Riuh lalang orang bertransaksi barang, untuk memenuhi kebutuhan sandang maupun pangan. Tak terpaut usia. Tua muda diperlakukan dengan cara yang sama. Pajak Melati namanya. Pajak adalah sebutan pasar di daerah kami. Memang agak sedikit berbeda dengan penyebutan pasar pada umumnya, tapi yang jelas inilah salah satu keunikan yang terselubung di daerah kami berasal. Pasar yang terletak tak jauh dari pusat kota ini merupakan salah satu pasar yang paling di minati karena harganya lebih murah dibanding dengan pasar-pasar di kawasan Medan dan sekitarnya. Mulai dari pakaian, sayur-mayur, buah-buahan, cemilan dan lain sebagainya. Semua ada tersedia di pasar ini. Tak heran jika pembeli yang datang bukan hanya dari daerah sekitar namun dari penjuru daerah yang tertarik untuk datang dan berbelanja di pasar tradisional tersebut.
Teriknya sinar mentari membuatku jenuh menunggu calon peminang barang daganganku. Sengaja aku menyandarkan tubuhku pada dinding berkarakter yang sudah penuh coretan-coretan tangan jail orang yang datang silih berganti di pasar ini. Kupandangi kata demi kata tapi ku tak paham untuk menyambungkan maknanya sebab kata itu mengandung makna asing yang hanya mampu di artikan anak-anak gaul zaman sekarang. Aku menggaruk kepalaku yang kurasa tak gatal. Kenapa anak-anak zaman sekarang tumbuh "dewasa sebelum waktunya"??? Bahkan mereka yang masih dibawah umur sudah mengenal arti cinta. Padahal waktu zaman dimana aku masih seumuran dengan mereka, aku bahkan mengenal hal semacam itu pada saat beranjak dewasa itupun masih dalam tahap pengenalan. Tidak langsung mengutarakan cinta. Bukan aku menyesal telah lahir mendahului mereka, aku malah sangat bersyukur karena Tuhan tidak melahirkanku di zaman aneh seperti sekarang ini. Aku menggelengkan kepala tak percaya. Kutepis semua lelucon bocah yang kukira tak masuk logika.
"Pak, buah apelnya berapa satu kilo??? " ucap seorang calon pembeli padaku
Seketika semua angan kutepis dulu, merajut pada kenyataan bahwa aku harus mengais rezeki walau hanya mencukupi kebutuhan sendiri.
"cuman Rp30.000/ kilo gram bu, mau ambil berapa kilo bu?? "jawabku tersenyum ramah
Seperti kebanyakan penjual di luar sana, di pasar melati juga sangat menjunjung keramah tamahan terhadap pembeli yang datang. Biar di kata kita orang medan yang di kenal kasar dengan tutur kata yang dilontarkan. Namun pahamilah sebenarnya hati kami sama lembutnya dengan masyarakat yang lain. Mungkin saja selama ini mereka salah menilai. Ibarat buku jangan melihat dari covernya.
"Mmmhhh, kalau saya ambil 2 kilo gram bisa tidak harganya menjadi Rp 50.000,-"
" Wah, jangan dong bu. Modalnya gak dapat. Kalau ibu bersedia tambahkan Rp 5.000 saja. Jadi Ibu membayar dengan harga Rp. 55.000 untuk 2 kilo gram apel. Bagaimana bu?? "
"Ntar deh pak, saya balik lagi!!!! " ucapnya sambil melangkah pergi dari gerai daganganku
Tawar-menawar di dalam proses jual beli itu boleh, tapi jangan sampek kita merugi hanya karena ingin menarik sang calon pembeli. Kita juga harus berpikir kritis jika selama berhari-hari barang yang di perdagangkan tidak laku terjual. Maka kerugian yang di dapat harus bisa tertutup dengan untung yang telah kita terima selama proses transaksi jual beli yang kita lakukan.
Aku menghela nafas panjang, kiranya sang Maha pencipta memberikan setumpuk amalan agar selalu memberikanku kesabaran dalam menjalani roda kehidupan yang berputar bahkan kian terus berlaju sampai titik tempu penghabisan (ajal).
