"Ibra! Bangun, udah jam 7."
"Apasih, bu. Emangnya kenapa? Bukannya libur, ya?" sahut Ibrahim.
"Ya ampun, Ibra. Yang lain upacara kamu malah tidur," ujar Ibu Ibrahim menghela napas.
"Nanti," sahut Ibrahim singkat.
"Ibra, ayo bangun. Jangan tidur terus," titah ibunya.
"Cuman upacara aja apa pentingnya, presiden nya aja gak dateng ke lapangan voli kita, kan?" ujar Ibrahim memposisikan diri untuk duduk.
Ibunya Ibrahim kembali menghela napas kali ini diiringi dengan gelengan kepalanya heran terhadap anaknya sendiri. "Yaudah ayo bangun kita sarapan, kamu upacara nya lewat tv aja," ucap ibunya meninggalkan kamar.
.....
"Kepada bendera merah putih, hormat grak!."
Ibrahim memandangi televisinya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan, lengannya kembali menyuapkan sesendok nasi goreng yang telah disiapkan oleh ibunya.
"Kamu jadi paskibraka, ya? Biar nanti tanggal 17 Agustus nya upacara di Jakarta langsung," usul ibunya.
Ibrahim menoleh lalu menggeleng pelan. "Ibra gak kuat jadi paskibraka," jawabnya.
"Terserah kamu, deh," sahut ibunya menyerah.
"Habis sarapan langsung ke lapangan ya, ikut lomba sana," sambung ibunya.
"kayak anak kecil aja ikut lomba, mending dirumah," seru Ibra.
"Ayah kamu aja ikut lomba, kenapa kamu malu."
"Ayah ikut lomba panjat pinang? Emangnya ayah kuat?" tebak Ibrahim langsung seraya terheran.
"Bukan, ayah ikut lomba main bola pake daster," jawab Ayahnya Ibrahim dari belakang seraya terkekeh, Ibrahim hanya menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan ayahnya.
"Semoga pemuda-pemudi negeri ini juga turut menjaga nama baik bangsa, peduli terhadap bangsa ini dengan tekad, semangat yang kuat juga dengan hati nurani yang murni mencintai tanah air Indonesia sehingga dapat memajukan bangsa.."
"Ayo Ibra, ke lapangan bareng sama ayah," bujuk ibunya sekali lagi.
"Ibra mau dirumah," jawabnya.
"Kamu tadi denger kan apa kata Pak Jokowi? Kamu itu pemuda, Ibra. Di dalam hati kamu harus tumbuh rasa peduli terhadap bangsa ini,"
"Hubungannya sama ikut lomba apa?"
"Berarti kamu peduli terhadap bangsa ini, ikut meramaikan, ikut melestarikan budaya. Lomba memperingati 17 Agustus itu untuk merayakan kemerdekaan, juga menghargai jasa para pahlawan yang sudah berjuang, Ibra," ujar ibunya menjawab.
"Yaudah nanti aja," ujar Ibrahim kemudian.
"Kenapa gak sekarang? Keburu beres acaranya."
"Gak penting, mereka aja gak peduli sama rakyat kecil kayak kita," balasnya seraya menunjuk ke arah televisi.
"Kenapa bicaranya gitu? gak sopan, Ibra," ibunya menghela napas.
"Kamu kok cepet tuanya, sih?" sambungnya, Ibrahim mengerutkan kedua alisnya sebagai jawaban.
"Kamu itu baru 16 tahun, belum harus ngerti soal urusan ini. Mendingan kamu rubah diri kamu, kamu harus punya rasa cinta tanah air sekarang."
"Meskipun cuma mulai dari ikut lomba atau jadi karang taruna, itu termasuk pembelaan negara. Ibu mau kamu punya rasa cinta tanah air karena siapa tau dewasa nanti kamu yang jadi presiden dan kamu adalah presiden yang peduli terhadap rakyat kecil seperti kita."
"Gak ada gunanya kalau kamu mengkritik kaya tadi kalau kamu sendiri gak mau memulai, karena mereka gak akan bisa langsung berubah, mungkin kamu dimasa depan nanti yang akan mengubah," tutup ibunya dengan senyuman, sedang Ibrahim hanya diam menggenggam gelas yang berisi air putih itu.
