Kisah ini dimulai di hari spesial, hari yang ditunggu-tunggu para murid yaitu hari jadi SMA Dandelion.
Tentunya kepala sekolah tidak hanya diam dia mengadakan sebuah pesta untuk merayakan hari ulang tahun SMA itu, semua murid dan juga guru guru pasti datang ke pesta.
"Selamat siang semuanya...! Di pesta tahun ini ada sedikit perbedaan dari biasanya kali ini saya mempunyai sebuah kejutan untuk kalian semua." Ujar pak kepsek berdiri di atas panggung.
"Kejutan apa pak?"Semua murid bersorak gembira.
"Ini dia, sini Arexa" jawab pak kepsek
Arexa menaiki panggung sembari membawa gitarnya.
"Hai gua Arexa" Sapa Arexa dengan wajah tanpa ekspresi
"Ahhh Arexa...!" Semua murid bersorak dan bertepuk tangan.
"Kalian pastinya tidak asing lagi dengan Arexa kan" ujar kepala sekolah.
Arexa dia adalah seorang penyanyi yang akhir-akhir ini sedang naik daun.
"Okay Arexa silahkan" Kepala sekolah turun dari panggung.
"Sebelum mulai gua mau ngucapin selamat ulang tahun untuk sekolah ini semoga sekolah ini senantiasa damai dan terus maju menjadi sekolah terbaik, okay gak perlu lama-lama lagi, guys kita nyanyi bareng-bareng ya" Arexa berbicara dan memeriahkan acara dengan nyanyiannya.
Semua bernyanyi bersama dengan gembira, singkat cerita pesta diadakan dengan lancar seperti biasanya. Di kantin sekolah Arexa yang tengah sibuk meladeni para penggemarnya.
"Tolong untuk semuanya bisa kah kalian tenang jangan membuat kerumunan seperti ini. Arexa sedang tidak enak badan jadi maaf ya kami harus segera pergi" ujar Willy berusaha membubarkan kerumunan.
"Anter gua ke kamar mandi" Arexa berbisik ke telinga Willy.
Disisi lain Reynard, Alvin dan Clarissa dengan santainya melihat kerumunan itu dari kejauhan sembari makan camilan.
"Pada ngapain sih emang apa hebatnya Arexa kenapa orang-orang suka sama dia, udah jelas jelas dia itu sombong gak pernah senyum lagi"Kesal.
"Ya elah bilang aja lu itu iri sama mereka" ketus Reynard.
"Gak" ujar Clarissa memutar bola matanya malas.
"Oh ya malam ini akan ada acara bakar bakar ya?" Tanya Alvin heran.
"Iya kata pak kepsek sih gitu jadi kita semua jangan dulu pulang, padahal gua males banget ih pengen cepet pulang" jawab Clarissa cemberut.
"Oh kalo gitu gua ke toilet dulu" ujar Alvin dengan wajah datar kemudian ia pun pergi.
"RISSA...!" Yura berteriak dan berlari menghampiri Clarissa.
"Gue mau ketemu sama Arexa Lo mau ikut gak?" Tanya Yura mengajak Clarissa.
"Gak, lagian lo mau ngapain sih?" Clarissa malah nanya balik.
"Gue mau nyoba minta nomor teleponnya ya siapa tau Arexa atau asisten pribadinya itu ngasih lagian gue juga mau sekalian ngasih hadiah sama Arexa. Tadi gue denger Arexa lagi di kamar mandi jadi gue mau nyusul dia" ujar Yura berharap agar mendapatkan keinginannya.
"Yakin sih Lo gak bakalan berhasil, udahlah Lo jangan gegabah fotbar aja udah cukup" ujar Clarissa menaikkan satu alisnya.
"Ya elah lo gitu amat sih sama temen sendiri" ujar Yura membalas perkataan Clarissa dengan cemberut.
Malam pun tiba semua orang berkumpul di lapangan dan segera menyiapkan alat dan bahan-bahan. Tak disangka Arexa dan Willy masih ada di sana padahal siang tadi mereka akan segera pergi.
