Laras. Itulah namanya.
Seorang wanita muda dengan tinggi mencapai 163 cm. Wajahnya yang elok dan matanya yang tajam, menambahkan kesan tegas di dalam dirinya.
Tangannya selalu terkepal dengan kuat saat berjalan. 'Ksatria' itulah kata yang cocok untuk menggambarkannya. Dengan adanya dia dalam hidupmu, kamu akan merasa aman.
Ia baru saja berusia 15 di tahun ini. Tapi, ia sudah bisa membuat novelnya sendiri. Ia ksatria sekaligus panutanku.
Sifatnya yang tegas, membuatku berkeinginan menjadi sepertinya. Ia bukan wanita yang suka basa-basi. Melainkan, wanita yang suka berterus-terang.
Ia tak ragu untuk menegur dan memberikan keluhan. Setiap keluhan dan teguran yang ia berikan, menjadikanku orang yang lebih baik.
Namun, sayangnya, ia memiliki fisik yang lemah. Wanita itu tidak dapat berdiri di bawah sinar mentari begitu lama. Banyak sekali orang-orang yang salah paham padanya.
Ada yang berpikir bahwa Laras suka membuat alasan sehingga tidak bisa berkontribusi banyak dalam tugas kelompok. Ada pula yang berpikir bahwa ia suka mencari kesalahan orang yang tidak disukainya.
Menurutku sendiri, apa yang orang lain bicarakan itu tidak benar adanya. Tidak ada alasan baginya untuk melakukan hal tersebut. Ia bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal yang tidak berguna.
Laras adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang berani memberikan komentar supaya orang-orang bisa memperbaiki apa yang kurang dari dirinya.
Ia akan mengulurkan tangannya pada orang yang bisa ia bantu. Ia juga dapat menerima komentar yang orang lain berikan.
Saat ia berjanji, ia akan memegang janjinya itu dan tidak akan melakukan hal-hal yang bertentangan.
Sebagai sosok yang sangat mengandalkan logika, ia juga orang yang berintegritas tinggi.
Pernah suatu kali aku mengatakan betapa aku menyukai sifatnya itu. Laras hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Ia bertanya padaku "kenapa kau suka dengan sifatku? Bukankah seharusnya kamu menghindariku seperti teman-teman lainnya? "
Jujur saja, aku hanya menanggapinya dengan terkekeh. Mana mungkin, aku menghindarinya. Orang normal manapun pasti akan suka jika ada orang yang sepertinya.
"Jangan begitu. Kamu perlu memberikanku alasan. "Ucapnya sambil memandangiku seolah ingin tahu isi pikiranku.
"Kamu tidak akan percaya apa yang aku katakan ini. Jadi bersiaplah! "
"Sedari awal aku sudah menyiapkan hati untuk mendengar kata-katamu" Laras duduk dengan tegap sembari melipat tangannya ke dada.
"Bagiku, apapun yang kamu lakukan, itu terdengar seperti seorang kakak perempuan yang ingin adiknya tumbuh menjadi orang yang sukses, bukan seseorang yang ingin menjatuhkan orang lain"
"Setiap kata-kata yang kau ucapkan terdengar sedikit temperamental, tapi mengandung kejujuran dan rasa prihatin"
"Sama seperti kalimat 'jangan lari, nanti terjatuh' seperti itu pula kalimat yang selama ini ingin kau sampaikan. "
Laras terdiam untuk sejenak. Mata kita saling bertemu, sebelum pada akhirnya kita berdua mulai tertawa.