"Pak Mad, uda buka dasar belum?? " tanya seorang pedagang yang berlapak di sebelah gerai buahku
Aku mengulai senyum "Belum pak, mungkin saja sebentar lagi mereka akan datang. Kata anak zaman sekarang dikenal " Oo Tewwe" ucapku mencoba menghibur dengan candaan khas ku
"Hhahaha, pak Mad bisa aja kalau lagi bercanda. Saya sudah Pak, Lumayanlah!! Walaupun pembeli tadi hanya membeli cabai 1/4 kilo saja. Kenapa dengan ibu yang tadi Pak, apa ia tak jadi membeli buah Bapak??"
"Biasa lah Pak, baru masih proses menawar sudah berpindah ke lain hati. Tapi tenang Pak Togu saya masih banyak stock hati, kemungkinan jika satu hati saya jatuh sakit maka akan saya tukar posisi dengan hati cadangan yang sengaja saya simpan untuk di ganti apabila sudah sangat darurat dan juga mendesak"
"Wah, ternyata itu rahasia Pak Mad selama ini. Kenapa baru memberitahu samaku sekarang!! Dimana lah bisa ku tempa hati cadangan itu sekarang. Kalau apa ajak aku ke sana juga, mana tau kan ada serepan yang menganggur. Aku ingin mencobanya satu".
"Oh,Tidak bisa Pak. Untuk persoalan besar seperti itu saya tidak ingin bapak mengambil resiko. Biar saya saja, nanti Bapak tak akan kuat. Percaya deh!!"
Mereka berdua terkekeh bersama karena candaan garing di lantunkan sejak tadi yang masih saja terus berlanjut. Hingga datang seorang wanita paruh baya mendatangi gerai Pak Togu yang menjual bahan bumbu pelengkap dapur. Seketika menghentikan pergerakan bibir kami yang sedang asyik bergurau. Pak Togu tampak serius melayani pembeli, dan aku juga sibuk melakukan aktivitas memilah-milah buah yang mungkin sudah agak sedikit lecet untuk dijual kembali dengan harga yang lebih relatif murah. Itung-itung untuk sekedar mengisi ke kosongan waktu ketika tidak ada pembeli yang datang ke geraiku pada saat ini.
Sekilas aku melirik beberapa ibu-ibu yang datang bergerumun menujuk gerai lapak buahku. Ntah hal itu sebuah kebetulan saja atau apalah namanya. Semoga merekalah orang terpilih itu. "Ya Allah, semoga saja mereka itu perantara rezeki yang kau kirim khusus untukku. Jika iya dekatkan mereka tanpa kendala apapun dan apabila sebaliknya tabahkan hatiku kembali jika mereka bukan orang perantara rezeki tersebut. "batinnya berdoa
"Pak saya mau ambil jeruk 1kg" katanya dengan pergerakan tangan sedang memilah-milah buah jeruk yang telah kususun rapi
"Rp. 20.000 bu" jawabku
"Saya mau apelnya 2 1/2 kg ya pak, tolong buatkan segera ya pak!!!"
"Iya, sabar ya bu. Semuanya akan kebagian. Satu per satu yah bu"
Aku sedikit bingung serta kikuk menghadapi pembeli ramai saat-saat seperti ini, bukan kali ini saja Bahkan hampir terlalu sering kejadian ini terjadi saat gerai buahku diserbu para pembeli yang berbondong-bondong bergerombol. Mungkin karena usiaku yang tak lagi terbilang muda, makanya aku mengalami hal semacam itu.
"Copet... Copett..tolong copettt...tolooonggg " teriak seorang wanita dari sebrang geraiku tepatnya lima langkah letaknya dari lapak jualan milikki
Wanita itu sekarang menjadi pusat perhatian karena teriakan yang sudah menggemparkan orang yang ada di sekitaran pasar ini. "Mana copet nya bu??? " tanya seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya
"Aku tidak tau siapa copetnya!!! Tapi pada saat aku ingin membayar belanjaan ke abang ini, ku lihat dompetku sudah tidak ada di dalam tas. Tasnya sudah terbuka lebar" jelasnya
"Kok bisa, aduhh.. Harusnya ibu lebih berhati-hati menjaga barang Ibu. Disini memang sering terjadi ujar salah satu pedagang sepertiku di tengah kerumunan yang masih dapat ku dengar samar-samar.
