Sekelompok remaja laki-laki dengan jaket hitam bertuliskan Van’Gaska tengah bergerombol di warung yang sudah menjadi tempat tongktongan faforit mereka, sebut saja warung mbak Dini. Mereka bahkan sering melontarkan gurauan dan sesekali menggoda pemilik warung yang terkenal cantiknya itu.
“Gimana soal Leonil?” tanya laki-laki dengan jaket yang memiliki pin lambang Van’Gaska yang terpasang di dada sebelah kanan.
“Sudah beres, Ga. dia juga udah mengakui kalah,” jelas laki-laki berambut ikal dengan intonasi tengil khasnya.
“Padahal gue baru ngasih gertakan aja,” ucap laki-laki pemilik pin itu dengan remeh.
“Saga.”
Panggilan lembut itu sontak membuat mereka yang berada disana terdiam hingga menciptakan kesunyian. Gadis yang tengah menenteng totebag itu langsung menjadi pusat perhatian, termasuk laki-laki yang tersenyum lembut melihat kedatangannya.
“Udah selesai, sayang? mau pulang?” tanya Saga yang langsung beranjak dari duduknya.
“Aku bisa naik ojek online aja kalo kamu masih mau nongkrong,” ucap gadis itu seolah meminta izin pada Saga.
“No, babe. Aku yang anter kamu pulang, nanti aku bisa kesini lagi,” ujarnya lalu memakai helm dan menunggangi motor sport miliknya.
Tidak lupa Saga juga memakaikan helm berwarna ungu pastel pada gadisnya, yang mana itu membuat banyak pasang mata menjerit agar mereka menyudahi keromantisan itu.
Laki-laki itu mulai melajukan motornya membelah keramaian kota dengan kecepatan sedang. Sebenarnya hari ini bukanlah hari baik, banyak sekali fikiran-fikiran yang menumpuk di dalam kepalanya menuntut dirinya untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Mereka berhenti di depan gerbang rumah yang tidak terlalu besar. Gadis itu turun dari motor Saga dan terdiam sejenak sembari menunduk di hadapan Saga.
“Ayo kita putus.”
Kalimat itu sungguh membuat Saga naik pitam. “Kenapa tiba-tiba?” ucap Saga lalu melepas helm full facenya.
“Aku udah ngga ada perasaan lagi sama kamu,” jelas gadis itu yang menatap sekilas Saga lalu beranjak pergi.
“Aku buat kesalahan apa sih, Ra. Kasih tahu kesalahan aku dimana, jangan kaya gini, Ara!” ujar Saga yang terdengar frustasi dengan mengacak rambutnya.
“Kamu ngga salah, aku yang sudah bosan sama hubungan kita. Aku juga mau nikah bulan depan, sama orang yang aku suka.”
“Kamu kaya gini karena sudah ada yang baru?. Kamu beneran mau nikah sama orang yang baru kamu kenal?”
Ara mengangguk mantap membuat Saga kembali meremas rambutnya frustasi. “Dia bukan orang baru, aku sudah lama kenal sama dia dan aku lebih cocok sama dia.”
“Jahat lo, Ra. Kalo sampe gue tahu laki-laki yang mau nikahin lo, jangan harap dia pulang dengan kondisi baik-baik saja.”
“Persetan sama pernikahan, gue bakal acak-acak semuanya!”
Saga mengendarai motornya meninggalkan Ara yang mematung melihat kepergian Saga dengan sendu.
Laki-laki itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membelah keramaian kota. Beberapa kali laki-laki itu hampir menyerempet dan menabrak kendaraan lain, ia benar-benar dikuasai oleh amarah.
Motor Saga terparkir tidak beraturan dengan helm yang dia letakan sembarangan. Laki-laki itu berjalan cepat dengan mengepalkan tangannya. Ia membuka paksa pintu, menyebabkan dentuman yang sangat keras.
Saga langsung melancarkan aksinya dengan melayangkan pukulan kepada laki-laki yang terduduk di sofa. Hal itu membuat semua orang yang ada disana segera melerai pertikaian sengit itu.
“Udah gue bilang jangan pernah deketin Ara, BANGSAT!,” geram Saga sengit pada laki-laki di hadapannya.
Dengan senyuman licik, laki-laki itu menatap Saga tak kalah sengit. “Gue, Leonil Mahendra adalah sepupu Hanara Prameswari. Jadi, gue bisa dong deket sama Ara semau gue, apalagi ngga ada larangan buat nikah sama sepupu.”
