Nafasnya tercekat, jantungnya berdegup jauh lebih cepat, dan peluh masih setia membasahi keningnya. Dalam rapatnya rimbunan pepohonan, dua orang pria wanita dengan beda usia tiga tahun itu masih terus berlari seakan menghindari sesuatu di belakang sana.
Sesuatu, seseorang atau sekelompok orang yang bisa saja mengancam nyawa mereka. Terlalu letih berlari, Emely mulai menghentikan langkahnya.
"Kak, istirahat dulu lah. Aku lelah, aku mau istirahat," keluh Emely yang kelelahan.
"Ok. Kita istirahat dulu lima menit. Baru kita lanjutkan perjalanan. Kita harus keluar dari hutan ini sebelum malam," ucap Lucas yang juga merasa kelelahan.
Namun belum sampai tiga menit mereka istirahat, terdengar dari kejauhan derap langkah kaki orang dengan jumlah yang cukup banyak bergerak ke arah mereka.
Sontak Lucas yang pertama kali mendengar derap langkah kaki itu, langsung terbangun dan menatap ke arah Emely. Namun niat hati ingin membangunkannya, dia justru dibuat tidak tega oleh gadis itu. Saat itu Emely nampak tertidur pulas bersandar di sebuah batang pohon, seakan dia begitu lelah.
Disaat ingin kembali berlari dan membangunkan Emely, para pasukan itu sudah tinggal beberapa langkah lagi dari mereka. Lalu secara reflek, Lucas memeluk Emely, membuat gadis itu duduk di atas pangkuannya. Emely pun tenggelam dalam dekapannya. Lalu Lucas mulai menutup matanya dan mengerahkan seluruh kemampuannya agar aroma atau jejak mereka tidak terlacak oleh para pasukan itu.
Namun di lain sisi di alam bawah sadarnya, Emely kembali mengalami mimpi yang sama setelah sekian lama. Mimpi dimana dia mengorbankan dirinya untuk seseorang yang telah menculiknya.
Namun dalam mimpinya dia melihat sesuatu yang aneh.
'Tunggu! Bukankah itu Kak Lucas? Kenapa dia bisa duduk di antara para tamu? Dan.... Apa yang dia pegang?' batin Emely.
Setelahnya.....
Shhuuttt...
Kejadian yang sama terulang kembali. Sebuah anak panah meluncur dengan sangat cepat ke arah pengantin pria dan Emely mampu melihat dari mana anak panah itu berasal. Yang ternyata, berasal dari sebuah senjata yang dipegang Lucas sebelumnya.
Emely pun terkejut dan bangun dari mimpinya. Lalu saat tersadar, dia sudah berada di dalam pelukan erat Lucas.
"Kak, lepasin aku," seru Emely yang berusaha berontak dengan suara sedikit keras.
'Rain, tenanglah! Ada banyak pasukan musuh di sekitar kita. Kau mau tertangkap lagi? Hah,' bisik Lucas berusaha menenangkannya.
Barulah Emely tenang dan tetap berada dalam pelukan Lucas.
Tak lama, para pasukan itu pun sudah tak terlihat. Barulah mereka bernafas lega.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Emely sedikit takut.
"Sepertinya mereka sudah pergi," jawab Lucas.
Beberapa saat kemudian, mereka baru menyadari bahwa mereka masih berpelukan. Lalu Emely yang menyadari kondisi yang sangat canggung itu, segera melepaskan diri dengan mendorong tubuh Lucas. Sontak saja Lucas yang belum siap kepalanya langsung terbentur ke batang pohon.
"Aduh....." ringis Lucas.
"Kakak baik-baik saja, kan?" tanya Emely cemas yang baru menyadari apa yang sudah dia lakukan.
"Kakak baik-baik saja. Tapi kenapa kamu kayak tiba-tiba marah gitu sama Kakak? Apa karena Kakak meluk kamu tanpa izin?" tebak Lucas asal.
Emely hanya membuang muka dan berkata dengan sedikit ketus.
"Gak. Aku gak marah kok. Udah yuk, kita pulang. Nanti keburu mereka datang lagi lebih bahaya," ajak Emely.
Lalu mereka pun segera pergi dari hutan itu.