Dialah Pangeran dari Samudra Pasifik. Seisi laut tunduk kepadanya. Akan tetapi, dia malah tunduk kepadaku.
■•■•■•■•■
Matahari tersenyum hangat, kembali memberikanku jutaan semangat. Aku melangkah melewati papan kayu usang yang kujadikan sebagai pintu. Udara segar bertiup kencang, dan deburan ombak begitu merdu didengar. Dengan tekad mantap, aku berjalan mendekati bibir pantai. Lengkap dengan semua perlengkapan memancing yang sudah lama aku gunakan.
"Hai, Lunar! Masih ingin memancing dengan rongsokan itu? Lebih baik kau pergi berjualan di pasar saja! Hahaha!" Aku menoleh ke arah tiga orang pria yang sedang duduk santai di atas perahu mereka.
Mataku memicing tajam. "Hai, Willy! Masih ingin mencegahku menangkap ikan? Lebih baik kau tutup mulut dan bersaing secara sehat denganku! Haha!" balasku tanpa ampun. Setiap pagi menu sarapanku memanglah kalimat sarkas dari Willy dan teman-temannya.
Aku tahu, mereka melakukan itu karena ingin mengurangi saingan. Lagi pula, kenapa wanita yang menjadi nelayan dianggap tabu? Aku berani taruhan, hasil tangkapanku bahkan lebih banyak dari tiga pria pecundang itu.
Kakiku segera melangkah ke dermaga tua yang ada di sebelah kanan. Kedua sudut bibirku terangkat membentuk senyuman, tatkala melihat ukiran di dinding luar perahuku.
Ada huruf L dan M yang menyatu disana (seperti yang ada di cover cerpen). Jantungku berdebar kencang ketika teringat siapa yang membuat ukiran itu. Padahal aku sudah melarang, tapi orang yang kuhadapi terlalu keras kepala.
Setelah berbagai persiapan, aku mulai menggerakkan perahu menjauhi pantai. Lama-kelamaan, ombak laut sendiri yang menuntun arah perahuku. Cuaca begitu hangat dan bersahabat, sangat cocok untuk dihabiskan bersama orang terdekat.
Beberapa menit duduk sembari memperhatikan keindahan alam yang tiada usai, bibirku lagi-lagi tersenyum. Pulau kecil penuh rahasia kini semakin terlihat jelas. Arus laut bertambah cepat, seolah tak sabar mempertemukanku dengan dia.
Aku tertawa kecil begitu melihatnya sudah duduk manis di bibir pantai. Bukan arus, melainkan dia yang tak sabar ingin segera mendengar suaraku.
Perahuku berhenti, aku pun segera turun lalu berjalan ke sebelahnya. Aneh, dia tidak menyambutku dengan senyuman hangat seperti biasa. "Merrick? Kau kenapa?" Dia menoleh dengan senyum terpaksa, lalu menggelengkan kepala.
Helaan napas keluar dari bibirku, yakin betul ada sesuatu yang terjadi. "Cerita saja, aku disini untuk mendengarkan. Apa ini ... tentang ayahmu lagi?" tanyaku ragu-ragu. Namun, Merrick tidak memberikan respon apapun.
"Lunar ... aku sangat mencintaimu. Bahkan jika kau meminta laut ini surut, aku akan mengabulkannya ...." lirih Merrick. Hatiku seketika berat, ikut merasakan penderitaannya. Dulu, kekasihku itu sangat jarang bersedih. Bahkan sejak aku menemukannya hampir mati di bibir pantai pulau ini dua tahun lalu, atau pun setelah kami menjadi kekasih selama satu tahun lebih.
Namun, belakangan ini dia selalu tampak murung. Dan alasannya cuma satu, yaitu King of Pacific—ayah Merrick.
Aku tersenyum teduh lalu mengelus bahu Merrick yang dipenuhi sisik. Dia menoleh, menunduk lesu tak bersemangat. Rambut seputih mutiara itu seketika redup. Bola matanya yang senada dengan lautan tak lagi menyiratkan kebahagiaan. Paras Merrick yang begitu luar biasa berubah sendu, seolah baru saja kehilangan segalanya.
