Sayup-sayup aku masih mendengar percapakan yang ada di drama. Pemeran wanita yang menangis karena harus berpisah dengan pujaan hati. Pasti ending episode kelima ini bakalan gantung. Sama halnya dengan episode kemarin.
Aku benar-benar kagum, setiap episode yang tayang membuatku benar-benar mati penasaran. Ada saja masalah yang diperkenalkan oleh sutradara. Seperti drama berjudul Happines, tapi jalan ceritanya tidak bahagia. Justru harus berperang melawan zombie yang tersebar di kawasan apartemen elite. Padahalkan (pemain utama Happiness) baru saja menikah, harusnya bahagia merajut kisah rumah tangga bukannya melawan zombie gila.
Kisah drakor lainnya yang membuatku bingung adalah The Penthouse, cerita yang isinya balas dendam dan saling bunuh. Eh pas katanya udah meninggal, di episode berikutnya justru hidup lagi. Benar-benar di luar ekspetasi netizen.
Aku masih sayup-sayup mendengar percakapan Park Hyung-Sik dengan lawan mainnya kali ini. Tapi mataku enggan berkompromi, rasanya sangat mengantuk.
“Mbak gak ngampus?” Tanyanya sambil menggoyangkan bahuku.
“Ha? Apa Rin?” aku kembali melemparkan pertanyaan apa Arin, adik sepupu yang tinggal denganku sekarang.
“Mbak ituloh, apa gak ke kampus. Ini udah jam 8 pagi, bukannya siap-siap malah drakoran terus”
Eh ini hari apa. Buru-buru aku mengecek kalender di handphone, berusaha tidak peduli pada Park Hyung-Sik Oppa yang sedang berlagak sok pahlawan di siang bolong.
"Hah !! Ini hari selasa?" Aku berteriak dramatis. "Aku ada janji sama pak Badru, mau bimbingan. Ah Rini kamu kok gak ngomong dari tadi sih."
"Mbak yang gak denger ya. Aku udah manggil dari tadi. Udahlah aku mau berangkat aja, jangan lupa kunci pintu."
Rini melenggang pergi. Menutup pintu dan meninggalkan suara bedebam yang membuatku tambah sadar.
Aku segera bergegas. Berlari sambil meraih handuk digantungan. Mandi asal basah, mencari pakaian yang siap sedia tanpa setrika dan pergi ke kampus. Catat tidak sarapan, padahal aku sudah sangat lapar.
Aku tidak bisa naik motor. Itu fakta yang paling gak enak banget buat diceritakan ke orang lain. Bagi mereka orang yang gak bisa bawa kendaraan sama halnya dengan beban. Karena gak bisa gantian nyetir.
Pernah dulu banget, kejadian ketika aku kelas 3 SMP. Saat itu aku harus les untuk mempersiapkan ujian nasional, les yang harus aku ikuti sampai sore hari. Dan kebetulan hari itu hujan, sedangkan aku tidak membawa payung. Nasib malangnya handphone ku lowbat. Tidak bisa menelpon siapapun. Beberapa teman yang dekat denganku juga sudah beranjak ke rumah masing-masing. Jadilah aku harus berjalan kaki ke depan, naik kendaraan umum.
Sedih banget, gak bisa bawa kendaraan ya harus menggunakan kendaraan umum. Jadi harus menunggu, merelakan waktu untuk rebahan di kasur empuk.
Saat itu sudah pukul lima sore. Langit tampak gelap karena tertutup mendung. Aku duduk di halte depab sekolah, menunggu angkot atau bus kota yang lewat. Sepuluh menit aku sendirian, menghitung mobil berwarna merah. Setelahnya ada seseorang yang datang. Terengah basah kuyup. Aku meliriknya karena napasnya bener-bener menganggu telinga. Ku lihat tangannya memegang payung lipat warna merah. Aneh, orang bawa payung kok gak dipake.
"Udah ada bus atau angkot yang lewat?"
Eh dia bertanya padaku?
"Belum kak, aku juga belum lama duduk di sini"
Dia duduk disebelahku, mengeluarkan hoodie cream dari tas dan memakainya. Gak lama kami menunggu dalam keheningan. Satu bus merapat ke halte, aku langsung berdiri, pun dengan dia juga. Kami bersama-sama naik ke bus, tapi dia berteriak pada sopir untuk menunggu sebentar. Lalu keluar dan masuk lagi membawa payung lipat berwarna merah.