"Pak punya saya jadinya berapa Pak???" katanya menyadarkanku akan pergerakan yang tadi sempat tertunda
"Punya Ibu semuanya Rp. 60.000" ujarku sambil menimbang buah jeruk pesanan pembeli yang lain
"Nih Pak uangnya" sambil menyerahkan satu lembar uang lima puluh dan sepuluh ribuan
Aku menerimanya dan langsung saja kuberikan buah yang sudah ku timbang tadi padanya. "terima kasih,bu.." kataku ramah
Hal ini kulakukan agar menarik dia kembali datang ke geraiku jika ia berbelanja ke pasar ini. Sisa tiga orang lagi pembeli yang harus kulayani.
Disela-sela keramaian pembeli, tanpa kusadari ada seorang anak kecil yang sedang mengumpat di bawah lapak geraiku, dengan posisi jongkok. Tak hanya itu ia juga sudah mencuri beberapa buah apelku yang di bopong pada lempitan baju depan miliknya. Satu tangan digunakan untuk menopang buah agar tak jatuh merosot dan tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang erat buah untuk dinikmatinya.
"Pak, punya saya uda di bungkus?? "
"I-iya bu sudah, Nih dia!! semuanya menjadi Rp 30.000 " sambil menyerahkan barang yang sudah di bungkusnya dan juga menerima uang dari si Ibu pembeli secara bebarengan. Pembeli terakhir itu kemudian pergi kelapak cabai sebelah
"Alhamduillah yaa rabb, terima kasih atas rezeki mu. Akhirnya dari sekian purnama buka dasar melimpah. Hemmm, laris... Laris... Laris" kataku sambil mengibas beberapa uang lembaran rupiah yang baru saja ku dapat.
Dugh.... Meja tatakan buah tiba-tiba bergetar Perasaan tidak terjadi guncangan gempa di sekitar, Mengapa bergetar?? Pikirku dalam hati bertanya. Penasaran akan hal itu aku pun mencoba membungkuk sejajar meja untuk mengintip apa yang terjadi di balik guncangan dadakan tersebut.
"Heyy.. " teriakku
Dalam penangkapan indra penglihatanku, ada seorang anak kecil yang berdiri agak sedikit membungkuk di bawah meja sedang memakan buah daganganku. Sontak aku berteriak mengejutkan dia yang tengah asyik dengan dunianya saat itu. Ia kabur begitu aku berjalan memutar menghampirinya.
"Hey anak kecil jangan lari kamu... Dasar anak nakal!!!! " teriakku lagi
Bukan berhenti, malahan si anak tersebut semakin menaikkan volume kencang larinya
"Bapak mau kemana?? Saya mau membeli buah Apel 1 kg."
Suara wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari gerai daganganku seketika menghentikan niat untuk mengejar anak nakal tadi. "Ibu pilih-pilih dulu saja dulu, saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan" pintahnya pada wanita itu
"Kalau Bapak pergi, saya gak usah jadi beli deh!!! "
"Eh, tunggu-tunggu bu. Saya gak jadi pergi kalau begitu. Mau berapa kg tadi bu apelnya biar saya bungkuskan untuk Ibu."kataku sambil kembali memilah buah apel di gerai dagangan
****
"Stooooppp...." Dengan membentangkan kedua tangan guna menghentikan seorang anak yang sedang berlari kencang ke arahnya saat ini. Nafas masih memburu, belum beraturan dirinya pun berhenti karna ada dua orang datang manghadang secara tiba-tiba.
"Eh, anak kecil?!! Mana setoranmu hari ini. Berikan semuanya padaku" ujarnya sambil menadahkan tangannya
"Iya... Biasanya setoranmu lebih banyak dari anak-anak yang lain. Ayoo berikan pada kami berdua" timpal teman yang bersamanya
"Bang, Bukannya setoran diberikan sebelum menjelang petang yah. Kenapa abang mintanya sekarang??? "
"Elleh, banyak omong lu!!! siniin duitnya. Lama amat!!!" katanya dengan pergerakan tangan yang menggeleda di semua sisi Dan tappp..ketemu!!!
