"Hey, ku harap kamu masih memiliki perasaan ini" Ucap Stasia sambil menahan tangisan. Walau air mata sudah membendung di ujung mata, ia masih tetap tersenyum untuk menahan rasa sakit ini. Sakit tapi tak berdarah.
***
Anastasia Lynch, seorang mahasiswi yang di kucilkan. Hanya karena berasal dari keluarga yang terpandang, ia dikucilkan dari orang-orang bahkan dosennya.
Alexander Xavier, seorang mahasiswa sekaligus idol K-Pop. Pertemuannya dengan Stasia itu malah membuat mereka memiliki hubungan sepasang kekasih.
Hari ini, entah apa yang di inginkan Xavier, ia meminta Stasia untuk menemaninya sore hari ini.
"Haduh...kamu ini, sore jam 5 udah ajak orang jalan-jalan aja" Keluh Stasia dengan pandangan matanya yang masih lesu.
"Haduh...kamu ini, makanya tadi tidur siang" Kata Xavier sambil menyetir mobilnya.
"Kamunya sih, dari kemaren aneh banget"
"Haha...maaf ya" Ucapnya sambil tersenyum cangguh.
"Dah lah, gapapa. Ngomong-ngomong kita mau kemana?" Tanya Anastasia.
"Ada deh" Ucapnya.
mungkin sudah 1 jam mereka menempuh perjalanan. Sudah pukul 6 tepat mereka berada di satu mobil bersama. Akhirnya mereka pun telah tiba.
"Tutup mata ya" Ujar Xavier sambil menarik tangan Stasia ke suatu tempat.
"Iya"
Xavier meminta Stasia membuka matanya.
"Boom" Kejutnya.
Pemandangan kota yang indah dapat mereka lihat dari atas bukit. Cahaya dari lampu lampu perkotaan menghasilkan pemandangan yang menakjubkan. Pandangan mata mereka tertuju ke arah perkotaan.
"Wahh...bagus banget" Ucap Anastasia dengan kegirangan.
"Baguslah kalau kamu suka"
Mereka duduk di sebuah bangku, sambil memakan camilan serta berbincang-bincang. Entah apa yang mereka bicarakan, namun tampaknya mereka bahagia.
"Vier, menurutmu...apakah para Humanoid itu juga punya perasaan?" Tanya Anastasia sambil menundukkan kepalanya.
"I-i-iya, mungkin" Tubuhnya terpaku setelah mendengar pertanyaan yang di lontarkan Anastasia.
Dalam beberapa saat suasana menjadi hening, mereka canggih untuk bertanya ataupun sekedar mengobrol.
Xavier lalu berdiri dan memberikan tangannya kearah Anastasia, mungkin ia ingin mengajak pacarnya itu berdansa. Memang cocok, berdansa di tengah cahaya rembulan yang bersinar terang.
Anastasia pun menerima ajakannya itu dan memberikan tangannya.
Bak sepasang ekor angsa yang tengah menari di tengah-tengah danau di bawah sinar rembulan, itulah mereka. Berdansa tanpa iringan musik ataupun lagu. Layaknya dua orang yang sedang melakukan 'Debutante'.
Mereka hanya saling memandang satu sama lain.
"Vier, sebenarnya ada apa?" Tanya Anastasia sekali lagi sambil menundukkan kepalanya. Air mata yang sudah mulai mengenang di matanya, ingin sekali air itu jatuh dan membasahi pipinya, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Tampak firasat buruk sedang terlintas di kepala si gadis cantik itu.
"Bagaimana... jika orang terdekatmu adalah Humanoid? Mereka adalah musuh manusia, bagaimana kamu akan memperlakukan mereka?" Tanya Xavier sambil tersenyum. Bukan senyuman tulus, namun sebuah senyuman untuk menyembunyikan perasaannya. Entah itu marah ataupun sedih.
"Aku membenci mereka, walau mereka orang terdekatku aku akan membunuh mereka. Mereka telah membunuh ibuku dan menculik ayahku, yang ku inginkan adalah membalaskan dendam kedua orang tuaku" Jelasnya sambil memeluk Xavier dengan erat untuk menahan emosinya.
"Tapi...bagaimanapun mereka mereka adalah ciptaan para manusia" Kata Xavier.
"Namun, sikap mereka seakan-akan setara dengan manusia. Menggunakan topeng dan berbaur dengan para manusia. Sangat menjijikkan" Geram Anastasia.
"Begitu ya"
Mereka lalu menghentikan dansa mereka dan saling memandang satu sama lain.
"Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dariku?" Tanya Anastasia.
"Aku... sebenarnya adalah...-"
Belum ia menyelesaikan perkataannya, lonceng jam kota telah berbunyi dengan kencang, "Teng... Teng... Teng..." Jarum menunjukan pukul 21.00 malam.
Tubuh Xavier pun mulai membatu, bukan karena terkejut mendengar suara lonceng jam kota itu. Sekarang, ia tampak seperti sebuah robot yang kehabisan oli.