"Kamu pakai ini aja" katanya menyodorkan payung padaku.
"Eh kakak nanti basah" aku menolak, kami baru bertemu pertama kali, lalu ia bersikap seperti pahwalan. Yang benar saja.
"Gak, udah pakai ini. Besok bisa kamu kembalikan, sekolah kita sebelahan. Aku tunggu di warung pojok sekolah, jam lima sore"
Oh. Aku hanya mengerjap saat payung itu ada digenggamanku. Lantas ia mendengarkan musik lewat headset.
Besoknya kami bertemu, sesuai dengan janjinya. Mulai hari itu kami jadi sering bertemu. Aku sengaja masuk ke SMA yang sama dengannya. Merelakan SMA impianku.
Setelahnya kami lebih sering bertemu, ada saja alasan yang aku berikan. Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang waktunya sudah berbeda. Kami sudah bukan anak SMA, dia kuliah di kota sebelah. Sedangkan aku masih terjebak di kota di sini. Mengurus skripsi. Sial.
"Pak Badru gak masuk. Katanya bu Vania, orang tua pak Badru masuk rumah sakit."
Aku melepas diri dari kenangan masa sekolah. Memusatkan atensi pada Pia, teman sejawat yang juga berjanji temu dengan pak Badru.
Tau gini aku gak perlu lari-larian dari kost ke kampus. Aku bisa nonton Park Hyung-Sik yanv beradu peran dengan Park Bo-Young. Melihat si lelaki yang sok pahlawan. Tapi sebenarnya ganteng.
"Jadi bimbingannya gimana?" Aku bertanya pada Pia dengan nada lesu.
"Kirim online ke e-mail pak Badru. Nanti aku kirim" Pia lantas berdiri, "aku duluan ya." Ia lantas berlalu tanpa memperdulikan aku. Sahabat laknat, awas aja kalau nanti minta bantuan.
Aku segera memasukkan draft skripsi ke totebag. Membersihkan beberapa bungkus jajan yang berserakan di meja lalu pergi ke arah tangga. Hmm padahal ini hari selasa. Kenapa kampus sepi banget.
Hanya satu dua mahasiswa yang lewat.
Aku melewati tangga sambil bersenandung ringan. Mengikuti lagu Style-nya mbak Taylor Swift yang aku dengar pakai headset.
Ah. Aku jadi ingat lagi kejadian beberapa tahun lalu. Aku yang masih berseragam putih-biru merasakan jatub cinta untuk pertama kalinya. Gara-gara payung lipat berwarna merah. Sunggu murah sekali hatiku untuk berdebar.
Kalau ditanya apa aku confess? Ya iyalah. Tapi gak secara gamblang. Misalnya aku buat story lagu kesukaan dia, reply story-nya, atau kirim ucapan selamat ulang tahun. Dan betapa bahagianya aku saat ia membalas. Bisa tak tidur.
Bahagia sekali ya. Sekarang boro-boro ketemu, chat aja aku enggan karena yang aku tahu We're Just Friend !
Hanya Teman. Dua kata yang menyakitkan.
"Aika?" Aku menoleh saat seseorang memanggil namaku. Aku kenal suara ini, mirip suara seseorang yang sudah aku hafal di luar kepala.
"Aika, gak nyangka bisa ketemu di sini"
Aku benar-benar sudah mengalihkan seluruh atensi ke sumber suara. Oh My God ! Lihatlah dia berdiri di depanku. Rupanya masih sama, ada kumis tipis yang mengihiasi atas bibirnya. Matanya masih menyorot dengan tegas. Hanya rambutnya yang sedikit panjang. Dan juga wajahnya yang semakin tampan dan mapan karena usia.
"Kakak kok bisa di sini??" agaknya aku sedikit histeris. Ia hanya tertawa kecil.
Demi apapun. Tawanya masih sama, renyah dan ngajak pacaran. Eh
"Iya, tadi temenku ada yang sidang. Mumpung lagi ada waktu makanya dateng."
Oo sidang. Eh temennya ada yang kuliah di sini juga ya. Kok aku bisa gak tahu. Emang kamu siapanya dia, Aika? Kan cuma teman.
"Kamu kapan sidangnya?" Duh pertanyaan yang susah dijawab.
