Sejak dirinya lahir keluarganya selalu mengalami kesulitan, hampir setiap hari dia menyalahkan dirinya sendiri dia selalu berkata "Kehadiran ku hanya membawa malapetaka dan kesialan bagi orang sekitar ku". Itulah yang sering diucapkan Dyandra remaja yang baru menginjak usia 18 tahun itu harus menelan kepahitan. Sejak dia dilahirkan selalu saja ada masalah yang menimpa keluarganya dari mulai permasalahan ekonomi hingga pertengkaran keluarga. Saat ibunya mengandung dirinya kakak Dyandra menolak kehadiran nya.
Dyandra menyalahkan kelahirannya karena dirinya lah semuanya hancur karena dirinya lah semuanya berantakan tidak ada yang berjalan lancar saat ada dirinya.
"Aku hanyalah anak pembawa sial bagi orang sekitarku tidak seharusnya aku lahir di dunia ini."
"Dimana pun aku berada pasti hanya ada kesialan, aku tidak ingin berteman karena aku takut mereka hanya akan terkena kesialan jika berdekatan dengan ku "
Dyandra selalu menutup dirinya dia tidak ingin jika kehadiran nya hanya membawa kesialan saja. Diseuatu ketika keluarganya mengalami hal yang begitu sulit banyak masalah yang berdatangan selama tiga tahun. Titik paling menyakitkan adalah ketika sang ayah sakit hal tersebut menghancurkan hidup Dyandra.
Remaja 18 tahun itu sering sekali berpikir untuk mengakhiri hidupnya sendiri dari mulai menyakiti diri sendiri hingga melakukan hal-hal yang berbahaya.
Namun entah dorongan dari mana Dyandra mulai untuk bangkit dari keterpurukannya dirinya mulai membuka diri pada orang lain.
Dan saat ini remaja itu mulai mewujudkan impian nya satu persatu secara perlahan. Sekarang remaja itu sudah mulai menemukan tujuan hidupnya.
Impian Dyandra adalah ingin menjadi seorang penulis dan saat ini remaja itu sudah mewujudkan impian yaitu menjadi seorang penulis.Banyak lagi impian yang dimiliki Dyandra seperti membangun rumah untuk keluarga nya serta membahagiakan kedua orang tuanya.
Awalnya memang sulit untuk Dyandra beradaptasi dengan lingkungan nya namun secara perlahan dia mulai bisa beradaptasi. Jika remaja lain akan bersenang-senang saat masa muda itu tidak berlaku bagi Dyandra, Dyandra harus bekerja keras untuk memberikan yang terbaik untuk keluarganya kelak. Dyandra belum pernah merasakan bagaimana rasanya bermain dan bercanda ria bersama teman karena dalam hidupnya tidak ada yang namanya bermain-main.
"Tidak ada waktu untuk bermain bagiku,setiap waktu begitu berarti untuk ku"
Siang malam dia terus bekerja keras untuk keluarnya. Dyandra bekerja membantu ibunya kesulitan ekonomi dikeluarganya membuat Dyandra harus turun tangan ikut bahu membahu mencari ribuan rupiah. Saat Dyandra bekerja dirinya tidak sengaja menemukan selembar kertas lowongan pekerjaan yang dimana gajinya begitu besar.
"Apakah ini bantuan yang dikirim tuhan untuk ku"