Pernahkah kamu ditinggal sendiri di rumah baru yang asing?
Inilah yang dirasakan Ailyn.
"Ayah pergi lagi," gumamnya, melihat hujan deras dari balik jendela rumah yanh basah. Mobil sedan hitam di depan rumah menjauh dan menghilang dari pandangannya.
Ailyn sudah terbiasa tinggal sendiri, apalagi sejak orangtuanya bercerai. Dia tidak memiliki teman, sehingga masa-masa libur sekolah ini adalah masa-masa tersunyi dalam hidupnya.
Di rumah yang baru saja ia tempati dan masih terasa asing, tanpa pembantu dan tanpa seseorang yang menemani.
Hari masih siang, tapi hujan turun dengan deras. Guntur terus bertentum di langit disertai kilat petir yang berkedip. Ailyn melihat tangga melingkar rumahnya yang sepi, melangkah menaiki anak tangga untuk pergi ke lantai dua.
Seperti biasa, rasanya sangat sunyi. Hanya ada suara derasan hujan dan dentuman guntur. Mati rasa yang dialami Ailyn membuatnya menikmati suasana itu.
Ia melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya. Namun ....
Tiba-tiba saja seluruh pandangannya gelap. Ailyn terkejut, lalu memandang sekitar yang gelap secara mendadak. Sepertinya hujan deras di luar menyebabkan listrik korslet. Tempat ini tidak berpenghuni sangat lama, wajar jika memiliki sedikit masalah.
Ailyn melangkah ke anak tangga tertinggi sampai tiba di lantai atas. Kali ini langkahnya lebih cepat, lalu berbelok ke kamarnya dan menutup pintu.
Ia menyalakan lilin dan diletakkan di meja belajar. Kali ini ada cahaya.
Ia membuka buku berwarna merah muda yang disimpan di laci meja belajar. Ada banyak tulisan di dalamnya. Ailyn mengambil pena, lalu menuliskan sesuatu di lembar kosong.
"Hari ini, Ayah pergi lagi. Aku ditinggal di tempat baru. Hujan, petir, gelap ...."
Ailyn diam untuk beberapa saat, melihat lilin yang menyala di depannya. Ia mengedipkan mata beberapa kali karena asap lilin yang memasuki matanya.
Sebuah gambaran tercetak di pandangannya ketika berkedip beberapa kali.
Sebuah pintu.
Ailyn mengerutkan kening, lalu mengusap matanya agar tidak terjadi bayang-bayang tidak diinginkan.
Namun, semakin ia menutup mata, semakin jelas gambaran tersebut terlihat.
Sebuah pintu berwarna merah.
"Apa-apaan." Ailyn terkejut ketika menyadarinya. Ia berdiri dari kursi, mundur beberapa langkah karena shock. Tiba-tiba saja ia memiliki rasa takut jika ingin menutup mata.
Ailyn menutup buku diary-nya, lalu pergi ke atas tempat tidur dan menarik selimut. Ia tetap membuka mata dengan pandangan kosong.
"Apa aku halusinasi?" Ailyn tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Ia menutup mata perlahan, semakin lama semakin menutupi pandangannya dari cahaya lilin. Ketika matanya tertutup sempurna, ia merasa lega karena apa yang ia lihat ternyata halusinasi.
Ia menghela napas, lalu memutuskan untuk tidur.
Satu menit dua menit tidak ada yang mengganggunya. Namun, tiba-tiba saja suara bel rumah terdengar.
Ailyn membuka mata. Ia segera beranjak dari tempat tidur, membawa lilin untuk menemani jalannya di dalam kegelapan.
Suara bel terus berbunyi ketika Ailyn menuruni tangga dan pergi ke pintu depan.
"Sebentar," seru Ailyn.
Ia membuka pintu ketika tiba. Dilihatnya sosok perempuan berpayung hitam di depan pintu. Perempuan itu memiliki tinggi yang sama dengannya, serta wajah yang hampir menyerupainya.
Mata Ailyn menunjukkan kejutan. "Ibu?"
"Selamat malam, sayang. Ibu datang!" Ibu Ailyn tersenyum gembira sambil merentangkan kedua tangannya.
Ibunya memeluknya, Ailyn benar-benar terdiam.
"Ayah kamu membeli rumah yang bagus. Rumah ini sangat besar, kamu malah tinggal sendiri, sedangkan dia pergi keluar kota." Ibu Ailyn merangkul putrinya masuk ke dalam layaknya rumah sendiri.
"Ayah tidak akan lama."
Ibunya cemberut, lalu mencubit pipi Ailyn dengan gemas. "Berapa lama? Dua bulan? Apa tiga bulan?"
"Ailyn sudah besar. Sebentar lagi juga akan kuliah dan bisa hidup mandiri."
