Senangnya hati...jangan dilanjutkan karena ini bukan sebuah syair lagu.
Aku memang merasa senang sekali karena hari ini lelaki yang diam-diam kusuka selama ini, tiba-tiba mulai menunjukkan ketertarikannya samaku.Hal itu bermula ketika abangku tidak sengaja menggodaku didepannya. Bahkan dengan gamblangnya dia mengatakan kalau aku menyukainya.
Memang iya sih. Tapikan aku jadi sangat malu saat itu karena kelakuan abangku. Pipiku rasanya memanas saat itu saking malunya. Btw dia dan abangku satu angkatan. Mereka duduk dikelas 12, sementara aku masih kelas 10. Jadi si mas crushku adalah abang kelasku dan sialnya adalah teman abangku.
Mulai dari pengakuan itulah, mas crush tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba men-chatku. Entah darimana dia mendapatkan nomorku, mungkin sih dari abangku. Tapi yang jelas perasaanku sangat senang dan bahagia malam itu.
Sejak saat itu kami sering berkomunikasi melalui telepon dan pesan. Hingga tiba di sabtu pagi mas crush mengabariku melalui pesan untuk mengajakku jalan-jalan malam nanti. Malmingan cuy.
Akhirnya pesannya itupin kubalas yang menyetujui rencananya. Tak lama kemudian dia membalas pesanku dan mengatakan kalau dirinya akan menjemputku jam tujuh malam nanti.
Senangnya...saking senangnya ponselku kulempar sembarangan ke kasur tanpa takut terjatuh ke lantai, begitu juga langsung kurebahkan tubuhku ikut berbaring telentang ke kasurku. Lalu ku pejamkan mataku membayangkannya khayalanku saat malmingan nanti bersamanya.
Kyak...Aku malmingan sama mas crush. Teriakku tanpa suara. Jika orang-orang melihat keadaanku saat itu, mungkin mereka akan mengataiku orang gila yang sedang tantrum tanpa bersuara.
Skip. Akhirnya malam tiba. Setelah mengacak-acak lemariku sore tadi. Akhirnya malam ini aku sudah kelihatan cantik, berpenampilan menarik seperti anak gadis yang sedang berkencan. Yakali ngedate sama mas crush pake dasteran. Nanti aja dasterannya kalau sudah dapat hatinya,sudah jadi istrinya. Pikirku.
Eh istrinya? Haluku udah ngelantur kemana-mana. Tapi semoga saja terjadi. Raga... crushku... Jadikan aku istrimu...
Haluku seketika berakhir ketika mendengar teriakan mamaku. Sontak aku keluar dari kamar dan berjalan ke teras rumah untuk melihat kenapa mamaku masih ngebass padahal hari sudah malam.
Sesampainya di sana aku terkejut melihat Raga ternyata sudah dirumah.
Mulutku menganga saat melihat pohon pisang yang baru ditanam mamaku tadi sore sudah patah pinggang alias tumbang.
Siapa yang merusaknya? Aku saja yang sebagai anaknya tidak berani berbuat macam-macam kepada tanaman mamaku. Semua tumbuhan yang ada dipekarangan rumahku sudah dianggap sebagai anak ketiganya. Mamaku sangat suka menanam dan pencinta tumbuhan. Jika bukan karena mamaku mungkin halaman kami mungkin akan terlihat gersang.
"Ini siapa yang rusakin Mah?" Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.
Mamaku hanya diam dan hanya menatap Raga yang berdiri di samping motor besarnya.
"Maaf Tan. Saya enggak sengaja menabraknya."
Nabrak? Kok bisa? Aku sekarang jadi mengerti. Berarti pelakunya adalah Raga. Mampuslah. Bakal susah dapat restu ini.
Aku masih ingat pas aku masih kelas 3 SMP. Waktu itu aku nggak sengaja iseng memutiki daun bunga mawar mamaku dan beberapa kelopaknya. Disitu mamaku marah besar dan aku pun saat itu dua hari berturut-turut tidak mendapatkan uang saku, beruntung ada papaku yang menyelamatkanku secara diam-diam memberikan uang saku kepadakusehingga aku masih bisa jajan disekolah.Papaku memang penyelamat.
Tak hanya itu, bahkan mamaku saat itu juga memasak lauk yang betul-betul tidak aku sukai sehingga aku pun jera dan tidak ingin menganggu tanaman hias mama lagi.
Dan sekarang Raga malah menabrak pohon pisang mamaku yang baru ditanam tadi. Udah belinya melalui online shop, belum lagi tadi mamaku sempat adu mulut sama tukang ngantar paketnya yang sempat kesal sama mama karena barang belanjaan yang ribet. Pokoknya mendapatkan pohon pisang itu mamaku memerlukan waktu untuk menunggunya datang dan juga menguras emosi.
"Mama nggak mau tau Selin pokoknya itu pohon pisang harus kembali seperti yang mama tanam tadi."
Mamaku masuk ke dalam rumah meninggalkan kami yang masih dilanda kebingungan. Sementara di pintu abangku terlihat seperti sedang tertawa mengejek ke arah kami.
"Ya gagal malmingan ya. Gapapa, nanam pohon pisang berdua juga romantis kok."
Begitulah kata kata yang dia lontarkan sebelum masuk ke dalam rumah menyusul mamaku.
Romantis pala kau. Batinku kesal, namun kekesalan itu disembunyikan agar tidak terlihat oleh Raga.
"Cangkul dimana Sel?"
"Hah?"
"Cangkul."
"Untuk?" Aku terlihat seperti orang bodoh sekarang.
"Untuk memperbaiki pohon pisang ini."
"Memang ini masih bisa diselamatkan?"
"Bisa itu. Kalau nggak, kita bisa-bisakan. Yang penting ditanam dulu. Ayo, ambil cangkulnya keburu emakmu datang."
Aku pun mengangguk-anggukkan kepala. Lalu berjalan ke samping rumah untuk mengambil cangkul yang disimpan di sana. Akhirnya malam mingguan ini kuisi dengan kegiatan menanam pohon pisang bersama mas crush yang tumbang karenanya seperti yang disampaikan oleh abangku tadi, yang katanya sangat romantis sekali.
Romantis nggak?
Cukup sekian. Terima kasih. Salam dari pohon pisang yang sudah kami selamatkan. Hehehe.