Perkataan Leonil mampu membuat telinga Saga panas. Wajah dan matanya memerah menyiratkan kemarahan yang begitu teramat. Tubuhnya meronta mencoba melepaskan tangan mereka yang menahannya.
“BANGSAT! BAJINGAN, MAJU SINI LO!”
Tanpa menanggapi kemarahan Saga, Leonil lebih memilih acuh dan pergi meninggalkan Saga yang tengah berada di dalam bascampnya.
“PENGECUT MAU KEMANA LO!!. DASAR PENGECUT!”
Leonil berbalik dan melayangkan tinjuan pada Saga, namun laki-laki itu dapat menghindar. Tinjuan itu berakhir mendarat pada salah satu teman Leonil yang sedang memegangi Saga.
Perkelahian itu tidak lagi bisa di hindari, bascamp Leonil sangat ricuh hanya dengan perkelahian dua orang itu.
Tiga minggu telah berlalu sejak perkelahian yang membuat bascamp Leonil ricuh akibat perkelahian. Selama itu pula Saga hanya bersikap murung dengan tatapan yang terkadang kosong, kehidupannya seolah sudah tidak lagi bersemangat setelah Ara memutuskan hubungan dengannya.
Hubungan yang sudah mereka jalin tiga tahun lebih membuat dirinya seolah kehilangan separuh jiwanya. Hampa, itulah yang dirasakan oleh Saga sekarang ini, bagaimanapun juga ia sudah mempersiapkan untuk melamar Ara dan menikah dengannya.
Ketukan pintu membuat lamunan Saga terbuyarkan, ia melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya.
“Hari ini lo ngga mau ke rumah Ara?”
“Buat apa. Gue ngga mau liat Ara bahagia sama bajingan itu.”
“Bukan Leonil, Ga. Kemaren gue liat-“
“Terus lo mau gue liat Ara bahagia sama orang lain?!. Bar, gue juga punya perasaan, gue ngga bisa liat Ara nikah sama orang lain, hati gue sakit, Bar!”
“Mungkin dia punya alasan kenapa dia kaya begitu. Lo ngga mau denger alasannya?”
“Dia bosen sama gue, Bar. Dia juga bilang orang yang nikahin dia bukan orang baru.”
“Terus lo percaya begitu saja?. Kali ini lo harus dengerin gue, lo harus kerumah Ara sekarang.”
“Ngga-“
“Sekarang. Saga.”
“Oke, oke. Gue kesana.”
Tanpa memperdulikan penampilan, Akbar menarik paksa Saga untuk berjalan cepat dan memberikan jaket pada Saga.
Lelaki itu terkejut saat melihat mobil terparkir di depan halaman rumahnya sudah terisi penuh oleh teman-temanya, dan hanya menyisakan satu tempat duduk di samping kemudi.
Mereka melajukan mobilnya menuju kediaman Ara, dan benar saja disana sudah terpasang pernak-pernik pernikahan.
Saga kembali ragu untuk turun dari mobil, namun Akbar dan yang lainnya kembali meyakinkan Saga hingga akhirnya ia masuk kedalam kediaman Ara.
“Kak Anggi?. Jadi yang nikah kak Anggi?”
Wanita dengan balutan dress panjang bewarna putih itu mengangguk dan memberikan kertas berlipat pada Saga.
“Iya. Kamu cari Ara, ya? Kamu belum tahu kabar Ara?”
“Emangnya Ara kenapa?”
“Cepat susul Ara di rumah sakit Arimbi, di ruang ICU. Cepat!”
Saga dan Akbar langsung pergi dari kediaman Ara. Akbar mencoba menyetir mobil dengan cepat, dan teman-teman Saga tidak bertanya seolah paham dengan apa yang sedang terjadi.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Saga langsung berlari menuju ruang ICU, disana terlihat satu orang wanita tengah duduk di kursi tunggu ruang ICU.
“Tante Wilda,” panggil Saga pada wanita patih baya yang sangat ia kenal.
Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Saga, mencoba menguatkan satu sama lain.
“Ara. Saga, Ara di dalam, dia sudah ngga sadarkan diri tiga hari lalu. Dokter bilang detak jantungnya melemah.”
“Kenapa Ara sampai ngga sadar diri tante?”
“Ara suka ngeluh dadanya sakit, tapi dia ngga mau di periksa.”
“Seminggu lalu tante liat di laci nakas Ara banyak obat-obatan, dari situ kami paksa Ara buat periksa, akhirnya kita tahu setahun ini Ara sering periksa disini. Tante merasa ngga bisa jaga anak, kenapa tante baru sadar sekarang,” jelas Wilda itu yang tedengar sangat putus asa.
