Ryung menatap gadis cantik yang di tunjuk sang kakak sebagai pengantinnya. Gadis itu tengah duduk di apit kakek dan neneknya yang telah merawatnya sedari dia kecil. Entah bisikan apa yang membuat sang kakak berniat meminang gadis itu untuk Ryung nikahi. Terlebih lagi gadis itu tak dapat melihat. Apa yang bisa dia lakukan untuk Ryung??bahkan untuk berjalan saja dia memerlukan bantuan sebuah tongkat, bagaimana dia akan melayani Ryung kelak jika mereka akhirnya menikah??? Pemuda mapan itu benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran sang kakak.
"Kak Nari,,,apa kau sedang bercanda???, lihatlah! untuk melihat saja dia tak bisa!"Bisik Ryung mendekatkan diri pada sang kakak.
"Dia gadis yang sangat baik Ryung. Aku ingin dia menjadi iparku"
"Kau egois kak!, demi memenuhi keinginanmu kau tega memintaku menikahi gadis buta!"
"Hei...penglihatannya masih bisa di sembuhkan. Aku sudah berkonsultasi dengan Dokter Yohan"
"Tapi kak...tak bisa kah kau mencarikan gadis lain saja. Yang lebih modis sedikit"
Nari tersenyum simpul mendengar celoteh sang adik, Shin...nama gadis itu. Dia seorang gadis buta yang selalu berpakaian sederhana dan tentu saja tak suka berpakaian serba terbuka. Tutur katanya sopan dan lembut, dia juga gadis yang riang. Meski terperangkap dalam dunia gelap sedari usia 12 tahun hal itu tak menyurutkan semangat hidupnya.
Hampir setiap hari sejak Nari berkunjung untuk pertama kali ke peternakan Kakek dan nenek park, Shin selalu menjadi pendengar yang baik ketika Nari berkeluh kesah tentang kehidupan yang dia jalani. Tentang suami nya yang berakhir pergi dengan wanita lain. Tentang kerinduannya dengan kedua orang tuanya yang tlah tiada. Tentang pekerjaan di perusahaan, dan tak luput tentang adik semata wayangnya Ryung yang tak kunjung menikah. Padahal usianya sudah hampir 30 tahun.
Rasa sayangnya terhadap sang adik membuatnya berniat menikahkan Shin dan Ryung. Maka sebelum melamar Shin di hari hari sebelumnya Nari sudah berkonsultasi dengan Dokter Yohan tentang kebutaan gadis itu. Dia bahkan tlah membawa Shin untuk bertemu langsung dengan Dokter Yohan.
Yah...Nari dan Ryung adalah pewaris dari keluarga terkaya di daerah itu. Sejak kedua orang tua mereka meninggal,tinggal lah mereka berdua yang saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.
Depresi kerena di tinggal selingkuh oleh sang suami membuat Nari mencari cari tempat nan sejuk dan damai demi menenangkan jiwa nya yang lelah karena ulah lelaki sialan itu. Langkah membawa Nari ke pinggiran danau yang terletak di sepanjang tepian hutan, dan di sanalah tempat Shin dan kedua orang terkasihnya tinggal. Sejak saat itu Nari dan Shin akhirnya berteman baik.
Pada awalnya niat untuk menikahkan mereka berdua di tentang oleh kakek Park, tapi Nari terus meminta kepada keluarga itu. Hingga dia berjanji akan membuat Shin dapat melihat kembali, maka setujulah kedua orang tua itu untuk menikahkan cucu kesayangan mereka. Toh tuan muda Ryung terkenal baik kok, mereka tentu nggak akan meragukan kebahagiaan Shin jika menjadi istrinya. Dan Shin yang penurut hanya dapat berpasrah pada keputusan mereka.
"Tapi Kak, aku nggak mencintainya!"Ryung kembali berbisik.
"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya"Sahut Nari santai.
"Kak___"
"Bukankah kamu telah menyerahkan urusan pengantinmu pada Kakak???ingat Ryung sebentar lagi kamu kepala 3"
"Memangnya kenapa kalo kepala 3??? Ketampanan ku nggak akan berpengaruh meski sudah berkepala 3 kakak!"
"Justru karena wajah tampan mu itu, apa kamu ngggak takut di gosipin nggak laku???percuma wajah rupawan ini kalo masih jomblo di usia segini"Cibir Nari melirik nakal pada Ryung. Akh!Ryung kalah lagi, dia nggak akan pernah menang kalo berdebat dengan sang Kakak.
