Bunga
mencintai sekali lagi
berdosa sekali lagi
menerima ampunan sekali lagi
itulah musim semi
Puisi karya Na Tae Joo—penyair kondang Korea ini begitu cocok dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama membuatku merasa berdosa karena selalu mengkhianati diriku sendiri. Lalu mengampuni diri sendiri karena merasa hal tersebut masih wajar dan pantas ditoleransi. Ah … cintaku layaknya musim semi yang menghadiahkan dunia penuh warna setelah sebelumnya terlihat monokrom.
Hari ini aku harus pulang ke Indonesia. Masa liburanku di Korea telah usai. Sebenarnya aku dan keluarga masih bisa berlama-lama menikmati musim semi di Korea. Namun, tiba-tiba Ayahku mendapat kabar bahwa ada projek penting di perusahaannya yang mengharuskan kami pulang cepat. Aku yang tidak bisa menolak kenyataan pun ikut pulang dengan perasaan cukup kecewa. “Tak apa, jika Allah berkehendak kamu liburan ke sini, kamu pasti akan ke sini lagi kok Al,” batinku.
Setiba di bandara, kami dijemput oleh sopir pribadi. Namun, aku tak langsung ikut pulang ke rumah. Rusydi—sahabatku mengajak pergi nonton sebuah pameran seni. Aku yang suka melihat pameran pun langsung setuju.
“Gimana liburan di Korea?” tanyanya.
“Ya gitulah.”
“Ya gitu gimana?”
“Alhamdulillah menyenangkan.”
Rusydi mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Setelah percakapan tadi, suasana hening. Aku hanya memandang samping jalan melalui balik kaca mobil, sedangkan Rusydi hanya fokus menyetir.
Dulu setiap kami pergi berdua, pasti suasana di dalam mobil tidak pernah hening. Ya, aku selalu berbicara apa pun secara antusias. Namun semenjak Rusydi mengatakan kepadaku ada perempuan yang ia suka, aku mulai sadar diri dan membangun jarak untuknya. Aku tidak ingin mencintainya secara terus-terusan. Cukup sudah aku menjadi sahabatnya. Mungkin menjadi sepasang sahabat lebih baik.
“Sudah sampai,” katanya.
Aku baru sadar jika kami telah sampai tempat tujuan. Aku menoleh ke arahnya dan dia tersenyum kepadaku. “Ya Allah … ada apa dengan jantung ini?” batinku. Dengan segera aku memalingkan pandanganku dan membuka pintu mobil. Lalu, kami berjalan melihat berbagai pameran seni.
“Wah … cantik banget lukisannya,” gumamku.
“Kamu mau beli? Nanti aku belikan.”
“Ng-nggak usah. Kamarku udah penuh lukisan bunga seperti itu.”
Setelah satu jam kami menikmati pameran, Rusydi mengajakku makan bakso. Awalnya aku menolak karena ingin segera berpisah dengannya. Namun, perut yang lupa aku isi memberontak membuatku harus bersamanya lebih lama.
“Gimana, enak?”
“Tentu.”
Hening.
“Kamu kenapa?”
“Maksudnya?” Aku kembali menikmati semangkuk bakso.
“Kamu seperti sedang membangun jarak denganku, Alya.”
Uhuk … uhuk … Tiba-tiba aku tersedak. Aku kaget dengan perkataannya. Kenapa dia berpikiran seperti itu? Apakah tindakanku begitu nampak?
“Apaan sih, enggak lah.”
“Masa sih? Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu berbeda.”
“Aku lagi galau, Di.”
Lalu, aku menceritakan kepadanya bahwa aku merasa sedih dengan diriku yang masih mencintai orang lain. Padahal, aku tahu orang itu mencintai perempuan lain dan mengatakan akan ‘serius’ kepada perempuan itu. Aku yang tidak bisa menyatakan perasaanku untuknya hanya bisa terdiam dan berdoa.
“Lalu, bagaimana cowok itu sekarang? Siapa sih dia? Kamu belum pernah cerita sama aku soal ini.”
“Orang itu adalah kamu, Rusydi,” batinku.
“Kok diem sih?”
“Udah ah, nggak penting juga. Aku memang sudah menduga sih dari awal. Aku tidak pantas dan harapanku terlalu tinggi.”
“Alya, sebelum janur kuning melengkung … bantai mereka dengan doa. Allah kan maha pembolak-balik hati, siapa tahu cowok itu jadi milikmu nanti.”
Aku hanya tersenyum simpul dan melanjutkan makan.
***
Malam ini aku masih terjaga. Tiba-tiba perkataan Rusydi tempo hari menghantui pikiranku. Waktu itu, kami berdua sedang menikmati senja dari rooftop rumah sakit—tempat dia koas. Rusydi adalah seorang mahasiswa kedokteran yang terpaut umur lima tahun denganku. Meskipun jarak umur kami cukup jauh, aku tetap memanggilnya dengan nama bukan sebutan kakak. Mungkin karena ini juga rasa cintaku kepadanya semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.