"Maaf telat" Alvin menghampiri Clarissa yang tengah duduk di pinggir lapang dengan pakaian yang sudah diganti.
"Kenapa ganti baju?" Tanya Clarissa heran.
"Bajuku kena minuman" jawab Alvin dengan wajah datar.
Tak lama kemudian Reynard dan Lisa datang menghampiri mereka berdua untuk meminta bantuan membawa beberapa alat alat dari gudang.
Sementara itu Arexa yang tengah duduk dekat para guru tiba-tiba mendapatkan sebuah pesawat kertas berisikan tulisan.
_Tolong pergi ke gudang dekat toilet, ada hal penting yang harus dibicarakan_
Arexa Menghela nafas panjang "pesawat kertas lagi...!" Arexa merasa bingung.
"Willy ayo ikut" Arexa berdiri dari duduknya dan pergi menuju gudang bersama Willy.
Guru-guru yang sedang asik mengobrol di lapangan tiba-tiba dikejutkan dengan hebohnya para murid yang melaporkan bahwa Yura meninggal dengan baju penuh darah di dalam toilet pria.
"Bu itu Yura...!" Salah seorang murid panik dan mengadu pada seorang guru.
"Kenapa?" Tanya seorang guru khawatir.
"Yura luka luka bajunya juga penuh darah di toilet" jawab seorang murid ngos-ngosan.
Sontak semua orang kaget mendengar hal itu dan akhirnya mereka berlari menuju toilet dan benar saja Yura tergeletak di lantai toilet sembari memegang sebuah pisau. Mereka berpikir Yura bunuh diri untuk memastikan bahwa ini adalah sebuah kecelakaan atau apa mereka akhirnya memutuskan memanggil polisi.
Di gudang yang tak jauh dari toilet tadi.
Arexa membuka pintu gudang "apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Arexa heran.
"Harusnya kita yang nanya ngapain kalian berdua kesini?" Tanya Lisa heran.
"Ya, apa kalian mau bantuin kita ambil barang barang?" Ujar Reynard sembari mengangkut beberapa barang.
Brakk pintu tertutup dan tak bisa dibuka, suara guntur terdengar dari luar awan berubah menjadi mendung seakan awan akan menangis malam ini.
Reynard, Alvin, Clarissa, Arexa, Willy dan Lisa mulai panik seketika suasana menjadi hening tak lama sebuah pesawat kertas terbang dan mendarat tepat di hadapan Alvin.
_Temukan pembunuhnya_
Alvin melotot melihat isi surat itu lalu memberikan isi surat itu pada yang lainnya, dan Reynard mengerutkan keningnya karena merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tak lama pesawat kertas yang selanjutnya terbang lagi dan mendarat, Willy membukanya.
_Mau coba main truth or dare dengan ku? Duduk melingkar dan putar botol, dan ya percuma saja kalian menolak lebih baik main saja_
Arexa merasa kesal ia merasa seperti di permainan, cowok itu sudah berusaha untuk membuka pintu dan berteriak meminta tolong pun tak bisa. Alvin mengambil sebuah barang yang ada di sekitar dan membanting kan nya ke jendela berharap jendela itu pecah dan percuma saja tidak bisa.
Akhirnya mereka duduk membentuk sebuah lingkaran dan memutar botol. Botol itu berhenti dan mengarah ke arah Lisa.
"Truth or Dare?" Tanya Yura.
Suara Yura terdengar dari sana tapi Yura tidak kelihatan kalau dirinya ada di sana.
"Itu suara Yura! Yura ayolah jangan main-main kau dimana" ujar Clarissa khawatir.
"Rissa diam, cepat jawab Lisa" bentak Yura.
"Dare" jawab Lisa dengan nada suara canggung.
Pesawat kertas kembali terbang dan mendarat di hadapan mereka.
_Berdiri di atas meja yang ada di sudut tembok dengan satu kaki selama 10 detik_
Lisa menurutinya ia berdiri di atas meja selama sepuluh detik. Setelah sepuluh detik ia turun dan tak sengaja menendang sebuah kotak hingga jatuh kelantai.
