Siang hari yang panas, dengan terik matahari mengiringi awan yang menyelimuti Bumi. Menjadi saksi akhir perjalanan Saka di bangku Sekolah Dasar. Di dalam bangunan yang besar nan elok, nama Saka sering menggema diiringi tepuk tangan megah dari para murid yang terkagum dengan Saka. Tak hanya murid, wali murid pun ikut terkagum dengan Saka. Banyak penghargaan diraih Saka di hari kelulusannya. Ibu Saka yang tak dapat membendung rasa harunya, lantas memeluk Saka dengan air mata yang jatuh ke lantai. Begitu pun dengan Saka yang membalas pelukan sang Ibu sembari mengucap rasa terima kasihnya kepada sang Ibu tercinta. Waktu berlarut dengan rasa haru membuatnya terasa begitu cepat. Tak terasa, acara sudah sampai ke puncaknya. Kata penutup telah diucapkan oleh sang pembawa acara. Perlahan, Saka melangkah menuju ke pintu keluar. Setiap langkahnya menjauhkan Saka dari kehidupan anak-anak yang menyenangkan. Setiap mendekatkan Saka dengan kehidupan remaja yang berbahaya dan penuh pilihan.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Saka tak pernah berhenti melangkah di masa putih biru dengan sejuta cerita. Saka selalu mengisi langkahnya dengan belajar, belajar, dan belajar. Perlahan Saka mulai merasa jenuh dengan kehidupannya yang hanya diisi dengan belajar. Untuk mengobati rasa jenuhnya, sesekali ia bermain dengan teman-temannya di warmindo. Mengobrol santai, meminum kopi, merasakan kenikmatan mie instan, membuat rasa jenuh terlarut kedalamannya hingga tak terasa lagi. Namun, hal baik tak selalu berisi dengan hal baik. Teman-teman Saka kebanyakan sudah merokok dan melakukan kenakalan remaja lainnya. Saka yang awalnya anak yang baik dan tidak bermasalah, lama kelamaan tergiur dengan sebatang rokok yang ditawarkan oleh sang teman. Tujuh hari satu batang berubah menjadi 7 batang 1 hari seiring dengan berjalannya waktu. Saka terus terusan merokok hingga tak mempunyai uang lagi dikarenakan habis untuk membeli rokok. Ia pun mengambil uang Ayahnya untuk mengobati rasa rindunya dengan rokok.
Lapar dan juga haus adalah sepasang kekasih yang tak dapat dipisahkan. Setiap manusia tentunya akan merasa lapar dan haus. 1 hari tanpa makan masih dapat hidup. 2 hari tanpa makan juga masih dapat hidup. Tetapi, 2 hari tanpa minum, Manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Begitu pun juga Saka yang juga merupakan seorang manusia biasa. Saka tentunya akan merasa haus jika tidak minum. Untuk mengobati rasa dahaganya, Saka akan minum segelas air. Namun, bukan air biasa yang diminumnya, melainkan air miras atau minuman keras yang tentunya tidak baik dan diharamkan dalam ajaran agama Islam. Semakin hari Saka menjadi semakin liar. Saka yang tadinya anak polos dengan segudang prestasi, kini menjadi anak nakal tanpa prestasi. Merokok, berjudi, meminum minuman keras, merupakan makanan pokok Saka sehari-hari. Kini Saka melangkah dengan setan yang merenggut semua hal indah yang pernah ia dapatkan selama di bangku Sekolah Dasar. Nafas menjadi berat, menurunnya konsentrasi dan daya pikir, adalah apa uang Saka dapatkan saat ini. Tak merasa kapok, Saka justru semakin menjadi-jadi. Tawuran, klitih, vandalisme, adalah mainan favorit Saka saat ini.
