Seorang pria berdiri dengan sopan di teras rumah kecil yang tertata rapi. Rambutnya tersisir rapi, dan kemeja birunya tampak sedikit kusut setelah menempuh perjalanan. Di hadapannya, seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua berdiri tegak, matanya menatap tajam penuh rasa ingin tahu.
"Nama Om siapa?" tanya gadis kecil itu, suaranya nyaring namun tidak kasar.
Pria itu sedikit membungkuk sopan dan tersenyum. "Nama Om Minho, Mimi-ya," ujarnya dengan nada lembut, berusaha ramah pada si kecil.
Mimi memiringkan kepala. "Capa Om?"
"Lee Min Ho, sayang," jawabnya sambil menyebutkan nama lengkap dengan aksen khas Korea.
Mimi mengerutkan dahi, ekspresinya kebingungan. "Nama Om aneh… kayak nama mi yang sering Mama beli."
Minho terdiam sejenak, lalu mengernyit. "Mi?"
"Iya, yang wananya ijo," jelas Mimi polos.
"Aah… begitu ya." Minho mengangguk pelan, sekadar mengikuti alur logika anak-anak.
Tapi Mimi belum selesai. Ia masih mencengkeram ujung kemeja Minho, wajahnya serius seperti sedang melakukan interogasi.
"Om," panggilnya lagi.
"Iya, Mimi-ya?" Minho menjawab masih dengan nada sopan dan tenang.
"Idung Om panjang… pasti suka bohong ya?" katanya, membuat Minho membelalak kecil.
Minho tertawa kikuk. "Eoh? Wae geurae? Kenapa kamu bilang begitu?"
Mimi menunjuk hidung Minho dengan jari telunjuk kecilnya. "Mama bilang… kalau olang suka boong, idungnya jadi panjang. Kayak idung Om."
Minho menunduk, tertawa kecil tak percaya dengan kejujuran anak itu. Ia pun jongkok agar sejajar dengan Mimi. "Aigoo… jadi karena Om punya hidung panjang, Om dianggap tukang bohong, ya?"
Mimi mengangguk mantap. "Jinjja."
Saat itu, pintu rumah terbuka, dan seorang wanita keluar dengan celemek masih tergantung di pinggangnya.
"Mimi-ya!" tegurnya, suaranya lembut tapi penuh otoritas. "Jangan bicara seperti itu ke tamu."
"Eomma!" seru Mimi, lalu berlari memeluk kaki ibunya.
Wanita itu menatap Minho dengan canggung dan membungkuk ringan. "Jeongmal mianhaeyo, Tuan Lee. Anak saya kadang terlalu jujur."
Minho buru-buru membalas dengan membungkuk sopan. "Ah, gwaenchanayo. Anak Anda sangat lucu, jujur… dan pintar."
Mimi menatap Minho, lalu berkata pelan, "Om masih pengen bohong?"
Minho tersenyum kaku, lalu melirik si ibu yang wajahnya mulai merah padam.
"Aigoo, anak ini..." gumam si ibu sambil menahan malu.
Minho masih jongkok di depan Mimi, mencoba menahan senyum meskipun baru saja dituduh suka berbohong oleh gadis kecil itu. Ia menggaruk tengkuknya pelan, agak canggung.
"Aigoo… Mimi-ya, siapa yang bilang hidung panjang itu suka bohong, hm?" ucapnya lembut, berusaha meniru cara bicara orang tua Korea yang sedang membujuk anak-anak.
Mimi mengangkat dagunya dengan percaya diri. "Eomma bilang gitu! Kalau nonton Pinokio, idungnya panjang terus—bohong!"
Minho tertawa kecil. "Ah, itu di donghwa, Mimi. Di dunia nyata, orang hidung panjang belum tentu suka bohong, tahu?"
Mimi memiringkan kepala, tampak berpikir. "Jinjja? Tapi idung Om panjang sekali..." Ia menunjuk hidung Minho dengan telunjuk mungilnya, membuat lelaki itu terpaksa mundur sedikit.
Saat itu juga, pintu rumah terbuka dari dalam.
"Mimi-ya! Ya ampun, kenapa kamu ganggu tamunya Eomma begitu?" suara lembut tapi tegas terdengar dari ambang pintu. Seorang wanita muda muncul, memakai apron dan masih memegang lap dapur.
"Eommaaa!" Mimi berlari menghampiri ibunya, memeluk kaki sang wanita.
Wanita itu tersenyum canggung pada Minho. "Maaf ya, Tuan Lee. Anak saya memang... agak blak-blakan."
Minho cepat-cepat berdiri dan membungkuk sopan. "Ah, gwaenchanayo, saya tidak apa-apa. Anak Anda sangat jujur… dan lucu juga," katanya sambil tersenyum kikuk.
Wanita itu tertawa pelan, lalu memandang putrinya. "Mimi, ayo masuk. Jangan ganggu tamu. Dia datang jauh-jauh untuk urusan penting."
"Urusan penting? Nikah sama Eomma?" tanya Mimi tiba-tiba.
Minho tersedak udara. Sang wanita langsung menunduk, wajahnya memerah.
"Mimi!" tegurnya pelan. "Masuk sekarang."
"Tapi Mimi mau tahu... Om idung panjang jadi Appa Mimi?"
"Yaampun…" desah ibunya sambil menutup wajah.
Minho hanya bisa berdiri kaku di teras, wajahnya ikut memerah. Dalam hati, ia hanya bisa berkata, “Anak ini… daebak…”