"A...nas-ta-si-a" Ucapnya perlahan lahan, tubuhnya mulai membatu. Bahkan untuk berbicara saja sudah tak mampu.
BRUKKK....
Tenaganya yang mulai hilang membuatnya terjatuh ke tanah. Untungnya, Stasia dengan cepat menangkapnya, dan membaringkan kepala Xavier di pangkuannya.
"Ka-ka-kamu... Humanoid?!"
Ia hampir tak menyangka bahwa orang yang selama ia sukai dan ia kencani adalah seorang Humanoid. Hampir tak terlintas di pikiran akan hal itu.
"Awalnya, aku adalah S-A1. Aku sendiri di tugaskan oleh atasanku untuk membunuhmu, Karena rahasia yang tak seharusnya kamu ketahui."
"Awalnya, aku mendekatimu hanya untuk membunuhmu, yaitu dengan cara aku menjadi pacarmu. Namun, sering berjalannya waktu, sebuah perasaan ini tubuh dan berkembang di dalam hatiku"
"Bisakan...kamu memberi tahuku perasaan apa ini?" Tanyanya sambil mengelus pipi Anastasia yang di basahi air mata.
"Cin-cin-cinta" Jawabnya dengan lirih. Dadanya begitu sesak melihat kenyataan yang pahit ini.
"Bu-bunuh aku, bukankah kamu membenci Humanoid?" Kata Xavier sembari memberikan sebuah belati kepadanya.
"A-aku...tak mau membunuhmu" Jawabnya, tangisannya semakin menjadi.
Ia tak tega membunuh orang yang ia cintai dengan tangannya sendiri. Walaupun ia seorang Humanoid.
"Cepatlah, dengan ini aku tak dihidupkan kembali. Dan dengan ini juga hidupmu akan lebih aman" Jelasnya.
"Gak...aku gak mau kamu mati." Ucap gadis cantik itu.
Ia lalu berjalan mundur dari Xavier, dan mengarahkan ujung belati kearah dadanya sendiri.
Xavier yang tak ingin melihat orang yang ia cinta mati begitu saja, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk berdiri. Ia berdiri, dan berjalan perlahan-lahan.
"Ja-jangan Sia, kamu masih memiliki jalan yang panjang"
"Gak...dengan aku mati, misimu akan berakhir, dan kamu akan hidup kembali. Lagi pula orang tuaku sudah menungguku" Ucapnya.
Sedih, marah dan sakit hati, semua perasaan itu tercampur aduk di dalam dada.
DORRRR...
Sebuah peluru mengenai, tepat di jantung Anastasia. Bukan Xavier ataupun ia sendiri yang menembakkannya. Namun, sebuah peluru yang entah datangnya dari mana mengenai tepat di jantung si gadis yang malang tersebut.
"SIAAA!!!"
Xavier berusaha untuk memeluknya, setidaknya untuk pelukan yang terakhir kalinya. Namun, ia sendiri terjatuh dan tersungkur ke tanah di karenakan masa hidupnya yang telah habis.
Sungguh peristiwa yang mengenaskan, entah apa yang akan mereka lalui. Kehidupan seperti apa yang akan datang pada mereka.
"Cihh, dasar makhluk lemah" Sinis seorang pria dengan sebuah pistol di tangannya.
"Awalnya aku tak ingin menyelamatkan kalian. Tapi, jika bukan karena kamu agent berbakat, dan kamu anakku, aku pasti akan membiarkan jasad kalian membusuk dengan sendirinya" Sinis pria tua itu. Anak? Apakah...
***
BRUKKK...
Sebuah pertemuan tak di sengaja mempertemukan mereka sekali lagi.
"Maaf nona, saya tidak sengaja" Ucap seorang pria tampan, wajahnya mirip sekali dengan Xavier.
"Tidak apa apa"
Pria itu lalu pergi meninggalkan wanita yang bernama Anastasia Lynch itu sendiri. Ia tampak terburu-buru mengejar sesuatu.
Anastasia lalu memandang langit,dan berkata,
"Hey, ku harap kamu masih memiliki perasaan ini" Ucap Stasia sambil menahan tangisan. Walau air mata sudah membendung di ujung mata, ia masih tetap tersenyum untuk menahan rasa sakit ini. Sakit tapi tak berdarah.
"Wanita itu... aku seperti mengenalnya"
[End]
Author Quotes:
"Memori dan ingatan bisa saja hilang. Namun, perasaan yang tumbuh di dalam hati akan menetap selamanya."~Lisaa
"Cinta adalah, ketika kamu rela mengorbankan segalanya bahkan merelakannya pergi."~Lisaa
"Ketika sebuah cerita memiliki 'sad ending', sebetulnya ada kebahagiaan tersembunyi di baliknya."~Lisaa
"Terkadang kamu menggunakan topeng untuk menutupi dirimu. Tapi kamu tak sadari, topeng itu sendirilah yang menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya."~Lisaa
Author note: Cerpen ini tidak bersambung ya, memang endingnya saya buat seperti ini.
~Happy Reading All~
By Lisaa Lisaya