Sesuai permintaan Arif, kami bertemu keesokan hari selepas aku pulang kerja. Ia menjemput ku dengan sepeda matic kesayangannya. Dengan sumringah dia menghampiriku sambil memberikan sebuah helm.
" ayok ikut aku dulu ya" ujar nya kepadaku.
" Kamu malu gak sih ketemu aku lagi?" Tanyaku sejenak sembari memperhatikan senyum Arif yang begitu makin merekah.
"Ha..ha..ha.. Apaan sih Din? Aku kangen bukan malu. Udah ahh ayok naik, aku tinggal nih kalau gak naik-naik" sahutnya sambil menarik tanganku perlahan.
•••
Setelah sampai di kampus si Arif, aku pun di buat menunggu di sebuah taman kecil. Sambil celingukan aku memandangi Arif dari kejauhan. Lalu beberapa saat kemudian ia berlari ke arahku. Ternyata ia mengajakku mengumpulkan tugas kuliahnya.
Dalam perjalanan kami banyak mengobrol. Dia banyak bertanya tentang kesibukanku selama ini. Kita pun kerap kali bercanda di sepanjang perjalanan.
" Kamu menor banget sekarang Din" celetuknya padaku.
Aku pun menepuk pundaknya dengan perlahan. "Ih masak sih!!! Ini kan tuntutan kerjaan Rif!"
" Hahaha bercanda bercanda, kamu tapi tambah cantik kok... Walaupun cuma dikit hahaha..." Ia pun menjawabku lagi dengan guyonannya.
Kami pun berhenti lagi di sebuah toko elektronik. Ia mengajak ku mampir untuk kedua kalinya. Kali ini ia mengajakku membeli perlengkapan untuk praktek tugas kuliahnya.
Melihat wajahku yang murung Arif pun menghampiriku terlebih dahulu. Ia berkata untuk menunggunya sebentar saja.
Sambil mengelus mesra kepalaku, lalu berkata "jangan marah ya, bentar aja kok".
Aku tak paham dengan si Arif, kemarin dia mengajak bertemu denganku tapi kenapa ia malah seperti mengerjai ku. Padahal kami sudah enam tahun tak pernah bertemu. Namun sekali nya bertemu kenapa harus seperti ini pertemuannya.
" Udah??? Aku mau pulang aja. Aku capek!!!" Ucapku dengan nada kesal.
" Yah kamu marah kan? Jangan marah ya" Arif pun tersenyum seolah menghiburku agar tak cemberut. Namun aku yang memang sedang kesal tak pernah bisa menutupi perasaan ku itu.
" Kita makan dulu ya, di tempat kita biasa makan dulu" Ia masih mencoba membujukku sambil mencolek-colek lenganku.
Aku pun akhirnya menurut dengan si Arif karena ingin menghargai usahanya. Dan juga ku pikir akan sia-sia jika kita pulang dengan perasaan kesal seperti ini.
•••
Kami pun pesan dua porsi lalapan dan dua gelas es teh. Aku tak menyangka jika dejavu akan hadir di antara kami berdua.
Kami yang lama tak pernah bertemu, kini akhirnya berhadapan kembali. Meskipun hubungan kami telah lama kandas di saat Sekolah dahulu.
" Ingat gak kita dulu sering makan di sini?" Tanya Arif sambil mengunyah makanannya.
" Iya inget, sekarang tempatnya udah beda juga. Udah gak kayak dulu"
Perasaan kesal ku seketika hilang di tempat itu. Kami banyak bertukar pikiran dan pandangan hidup di tempat yang penuh kenangan itu. Walaupun sebenarnya rasanya sangat aneh, tapi kami sangat menikmati nostalgia hari ini.
•••
Hari ini sepulang kerja aku pun bergegas untuk pulang ke rumah. Aku pun segera bersiap dan berdandan dengan cantik. Karena hari ini si Arif mengajak ku untuk bertemu lagi.
Kemarin kami memang berjanji akan bertemu lagi. Dimana malam ini bertepatan dengan perayaan malam tahun Baru.
Seperti biasa ia menjemput ku jauh di luar gerbang rumahku. Sama persis seperti saat sekolah dulu. Kami berdua pun langsung meluncur ke arah balai kota. Niat kami berdua akan merayakan tahun Baru di sana sambil menonton pesta kembang api.
Sesampainya di balai kota ,ternyata sudah penuh sesak orang-orang yang sama dengan kami berdua. Sama-sama ingin menyaksikan kembang api. Kami berdua pun berjalan menuju ke arah tengah balai kota.
Karena area kami parkir cukup jauh dari pusat balai kota. Aku dan Arif pun harus rela berdesak-desakan dengan lautan manusia di sana.