Mendengar itu Saga pun merasa bukan seorang pacar yang baik, dia bahkan tidak tahu jika Ara mengalami hal sulit seperti ini. Ia merasa dirinya memang pantas mendapatkan kata putus dari Ara.
Dokter dan perawat berlari masuk kedalam ruangan Ara, mereka yang melihat itu harap-harap cemas dengan keadaan Ara.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya perawat memperbolehkan mereka yang ada di kursi tunggu masuk kedalam ruangan.
Jantung Saga seolah berhenti, Wilda sudah terduduk lemas di lantai dengan tangis yang pecah.
Saga mencoba menenangkan Wilda dengan teman-teman lainnya yang juga menghubungi keluarga Ara yang berada di rumah.
Saga mendekat dan menyibak sedikit kain yang menutupi seluruh badan Ara. Ia melihat wajah gadisnya yang pucat dan tampak tirus, mata yang selalu memancarkan kehangatan dan ketulusan kini tertutup, bibir yang biasanya tersenyum dan tertawakini sudah tidak ada, wajah yang dulu ceria kini sudah tidak bisa Saga lihat lagi.
Pertahanan laki-laki itu runtuh, ia menangis meraung-raung memeluk tubuh gadisnya dan sedikit mengguncangnya berharap ia bangun.
“Aku ngga rela kamu ninggalin aku, ra.”
"Aku mau menikmati masa-masa kita berdua.”
“Raaa...kita janji bakal nikah. Kamu ngga lupa janji kita kan?, ayo kita hidup bahagia.”
“Ra, aku minta maaf belum bisa jadi yang baik buat kamu. Tapi aku janji bakal jadi yang terbaik di hdiup kamu.”
“Aku ngga mau kamu kaya gini, Ara. Ayo bangun, Ra, bangun....”
Ruangan itu kini dipenuhi oleh isak tangis mereka dan keluarga Ara yang baru saja menyelesaikan akad nikah Anggi yang merupakan kakak perempuan Ara.
Pemakaman Ara dilakukan sore itu juga di tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari kediaman Ara.
Hujan yang tidak terlalu deras, tampak ikut menangisi kepergian Ara. Seolah langit ikut merasakan kepedihan yang dirasakan orang-orang terdekat Ara.
Setelah pemakaman selesai, Saga masih terus setia duduk berjongkok di depan gundukan tanah bertabur bunga di hadapannya. Ia mengelus nisan Ara dengan air mata yang sesekali menetes.
Saga teringat dengan kertas yang diberikan oleh Anggi, ia merogoh saku jaketnya dan membuka lipatan kertas itu. Ia membaca kata demi kata dari tulis tangan di kertas itu hingga akhir, hatinya kembali berdenyut nyeri.
Disini, tepat di makam Ara, Saga kembali terisak pedih setelah kekasihnya meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“Terimakasih untuk semuanya, Hanara Prameswari. Aku ngga akan pernah lupa sama kamu, selamanya.”
–End–
Saga Alviero Bramasta
Kamu adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui. Kalau ada lomba pacar terbaik, mungkin kamu bakal jadi juara satu. Kamu adalah segalanya bagi aku, aku ingin terus hidup bahagia sama kamu. Apapun rintangan hidupnya, kalo sama kamu selalu terasa menyenangkan.
Tapi, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf sayangku, aku ngga bisa sama kamu. Aku ngga tahu pasti penyakit ini muncul sejak kapan, tapi kata dokter penyakit aku susah buat sembuh. Kata dokter juga waktu hidup aku ngga lama, omongannya ga lucu ya dokter itu. Aku selalu berdoa pada Tuhan biar aku sehat lagi dan bisa ketemu kamu terus.
Kemarin saat aku bilang mau nikah, sebenarnya itu kak Anggi yang menikah. Itu hanya alasan supaya kamu bisa benci sama aku, dan lupa sama aku. Nanti saat aku pergi, kamu jangan nangis ya, aku ngga bisa liat kamu nangis, nanti aku ngga bisa peluk kamu.
Pesan terakhirku, jalani hidup yang bahagia, jangan berantem sama Leonil lagi, semoga kamu selalu sehat, papa mama kamu harus sehat juga ya. Semoga kamu dapat yang lebih baik dari aku. Terimakasih untuk semuanya Saga. I Love You.
Salam kasih, Hanara Prameswari.
-HyunnaS-