Lisa mengambil kotak itu dan membukanya, kotak itu berisikan sarung tangan dan lap dengan penuh noda darah, Lisa dan yang lainnya terkejut cewek itu meletakkan kotak tadi di atas meja sebagai petunjuk.
"Itu kan...?" Arexa kembali dibuat kebingungan.
Arexa melotot dan bingung, permainan dimulai lagi Alvin memutar botol. Botol itu berhenti dan mengarah ke arah Arexa.
"truth or dare?" Yura kembali bertanya.
"Truth" jawab Arexa.
Pesawat kertas kembali lagi Arexa pun membacanya dengan perasaan takut dan gemetar.
_Kapan kau terakhir melihat ku?_
"Di... di depan toilet!" Arexa menjawab dengan perasaan yang amat ragu.
Tiba-tiba Arexa terseret ke belakang seakan ada yang menarik kakinya.
"Katakan dengan jujur" Yura Kesal.
"Iya iya maaf terakhir gua liat Lo di...di dekat tangga" jawab Arexa Panik dan ketakutan tangannya memegang erat pada meja agar tidak terseret.
Akhirnya Arexa berkata jujur lalu ia kembali duduk dan melanjutkan permainan.
"Yura udah Lo itu temen gue kalo ada masalah Lo bisa cerita!" Clarissa tiba-tiba berbicara karena merasa khawatir dengan keadaan temannya.
"Maaf gak bisa setelah semua ini selesai gue mau pergi, lanjutin aja permainannya nanti Lo juga bakalan tau!" Jawab Yura.
"Lo ngomong apa sih Ra?" Clarissa dibuat kebingungan oleh omongan Yura.
"Gue dah gak ada jadi tolong ya temuin pembunuhnya" ujar Yura, walaupun memang hal ini tidak membuat Clarissa percaya yang ia pikirkan ini pasti hanya sebatas main-main.
"Udah deh ngaku aja biar cepet kelar siapa pembunuhnya? Terakhir gua ketemu sama Yura dia bilang akan ke kamar mandi untuk nemuin Lo" Reynard menunjuk ke arah Arexa.
"Heh santai dong lu nuduh gua pembunuhnya lagian gua juga ke toilet sama si Willy, pastinya si Willy juga tau gua ngelakuin apa aja" Arexa tak terima dirinya dituduh.
"Heh tunggu bukannya kau juga ada di toilet saat cewek itu ngejar Arexa" Willy menunjuk Lisa.
"Iya tapi gue cuma ke toilet doang" ujar Lisa membalas perkataan Willy.
"Alvin Lo juga ke toilet kan? Terus kenapa kau mengganti baju" tanya Reynard pada Alvin karena merasa curiga.
"Baju gue kena minuman!" Ujar Alvin dengan santainya. Disanalah mereka mulai beradu argumen dan di hentikan oleh ucapan Yura yang kembali terdengar.
"DIAM LANJUTKAN PERMAINANNYA" Yura berteriak kesal
Reynard memutar botol dan berhenti mengarah ke arah Alvin.
"Truth or Dare?" Yura bertanya lagi.
"Truth" jawab Alvin.
Pesawat kertas kembali dan Alvin membacanya.
_Apa kau pernah membunuh?_
Alvin bingung tentunya ia mengatakan tidak karena dirinya merasa tak pernah membunuh seseorang. Akan tetapi kejadian yang menimpa Arexa tadi dialami oleh Alvin dia terseret seakan kakinya di tarik seseorang.
Karena panik dan bingung Alvin berusaha mengingat-ingat kembali apakah dia pernah membunuh atau tidak.
"Iya gua pernah bunuh ayam peliharaan Clarissa maafin gua" jawab Alvin ketakutan.
"Jadi ayam yang waktu itu kita bakar ayam kesayangan gue!" Clarissa tak percaya.
Alvin kembali duduk lalu Arexa memutar botol dan berhenti mengarah ke arah Willy.
"Truth or Dare?" Ujar Yura
"Truth" jawab Willy.