Tiba-tiba saja tanganku di genggam erat oleh si Arif. Aku sontak terkejut dan menatap ke arah Arif. Mata kami berdua pun saling bertemu. Dengan senyum malu-malu aku pun hanya bisa pasrah di genggam tanganku oleh mantan kekasih.
" Apa ngeliatin aku mulu? Aku takut kamu ilang ntar kalau gak ku pegangin" ujar Arif sembari tersenyum nakal padaku.
" Ih modus aja emang kamu" jawabku sambil menyenggol badan Arif yang semakin gagah sekarang.
Perasaanku kala itu berkecamuk, rasanya sangat canggung, bahagia, grogi tidak karuan. Tak ku sangka aku akan mengalami hal seperti ini lagi. Seolah masa muda kami dulu kembali hadir hari itu.
Ternyata tak sampai di situ aku di buat linglung oleh mantan kekasih ku itu. Karena ia tiba-tiba lagi menarik tubuhku agar berdiri di depannya. Dari belakang ku rasakan tubuh tegapnya melindungiku dari desakan lautan manusia di balai kota.
Lengan besarnya kini berada di pinggangku, lalu memelukku erat dari belakang. Ia seolah tak ingin aku terluka karena memang tempat kami berjalan penuh sesak dengan orang-orang yang ingin berjalan ke tengah balai kota.
Degup jantungku sepertinya sudah tak dapat ku tutupi lagi. Begitupun sebaliknya, selain kehangatan dekapan Arif, aku pun merasakan degup jantung nya yang tak beraturan. Tanpa sepatah kata kami pun berdua berjalan sambil berpelukan mesra.
Malam itu bagiku adalah malam paling indah. Malam yang berdebar dan sungguh membahagiakan bagiku.Hingga membuatku ingin teriak dengan kencang karena bahagia. Namun untungnya tak terjadi, karena masih dapat untuk ku tahan. Hingga kita akhirnya pun sampai di pusat balai kota.
"Huaaahh akhirnya bisa nafas" ucapku seolah lega.
"Iya Din, kamu capek gak? Kita cari minum sama tempat buat duduk yuk" ucapnya padaku setelah sempat membuatku berdebar beberapa saat.
Kami berdua duduk bersandar di pagar yang melingkari balai kota. Dengan duduk lesehan di bawah, kami berdua pun menunggu datangnya pergantian tahun.
Namun, di malam yang riuh itu aku tak sadar jika aku ketiduran. Dengan setengah sadar aku tahu jika kepalaku di sandarkan dipundaknya oleh Arif. Ia seolah sedang mengajakku bicara namun karena saking mengantuknya, aku tak tahu apa yang sedang ia bicarakan.
"Duarr...duar..." Suara mercon dan kembang api pun berbunyi. Aku pun tersadar dari tidur lelap ku , dan beranjak dari pangkuan Arif.
"Ihh di ajak tahun baruan malah tidur Din!" Seolah mengejekku ia pun lalu tertawa sambil menatapku yang sudah tak karuan setelah ketiduran.
" Maaf deh, aku capek banget tadi habis kerja hehehe" Jawabku sembari menatap mata Arif yang sedari tadi sama sekali tak berpaling dariku.
"Selamat ulang tahun ya Din!!" Tiba-tiba saja Arif berbisik padaku mengucapkan hal yang tak terduga.
Mendengar kata-kata itu, sontak aku terdiam dan terpaku. Aku tak menyangka jika Arif adalah orang pertama yang mengucapkan ulang tahun padaku. Perasaan ku di buatnya melambung ke ujung langit malam itu.
"Makasih ya Rif..." Ucapku dengan mata berbinar-binar karena terharu.
" Sama-sama Din" ucapnya sambil merangkul ku.
Dengan hati yang penuh sesak dengan kebahagiaan, aku pun hanya pasrah di rangkul kembali oleh mantan kekasihku. Malam hari ini sungguh teramat indah, hingga aku tak sanggup berkata-kata. Dan hanya bisa menatap indahnya dentuman kembang api dan mercon tahun baru yang tiada henti berdua bersama si Arif.
"Kadonya jangan lupa" celetukku sembari menggoda Arif.
" Iya besok ya" ucapnya sambil tersenyum manis menatapku.
•••
Keesokan hari nya aku pun mendapat satu notifikasi di ponselku. Sebuah video pendek yang Arif kirim untukku. Seketika aku pun tersenyum merekah. Ia mengirimkan sebuah video papan running text yang ia buat. Dan ternyata itu adalah hasil praktek yang ia buat di kampusnya.
"DINA MARIANI SELAMAT ULANG TAHUN 1 JANUARI 1993"
Begitulah tulisan yang ia kirimkan padaku. Dimana itu menjadi sebuah kado paling berkesan. Serta sebagai kado terakhir yang ia berikan padaku tahun ini. Hingga akhirnya kita asing kembali setelah hari itu, dikarenakan kesibukan masing-masing.