"Baru 1 dompet?? Uda jam segini baru satu dompet!!! Huuuh, Cemana pulak ini?!?! Kalau begini caranya bisa-bisa gak ngisap kita, brayy"
#arti kata bercetak miring "merokok"
"Lah, itu apa??" tanya pemuda yang satu lagi
Melihat kantung celana yang menggembul satu orang pemuda tersebut seakan penasaran dengan apa yang di sembunyikan
"Gak ada bang, bukan apa-apa!!! " anak itu menjauhkan sedikit tubuhnya dari pemuda yang mulai mendekati dirinua
"Nih, ada!! Kecil-kecil uda berani ngibulin kita yah. Wah, Lumayan nih ada apel buat ngeganjel perut gue"
"Eh, bagi ngapa?? "
"Apel satu mau dibagi, sinting kurasa kau.. "
"Jangan bang, itu punya Roni. Jangan di ambil!! " ujarnya mencegah
"Punya kamu?? Bukannya ini punya orang lain?? Ngaku-ngaku saja kerjaan kau. Emang tadi waktu apel ini sampek di tanganmu kau membayarnya??"
Roni menggeleng
"Nah, kan Itu Sama aja kau itu mencuri. Sama dengan dompet ini. Paham tidak??? Uda sana husss.. Husss pergi jangan menghalangi jalan kami" ucapnya mendorong tubuh mungil anak itu, sontak membuatnya terjatuh ke kubangan yang ada sedikit genangan airnya.
"Ehmm, tapi bang!! Saya juga masih lapar. Setidaknya berikan apel itu padaku. "
Perkataan itu seolah menghentikan pergerakan kaki dua pemuda yang hendak pergi meninggalkannya. Dengan sorot mata tajam pemuda itu membungkuk mendekat kearah anak tersebut yang belum bangkit.
"Oh, kamu mulai berani sama abang. Iyahh!!! "
"Ampuun bang.. Ampunnn sakit... " rintihnya
Pemuda itu menjewer telinga Roni hingga dirinya sedikit terangkat dari tempat duduknya.
"Nah, itu tuh akibat suka membantah sama seniornya, makanya kalau punya mulut itu dijaga. Jangan wer-wer-an"
"Ayok lah cabut, ntar kalau ada yang lihat kita nganiaya anak kecil bisa-bisa di masa masyarakat kita berdua"
Pemuda itu melepaskan telinga Roni yang di tariknya, dan kemudian mengikuti langkah temannya yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya. Tinggallah Roni seorang diri dengan kondisi badan penuh lumpur dengan telinga memerah yang sejak tadi di pegangnya karena sakit.
"Huhuhuuuu.... Dia menangis sesenggukkan"
******
"Alhamduliillah, terima kasih ya Allah hari ini daganganku laris manis tanjung kimpol. Ini berkat nikmat rezeki mu yang melimpah Ya Allah..."
Pak Togu tersenyum saat melihat temannya bersembah sujud di hadapannya.
"Wah, wah.. Kayaknya ada yang gembira sekali... Bagi-bagilah kebahagiaannya aku pun mau kecipratan sikit. Minimal makan pentol bakso"
Aku yang masih dengan aktivitasku kemudian bangkit segera ingin rasanya ku beradu mulut dengannya saat ini juga.
"Pentol bakso gak kenyang, Gu. Lebih baik makan nasi di rumah uda sehat bergizi lagi"
"Elleh, pelit amat kau ini. Mau kau apakanlah uang itu kalau tidak di hamburkan"
Aku mengulun senyum, hal yang aku suka dari si Togu ya seperti ini!! Ia tak pandai berlagu debat. Selalu saja bercanda dengan perkataan yang serius.
"Sudahlah Togu, kita hentikan ini sekarang. aku akan berkemas cepat!! Ingin cepat pulang... "ucapku sembari mengedipkan mata sebelah
"Mad.. Mad.. Siapalah yang akan menunggumu dirumah. Sudah seperti orang penting saja!!! Aku pun taunya kau masih juga sendiri"
Jlebbb... Kata-kata Togu seperti sebuah pedang yang menghunus berkali menghujami jantungku. Bagaimana tidak??? Kenyataan pahit yang harus ku terima. Tak terelakkan hingga saat ini aku juga masih belum memiliki kekasih. Ntah sampai kapan aku harus hidup mandiri, sudah kucoba menjalin asmara berkali-kali, namun tak kunjung jua kutemukan si pelabuhan hati. Malang sekali nasib yang kuratapi. Bukan satu hari tapi berjuta hari.
"Togu.. Togu perkataanmu itu selalu saja tidak pernah salah. Seperti cenayang saja. Sudah bisa berganti haluan dari pedagang menjadi peramal... Hahahaha"
"Akh,, kau ini bisa saja. Ya sudah sana!! katanya mau pulang cepat?!? "
"I-iya ini juga sudah selesai berkemas. Aku balik duluan yah!!! "pamitku padanya
Perlahan aku melangkahkan kaki ku semakin jauh meninggalkan pasar tempat dimana aku berlapak dari pemuda hingga sampai nanti tutup usia. Dimana suka duka berniaga kujalani bersama orang seprofesi dengan diriku.
