semakin membuat Kayara kebingungan.
"Siapa Charmile? Kenapa kau sejak tadi menyebutku dengan nama itu?"
Ya, untuk sesaat, Kayara akui, dirinya justru merasa cemburu saat pria asing yang baru ia temui beberapa menit lalu, justru menyebut nama wanita lain.
"Apa kau cemburu, sayangku?" Pertanyaan pria itu, justru membuat wajah Kayara bersemu merah. Dia menunduk dalam namun, kembali mendongak saat pria itu mengangkat dengan meletakan jari telunjuk di dagu Kayara. "Jangan Cemburu pada dirimu sendiri, kekasihku. Ingatlah, bahwa kau harus menjalani hidupmu dengan baik, setelah ini."
Kali ini, sebuah ciuman kembali mendarat di bibir Kayara. Gadis itu memjamkan matanya, merasakan ciuman dingin dari pria asing yang entah dari mana asalnya, namun berhasil membuat Kayara, untuk pertama kalinya, benar-benar jatuh cinta.
"Aku mencintai mu, Charmile..."
Sayup-sayup, Kayara dapat mendengar suara berkharisma itu, perlahan menjauh. Bahkan, ciuman di bibirnya pun, lambat laun tidak lagi terasa, seolah sirna begitu saja, membuat airmata Kayara tiba-tiba luruh.
"Elliot...!"
Secepat mungkin, Kayara membuka matanya dan dengan spontan memanggil pria itu, tak tahu dari mana, nama itu secara mendadak terbesit di pikirannya.
Dia menangis, memeluk tubuhnya sendiri, menyebut nama asing itu secara berulang-ulang.
"Elliot...! Jangan tinggalkan aku..." desisnya. "Duke Elliot Bethune...!"
Brak!
Pintu kamar Kayara mendadak terbuka. Jihan menangis tersedu, di depan pintu kamar Kayara.
"Ibu meninggal Kay! Dia baru saja kecelakaan di depan jalan besar," pekik Jihan, menyebut nama jalan yang tak jauh dari rumah mereka.
"Apa maksud mu, Han?"
Jihan tak menyahut, dia justru berlari ke arah Kayara, meminta Kayara untuk membantunya.
"Tolong aku, Kayara! Aku tak mau menikahi Tuan Bra_"
Belum ada kalimatnya berhenti, lima pria berbadan kekar, menuju ke arah mereka. Kayara bisa langsung mengenal pria-pria tersebut sebagai anak buah Tuan Bram.
"Cepat! Ikut Kami!" titah pria-pria berjas hitam tersebut, dan langsung menyeret Jihan keluar dari kamarnya.
Kayara masih belum bisa menelaah, apa yag sebenarnya terjadi. Ia bingung dengan kematian ibu tiri yang mendadak, di tambah Jihan yang justru harus menikahi Tuan Bram.
"Kenapa Jihan yang dinikahkan dengan Tuan Bram?" tanya Kayara pada seorang pria berwajah garang.
Pria itu menatap Kayara datar, "Karena Miranda telah meninggal, hutang tersebut kini di limpahkan kepada putri tertua nya, yaitu Jihan, kakak mu!" ucap pria itu cepat, lalu melangkah keluar.
Masih dalam keadaan bingung, Kayara memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Hanya sesaat saja, rasa sakit itupun mendadak sirna.
Kayara kebingungan. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba menyentuh bibir nya sendiri.
"Apa yang terjadi tadi? Kenapa rasanya aku harus mengingat sesuatu, tapi justru melupakan nya? ... Elliot? Siapa Elliot?"
Karena belum menemukan jawaban nya, Kayara hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan memutuskan untuk tidak lagi menghiraukan perasaan nya. Dia berlari ke depan, mengikuti jejak pergi lima pria tadi.
Dan benar saja, secara perlahan, ingatannya akan apa yang barus saja terjadi di kamar, bersama si pria berwajah pucat dan berkulit dingin tersebut, telah menghilang dari ingatan nya. Hanya nama Elliot yang tak bisa hilang, sebab nama itu berasal dari ingatan Kayara sendiri.
"Aku akan menunggu mu, Charmile Ku..."
***