Aku masih ingat ketika dia mengatakan dirinya akan menikah selepas magang. Dia juga sudah mempunyai seorang wanita yang ia idamkan. Wanita itu adalah seorang mahasiswa keperawatan. Mereka memang berbeda universitas, namun mereka saling mengenal satu sama lain dengan dekat. Artinya, mereka saling mencintai dan berkomitmen akan bersama. Tentu saja waktu aku mendengar hal tersebut, batinku rasanya teriris. Aku yang sejak SMP memendam rasa cinta kepadanya dan berharap rasa ini terbalaskan, ternyata harapanku pupus sudah. Sejak saat itu, aku mulai mencoba menghapus rasa itu. Namun, menghapus rasa yang sudah terpendam lama nyatanya memanglah sulit.
Drrtt… drrtt … drrtt …. Ponselku bergetar dan aku melihat Rusydi meneleponku. Ah … malas sekali berbicara dengannya ketika perasaanku sedang kacau. Aku pun membiarkan ponselku sampai berhenti bergetar. Biarlah dia menganggapku sudah tidur. Tak menyerah aku abaikan, dia pun menelepon sampai berkali-kali. Akhirnya aku menerima telepon darinya.
“Hmmm?” kataku malas.
“Hmmm? Dimana-mana orang angkat telepon itu salam dulu.”
“Iya assalamu’alaikum, ada apa?”
“Wa’alaikumussalam. Besok kamu sibuk nggak?”
“Nggak.”
“Oke, besok temenin aku ya ke toko Evergarden dan Aisyah fashion. Aku jemput kamu jam sembilan pagi, oke? Ya sudah, assalamu’alaikum. Tidur yang nyenyak, jangan lupa besok berpakaian yang rapi.”
“Wa’alaikumussalam.”
Aku mematung. Untuk apa dia mengajakku kesana? Apakah dia ingin memberikan kejutan untukku? Ulang tahunku memang tinggal tiga hari lagi, apakah mungkin dia akan memberikan kado sebelum aku berulang tahun? Ah … pipiku rasanya terbakar dan hatiku jatuh ke lantai. “Astaghfirullah Alya … sadar woy! Jangan lebay deh!” batinku.
***
Aku berkaca sambil membenarkan jilbabku. Tak lupa aku bersolek tipis agar wajahku keliatan lebih segar. Lalu, aku keluar kamar dan menuruni tangga secara perlahan. Ku lihat Rusydi sedang menungguku. Ia pun menoleh ke arahku dan tersenyum. Ketika aku mendekatinya, dia langsung mengajakku pergi.
“Mau aku bukain pintunya?” tanya Rusydi.
“Nggak usah, aku bisa sendiri.”
Namun, dia tetap membukakan pintu mobilnya untukku. Jujur, aku merasa istimewa kali ini. Apakah cintaku akan terbalaskan setelah bertahun-tahun bertepuk sebelah tangan?
Mobil mulai melaju dengan kecepatan rata-rata. Setelah berhari-hari aku cuek kepadanya, kali ini aku mulai antusias kembali. Aku bercerita liburanku di Korea tempo hari. Dia pun mendengarkan ceritaku. Rasanya sangat senang bisa seperti ini lagi dengan Rusydi.
***
“Aku nggak nyesel deh ajak kamu ke sini. Pilihanmu bagus-bagus semua. Makasih ya,” katanya sambil tersenyum.
Aku pun membalasnya dengan senyuman.
“Aku harap Thalia akan senang dengan kado ini.”
“Thalia?”
“Iya, calon istriku insya Allah. Besok dia akan ulang tahun dan aku … kamu tahu kan seleraku cukup jadul? Pokoknya terima kasih telah membantuku memilih kado untuk Thalia.”
Aku terkejut. Ternyata tebakanku salah. Hatiku memang terasa sakit, namun bukan berarti aku tak bisa tersenyum lagi.
“Aku berdoa semoga kalian benar-benar bisa menjadi keluarga,” kataku.
“Makasih ya. Aku doakan … cowok yang kamu cintai akan membalas perasaanmu. Masa depanmu masih panjang, Al. Kali ini kamu masih kelas duabelas. Kamu fokus sekolah dulu ya. Kita tahu kan, jodoh itu nggak akan ke mana kok.”
Aku tersenyum simpul. “Iya. Oh iya Di … dulu kamu minta aku bantai dia dengan doa. Sepertinya aku akan menyerah dan tak bisa membantainya.”
Rusydi mengernyitkan alisnya. “Kenapa?”
Entah dari mana aku mempunyai keberanian untuk berkata jujur jika orang yang aku cintai adalah Rusydi. Tentu saja dia kaget akan ucapanku. Rusydi mematung.
“Maaf aku kelepasan.” Aku tundukan wajahku lalu berbalik badan hendak berlari. Namun, Rusydi berhasil mencegahku. Dia membawaku masuk ke dalam mobilnya. Tak kuasa menahan tangis, air mataku pun berhasil lolos membasahi pipi.
“Maafkan aku. Aku juga mencintaimu sebagai seorang sahabat kok.”
“Maafkan aku yang sering bersedih karena masih mencintaimu lebih dari seorang sahabat,” balasku.
TAMAT
“Mencintai orang lain layaknya musim semi. Ketika musim semi itu datang, kita menyambutnya dengan antusias karena warna yang disuguhkan begitu indah. Namun ketika pergi, kita merasa cukup kecewa. Yang perlu kita lakukan ialah berusaha ikhlas dan menunggu musim semi selanjutnya datang; meski tidak sama dengan musim semi yang sebelumnya.”