Dengan mengendari kereta vespa P150X milikku yang saat ini kuambil dari parkiran pasar aku siap berjarak tempu. Kereta adalah sebutan dari sepeda motor, seputaran masyarakat Medan memang tidak asing dengan penyebutan hal tersebut. Mungkin dari kalian juga bingung, mengapa disebut sedemikian. Namun yang jelas itu sudah menjadi kebiasaan daerah kami di sini. Aku siap menjejaki tapak kereta melintas membelah jalan raya menuju persinggahan teduh, Rumah. Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, karena kendaraan yang melintasi jalan raya tidak begitu macet dari sore sebelumnya. Jadi tidak ada drama kata menunggu lama melajukan kereta yang ku kendarai saat ini.
Dari kejauhan, tepatnya di sisi trotoar jalan raya sebelah kanan dekat jembatan sungai. Samar-samar Aku melihat sekerumunan beberapa anak pemuda sedang mengepung seseorang, aku tidak mampu melihat dengan jelas karena ukuran tubuh mereka yang tinggi hingga menutupi orang yang berada di tengahnya. Penasaran kucoba menyorot mereka dengan lampu sein kereta vespa yang kunaiki saat sampai di sebrang tempat itu. Seketika gerombolan orang itu pun pergi begitu saja, lari ketakutan. Menyisahkan seorang anak kecil yang kutaksir usianya sekitar 5 tahunan.
Aku menepikan kereta sejenak, agar bisa ku lihat dengan jelas anak mana sebenarnya yang mereka ganggu saat ini, mungkin saja aku mengenalnya. Baru saja aku hendak membuka helm yang kukenakan dan belum melangkah menghampiri anak itu, tapi ia sudah lari begitu saja seperti anak-anak yang mendahuluinya pergi. Padahal niatku baik, Kalau memang ia terpisah dari orangtuanya aku akan membantunya dengan melaporkannya pada pihak berwajib atau jika ia ingin pulang dan ditengah perjalanan tadi ia di hadang segerombolan anak nakal tadi aku akan siap mengantarkan sampai depan pintu rumahnya.
Aku menghela nafas panjang. Anak sekarang memang ada-ada saja, batinku. Langsung saja aku melanjutkan perjalananku yang tertunda karena insiden kecil itu. Tanpa tersadar sepasang mata kecil sedang ngawasiku dari balik semak taman kota.
Akhirnya setelah menempuh jarak yang lumayan melelahkan sampailah aku di depan gubuk tua peninggalan kedua orang tuaku. Harta satu-satunya yang ku punya setelah mereka meninggalkan diriku untuk selama-lamanya. Bukan hanya itu mereka juga mewasiatkanku beberapa meter petak persegi sawah yang di kelola adik iparku yang sampai saat ini belum bekerja. Dengan inilah aku dapat membantu meringankan beban biaya sekolah keponakanku karrna aku tidak sekaya pengusaha lain yang memiliki usaha yang cukup ruah. Aku sadar hanya pengusaha buah.
Setelah usai shalat magrib berjamaah di mesjid aku kembali menjajahkan kaki ke gubuk tua yang ku huni hingga sampai saat ini. Biasanya sehabis itu, aku langsung menyantap makan malamku yang sudah disiapkan Marni adikku sebelum aku berangkat berjamaah, namun tidak untuk kali ini. Seakan penat seakan menyambangi, ku tumpuhkan badan pada kursi rotan yang berdebu di teras rumahku. Kerap kali jika aku merasa jenuh tempat itu lah yang kutuju.
Memandang hamparan langit yang mulai menggelap, masih sepi belum ada bulan. Juga bintang. Seperti hal nya aku saat ini!! Sendiri tidak ada yang menemani. Pikiranku melayang jauh mengenang hari yang sudah lalu. Dimana dulu, saat aku masih bersama dengan istriku. Wanita yang amat sangat aku cintai hingga kini, sosoknya bahkan tak bisa terganti walau bidadari lain datang menepi, aku tak mampu berpaling ke lain hati. Cukuplah dia seorang yang dahulu mengisi hati, biarlah sekarang aku sendiri.