"Ayahku ... dia ... dia ...." Suara Merrick bergetar, dia tidak sanggup melanjutkan. Kepalanya terangkat, menatap mataku dalam-dalam. Aku sendiri tidak tahu kenapa, tetapi saat ini air mataku mengalir tanpa alasan. Melihat rasa frustrasi yang memenuhi setiap senti wajah Merrick membuatku sangat sedih.
"Ayahku ... sudah ... menjodohkanku ...."
DEG! Mataku membelalak, terpaku bisu di tempat. Merrick membuang wajah begitu melihat reaksi kagetku. Sepertinya, dia juga tidak tega mengatakan kalimat itu. Tapi dia lebih tidak tega lagi jika harus pergi meninggalkanku tiba-tiba.
Harus aku akui, Raja Pasifik memang sangat membenciku. Dia nyaris membunuhku saat tahu aku dan Merrick menjalin hubungan. Namun karena diancam oleh penerus tunggalnya—Merrick—Raja Pasifik menyimpan dendam itu sendirian. Aku tidak menyangka, beginilah caranya menghancurkan hidupku.
Dan sekarang aku sadar. Akulah yang baru saja kehilangan segalanya.
Merrick tak bisa berbuat apa-apa, karena perjodohan itu memiliki unsur politik. Jika dia menolak, kerajaan Pasifik akan diserang habis-habisan. Bukan berarti kerajaannya lemah dan tidak bisa memenangkan pertarungan itu. Tetapi, Merrick tidak ingin menjadi pangeran bodoh yang membiarkan prajuritnya mati sia-sia.
Semenjak hari itu, aku belum pernah lagi bertemu dengan Merrick. Setiap kali aku berlayar untuk mencari ikan, arus laut tidak membawaku ke pulau itu. Artinya, tidak ada Merrick yang menungguku disana. Dan setiap hari, hal itu berhasil membuatku sangat kecewa.
Kira-kira seminggu kemudian, Merrick menghilang tanpa kabar. Padahal sebelum pergi, dia sudah menghancurkan hatiku hingga keping terakhir. Dan sekarang, dia tidak berniat memperbaikinya?
Huh, bodohnya aku. Kukira lautan benar-benar akan surut jika aku yang meminta.
Pulau rahasia ini begitu sepi, meski sudah kedatangan satu pengunjung. Padahal dulu, dua pengunjung saja cukup untuk membuatnya bersinar penuh kebahagiaan. Sudah berjam-jam aku menyembuhkan hati dengan cara duduk di bibir pantai pulau itu. Mengharapkan kedatangan yang pasti akan berujung perpisahan.
Aku sontak merinding ketika air laut yang sedari tadi kupandangi tiba-tiba meluap hebat. Seorang duyung berambut putih melompat ke bibir pantai. Tubuhnya babak belur, darah bercucuran dari luka-luka yang menganga.
"MERRICK!" pekikku. Tubuhnya terluka parah, bahkan ada satu tombak patah yang masih menancap di punggungnya. Buru-buru aku berlari ke dalam pulau, mencari semua tanaman obat yang bisa digunakan untuk menutup lukanya. Aku melakukan pertolongan pertama sebisa mungkin. Namun, tubuhnya semakin telungkup lemas di atas tanah.
Air mataku mengalir tanpa jeda. Percuma membohongi diri sendiri, aku tahu Merrick benar-benar sekarat saat ini. Ekornya saja sudah tidak lagi bercahaya. Matanya tertutup rapat, napasnya hampir tak terdengar.
Kenapa kami harus bertemu kembali dengan keadaan seperti ini?
Laut kembali menguap, kali ini jauh lebih besar. Bulu kudukku sontak merinding. Terlihat seperti gelombang tsunami ada di depan mataku sendiri. Kemudian siluet pria tua berjanggut putih panjang muncul dari dalam air. Matanya bercahaya biru terang, tubuhnya pun sangat kekar dan besar.