Pesawat kertas kembali lagi dan entah kenapa pertanyaan yang sama muncul lagi.
_Apa kau pernah membunuh?_
"Gak eh iya maksud ku ya aku pernah membunuh seekor kelinci berkulit putih eh maksudnya berbulu putih" ujar Willy tertawa canggung.
Willy terseret cowok itu nampak ketakutan.
"Kelinci berkulit putih atau gadis berkulit putih?" Yura mulai merasa kesal.
Brakk pintu terbuka kali ini Yura terlihat dengan wajah yang menyeramkan sembari menarik kaki Willy keluar gudang. Clarissa berteriak memanggil Yura dan yang lain ikut keluar mengejar Yura dan Willy. Wily yang nampak sudah ketakutan dan merasa pasrah akhirnya mengaku.
Sesampainya di depan toilet Yura menghilang, Willy melotot karena kaget. Tiba-tiba Arexa menampar Willy.
"Bodoh udah gua bilang beritahu yang lain kalau lu gak sengaja dorong cewek itu, lu malah nyembunyiin mayatnya" bentak Arexa memarahi Willy.
"Ini Bu kita nemuin ini di gudang ibu bisa berikan ini sebagai bukti kepada pihak yang berwajib" Lisa memberikan kotak berisi sarung tangan dan lap
"Ini punya siapa?" Tanya seorang guru.
"Itu punya Willy kalo ibu gak percaya ibu bisa cek ada nama Willy di sarung tangannya" Arexa Kesal.
Akhirnya Willy dibawa ke kantor polisi.
Flash back
Saat kejadian di toilet siang tadi, Alvin keluar dari kamar mandi dan melihat Yura yang tengah berlari ke arahnya karena kecerobohannya iya tersandung dan tak sengaja menumpahkan air ke baju Alvin.
"Maaf" Yura membungkukkan badannya.
Yura kembali berlari menuju Arexa dan Willy yang tengah berada di belakangnya dan Alvin kembali ke kamar mandi, cewek itu memberikan sebuah hadiah dan surat berbentuk pesawat kertas akan tetapi Arexa menolak karena ia benar-benar tidak tahan ingin segera ke toilet untuk buang air.
Lisa juga disana saat itu akan tetapi ia hanya lewat untuk pergi ke toilet. Yura itu benar-benar keras kepala Willy terus berusaha menjauhkan Yura dari Arexa, Willy mendorong Yura perlahan menjauh dari toilet agar Yura tidak menggangu Arexa.
Setelah mereka menjauh dan sampai di pinggir tangga tak disangka Yura terpeleset dan terjatuh. Kepala Yura terbentur dan mengeluarkan darah, Arexa terkejut dan berlari menghampiri Willy.
"Ceroboh...! Nanti gue akan panggil seseorang kalo dia jatuh dari tangga. Lo tungguin disini gua gak kuat pengen buang air" ujar Arexa.
Arexa pergi ke toilet, sementara itu Willy merasa panik ia mengeluarkan sapu tangannya dan membawa Yura ke dalam toilet bukan hanya itu ia juga mengeluarkan sebuah pisau dan sengaja disimpan di tangan Yura agar kecelakaan ini terlihat seperti Yura bunuh diri.
Willy juga membersihkan bekas darah dengan cepat dan membuang sarung tangannya dan juga lap bekas darah di dalam sebuah kotak karena tidak ada waktu Willy menyimpannya di dalam gudang dekat toilet.
Arexa kembali menemui Willy akan tetapi Willy bilang dia telah memberitahu seorang guru dan cewek itu telah di bawa. Saat itu Arexa merasa semuanya sudah selesai dan ia ingin segera pulang.
Akan tetapi Willy memberikan sebuah alasan agar mereka tidak dulu pulang karena ia belum sempat membuang sarung tangan dan lap yang ia simpan di gudang tadi.
"Malam ini akan ada acara, kepala sekolah meminta mu agar tidak dulu pulang" ujar Willy memberi sebuah alasan agar mereka tidak cepat pulang
Huh okay" jawab Arexa memutar bola matanya malas.