Dari pernikahanku yang berlangsung selama 2 tahun lamanya, aku tidak memiliki seorang anak. Dikarenakan kondisi wanita yang kucinta selama hidupnya menderita leukimia. Yah, aku sudah mengenalnya sejak lama bahkan dari mulai duduk di bangku SMA, mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat teramat sulit, dikarrnakan ia sudah mengidam penyakit yang sudah bersarang lama di tubuhnya ia tidak mau di persunting seorang pria karena iba terhadapnya. Padahal anggapannya itu salah aku mencintainya dengan tulus bukan karena belas kasihan. Benar-benar Cinta. Ia baru menyadarinya setelah penyakit itu mulai menggerogoti tubuhnya di sisa umurnya, akhirnya kami benar-benar menikah. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebab ia selalu mengeluh tentang penyakitnya yang tak kunjung menemukan obatnya. Tepat di usia pernikahan yang menginjak ke dua tahun di penghujung tahun 2021, ia meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Berbulan-bulan aku berkabung, belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian dirinya yang amat sangat ku cinta. Tak terasa cairan bening lolos begitu saja membasahi kedua pipiku tanpa bisa ku cegah. Kubiarkan kenangan itu melintas kembali di pikiranku saat ini, walau kenangan pahit namun itu semua sudah garisan takdir dari sang pencipta. Aku harus rela melepaskannya. Hari mulai larut, aku menjadi sangat kantuk. Aku memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam kamar untuk berbaring tidur. Biarlah hari kemarin sebagai penyintas kenangan penyimpan memori dan hari esok masih sebuah teka-teki misteri.
***
Keesokan harinya seperti biasa, aku sudah sampai di lapak gerai daganganku. Masih dengan aktivitas menyusun dan memilah buah karena pembeli yang datang pun belum terlalu ramai, ada hanya satu.. Satuu yang datang dari pintu gerbang pajak.
"Pak, saya mau beli buah jeruknya 1 kg tapi saya mau milih sendiri"
"Oh,iya... bu boleh. Silahkan!!! Silahkan!!" ucapnya mempersilahkan
Sampai kedua pandangannya beradu pada kegiatan seorang anak yang diam-diam mendatangi seorang ibu yang hendak membeli sayur. Ia merasa sangat tak asing dengan sosok anak itu. Mungkin pedagang yang lain melihatnya anak itu seperti bawaan dari si Ibu (anaknya).
"Sebentar ya bu saya kesana dulu, ingin menukar uang pecah ke pedagang sebelah. Ibu silahkan pilih-pilih dulu"kataku dusta
"Iya pak, gak apa!! Saya tunggu"ujarnya mengizinkan
Aku segera melangkahkan kaki, mendekat ke arah anak itu berada. Masih dengan aktivitas sibuknya, ia sekarang gencar menggerayai tas Ibu yang masih memilah sayur yang akan di beli. Hal pertama yang kulakukan adalah dengan menarik telinga hingga membuat tangannya terlepas dari tas Ibu itu. Aku tidak akan membiarkan anak nakal ini lolos untuk yang kedua kali. Yah!! Aku sudah ingat, anak inilah yang mengambil buah daganganku dan saat kepergok dia sudah melarikan diri, aku tak sempat mengejarnya.
Aku mengganti posisi yang semula menjewer kini menarik lengan miliknya. Membawa ke gerai dagang buahku untuk di introgasi seperti layaknya petugas.
"Untunglah Bapak sudah balik. Nih buahnya sudah saya pilih. Tinggal bapak timbang saja"
"Oh, iya bu sebentar yah." ucapku sambil melangkah masuk ke dalam gerai diikuti anak yang ku bawa tadi
"Kamu tunggu di sini!! Dan jangan coba-coba kabur dari tempat ini." bisikku mengancamnya
Ia langsung tertunduk lesu dan terlihat takut saat aku mengancamnya dengan perkataanku. Sebenarnya aku tak sampai hati jika harus memarahi anak yang bukan darah dagingku, tapi hanya menakut-nakutinya saja. Untuk menimbulkan efek jerah agar dia tidak mengulangi perbuatan tercela yang dilakukannya itu.
"kurang satu biji lagi bu, biar pas sekilo jeruknya"
"Oh, iya pak!! Nih" katanya sambil menyodorkan buah jeruk kepadaku
Setelah itu seperti bisa, pembeli itu memberikan beberapa lembar uang rupiah untuk di tukar dengan barang yang dibelinya kepadaku.