Aku tersenyum sebelum menjawab "hehe masih lama kayaknya kak. Ini aja baru masuk Bab 2." Aku mengalihkan pandangan dari wajah sampingnya, takut khilaf nanti bisa aku toel pipinya yang menggemaskan itu.
Ini bukan mimpi kan ya?
"Kamu tahu, pacaran itu gak asik"
Eh. Maksudnya apa nih?
Setelahnya kami terdiam cukup lama. Aku hanya mengedarkan pandangan ke depan. Menghadap ke arah lapangan yang dikelilingi beberapa pohon beringin.
Pikiranku melayang ke tahun kedua SMA. Waktu itu aku sengaja mencari alasan agar bisa bertemu dengannya. Alasannya klise 'aku tadi mau ketemu kak Irne, mau tanya buku biologi'. Itu jawabanku saat dirinya bertanya kenapa sering datang ke kelas. Padahal aku hanya ingin melihatnya.
"Pacaran itu gak enak, gak bebas"
Sekali lagi kalimatnya menanggu ketenanganku menatap motor yang sedang berlalu di ujung sana. Kalimat pendeknya tidak aku mengerti sama sekali. Bahkan sudah diucapkan dua kali, aku tetap tidak paham dengan maksud dan tujuannya mengucapkan itu.
Iya aku tahu, pacaran gak enak. Aku pernah sekali. Tapi beneran gak enak banget. Karena bukan dengan orang yang aku suka. 'Kecuali dengan kamu, mau pacaran sekarang juga oke aja. Malah aku udah mikir nanti kita nikah pakai adat apa'. Kataku dalam hati tentunya.
Agaknya bahuku terasa sedikit berat. Aku menoleh ke kanan. Tangannya bertengger di sana, dibahuku. Meremasnya lembut. Rasanya nyaman sekali. Jadi gini ya rasanya skinship dengan orang yang kita suka. Bahagianya sampai ke angkasa.
"Aku gak mau pacaran, gak mau ribet. Banyak banget aturan yang gak tertulis, dan harus kita patuhi karena harus membuktikan rasa sayang."
Aku membeku mendengarnya berbicara. Jemarinya masih lembut mengelus bahuku. Tubuhnya yang tampan agak mendekat ke arahku, mengikis jarak yang tadi sengaja aku buat, demi menjaga hati agar tidak jatuh lagi ke pesonanya.
"I.. Iya sih, nanti kalau udah putus jadi asing" aku menjawab dengan terbata.
Ah kenapa sih hatiku ini.
"Kamu tau, pernyataan cinta itu banyak. Gak harus mengatakan secara gamblang aku cinta kamu. Cukup dengan perbuatan." Ia melanjutkan. "Seperti sekarang ini, kamu mau gak?"
Hah mau apaa? Aku menoleh padanya. Melihatnya diantara kabut yang mulai menebal. Tunggu dulu, sejak kapan ada kabut di sini, perasaan tadi matahari gagah bersinar.
"Hyaaa Isekyaa !" Eh kok ada suara Park Hyung-Sik?
"Kamu mau gak?" Eh kenapa suaranya berubah jadi berat banget.
Aku memegang kepala. Kenapa banyak suara yang tumpang tindih. Aku juga tidak merasakan tangannya yang mengelus bahuku. Mataku liar menatap sekeliling, semuanya dipenuhi oleh kabut putih. Bahkan beberapa orang yang berlalu lalang tidak kelihatan. Termasuk dia yang tadi duduk disebelahku.
Tapi aku masih mendengar suaranya, "kamu mau gak". Tiga kata yang aku gak tau maksudnya apa. Kepalaku sudah sangat pusing. Belum lagi teriakan aktor korea yang juga lantang aku dengar.
"Mbak !" Kenapa harus ada suara lain lagi sih.
Aku hanya bisa menutup mata sambil memegang kepala.m
"Mbak !!!"
Teriakannya yang melengking membuatku membuka mata. Aku juga merasakan tubuhku diguncang dengan pelan.
"Untunglah bangun. Aku udah mau berangkat, mbak ngapain juga pagi-pagi udah tidur, kayaknya tadi lagi nonton deh."
Aku mengedarkan pandangan. Ini di kamarku sendiri. Bukan di pinggir lapangan kampus.
Sial, ternyata aku hanya mimpi.