"Iya, iya. Omong-omong, lagi mati lampu, ya?"
"Iya."
Dia menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berdua pergi ke ruang tengah. Ailyn pergi memasang beberapa lilin, sedangkan ibunya melihat-lihat.
"Kapan ayah kamu pergi?" tanya wanita itu.
"Baru saja," jawab Ailyn.
Ailyn menyalakan lilin terakhir, lalu memutuskan kembali ke ruang tengah untuk menemui ibunya. Ia dan ibunya sudah terbiasa seperti ini.
"Ailyn, ibu pinjam baju ganti, dong." Ibu Ailyn berteriak dari ruang tengah.
"Ya!" Ailyn buru-buru pergi ke lantai dua.
Ketika ia menginjak anak tangga, ia merasa seperti sedang menginjak lantai basah. Ia menunduk, melihat air yang tergenang, kemudian melihat ke atas berpikir bahwa bagian rumah ini bocor. Kebetulan terhubung langsung dengan atap lantai dua.
Namun, di atas sana sangat kering. Apa ia tanpa sengaja menumpahkan sesuatu tadi?
Ailyn tidak ingin berpikir terlalu lama. Ia melanjutkan langkah ke lantai dua dan pergi ke kamar.
Saat tiba di kamar, ternyata ponselnya yang tergeletak di meja belajar berdering, ayahnya menelepon. Ailyn segera mengangkat telepon.
"Halo?"
"Ailyn, ada sesuatu yang harus dikatakan. Ini mendadak."
Ailyn penasaran. "Apa?"
"Ayah baru saja akan pulang karena penerbangan dihentikan sementara. Tapi tiba-tiba ada urusan mendesak. Ibu kamu ... kecelakaan."
"...."
"Kebetulan di jalan pulang ayah menemukannya. Saat ini ayah sedang berada di rumah sakit. Kamu tetap di rumah, oke? Besok kita pergi sama-sama ke rumah sakit. Kondisinya saat ini masih belum menentu."
Ailyn benar-benar terdiam. Rasanya sangat aneh dan dadanya berdegup sangat kencang.
Ia yakin kalau baru saja ibunya datang dan meminjam pakaian. Ia akan mengambilkan pakaian ganti sekarang.
"Ailyn, ada apa?" Ayahnya bertanya.
"Tidak. Ayah harus cepat-cepat pulang." Ailyn tidak bisa mengatakan bahwa ia baru saja menerima tamu. Bukannya tidak mau, ia merasa tidak bisa.
"Ailyn?"
Jantung Ailyn nyaris melompat. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, memperlihatkan sosok wanita mirip ibunya berdiri di depan dengan senyuman yang mengembang.
"Apa ayahmu menelepon?" tanyanya.
Ailyn menutupi rasa takutnya. Ia menutup telepon, laku berkata, "Ayah akan pulang malam ini."
"Oh." Wanita itu mengangguk kecil, lalu melihat ke arah lemari. "Bajunya?"
"Oh, iya." Ailyn bergegas membuka lemari dan memilih pakaian. Ia merasa tidak bisa berbalik dan melihat wanita itu.
Sebenarnya mana yang benar? Matanya atau perkataan ayahnya?
Ailyn mendekati wanita itu dengan pakaian yang dipegangnya, lalu menyerahkannya. Ia pun berkata, "Aku mau ke dapur dulu."
Wanita itu mengangguk setuju. Ailyn segera pergi keluar sedangkan wanita itu berganti pakaian.
Ia tiba di dapur dan minum segelas air putih. Pergi ke wastafel dan mencuci muka untuk menyadarkan diri sendiri. Ia pasti sedang berhalusinasi.
Namun, harapannya putus ketika melihat sosok ibunya dari cermin. Ia berbalik dengan wajah terkejut.
"Kamu sudah tahu?" Wanita itu sudah memasang senyuman dingin.
Ailyn melangkah menjauh secara perlahan sambil melihat sosok itu dengan perasaan takut. Wanita itu mendekat ke arahnya.
"Ailyn, ini Ibu. Ada apa denganmu?"
Ailyn masih takut. Ia semakin berjalan menjauh dan memutuskan untuk lari.
Menelusuri rumah besar dan pergi ke lantai dua untuk bersembunyi di kamarnya. Seluruh pintu telah terkunci sehingga ia tidak bisa lari ke arah lain.
Ia menginjak anak tangga. Air di tangga semakin banyak dan ia menginjaknya tanpa peduli. Tapi karena terlalu terburu-buru, ia terpeleset.
Lututnya terbentur anak tangga yang basah, sedangkan tangannya berpegangan pada pegangan tangga. Tangan satunya menyentuh lantai yang basah dan terasa lengket.
Barulah ia sadar, bahwa itu bukanlah air biasa.