Ditengah-tengah keheningan yang menyelimuti mereka, suara panggilan dari luar rumah menginterupsi mereka.
"Ibraa, dicariin Pak Dani, acaranya mau dimulai."
Disaat ibunya Ibrahim membuka kan pintu rumah terlihat tiga orang yang memakai pakaian serba merah dan putih berdiri di teras rumah, mereka kemudian tersenyum.
"Eh, Ibunya Ibra. Ibrahim nya ada?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, ada. Mau diajak lomba, ya?" tanya Ibunya Ibrahim.
"Ibra itu anggota karang taruna, tante. Jadi harus ada disana," ujar seorang gadis remaja bernama Anggi.
Ibunya Ibrahim tiba-tiba tersenyum tak bisa menahan senangnya, ia melirik ke arah Ibrahim yang berwajah masam.
"Mereka bilang gitu tanpa persetujuan Ibra, bu," ujar Ibrahim lesu.
Namun pada akhirnya Ibrahim mengiyakan ajakan mereka apalagi sedari tadi ibunya membujuknya habis-habisan, ya apa boleh buat.
.....
Sesampainya di lapangan Ibrahim disibukkan oleh kegiatan penyelenggaraan lomba-lomba, saat itu hari masih pagi tetapi sinar mataharinya sangat terik membuat Ibrahim merasa kepanasan. Dirinya menjadi sedikit tidak fokus.
Yang awalnya ia merutuki matahari karena terlalu awal untuk memancarkan cahaya panasnya, kini fokusnya teralihkan pada sosok pria yang berdiri di dekat bambu.
"Ayah?"
"Untuk lomba selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu oleh ibu-ibu sekalian, panjat pinang!" ujar pembawa acara tersebut dengan lantang.
Ibrahim terkekeh menanggapi kelakuan ayahnya yang sudah telanjang dada itu, terlihat ayahnya dengan sekuat tenaga untuk bertahan diri di tiang bambu yang sudah berlumuran oli tersebut, sebagian dari mereka ada yang terjatuh para penonton pun bersorak ramai. Ibrahim perhatikan disaat sudah hampir sampai di puncak tiang tetapi orang di paling bawah itu terjatuh lalu semua yang diatas nya juga ikut terjatuh, seperti semboyan 'bersatu kita teguh bercerai kita runtuh'. Ternyata ini maksudnya.
Lama berjuang untuk mencapai puncak tiang bambu itu, akhirnya salah satu dari para 'bapak-bapak' itu pun berhasil duduk di puncak nya, dengan hati-hati ia melepaskan hadiah-hadiah tersebut lalu menjatuhkannya satu persatu. Ada yang menarik dari kumpulan hadiah tersebut, yaitu sepeda yang menggantung seperti meminta untuk diturunkan dari tiang yang amat tinggi itu. Para warga pun berseru untuk mengambil sepeda tersebut dan pada akhirnya semua hadiah pun ludes diambil oleh seorang bapak pemberani tadi.
Ibrahim yang ikut menyaksikan detik-detik menegangkan itu juga merasa senang saat ayahnya turut membantu dalam upaya peraihan hadiah tersebut. Tak lama ayahnya pun menghampirinya tentu dengan seluruh tubuhnya yang berlumuran oli, ia membawa dua bungkus hadiah yang hendak di berikan pada anaknya dan istrinya.
"Hebat, kamu jadi karang taruna, ya?" tanya ayah Ibrahim. Ibrahim hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Nah, gitu. Itu baru anak ayah, lain waktu ikut lomba panjat pinang bareng ayah, ya?" seru ayahnya tertawa.
"Mending ayah pulang terus mandi, ayah udah kayak manusia silver tapi warna hitam," ujar nya mengejek ayahnya sendiri, dan yang diejek hanya terkekeh saja.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi menuju siang namun para warga tidak kehilangan antusiasnya dalam menyaksikan lomba-lomba yang diadakan. Berbeda halnya dengan Ibrahim yang sedari tadi merasa kepanasan dan ingin segera pulang kerumah, di dalam hatinya ia merapalkan permohonan agar acara ini selesai sesegera mungkin.
