Aku disini masih sendiri. Meringkuk diantara rembulan berselimut kabut malam. Pikiranku melayang terbang seakan ingin menerobos takdir kehidupan. Takdir yang tak pernah terbayangkan. Sampai detik ini masih tak ada jawaban. Dari doa-doa yang kupanjatkan. "Ya gusti agung, mengapa engkau memberi cobaan sebesar ini padaku. Tidakkah kau pahami dialah permata diantara keluarga kami. Yang mungkin sudah kau percayakan untuk di titipkan padaku sewaktu itu?? Mengapa engkau begitu mudah tega merampasnya dengan cara keji seperti ini. " "Bu, sudahlah. Jangan menyiksa diri sepertii ini. Kejadian yang terjadi kemarin bukan sepenuhnya salah Ibu. Percayalah!! Semua ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa" ucap seorang pria paruh baya membuyarkan lamunan panjangku Pria itu berjalan melangkah dari balik pintu dapur mendekat ke arah kursi usang tempat di mana sang istri berdiam diri. Ia mengelus anak rambut yang berserakan oleh ulah angin malam. Sang isteri tak bergeming, ia bahkan tak peduli akan sikap lembut yang ditunjukan oleh sang suami. Bukan karena benci namun karena ia tak ingin. "Kenapa harus anak kita, pak?? Kenapa?? Kenapa bukan aku saja yang menjadi korbannya. Mengapa harus dia yang tak berdosa yang menanggung ini semua?? " "Sabar bu, SABAAAR... Istigfar!! Serahkan semua pada Allah. Kita hanya insan biasa, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kita serahkan semua kepadanya, bisa jadi dengan kekuatan doa-doa yang kita panjatkan, ada secercah harapan untuk menemukannya" ucap Karso menguatkan kekasihnya. Pandangannya tak bisa berpaling dari hadapanku. Tutur kata yang di ucapkan dengan gamblangnya mencoba mengiklaskan yang terjadi. Namun tak terelakkan sudut matanya sudah berkaca-kaca, ia tahan. Mungkin saja ia tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang dicintainya ini. Sesak seakan mengapit dadaku, rasa bersalah kembali menghantui perasaanku. Andai saja dapat ku putar waktu untuk memperbaiki semua yang terjadi. Akan kupastikan lebih berhati-hati dalam menjaga sang buah hati. Aku menumpahkan seluruh bebanku di pundaknya. Mendekap hangat dipelukan dirinya. Menumpahkan segala keluh tangis yang meringkik sampai tak dapat berkata. Pikiranku perlahan menjalar pada kenangan saat bersamanya. Kenangan dimana canda dan tawa menggelak di sisih rumah. " Fara, sayang.. Kita maem yuk!!! Ibu sudah masakin makanan enak kesukaan kamu" Fara Sabila namanya. Seorang bocah kecil dengan usia 2 tahun 3 bulan. Yang merupakan anak semata wayang dari sepasangan suami istri. Karso dan Hanum. Mereka berdua amat sangat menyayangi Fara. Untuk mendapat keturunan dari benih buah cinta mereka saja tidak semudah yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Segala usaha maupun upaya telah mereka lakukan bersama. Walaupun harus terbentur dengan keadaan ekonomi yang sulit mereka jalani, tapi tak pernah terucap untuk menyerah dengan keadaan tersebut. Baik konsultasi bidan, obat herbal maupun dari berobat kampung. Fara sedang asyik berkutat memainkan boneka kelinci kecil miliknya. Seakan tak peduli dengan perkataan ibunya untuk mengajaknya makan. Padahal tadi pagi saat sarapan ia hanya meminum ASI untuk mengganjal perutnya yang kosong. Aku melangkah lebih dekat untuk duduk di samping dirinya. Ku pandangi binar mata indah yang tak lepas dari mainan yang ku beli beberapa hari lalu di pasar loak dekat rumah. Mencoba kusingkap untuk mengedarkan pandangannya sedikit pada makanan yang kubawa. Dan ternyata usaha ku tak sia-sia, ia pun merangkak lebih dekat memberi isyarat untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mungkin saja ia sudah lapar, karena sekilas kuliririk jam dinding yang bertengger di ruangan itu sudah menunjukkan pukul 12.00. Itu pertanda sudah saatnya memasuki makan siang. Aku menyuapi Fara secara perlahan, agar ia mampu mencerna makanan dengan baik. Di beberapa suapan terakhir, Fara menyudahinya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan bahwa perutnya sudah memenuhi kapasitas untuk di isi. Aku terkesima dengan perkembangan tumbuh kembangnya yang semakin melejit pesat. Ia sudah mampu mengisyaratkan kehendaknya dengan menggerakan anggota tubuhnya. Saat dirasa keadaan tenang dan terkendali, ia tak mereog. Aku beranjak pergi ke dapur untuk melanjutkan tugas kesehariannku untuk sejenak mencuci piring di dapur. "assalamualaikum num, boleh aku masuk?? "ucap seseorang wanita di luar sana yang tak asing lagi terdengar suaranya. "Iya May, masuk. Aku di dapur mencuci piring" jawabku "Num, aku boleh tidak minta garam dapurmu sedikit saja untuk masakanku. Soalnya mau ke warung depan malas kali. Mataharinya lagi bar-bar sekali siang ini. Takut aku hitam" Dia adalah Maya tetangga samping rumahku. Ia memang sering main ke rumah jika ada maunya. Apalagi saat bumbu dapur dirumahnya dalam keadaan kosong, pasti tempat yang dituju adalah aku. Karena menurutnya cuman akulah tetangga yang bisa saling di ajak gantian untuk hal seperti itu. Begitu pula sebaliknya aku juga sering merepotkannya jika sewaktu-waktu aku sibuk mengerjakan tugas rumah dan harus menitipkan Fara ke padanya. "May, tadi kamu masuk, apakah kamu sudah menutup pintu kecil di depan pintu utama ,kan?? " "waduh May, aku gak tau. Sudah aku tutup belum ya?? Mungkin lebih jelasnya harus kulihat dulu ke depan"ucapnya melangkah pergi "i-iya cepetan check dulu. Takutnya Fara bisa keluar rumah dari pintu itu" perintahku "Num,,, Hanummmm... Fara gak ada di depan!!! " ucapnya kembali dengan ngos-ngosan "Apaaaa??? Kamu bercanda kan??? "sontak akupun lari dari dapur ke arah luar untuk memastikan Fara masih di sekitar pekarangan rumah. Semoga saja Fara tidak beranjak jauh dari sekitaran rumah. Maya pun mengikutiku dari belakang. "Fara... Fara... dimana kamu nak. Faraaaaa... " Aku berteriak sekuat tenaga memanggilnya sambil terus berjalan menyusuri pekarangan rumah bersama Maya. Namun tak kutemukan sosok yang kucari. Maya memintaku untuk berpencar meluas pencarian agar memudahkan untuk menemukan Fara. Aku langsung saja setuju dengan idenya itu. "May, aku minta tolong sama kamu untuk minta bantuan kepada tetangga yang lain. Mana tau ada yang melihat Fara keluar dari rumah tadi" ucapku dengan nada panik " Iya Num, kamu tidak usah khawatir. Aku akan berusah untuk mencari Fara sampai ia ditemukan. Aku janji"ucapnya sambil memelukku dan pergi Bulir-bulir air mataku tak dapat kubendung lagi, kemana lagi harus mencari anak semata wayangku saat ini. " Dimana kamu nak, Ibu mohon jangan jauh-jauh dari pandangan Ibu. Ibu tidak bisa hidup tanpa kamu, nak" batinnya gelisah Aku menyusuri hingga begitu jauh hingga lintas pasar. Dimana persimpangan itu yang menghubungkan jalur utama ke arah kota menuju jalan ke runahku. Aku semakin berkecambuk khawatir sebenarnya dimana anakku saat ini. Aku sudah berjalan begitu jauh tapi tak kutemukan titik terang atas pencarian yang sudah kutelusuri sejak tadi. "Bu, dimana Fara bu... Dimana Fara anak kita?? " ucap seorang Pria yang tiba-tiba menghampiriku dari belakang Aku pun berlari kepelukannya untuk menumpahkan seluruh tangisku yang tak bisa lagi ku bendung "Fara kita pak....Fara kita hilang belum di