Ini bukan kali pertama Nari mendesak sang Adik untuk segera membina rumah tangga, dan ada bagusnya juga jika Ryung segera menikah, setidaknya para pemegang saham di perusahaannya akan berhenti mempertanyakan status nya yang begitu betah sendirian.
Hari demi hari akhirnya pernikahan pun terlaksana. Shin dan Ryung akhirnya resmi menjadi suami istri. Gadis cantik itu tengah duduk di depan meja hias ketika para pelayan di kediaman Ryung membantunya melepaskan segala aksesoris selepas mereka menggelar pernikahan.
"Kalian boleh pergi sekarang"Perintah Ryung pada para pelayan wanita.
Shin menunduk, sebisa mungkin dia melepaskan jepitan pada Tiara yang dia kenakan"Ayolah, kenapa melepas pin kecil begini saja menjadi susah bagiku"Gumam hatinya.
"Istirahatlah, sekarang sudah hampir jam 11 malam"Ujar Ryung meletakan jas pengantinnya di bahu kursi kamar mereka.
"Baik Tuan"Sahut Shin pelan. Dia masih terus berusaha menarik pin kecil itu dari rambutnya.
Melihat gelagat Shin, Ryung merasa harus membantu wanita itu, mungkin dia belum terbiasa dengan penglihatan barunya. Ya...Kini Shin telah dapat melihat lagi. Nari menepati janjinya, sebelum hari pernikahan di gelar dia sudah lebih dulu menepati janjinya kepada kedua wali Shin.
Sejatinya pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan. Sudah satu minggu lebih pernikahan itu namun Ryung belum menyentuh Shin sedikit pun. Hal itu menimbulkan rasa rendah diri di hati Shin. Apalah daya, kehadirannya di keluarga ini hanya untuk menjadi teman terbaik Nari saja.
"Tuan Ryung, nanti malam anda mau makan apa??"Tanya Shin pagi itu. Meski mendapat perlakuan dingin dari suaminya Shin terus berusaha memberikan perhatian terbaiknya untuk Ryung"Setidaknya dengan menikah dengan mu aku dapat melihat indahnya dunia ini"Bisik hati Shin.
"Nanti malam akan ada jamuan dari perusahaan kolega, bersiaplah"Hal ini terjadi lagi. Shin kembali di pertontonkan di antara para pemegang saham dan pengusaha pengusaha kaya raya seperti Ryung. Mereka terus memuja kecantikan Shin yang katanya memang pantas menjadi pendamping Ryung yang tampan rupawan.
"Tersenyumlah Shin, hanya hal ini yang bisa kamu lakukan untuk keluarga ini"Bisik hatinya lagi.
Di depan mereka Ryung bersikap manis kepadanya, berbanding terbalik dengan sikapnya ketika berada di rumah. Sejatinya Ryung tak bersikap kasar dan menyakiti tubuh Shin, hanya saja dia belum bisa menerima kejadiran wanita asing itu di kediamannya. Dan juga statusnya sebagai istrinya.
Malam tlah larut ketika mereka kembali ke kediaman"Apa Tuan akan tidur di ruang kerja lagi??"Tanya Shin pelan.
Sebenarnya Ryung merasa risih dengan sebutan Tuan itu, tapi dia juga enggan untuk meminta Shin berhenti memanggilnya dengan sebutan itu"Kalau bukan Tuan apakah dia harus memanggilku Suami??"Ucap hatinya. Membayangkan itu membuat Ryung bingung.
"Ya, aku masih harus bekerja lagi di sana"Sahutnya bersiap meninggalkan Shin.
Shin terdiam. Beberapa detik lidahnya terasa kelu, namun akhirnya dia pun menyahut perkataan Ryung"Baiklah Tuan"
Ada rasa bersalah, tapi Ryung benar benar tak terbiasa dengan istrinya ini. Bukan berarti dia tak menarik, hanya saja dia merasa gadis ini terpaksa menikah dengannya. Mengingat betapa baiknya Shin dia pasti setuju menikah dengan nya karena bujukan dan rayuan Nari.
Di lain hari ketika sore berbalut hujan. Shin menatap langit kelabu dari jendela kamarnya"Kenapa Tuan Ryung belum kembali"Ini sudah lewat dari jam kerja Ryung, harusnya pria itu tlah berada di rumah sekarang.
Terbesit keinginan untuk menghubunginya lewat ponsel, namun Shin takut dia akan mengganggu pekerjaan suaminya.
"Jangan melamun, ini sudah hampir malam nanti kemasukan setan lho"Nari muncul dari pintu kamar Shin.
"Hehehe, Kak Nari. Aku hanya terpikir Tuan Ryung"
"Dia belum pulang dari kantor??"Tanya Nari.
Shin mengangguk
"Sudah di telepon??"