"alhamdulillah, baru buka gerai sudah dapat rezeki...Indahnya nikmat ini ya Allah" kataku mengucap syukur
Aku mengalihkan pandanganku kepada anak kecil yang ku tarik paksa ke geraiku beberapa menit yang lalu. Saat aku kembali memandangnya ia kembali menunduk takut sepertinya ia enggan menatapku.
"Hey nak, siapa namamu?? "tanyaku
"S-saaya Roni, Pak. " jawabnya singkat
"Dimana rumahmu??apa orang tua kamu tau, jika kamu bertindak seperti tadi. Atau jangan-jangan mereka yang menyuruhmu untuk melakukan perbuatan merugi itu??"Tanyaku lagi
Agar menyeimbangkan tinggiku dengan Roni, aku berdiri agak sedikit membungkuk di hadapannya. Ia masih diam saja tidak menjawab pertanyaan yang ku lontarkan seperti sebelumnya. Aku menghela nafas panjang, mengalihkan pandanganku dari dirinya.
"Maafkan saya Pak" ucapnya dengan nada bergetar
Aku mengerutkan kening, Mengapa anak ini minta maaf padaku??
"Kenapa kamu minta maaf?? "
"K-kareena Roni aambil buah Bapak tanpa izin. Maafkan Roni.. "
"Siapa yang mengajari kamu mencuri!! Orangtua kamu?? "
"Orangtua itu apa, Pak??" tanyanya kembali kepadaku
"Orangtua itu adalah Ayah dan Ibu kamu. "
"Oh.. Itu.!! Sudah tidak ada Ayah, Ibu,Roni!!"
"apa maksudnya sudah meninggal?? "
"Ya.. "ucapnya singkat
Deg.. Darahku berdesir hebat, bagaimana cara dia bertahan hidup jika orangtuanya saja tidak ada. Siapa yang merawatnya selama ini kalau bukan kedha orangtuanya. Semua pertanyaan berkecambuk dalam benakku.
"Roni, kalau di rumah sama siapa??"
"Rumah?? Roni gak punya rumah. "
"kalau. Roni gak punya rumah, Roni tidur dimana. dong??
"Roni tidur pake kardus di depan toko sana-sana"
Malangnya nasib anak ini, usianya yang masih kecil harus memikul beban seberat itu. Sudah ditinggal kedua orangtuanya, dan harus bertahan hidup sendiri untuk menghidupi kebutuhan dirinya sendiri.
"Roni uda makan?? "
Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Roni tunggu sebentar yah!! Jangan kemana -mana. Bapak akan segera kembali. "
Aku berlari kecil ke arah parkiran untuk mengambil bekal yang tertinggal di jok kereta buat makan siangku. Setelah berhasil menemukan yang aku cari di sana, segera aku kembali menghampiri anak itu di gerai daganganku.
"Pak.. Ada yag beli" teriaknya saat aku mulai tampak di hadapannya
"Iya... Nak!!! Ayo bantu Bapak melayani pembeli"
Roni mengangguk paham. Kami berdua langsung melayani 2 orang pembeli sekaligus. Dengan pembagian tugas, dimana Roni yang menaruh buah ke kantungan plastik sedangkan aku mengkilo buah yang sudah di kemasnya. Tidak sampai beberapa menit, pembeli sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa harus menunggu lama. Ini semua berkat bantuan Roni, perkerjaanku menjadi lebih mudah.
"Kamu capek nak?? Ini sarapan buat kamu!!! " ucapku sambil menyodorkan kotak bekal persegi berwarna merah di depannya.
Ia hanya terpaku menatapku, sepertinya ia sedikit ragu untuk mengambil bekal itu dari tanganku. Langsung saja aku menaruh bekal itu ke pangkuannya karena posisi dia sekarang sedang duduk di bangku kecil yang sejak tadi ku sediakan untuknya. Tanpa aba-aba Roni membukanya dan langsung melahap makanan yang ada di dalamnya. Tak berlangsung lama makanan pun sudah dihabiskan tidak satu pun tersisa. Bahkan di sekitar mulutnya sebutir nasi terlihat menempel. Aku tersenyum dengan tingkah laku Roni yang menurutku sangat menggemaskan itu.