temukan. Ibu sudah berusaha mencarinya tapi Fara tak bisa di temukan juga. " "Ibu tenang saja, kami akan membantu mencari ananda Fara. Semoga ia dapat ditemukan sesegera mungkin" ucap Pak RT yang sudah membawa beberapa bapak-bapak yang kuduga untuk membantu pencarian Fara. "Terima kasih Pak RT dan bapak-bapak yang lain, semoga Allah membalas kemurahan hati dari Bapak-Bapak sekalian" ucap Karso Lantas sekumpulan Bapak-Bapak itu pergi meninggalkan sepasang suami istri itu, untuk mencari anak mereka yang tengah hilang. "Ayo pak, kita cari Fara lagi. Mana tau dengan bersama-sama kita dapat segera menemukannya" "Tidak bu, sebaiknya ibu istirahat saja. Bapak lihat ibu sudah terlihat letih mencari Fara sedari tadi. Biar Bapak dan bapak-bapak yang lainnya bergantian mencari Fara" " Ibu nggak mau nyerah, pak. Ibu tetap ingin membantu mencari anak kita" "Ya sudah kalau ibu memaksa, tapi ingat jika ibu merasa lelah ibu bisa beristirahat sejenak" pintahnya yang langsung saja ku iyakan Malam semakin larut, pencarian Fara pun tak berujung mendapat titik terang. Pak RT dan seluruh warganya berniat menyudahi pencariannya. Hal ini membuatku semakin resah gelisah, sebab orang tua mana yang tak risau jika anaknya tak berada di sisinya saat hari sudah semakin gelap. "Bu, kita pulang ya!! Besok kita cari Fara lagi. Hari juga sudah semakin larut, waktunya untuk istirahat" "Bagaimana ibu bisa istirahat pak, sekarang saja ibu tak tau keadaan Fara seperti apa di luar sana. Ia pasti sangat ketakutan, ibu yakin ia juga membutuhkan dekapan ibu sekarang" " I-iiyaa bu, Bapak juga ngerti. Bapak juga khawatir akan keadaan Fara sekarang. Gimana pun juga Fara masih sangat kecil ia juga pasti sangat menderita di luar sana" Dadaku sesak tak dapat berkata apa-apa. Aku sungguh -sungguh sangat menyesal atas tindakan ceroboh yang kulakukan. Andai saja saat itu aku tak meninggalkan Fara sendirian bermain, pasti Fara masih hadir di sini. Dipelukanku. "Fara dimana kamu nak, Ibu kangen sama kamu. Semoga saja ada orang baik diluar sana yang menemukanmu. Dan bersedia mengembalikan kepada Ibu segera mungkin. Supaya kita berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh. " lirihnya Karso yang melihat isterinya dalam keadaan kacau seperti itu kembali memeluknya erat. Mencoba memberikan kekuatan untuk sang isteri agar lebih sabar menghadapi ujian yang diberikan Maha kuasa kepada keluarganya. "Ya Allah, tolong jaga anakku diluar sana. Lindungi dia dari marabahaya yang tidak dapat kucegah dengan tanganku sendiri. Melainkan dengan campur tangan atas kehendakmu karena Engkau maha mengetahui dan maha segala-galanya. Amiiiin" batinnya berdoa " Assalamualaikum bu Hanum, pak Karso" "Waalaikumsalam pak RT, bapak kembali lagi?? Apa Bapak sudah mendapat kabar tentang anak saya??" "Mohon maaf sebelumnya pak, sebetulnya saya belum mendapat informasi tentang perkembangan pencarian anak Bapak. Tapi sekedar saran dari warga setempat bagaimana kalau kita mencarinya lewat via media sosial. Dengan ini jangkauan pencariannya bisa menyebar di seluruh kalangan masyarakat luas. Ini dapat kita jadikan wadah pencarian buat Fara" "Iya pak, saya setuju. Bapak bisa mempostingnya segera mungkin" "Baiklah jika Bapak setuju, saya akan menindak lanjutin pencarian via online ini. Untuk keperluan data pencarian saya perlu foto Fara dan ciri-ciri fisik maupun pakaian atau pun aksesoris yang dikenakan pada saat dalam keadaan hilang" Hanum dan Karso bergegas beranjak pergi kerumah diikuti dengan Pak RT yang menyusulnya. Dengan menyerahkan beberapa persyaratan yang di ajukan untuk