Ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa ada Kampak yang dimiliki oleh seorang pendekar bernama Raden Wurung. Kampak itu dinamakan "Kampak Naga".
Namun, kampak tersebut tidak pernah digunakan karena sangat berbahaya.
Kampak itu dapat memasuki tubuh penggunanya dan membantai habis semua orang yang ada di hadapannya.
Oleh karena itu, Raden Wurung selalu menyimpan Kampak tersebut di dalam peti yang sudah diberi kekuatan gaib agar hanya ia saja yang bisa membukanya.
Raden Wurung pun sulit untuk menjaga Kampak tersebut karena banyak pihak yang menginginkannya, terutama kelompok yang bernama Gagak Hitam yang dipimpin oleh Rantaka.
Mereka adalah gerombolan yang sangat ditakuti bahkan kebelahan dunia lain karena sering memporak-porandakan kerajaan-kerajaan yang ada di dunia.
Oleh karena itu, semua penduduk dunia sangat takut hanya karena mendengar nama kelompok tersebut.
Namun, Raden Wurung tidak kalah kuatnya, bahkan lebih kuat dari Rantaka. Rantaka sering mendatangi kediaman Raden Wurung untuk mengambil Kampak Naga tersebut, tapi Raden Wurung tidak pernah mau memberikannya.Tak jarang mereka berdua bertarung dengan waktu yang cukup lama sampai menghancurkan tempat mereka bertarung.
Meskipun Rantaka beberapa kali datang dengan bawahannya dan pernah meracuni sungai untuk melemahkan Raden Wurung, semua itu percuma.
Setelah beberapa tahun, kelompok Gagak Hitam meracuni sungai mereka sehingga tidak pernah muncul lagi.
Namun, suatu waktu Rantaka kembali lagi dengan membawa 5 juta pasukan untuk mengambil Kampak tersebut.
Namun, Raden Wurung menolaknya dengan tegas dan keras.Karena Raden Wurung sudah menduga mereka akan datang, ia tidak bisa pergi untuk menyembunyikan Kampak tersebut.
Ketika mereka mengepung kerajaan yang ditinggali oleh Raden Wurung karena tidak mempunyai pilihan lain, Raden Wurung membuka kotak yang berisi Kampak tersebut untuk menghadapi mereka.
Meskipun ia kesulitan untuk menjaga kesadarannya, ia masih bisa menahannya dan pertarungan yang sangat panjang dan sangat mematikan pun terjadi.Namun, di tengah-tengah pertarungannya dengan mereka, ia lengah dan terkena tusukan pedang dari belakang.
Raden Wurung langsung terduduk lemas. Rantaka dan kelompoknya tertawa terbahak-bahak karena melihat Raden Wurung sudah kalah. Namun, saat Rantaka akan memenggal kepala Raden Wurung, sesuatu yang aneh terjadi.
Langit menjadi gelap, laut bergejolak, dan Kampak tersebut mengeluarkan aura yang sangat gelap.Tiba-tiba Raden Wurung berdiri sambil dikelilingi aura hitam yang awalnya ada pada Kampak.Sekarang aura tersebut ada di seluruh tubuh Raden Wurung.
Ketika ia membuka matanya, ia memiliki pupil yang mirip seperti mata ular namun berwarna merah yang memancarkan niat membunuh yang sangat besar.
Meskipun Rantaka dan pasukannya tersisa 3 juta merasa sangat ketakutan, Raden Wurung yang sudah dirasuki Kampak tersebut bergerak sangat cepat sampai meninggalkan bekas pada pijakannya.
Ia membunuh 1000 orang lebih dalam satu menit dan terus membunuh. Bahkan setelah Rantaka dan pasukannya sudah semuanya dibunuh, Raden Wurung masih terus melanjutkan pembantaian selama berbulan-bulan.
Akibat dari pembantaian yang dilakukannya, banyak kota dan negara yang mengumpulkan pasukan untuk membunuh Raden Wurung. Meskipun mereka dapat memberikan luka, namun semua itu sia-sia karena ia dapat membunuh mereka dengan mudah.
Suatu saat, Raden Wurung yang sudah dipenuhi oleh luka itu terjatuh. Kesadarannya kembali sesaat dan ia menusuk jantungnya sendiri karena takut dikendalikan lagi oleh Kampak tersebut.
Namun, tiba-tiba tubuh Raden Wurung memancarkan aura yang sangat gelap, lebih gelap dari sebelumnya.Aura tersebut mengumpul di atas tubuhnya dan membentuk Kampak.
Entah kenapa, kampak tersebut bersinar sangat terang dan tiba-tiba meledak, menghancurkan semua yang ada dalam radius 100 km dari pusat ledakan tersebut.
Sudah ratusan tahun menjalani waktu, pertempuran tersebut telah menjadi cerita rakyat. Ada yang tidak percaya, ada juga yang percaya karena bekas ledakan dari Kampak Naga tersebut masih ada yang kini menjadi danau yang diberi nama Danau Darah. Nama cerita tentang pertempuran tersebut adalah "Kampak Naga".