Hari yang cerah dengan angin sepoi-sepoi menyejukkan hati. Membuat orang-orang menjadi semangat untuk melakukan aktivitasnya. Begitu pun dengan Saka yang sedang bersemangat hari ini. Saka berdiri di atas tanah lapang yang luas bersama teman-temanya. Menghadap musuh-musuhnya yang juga berdiri di tanah lapang yang sama dengan Saka dan gerombolannya. Teriakan saling mencaci maki sering kali terdengar diiringi suara angin yang merdu. Saka dengan semangatnya melangkah maju untuk melawan semua lawan-lawannya yang juga akan melawan Saka. Saka tak pernah berpikir bahwa tawuran hanya akan merugikan dirinya sendiri bukan orang di sekitarnya. Yang Saka pikirkan hannyalah kesenangannya dan harga dirinya. Saka tak pernah berpikir akan seberapa sedih kedua orang tuanya jika mengetahui anak tercintanya mengikuti kegiatan yang bahkan tidak ada faedahnya sama sekali. Pikiran Saka telah dikosongkan oleh minuman beralkohol. Dengan senjata tajam di genggamannya, ia terus maju tak berhenti. Saka mengayunkan senjata yang digenggamnya kepada lawan di depannya. Sesaat setelah mengayunkan senjata, Penglihatan Saka menjadi hitam tak sadarkan diri.
Saka melihat kedua orang tuanya sedang menangisi Saka. Rasa ingin meraih tangan kedua orang tuanya muncul di benak Saka. Ia merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya. Saka perlahan melangkah ke arah kedua orang tuanya dengan niat hati ingin meminta maaf kepada sosok yang telah membesarkannya. Semakin ia melangkah, semakin jauh jarak antara Saka dengan kedua orang tuannya. Semakin dekat pula, semakin buram penglihatan Saka. Saka merasa sangat sedih hingga tak dapat membendung air matanya. Ia menangis di iringi dengan rasa penyesalan yang mendalam. Saka rindu dengan masa dimana ia masih menjadi anak yang baik dengan segudang pencapaian. Ia merindukan pelukan Ibunnya. Ia merindukan ketawa Ayahnya. Di tengah-tengah kesedihannya, muncul secercah cahaya di depannya. Tak pikir panjang Saka langsung berlari ke arah cahaya tersebut untuk menggapainya. Tangan Saka berhasil menggapai cahaya tersebut yang menghasilkan ledakan dengan skala besar.
Sesaat setelah ledakan, Saka perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam ruang Unit Gawat Darurat. Ia merasa senang dapat melihat wajah kedua orang tuanya secara langsing meski badannya sedang lemas. Dengan selang infus yang menancap di tangan kirinya, Saka menggapai tangan sang Ibu dengan isak tangis menjadi lagu pengiring. Ibu Saka pun ikut menangis karena sedih anaknya dalam kondisi antara hidup dan mati. Saka mengucapkan permintaan maafnya kepada kedua orang tuanya karena gagal menjadi anak yang baik. Saka juga meminta maaf kepada ayahnya karena selalu mencuri uang ayahnya untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali. Dengan rasa sedih, ayah Saka berkata kepada Saka bahwa ia sudah mengetahui siapa yang mengambil uangnya selama ini. Ia tak marah kepada Saka karena sudah tugas seorang ayah untuk memberi uang jajan kepada anaknya. Saka semakin sedih dan menyesal setelah mendengar perkataan ayahnya. Sama seperti saat wisuda kelulusan Sakan dari bangku Sekolah Dasar. Waktu terasa begitu cepat karena berlarut dengan kesedihan. Namun, bukan rasa haru yang menyelimuti perasaan, tapi rasa sedih dan penyesalanlah yang menyelimuti perasaan.
Menit telah berganti ke jam. Jam telah berganti menjadi hari. Hari telah berubah menjadi bulan. Bulan terus berlalu hingga sampai ke tahun. Satu pun telah menjadi dua. Begitulah alam melakukan pekerjaannya. Hal baru akan datang untuk menggantikan yang sudah lama. Begitu pun dengan Saka. Kini Saka telah menjadi anak yang lebih baik dan berprestasi. Setelah kejadian memilukan pada hari tersebut, Saka telah berubah menjadi anak yang baik seperti dahulu kala. Kini Saka tidak lagi melangkah ke jalan yang salah, tidak juga jalan yang baik, tapi jalan yang lebih baik. Saka mendapat banyak pelajaran dari sang waktu. Sang waktu mengajarkan kepada Saka bahwa kita harus memperhatikan setiap langkah kita saat berjalan atau kita akan tersesat. Waktu memang akan terus berlalu tanpa dapat kita ulang. Tapi dari waktu, kita dapat belajar banyak hal. Jangan jadikan masa lalu sebagai halangan, tapi jadikan masa lalu sebagai pembelajaran.
-TAMAT-