Lagi dan lagi, kedua orang tuaku itu bertengkar tanpa alasan yang jelas. Suara teriakan dan gertakan terus memenuhi seisi rumah itu.
Kakiku tak berani untuk melangkah, seakan-akan tubuhku ini dipenuhi oleh beban yang begitu besar. Aku hanya bisa duduk sembari mendengarkan musik di bawah tangga.
Seiring berjalannya waktu, suara-suara itu perlahan menghilang. Namun, aku tak punya niatan untuk mengangkat kaki dari rumah itu.
Aku tidak menangis. Kalau ada orang normal yang melihatku dalam keadaan kusut ini, mereka mungkin akan bertanya "kenapa? Kenapa tidak menangis saja?"
Pada waktu itu pula, aku akan menjawab seperti ini pada orang itu.
"Untuk apa aku menyia-nyiakan air mataku untuk hal sepele seperti itu? Apa gunanya?"
"Di luar sana, ada begitu banyak orang yang memiliki hidup lebih buruk dibandingkan aku" Benar. Orang-orang di luar sana bahkan memiliki kehidupan yang sulit dari pada yang aku alami.
Aku pun tidak bisa menolak kenyataan tersebut. Nyatanya, Anak-anak yang baru berusia 5 tahun saja juga harus mengalami kehilangan orang yang dicintainya. Entah itu karena perang, teroris ataupun karena penyakit.
Beberapa anak di luar sana tidak punya uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ada pula anak-anak yang dipaksa orangtuanya untuk bekerja. Jelas, kehidupan tersebut sangat berbeda dengan kehidupanku saat ini.
Hidupku masih jauh lebih baik dari itu..
Entah apa yang aku pikirkan ketika aku mendengar suara teriakan mereka yang bergema itu.
"SUDAH KUBILANG KAN!? AKU GAK MAU DENGER KAMU NGOMONGIN SARAH LAGI!!
" MAU KAMU ITU APA SIH, MAS!? AKU GAK PEDULI LAGI TENTANG KAMU,MAU KAMU SELINGKUH ATAU PUN NIKAH LAGI!! "
Sarah merupakan nama dari selingkuhan papaku. Aku bahkan tak perlu repot-repot untuk mencari tahu orang itu. Karena orang itu sudah berada di depanku saat ini.
Ia memandangi kedua orang tuaku dengan licik.
"KALAU BEGITU, KAMU JANGAN HARAP BISA TINGGAL DI RUMAH INI LAGI!!"
"AKU GAK MASALAH KOK! TOH, SEJAK KAPAN AKU PERNAH PAKAI UANGMU?! UNTUK MAKAN SEHARI-HARI SAJA, AKU PAKAI UANGKU SENDIRI! "
Jujur saja, aku sudah tahu kemana arah dari pembicaraan mereka. Setiap kali mereka membicarakan tentang aku, aku hanya bisa menghela nafas lega. Setidaknya, aku belum sepenuhnya dilupakan.
Sembari tersenyum miris, aku memejamkan kedua mataku."Mama.. Papa.. Tolong jangan lupain aku.." Lirihku.
Gambaran tentang diriku yang masih kecil dan mama papaku yang menggandeng tangan kecilku muncul di kepalaku. Lihat! Betapa bahagianya kita bertiga saat itu!
Bulir-bulit air mataku mulai menetes dari kedua bola mataku.
Di hari itu, sebuah berita besar muncul di salah satu channel TV yang terkenal.
Seorang remaja yang berusia 15 tahun dari sekolah X melompat dari gedung setinggi 120 meter. Remaja tersebut diduga sebagai anak dari investor terbesar dari perusahaan A.
Saat polisi datang ke lokasi tersebut, polisi menemukan sebuah pesan yang ditulis dari remaja tersebut di lantai dengan pylox.
[Mama, papa, I love u! ]