Selesai pesta pernikahan kami, Randi membawaku ke kamar hotel tempat kami tadi melaksanakaan pesta pernikahan kami. Masih dengan busana pengantin lengkap, aku dan randi memasuki kamar dimana kami akan melaksanakan malam pertama kami.
Kamar yang begitu indah, megah, mewah, dan harum. Tapi semua itu sia-sia saja kalau malam ini Aku dan Randi hanya bisa menatapi keindahan kamar itu dengan perasaan hampa.
Entah apa sebabnya Randi membawaku ke kamar hotel ini. Sebelum masuk ke kamar, Ibu dan Ayahku, serta kedua orang tua Randi pun ikut mengantarkan kami sampai didepan pintu kamar.
Setelah merasa cukup, mereka pun pulang. Alhasil tinggal Aku dan Randi yang tinggal di dalam kamar, tak tahu apa yang harus kami berdua lakukan sekarang.
Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan pakaian sehari-hari yang biasa kukenakan, Aku tahu pasti Ibuku dan bibi yang menyiapkannya. Aku mandi, berganti pakaian, dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat untuk pengantin baru. Tentu saja aku mengajak Randi untuk shalat sunnah dua rakaat. Diapun menyetujuinya.
Setelah melaksanakan sholat sunnah, aku memintanya untuk membacakan do’a sebagaimana yang pernah Rasulullah ajarkan, kepada para sahabatnya yang baru saja membina rumah tangga, agar kedepannya hidup keduanya dalam lindunggan Allah sswt.
Dan diapun menyetujuinya. Perlahan dia mencium keningku dan membacakan do’a tersebut, di atas ubun-ubunku. Tanpa kusadari air mataku telah menetes membasahi pipi ini. Aku ucapkan terimakasih padanya, meski ia tak mencintaiku untuk saat ini.
Setelah itu dia meminta izin keluar dari kamar untuk mencari udara segar katanya. Setelah aku mengizinkannya ia bergegas melangkah keluar dan hilang dari pandanganku.
Cukup lama aku menunggu Randi kembali kekamar. Sekitar pukul delapan lewat lima menit Randi tiba kembali dikamar.
Aku yang selepas berbenah sedikit dikamar dan membalas ucapan selamat dari teman-teman sekolah dulu, serta teman-teman kantorku, segera bergegas untuk tidur. Tak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Randi.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas susu putih untuknya. Dia menerimanya dengan ekspresi biasa-biasa saja lalu mengucapkan terima kasih padaku.
Saat ini aku masih mengenakan jilbabku. Aku masih belum bisa tampil apa adanya di hadapannya.
Aku kembali lagi ke tempat tidur dan memiringkan tubuhku disana. Aku membelakangi Randi yang tengah menikmati susu putih buatanku tadi.
Kami masih terjaga oleh diam. Cukup lama kami melewati waktu dengan kondisi seperti itu.
Tiba-tiba Randi bersuara dan memulai pembicaraan.
”Maafkan aku ya, Rin?” Ucapnya pelan.
Aku masih terkejut mendengar dia bersuara. Aku tak menjawabnya dan hanya diam sambil mendengarkan dia kembali bersuara.
”Aku memang seorang lelaki pengecut yang tidak mempunyai nyali untuk menghadapi semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku harus membohongi kedua orang tuaku, membohongi kedua orang tuamu, dan terlebih lagi, menyakiti hatimu karena telah melakukan hal ini. Aku sungguh-sungguh lelaki yang tak berguna. Bahkan ketika aku sudah menjadi seorang suami pun, seorang imam bagi dirimu, aku tidak bisa sedikit pun membahagiakanmu. Aku memang pengecut.”
Aku dengar suara itu dengan perasaan gamang. Aku tak bisa berucap apa-apa. Perlahan aku rasakan kedua mataku basah. Segera aku menghapus air mataku.
”Maaf, jika karena diriku, kamu harus merelakan kebahagiaanmu tergadaikan oleh sikapku ini. Mungkin kamu tidak akan menemukan kebahagiaan itu bersamaku. Tapi aku selalu berharap, kelak kaupun bisa menemukan kebahagiaanmu itu.” Katanya lagi pelan.
”Bagaimana mungkin aku bisa bahagia, bila orang yang aku cintai tidak bahagia.” Ucapku menyahuti perkataan Randi. Aku tak mendengar dia berucap.
”Aku memang memiliki dirimu, tapi aku tidak memiliki cintamu. Aku memang bukan siapa-siapa dihatimu, tapi aku berharap ... kau tidak lagi memikirkan Santi.” Sambungku.
”Santi?!” Tanya Randi kaget.
”Dari mana kau tahu tentang Santi?”
Aku bangkit dari tidurku dan kuhadapkan wajahku padanya. Wajah yang penuh kecemburuan pada seorang wanita yang bernama Santi.
”Kau tidak perlu tahu darimana aku tahu tentang Santi, yang terpenting, aku hanya minta satu darimu, tolong lupakan Santi. Biar bagaimanapun, aku telah menjadi istrimu yang sah. Dan seperti seorang istri pada umumnya, aku tidak terima kalau suamiku masih saja terus memikirkan perempuan lain. Aku bukannya egois, tapi aku hanya ingin membantumu untuk tidak menyakiti lebih banyak orang lagi. Aku yakin kau pun mengerti akan hal ini.” Jelasku sambil menatap kedua matanya yang jeli.
Kembali aku rebahkan tubuhku di tempat tidur dengan membelakanginya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku dan kumatikan lampu yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidur.
Aku berusaha memejamkan mataku sebisanya. Dalam hati kecilku, aku masih berharap Randi mau menyentuhku dan menganggapku sebagai seorang istri. Biar bagaimanapun, akupun sama seperti seorang istri pada umumnya, menginginkan kebahagiaan atas dirinya di malam pertama pernikahannya.
Melakukan ibadah bersama sebagaimana sepasang suami istri pada umumnya. Memadu kasih dengan kerelaan hati dan jiwa, diiringi dengan munajat sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta dan berharap pahala yang banyak dari Allah swt.
Dapat melahirkan generasi untuk melajutkan garis keturunan kedua keluarga kami.
Tapi semua harapanku seolah sirna ketika Randi lebih memilih untuk tidur membelakangiku dan mematikan lampu yang ada disebelahnya.
Keadaan kamar saat itu gelap seketika. Aku tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang tiba-tiba saja menyusup dalam dada.
Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak, tapi aku kembali sadar, bahwa ini hanya sebuah ujian yang Allah berikan untukku.
Dan aku yakin, akan ada berlimpah-limpah hikmah yang akan aku dapat jika aku bersabar karenanya.
Ya Allah, kuatkanlah aku malam ini....
Yang ingin tahu kisah awal mereka hingga penasaran bagaimana akhir kisah cinta mereka.
Silahkan mampir di karya novel pertamaku, 'Cinta Datang Terlambat'.
Yuk, para Author pemula sepertiku kita saling dukung dan support!