postingan orang hilang via online. Akhirnya usul itu berhasil diterapkan, membuat sepasang suami istri itu bisa bernafas lega. Namun hari masih terus berganti, akan tetapi usaha mereka tak jua menemukan titik terang. Fara tak kunjung di temukan. Rasa khawatir kembali menyelimuti perasaanku. Aku semakin tak bisa berfikir dengan jernih. Dalam benakku selalu berfikiran negatif tentang Fara. Apakah ia masih bernyawa atau sudah..??? "Ibu dan Bapak sekalian ini sudah hari ke 3 sejak Fara dinyatakan hilang dari rumah. Pihak polisi juga sudah turun tangan membantu mencari keberadaan Fara hingga detik ini. Kami pihak keluarga sengaja mengundang Bapak dan Ibu ke rumah kami tercinta ini untuk mengadakan doa bersama agar ananda Fara segera secepatnya ditemukan." Malam ini keluarga Karso mengajak seluruh deretan tetangganya agar memanjatkan doa bersama. Dengan tujuan di mudahkan segala urusan keluarga Fara dalam pencarian keberadaan anaknya yang telah berhari-hari tak pulang ke rumah. Doa pun usai dipanjatkan, hal ini berlangsung khitmat tanpa ada kendala sedikit pun. "Selamat malam, apakah benar ini rumah Pak Karso dan Ibu Hanum?? " tanya pria itu penuh tanya "Benar pak, Karso adalah saya sendiri dan ini isteri saya Hanum" "Kami ingin menyampaikan anak Bapak sudah ditemukan.." "Alhamdulillah ya Allah, akhirnya doa-doaku terjawab hari ini. Putriku, putri kita pak ketemu" sorakku riang "Iya bu. Alhamdulillah... " "Tapi pak, saya juga ingin menyampaikan kalau anak bapak dan ibu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Untuk memastikan apakah benar jasad itu ananda Fara, kalian dapat melihat jasad korban sebelum diautopsi. Badanku luruh jatuh ke lantai, seakan lemas tak bertenaga mendengar kabar berita yang dibawa pria itu. Pandanganku mulai mengabur sebelum kesadaraan ku perlahan mulai menghilang. Aku mengerjapkan mataku, mengedarkan pandangan keseluruh ruangan dengan tingkat kesadaran belum sepenuhya terkumpul. "Dimana aku?? Mengapa disini ramai sekali?? Ada apa sebenarnya?? " ucapku lirih "Ibu... Akhirnya ibu sudah sadar" ucap Karso yang hendak menghampiri istrinya "Ada apa ini pak?? Kenapa dirumah kita ramai banyak orang. Apa yang sebenarnya terjadi??" tanyaku "Bapak akan katakan tapi Ibu harus ikhlas dan tabah menghadapi musibah ini" "Fara?? Fara mana pak?? Katanya dia sudah ditemukan!!! Fara dimana pak, ibu rindu ingin menggendongnya" "Fara.... Fara di sana.... " Aku pun segera berlari untuk menemui Fara anakku, sejak 3 hari belakangan ini. Aku merindukannya. Sangat-sangat merindukannya. Mataku menangkap sesosok yang amat sangat kurindukan, Fara. "Fara anakku??? Fara bangun nak. Ini Ibu, Ibu rindu sama Fara. Fara juga rindukan sama ibu. Fara bangun nak... Bangun... " "Bu, sabar. Ikhlas kan kepergian Fara mulai saat ini. Mungkin ia sudah tenang di alam sana." "Pak, Fara... Fara anak kita sudah meninggal"ucapku terbata-bata Dengan penuh kasih sayang pria itu mendekap Hanum dipelukannya, untuk memberikan kekuatan kepada sang istri agar dapat lebih ikhlas menerima takdir sekaligus melepas kepergian dari anaknya, Fara. Dengan langkah tertatih letih, aku dan sang suami mengantarkan jenazah Fara di tempat peristirahatan terakhirnya. Tempat yang menjadi bukti bahwa semua orang pernah menetap di bumi. Tempat yang selalu menjadi perbincangan kalangan insan yang takut jika tetiba diambil nyawanya tanpa ada perbekalan dunia. Hidup yang diberikan sang pencipta bukan untuk sekedar mengejar harta dunia. Namun juga mengejar ilmu agama, berbuat baik dan bersedekah.
#Takdir#kehilangan orang terkasih
#cintaorangtua
#