Sekedip mata, gelombang raksasa menghantam seluruh pantai pulau. Aku terkejut setengah mati, tak sempat mengambil napas sebanyak mungkin. Berliter-liter air masuk ke tubuhku, rasanya sakit sekali. Aku berpelukan erat pada pohon kelapa saat arus air mencoba menarikku ke dalam laut.
Pulau kembali surut, meski jejak air ada dimana-mana. Aku mengedarkan pandangan, panik karena tidak menemukan Merrick dimana pun. Hingga aku tak sadar, gelombang tinggi yang mengamuk ada di depan mataku. Bulu kudukku lagi-lagi merinding, jantungku berdebar ketakutan.
CTAARR! Petir menyambar pohon yang sedang kupeluk. Aku refleks melompat, lalu jatuh berguling ke bibir pantai.
"SUDAH KUBILANG JAUHI ANAKKU! KAU MANUSIA LEMAH TIDAK BERGUNA! AARRGHHH!" Mendengar raungan itu, air mataku seketika mengalir deras. Raja Pasifik benar-benar akan membunuhku kali ini.
Aku tidak akan berlari lagi. Aku tidak akan menghindar lagi. Aku tidak akan berbohong lagi. Aku sudah tidak punya semangat untuk melanjutkan hidup. Kehilangan kedua orang tua sekaligus itu sangat menyakitkan. Tetapi jatuh cinta pada mahkluk asing yang tidak akan bisa kau miliki jauh lebih menyakitkan.
Aku tersenyum pahit, berlutut sambil menundukkan kepala. Setidaknya aku masih bisa mengingat wajah Merrick yang tersenyum hangat didetik-detik terakhirku.
Awan bergemuruh, petir menyambar sahut-sahutan. Badai yang mengamuk ada di depan mataku. Raja Pasifik bersiap memberikan serangan yang pertama dan terakhir. Merrick tidak salah, ternyata aku memang bisa mengendalikan laut dan alam. Namun, dengan cara yang berbeda.
"AYAH! UHUK! BE-BERHENTI! JANGAAANNN!!" Aku terkesiap, menoleh kesana-kemari. Dari balik gelombang, Merrick berenang sempoyongan. Aku meringis sakit membayangkan rasa ngilu yang ada di ekornya. Dia sudah terlalu memaksakan diri.
"Cukup, Merrick. Tolong jangan keras kepala untuk kali ini saja. Kita berbeda dari segala arah. Tidak layak untuk bersama jika hanya berlandaskan cinta. Ada tahkta yang harus kau duduki, dan ada rakyat yang harus kau lindungi ...." lirihku dalam hati.
"MERRICK PASIFIK! JIKA KAU BERANI MENDEKATI PANTAI INI, AKU TAK AKAN SEGAN-SEGAN MEMBUNUHNYA DI DEPAN MATAMU!" tegas Raja Pasifik. Namun, itu tidak cukup untuk membuat Merrick mengerti. Bahkan disaat kritis, dia masih ingin duduk bersamaku di bibir pantai pulau rahasia kami.
Dia melompat sekuat tenaga, mengakibatkan bibir pantai bercorak kemerahan karena darahnya. Merrick mendarat persis di sebelahku yang berlinang air mata. "Uhuk! Uhuk!" Darah keluar bersamaan dengan batuknya. Pendaratan tadi semakin memperlebar lukanya.
Raja Pasifik mematung, terkesiap melihat anaknya begitu nekat. Merrick berusaha tersenyum miring, menantang ayahnya yang jauh lebih keras kepala. Kemudian, dia menatapku yang dipenuhi rasa syukur dan haru.
"Tadinya ... ini adalah hari ... uhuk! ... pernikahanku dengan ... orang lain ... uhuk! uhuk!" Dia terbaring lemas di pantai, kesulitan berbicara karena darah yang memasuki paru-parunya. Aku menunduk, mengelus lembut pipi kirinya.