"Lap dulu mulutnya, biar bersih"ujarku dengan menyodorkan selembar tisu kepadanya
"Habis ini Roni mau kemana?? "
Roni kembali terdiam sembari meremas bekas tisu yang sudah dipakainya tadi untuk mengelap mulutnya.
"Aku mau kesana!!! "ujarnya berlari begitu saja tanpa pamit padaku
"Hey nak.. Tunggu... "
Ia tak menjawab panggilanku, malahan ia berlari dengan sangat kencang terlihat dari jauh. "Anak sekarang memang.. Huuuhh.. "
"Anak siapa pula kau bawa Mad,??"
"Aku juga tidak tau, Togu!!! Aku dapat di bak sampah... "ucapku bergurau
"hhahahaha, bisa aja kau becandanya"ucapnya membuatku ikut tertawa
*****
"Hey kamu.... Mau lari kemana sekarang???
"Ampun bang, jangan tarik tanganku. Sakit..!! "
"Biarkan saja, biar kamu tau rasa!! Mana setoranmu yang semalam dan hari ini!!? Mana??? "
" Tidak ada bang... "
"Ala, palingan juga disembunyikan seperti biasa. Uda geledahin saja!! "ucap pemuda yang satu
Rasa tak sabar dari nafsu keduaya membuat Roni jatuh terpental hingga tidak mampu berdiri. Dengan kasarnya mereka menggeledah seluruh saku celana miliknya hingga semua pakaian yang ia kenakan terlihat berantakan , terlihat memprihatinkan. Bahkan tubuh kecil Roni tidak mampu memberontak akan perlakuan kasar yang meraka lakukan padanya. Alih-alih berujung kecewa mereka tak menemukan apapun di dalam kantung Roni.
"Cetzz... Ada baray"
"Gak ada bro, sepertinya memang dia tidak berbohong"
"Eh, anak kecil... Kenapa sekarang kau menjadi pembangkang?? Dimana sebenarnya kau simpan semua dompet itu?? Kau pasti menyembunyikannya kan di tempat aman!!! Ngaku gak lo!! "
Tampak terlihat dari kejauhan tangan anak pemuda itu sudah akan dilayangkan ke pipi kecil Roni, namun dengan sigap ku tepis segera.
"Siapa sih!!! Berani-beraninya. menghalangi... "
"Apa?? Mau nantangin saya. Maju satu-satu!! Jangan beraninya sama anak kecil. Ternyata selama ini kalianlah pegacau di pasar ini, Saya bisa saja laporkan kejahatan kalian kepada pihak yang berwajib, kalian mau??? "
Dua anak pemuda itu hanya diam saja mendengar celotehku, saat aku mulai lengah mengalihkan pandanganku pada Roni. Mereka melarikan diri bergitu saja, Betapa bodohnya aku kenapa bosa selengah itu. Tidak bisa menahan mereka.
"Roni, lain kali jangan main kabur-kaburan lagi yah. Bapak khawatir sama kamu, kalau saja Bapak tidak datang tepat waktu pasti kamu sudah. Akhh.. Sudahlah.. Yang penting kamu sekarang tidak kenapa-napa!!!" ucapku sambil mengelus anak rambut miliknya
"Maaf pak.. .."
"Iyya nak.. Mulai sekarang Roni ikut sama Bapak, jadi anak Bapak . Roni mau tidak?? "
Dia hanya mengangguk patuh. Senyum merekah terlukis di wajahnya, Hatiku menjadi teduh. Untung saja hatiku terdetak untuk mencarinya lagi, aku yakin ia tidak memiliki tujuan yang jelas setelah pergi meninggalkan geraiku. Dan ternyata saat kepergok dia sudah dihadang kedua orang yang kemarin sore ku jumpai. Ntah sebuah kebetulan si anak yang dihadangnya kemarin juga ternyata Roni lah,orangnya.
"Ayo, kita ke gerai dagangan Bapak!!! Takut ada pembeli yang kecewa karena Bapak tidak di sana. Nanti Roni bantuin Bapak lagi yah, kayak tadi pagi... "
Kami berdua melangkah ke gerai dengan perbincangan yang tak ada habisnya. Walau perihal obrolan sederhana, tapi dapat membuat hatiku terhibur bahagia. Mulai sekarang aku tak lagi sedih menyendiri. Sudah waktunya aku menata masa depan, bersama dengan buah hati tersayang