Lengket dan bau amis. Warnanya merah ketika mengalir di tangannya. Ailyn semakin shock, lalu lari lebih cepat ke arah kamar.
Ia sebelumnya sama sekali tidak sadar karena gelap. Selain itu, ia tidak mencium baunya. Ia benar-benar tidak tahu.
Sampai di kamar, ia menutup pintu dengan keras dan menguncinya. Ia pun pergi ke dalam lemari untuk sembunyi, karena hanya itu satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya.
Di dalam lemari sangat gelap. Ia hanya dapat mendengar satu-satunya suara, nafasnya. Kegelapan ini membuatnya semakin takut.
Suara kunci diputar dan pintu dibuka terdengar. Tubuh Ailyn semakin bergetar ketika mendengarnya. Ia bahkan sangat takut meski hanya untuk mengintip sebentar.
"Ailyn sayang?"
Itu suara ibunya. Suara yang persis sama. Namun, itu bukanlah ibunya. Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Bagaimana ia bisa mengalami hal seperti ini?
Apa yang memulainya?
Ailyn berpikir lebih keras dalam keadaam takut. Setelah diyakininya wanita itu telah pergi, ia keluar dari lemari dan pergi ke meja belajar. Ia membuka buku diary-nya.
Hal pertama yang menjadi perhatian adalah tulisan yang sama sekali tidak ia ingat.
"Pintu berwarna merah?" Ailyn semakin bingung. Kapan ia menulis ini?
Saat ia melihat gambaran pintu merah, apa ia menuliskannya tanpa sadar? Sepertinya itulah yang terjadi.
Tapi apa hubungannya dengan ibunya?
Ailyn duduk di kursi dengan bingung. Ia memijat keningnya yang berdenyut, lalu melihat ke arah lilin di atas meja. Ia bingung ... dan takut ....
"Ailyn!" Suara teriakan wanita dari lantai bawah terdengar. Ailyn terkejut. Ia menyimpan diary-nya kembali, lalu kembali ke arah lemari bersiap sembunyi.
Tapi begitu ia pergi arah lemari, apa yang ia lihat sama sekali bukan lemari. Melainkan sebuah pintu di antara kegelapan yang gelap gulita. Pintu itu berwarna merah.
"Ailyn!"
Suara wanita itu semakin dekat. Ailyn semakin takut menyadari suara itu datang dari belakangnya. Ia buru-buru membuka pintu dan masuk ke dalam, lalu bersembunyi di balik pintu.
Suara itu menghilang.
Suara derasan hujan terdengar.
Ailyn baru sadar, bahwa selama ini ia tidak mendengar suara derasan hujan. Lebih tepatnya sejak menerima tamu itu.
Dia mengedarkan pandangan, melihat lantai basah yang dipijaknya. Kali ini, lantai basah itu disebabkan oleh hujan.
Ia ada di luar rumah, di depan pintu rumah.
Ailyn menggenggam pegangan pintu dengan erat. Pintu di depannya bukan lagi pintu merah, melainkan pintu cokelat biasa. Ailyn menghela nafas, sebelum akhirnya air mata mengalir dan ia mulai menangis ketakutan.
Ailyn menangis keras. Tubuhnya sangat lemas begitu melihat cahaya lampu mobil mendekat. Ada harapan di matanya.
Namun, ketika melihat sosok wanita yang mirip dengan ibunya muncul di bawah derasnya hujan, ekspresinya penuh ketakutan. Ailyn berusaha kabur dan tanpa sadar membuka pintu. Kakinya keram dan lemas sehingga ia harus merangkak menjauh dari wanita yang mulai mendekatinya.
Tangannya terus menyeret tubuhnya menjauh dari wanita itu. Ia berharap ayahnya segera datang menyelamatkannya.
"Ayah ...."
Tangan Ailyn berhenti menyeret tubuhnya ketika menyentuh cairan lengket di lantai. Ia sudah sampai di bawah tangga, dan dihadapkan oleh genangan cairan merah dan amis tepat di hadapannya.
Ia mendongak. Matanya terbelalak terkejut ketika melihat sosok wanita terbaring di bawah tangga dalam kondisi berlumuran darah. Matanya terbuka dan kosong, rambutnya terurai menyatu dengan darah.
Terlebih lagi, sosok itu sangat familiar.
"Ailyn!"
Ailyn menoleh ke belakang, melihat ayahnya telah tiba di depan pintu. Wanita yang mirip dengan ibunya juga hanya diam di samping pintu, menatapnya. Pria itu berlari ke arahnya, tapi Ailyn sama sekali tidak memiliki ekspresi senang di wajahnya.
Karena pria itu hanya pergi ke arah sosok yang tergenang darah di bawah tangga.
Apa yang dialaminya ... rupanya hanya apa yang terjadi pada rohnya.
Ailyn sudah mati sejak lampu padam.