Malam ini, adalah malam yang paling ku benci. Adik tiriku terus saja mengoceh di luar kamarku. Suara jeleknya berhasil membuat mataku tak bisa terpejam. Benci, ya aku sangat benci dengannya. Ingin sekali ku merobek mulutnya.
Aku menutup telingaku hingga mataku terpejam. Tak terasa pagi telah datang. Dirumah kini hanya tinggal aku dan adikku. Karena orang tuaku telah lama pergi dengan kedua kaki yang tertinggal di rumah dan entah kenapa mereka tak pernah kembali. Aku kemudian menyuruh adikku mengambil pisau di dapur. Dia menurut.
Aku kemudian melanjutkan acara bermain dengannya. Tak ada suara brisiknya saat kami bermain. Aku senang dia tidak berisik. Kemudian aku ingat, ini sudah saatnya dia tidur siang. Matanya mulai terpejam saat aku menyanyikan lagu pengantar tidur.
Malam ini aku akhirnya bisa tidur dengan tenang. Aku senang aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan adik tiriku.
Sudah beberapa malam ku lalui tanpa ocehan tak jelas dan gangguan adikku.
Namun malam ini berbeda dari malam malam sebelumnya. Mataku tetap tak bisa terpejam. Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki dari luar kamar. Tidak mungkin itu adikku, dua kakinya saja sudah terpisah dari tubuhnya.
Suara itu semakin mendekat. Hingga di depan pintu kamarku, ia berhenti. Ia mencoba membuka kenop pintu kamarku. Aku heran, siapa dia?. Tidak mungkin juga kalau itu adikku. Kedua tangannya saja lebih memilih ikut dengan kakinya.
"Buka kak, di luar dingin.. " suara lirih dari depan pintu kamarku terdengar jelas di telingaku. Suara itu? Tidak mungkin. Aku pasti berhalusinasi. Keringat dingin mulai bercucuran. Apakah itu adikku? Tidak mungkin!. Aku sudah membunuh adikku saat kami bermain beberapa hari lalu. Bahkan bagian tubuhnya saja tidak ku biarkan bersatu. Mulutnya sudah ku jahit. Telinganya sudah ku biarkan terlepas. Bahkan bagian tubuhnya yang terpotong masih berserakan di halaman rumah. Tidak mungkin tubuhnya bisa bersatu kembali.
Tamat