Kali ini Shin menggeleng.
"Lho...buruan kamu telpon, dia suami mu kenapa kamu seolah sungkan dengannya"
"Hm....Aku takut mengganggunya bekerja Kak"
"Sini biar aku yang telpon"Nari mengambil ponsel milik Shin yang sedari tadi hanya dia genggam saja.
"Tuan muda Ryung"
"Ya tuhan, apa apaan dengan nama ini. Kamu bukan pelayannya Shin kenapa kau memberikan nama seperti ini kepada suami mu??"Protes Nari dengan seringai tawa mendapati nama kontak milik Ryung di ponsel Shin.
Shin tersipu malu"Lantas harus ku beri nama siapa Kak??"
Saat itu panggilan tersambung. Suara Ryung terdengar di ujung telepon"Halo Shin, ada apa??"
"Ada apa apanya??begitukah cara suami menerima panggilan telepon dari istrinya??"Sentak Nari.
"Oh Kak Nari, ada apa kau menelpon??"
"Kamu belum pulang??Shin sangat mengkhawatirkan keadaan kamu"
Shin merasakan panas di wajahnya. Nari seenaknya berkata yang tidak tidak kepada Ryung. Dia jadi tak enak hati sekarang.
"Mobilku mogok, Hendro juga nggak kerja hari ini jadi aku nyetir sendiri. Mobilku ku tinggalakan di tepian jalan, sekarang aku terperangkap hujan dengan tukang ojek yang ku naiki. Sekarang kami berteduh di halte bus dekat Big market di lampu merah"
"Astaga Ryung, otak kamu nggak di kasih nutrisi???Kenapa nggak telpon ke rumah biar supir di sini yang jemput kamu"
"Sudahlah jangan mengomel terus. kak Nari mau pipinya jadi kendor karena bawel??aku akan segera pulang. Sudah ya"
Ryung menutup panggilan.
Nari menyerahkan ponsel pada Shin sembari tersenyum miring"Aku heran, kenapa aku punya adik tampan tapi otaknya bobrok"
"Kenapa kak"
Nari pun menceritakan apa yang di alami Ryung di luar sana.
"Shin bikinkan minuman hangat buat Tuan Ryung deh, kak Nari juga mau??"
"Nggak!! aku mau kembali ke kamar ternyamanku. Aku juga sudah makan malam, jadi biarkan aku bersantai di kamarku ya. Sampai jumpa besok pagi Shin"Ujarnya melambaykan tangan dan pergi dari kamar Shin.
Para pelayan di dapur telah menyelesaikan pekerjaan mereka, namun ketika melihat Shin memasak air panas mereka sibuk hendak mengambil alih pekerjaan Shin.
"Biar Shin saja Bi, kalian istirahat lah. Shin hanya ingin membuatkan minuman untuk Tuan Ryung".
Paham dengan perkataan Shin para pelayan pamit diri dari hadapan Nyonya muda itu. Tinggalah Shin yang sedang berkutat di dapur sendirian.
Ryung tlah selesai mandi dan berganti pakaian, kini dia tengah duduk di kursi kamarnya menatap langit yang masih betah menurunkan hujan.
"Silahkan di minum Tuan"Shin muncul dengan Teh jahe di tangannya. Dia meletakan minuman tersebut di meja.
"Apa benar kamu menghawatirkan aku??"Tanya Ryung tiba tiba.
"Maaf Tuan"
"Kenapa kau meminta maaf??"
Shin bingung hendak menjawab apa.
"Ada hal yang sudah lama ingin aku tanyakan padamu"Ucap Ryung sambil mengesap Teh jahe yang di berikan Shin.
"Apa kau takut padaku??"
"Tidak"
"Apa kau merasa tak nyaman bersamaku??"
"Tidak Tuan"Jawab Shin lagi.
"Lantas kenapa kau diam saja ketika aku berusaha menjaga jarak denganmu??"
Shin mengembungkan kedua pipinya, dia masih bingung untuk menjawab perkataan Ryung.
"Apa kau terpaksa menerima lamaran ku??"
Kali ini Shin sontak menggeleng tak setuju.
"Saya pikir Tuan lah yang terpaksa menikah dengan saya, saya hanyalah gadis biasa. Saya hanya bisa mengikuti peraturan dan kehendak Tuan saja sebagai balasan telah membuat saya kembali dapat melihat dunia"
Hari itu Ryung menyadari telah terjadi kesalah pahaman di antara mereka.
Perlahan Pria itu membuka hati untuk menerima Shin, perlakuan dinginnya mulai menghangat. Dan untuk pertama kalinya dia meminta menu makan malam ketika Shin menanyakan apa yang dia inginkan untuk makan sepulang bekerja.