"Baik, untuk lomba yang tak kalah seru selanjutnya, kami persilahkan untuk persiapan lomba balap karung!," ujar pembawa acara disambut oleh sorakan dari warga.
Total ada enam peserta yang mengikuti lomba balap karung tersebut, salah satu dari mereka ada yang masih berumur 10 tahun sekitar kelas 4 sekolah dasar. Tetapi dari pandangan Ibrahim anak itu memiliki semangat yang kuat, ia bisa melihat dengan percaya dirinya anak itu berjalan menuju tempat dimulai nya lomba balap karung tersebut.
"Siap! Tiga, dua... Satu!"
PRIT!
Ibrahim meniup peluit pertanda pertandingan dimulai, pandangannya berpusat pada anak tadi yang bersungguh-sungguh dalam mengikuti lomba. Sesekali anak itu terjatuh namun bangkit kembali dan tetap melanjutkan pertandingan, mengherankan begitu ia melesat jauh dibandingkan lawan mainnya yang terkadang kesusahan dalam melompat di dalam karung. Sampai pada akhirnya ia bisa memenangkan pertandingan tersebut dan tersenyum bangga.
Dikarenakan juara satu, anak itu lantas mendapatkan hadiah sepeda dari panitia penyelenggara, terlihat senyuman yang merekah dari anak tersebut, Ibrahim juga ikut merasakan senang untuknya.
"Wahh.. Selamat, ya. Kamu namanya siapa?" tanya pembawa acara tersebut.
"Adit, kak," sahut nya.
"Kamu hebat bisa kalahin kakak-kakak itu, kalau boleh tau rahasia nya apa biar bisa semangat?" tanya sang pembawa acara.
"Adit semangat karena Adit mau seperti Mohammad Toha, kak!"
Jawaban dari anak yang diketahui namanya Adit itu membuat Ibrahim terkejut sekalian merasa heran.
"Keren banget! Kenapa kamu mau jadi seperti tokoh pahlawan Mohammad Toha?"
"Karena Mohammad Toha adalah pahlawan kita semua, kak. Adit liat Mohammad Toha itu tokoh yang hebat, berani, pantang menyerah, bisa kalahin penjahat asing, dan bisa bawa Indonesia menang!, Adit juga mau suatu saat nanti menjadi seperti Mohammad Toha yang berjasa untuk Indonesia!" jawab Adit penuh semangat.
"Adit mau jadi apa nanti untuk membela Indonesia?"
"Adit mau jadi tentara Indonesia, kak," serunya.
Untuk sekali lagi Ibrahim kagum kepada Adit tak disangka anak kecil dibawah dirinya saja sudah memiliki semangat yang membara untuk membela tanah air ini, apa mungkin Adit belum tahu kebenaran yang sebenarnya ya, namun ia tak peduli meskipun Adit ini adalah seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa tetapi ia memiliki tekad kuat, tekad yang harusnya di turuti oleh pemuda-pemudi negeri ini. Dan entah mengapa dirinya menjadi lebih semangat dalam menjalani sisa-sisa hari ini, tidak ada lagi rasa kantuk, rasa lelah, rasa panas di dalam dirinya yang ada hanya semangat untuk ikut meramaikan acara ini.
Jangan mau kalah dari Adit, kini prinsipnya sebagai berikut. Ia pikir ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk membela negeri ini, ia ingin berbakti dan ingin berjasa untuk negeri ini. Bukan sebagai paskibraka, presiden, atau TNI, tapi diawali sebagai pemuda negara yang berjiwa nasionalisme dengan menjaga nama baik bangsa Indonesia pun sudah cukup. Siapa tahu perkataan ibunya tadi menjadi kenyataan, menjadi seseorang yang mengubah Indonesia.
Terimakasih Adit, sudah menjadi anak bangsa yang berjiwa nasionalisme. Terimakasih sudah menginspirasi. Aku akan berusaha untuk mencintai negeri ini.