"Tapi ... aku melarikan diri. Uhuk! Dan malah ... ke-kembali untuk menyusahkanmu .... Ntah kenapa ... uhuk! ... a-aku merasa ... kau sedang berada di pulau ini ... untuk menunggu ... ke-kedatanganku ...." Air mataku mengalir semakin deras. Napasku sesenggukan, tak sanggup mendengar suara Merrick yang nyaris berbisik.
"Aku ... sangat ... mencintaimu ... Lunarku ...."
Bersamaan dengan itu, Merrick menutup matanya rapat-rapat. "MERRIIIIICK!" teriakku sekuat tenaga. Aku meraung marah, memukul-mukul pasir yang ada di pantai. Rasanya begitu sakit, hingga aku bahkan tak sanggup menarik napas.
Air laut mendekat, perlahan memeluk Merrick yang semakin pucat. Pelukanku terlepas karena kekasihku itu dibawa hati-hati ke dalam laut. Aku tak sadar, Raja Pasifik ternyata sedari tadi menyaksikan semuanya. Dia menatapku lamat-lamat. Seolah mengerti betapa hancurnya diriku.
"Maaf, aku tak tahu kalian begitu saling mencintai. Aku akan membantumu untuk melupakannya," ucap Raja Pasifik. Aku menengadah kebingungan. Kemudian dua sulur yang terbuat dari air mengarah ke kedua sisi dahiku.
"AAAHHHHH!"
■•■•■•■•■
Sudah sebulan lebih hasil tangkapanku sangat melimpah. Aku sangat senang karena sekarang memiliki cukup banyak tabungan. Baru saja kembali dari laut, Willy dan kedua temannya datang menghampiriku.
"Hei, Lunar. Kau masih belum ingat kenapa bisa hanyut di laut sebulan lalu?" tanya pria itu untuk kesekian kalinya. Lidahku berdecak, malas-malasan menatap Willy yang sangat penasaran. "Sudah kubilang perahuku rusak! Jadi aku terpaksa berenang sampai ke pulau. Aku bukannya hanyut!" ketusku.
"HAHAHA!" Mereka tiba-tiba tertawa. "Sudah kuduga ada yang salah dengan kepalamu. Minggu lalu kau bilang kau terjatuh dari perahumu, dan perahumu mendadak hilang. Tapi sekarang kau mengatakan hal yang lain. Dasar aneh!" hardik Willy, kemudian pergi meninggalkanku sendirian di dekat dermaga.
Aku termenung, memikirkan kalimat Willy barusan. Jujur saja aku tidak benar-benar ingat kenapa bisa hanyut di laut bulan lalu. Aku bahkan tidak ingat kenapa aku bisa berada disana. Segalanya terlalu membingungkan, kepalaku sakit jika terus berusaha menerka-nerka.
"Permisi." Aku menoleh saat ada yang bersuara. Pria tinggi dengan paras luar biasa berdiri tepat di belakangku. Rambutnya putih bercahaya, terlihat cukup aneh. Warna matanya senada dengan lautan, begitu indah untuk dipandang. Dia memakai kemeja berwarna biru muda, dipadu dengan celana jeans putih yang melengkapi penampilan sempurnanya.
Dia tersenyum hangat padaku, lalu menunjukkan sebuah kertas kecil. "Apa kau tahu apa maksud lambang ini?" dia bertanya. Aku menunduk, memperhatikan huruf L dan M yang menyatu di atas kertas. Aku seketika menggeleng lalu menjawab, "Maaf, aku tidak tahu."
Dia langsung menyimpan kertas itu di dalam saku celana. Kemudian mengulurkan tangan sambil berkata, "Oh, iya. Perkenalkan, aku Merrick."
Matahari mulai terbenam, memberikan suasana yang terbaik sore itu. Aku tersenyum ramah, lalu menjabat tangannya. "Perkenalkan, aku Lunar."
Meski terasa sedikit deja vu, aku senang bisa berkenalan dengannya.
■•■•■•■•■
Note: Kalian lebih suka cerpen dari sudut pandang tokoh utama wanita atau pria? Atau dari sudut pandang penulis?
Terima kasih sudah membaca!;)