Ada riak bahagia di wajah Shin mendapai hal itu. Dengan semangat dia memasak menu makan malam untuk Ryung dan pria itu memakan dengan lahap apa yang telah istrinya sediakan untuk dirinya.
Waktu kebersamaan untuk mengenal satu sama lain perlahan berlalu. Namun Ryung masih belum berani tidur seranjang dengan wanita itu. Karena mereka baru berkenalan ketika hendak menikah Ryung merasa canggung jika harus menghabiskan malam bersama sedangkan riak cinta belum berkembang di hati mereka.
Namun nyatanya Ryung salah menerka. Sejak dia mulai menerima kehadiran Shin dalam pernikahan mereka hati wanita itu tlah terpaut hanya kepadanya. Setiap sore dia menunggu kedatangan suaminya dengan melihat dari jendela kamar. Senyumnya akan merekah ketika sang suami tlah sampai di rumah mereka.
Setiap pagi dia memandangi wajah tertidur pulas sang suami di tempat tidur ruang kerjanya sebelum akhirnya dia membangunkan Ryung untuk sarapan.
Setiap hari dia memandangi foto pernikahan mereka sebab di sanalah dia dapat menikmati senyum merekah pada wajah sang suaminya.
Perlahan rasa cinta itu terus berkembang di hati Shin, namun dengan sabar dia menunggu keringanan hati Ryung agar naik sekedar tidur seranjang bersamanya.
"Hatchu!!!"
"Hatcchuuu~~~"
Suara itu terdengar berulang kali dari kamar Shin.
Ryung yang berada di ruang kerja dapat mendengar dengan jelas sebab letak ruangan mereka berdapan.
Dia meninggalkan laptop yang nampak menyala menampilam table bursa saham dunia, dia menghampiri Shin yang ternyata sedang demam.
Di letakannya punggung tangannya pada kening Shin, sementara punggung tangannya yang lain dia letakan di keningnya sendiri.
"Panas??atau biasa aja??"Gumam hatinya.
Demi memastikan suhu tubuh Shin, dia tak terpikir akan termometer, dia malah menempelkan keningnya pada kening Shin.
Meski setengah sadar Shin dapat merasakan deru nafas Ryung yang begitu dekat dengannya. Sontak dia membuka kedua mata meski terasa berat. Sungguh sebuah pahatan sempurna ciptaan tuhan. Hidung yang begitu tajam, dengan kedua bola mata nan sayu menatap kepadanya.
"Tuan!!"Shin buru buru bangun karena terkejut.
"Aw!!!"Pekik Ryung. Kening mereka bertabrakan.
"Maaf Tuan!!, apa itu sakit??"
"Jelas saja sakit???kau pikir kepalamu terbuat dari apa??"
Shin memegangi kening Ryung"Maafkan saya Tuan. Saya akan mengompres kening anda"Dia beranjak dari tempat tidur namun tubuhnya oleng di ujung ranjang. Membuatnya hampir tersungkur ke lantai jika saja Ryung tak merangkul pinggangnya.
Deg!!!Mereka berdua terdiam. Shin duduk kembali di hadapan Ryung.
"Wajahmu merah karena demam??"
"I___iya"Sahut Shin terbata.
"Oh, jangan pikirkan keningku. Keningmu yang harusnya ku kompres"
Shin menerima perlakuan lembut Ryung yang merawatnya ketika sakit. Setelah meminum obat penurun panas Shin terhayut dalam tidur, hingga pagi penjelang dia mendapati Ryung tertidur pulas di sampingnya dengan lengannya sebagai bantalan Shin.
Kedua tangan Shin menutupi mulutnya yang hampir berteriak.
"Hatchu!!"
Kali ini Ryung yang terserang flu.
"Tuan"
"Berhenti memanggilku Tuan, aku suami mu. Kau bisa memanggilku 'Sayang' atau semacamnya"Ucapnya dengan kedua mata masih terpejam.
Shin tertawa, dia merasa demamnya tlah sembuh dan jelas virus flunya berpindah pada Ryung. Kini giliran Shin yang merawat Suaminya.
Sejak saat itu Ryung tak lagi tidur di ruang kerjanya. Sepasang suami istri itu akhirnya menjalani hari hari bahagia seperti pasangan lainnya. Rasa cinta yang awalnya tiada kini menghiasi hari hari indah kebersamaan mereka.
~Benang merah tak pernah salah menarik ujungnya,
Sejauh apa Tuan dan nona jodoh berada mereka pasti kan bertemu jua~
By:Be_Mei.