Alisa, sebuah nama yang selalu tersemat di dalam hatiku. Nama yang tak pernah terganti walau banyak nama yang mencoba untuk menjadi penggantinya.
Aku punya kisah dengannya. Yang tak pernah aku lupa sampai kapanpun juga. Akan selalu kuingat untuk selamanya. Sebuah kisah dari dua anak manusia yang saling mencinta. Namun harus berakhir dengan nestapa, karena harus kehilangan dia untuk selama-lamanya.
Hari itu adalah hari yang paling mengerikan buatku. Hari di mana aku tak pernah menyangka bahwa itu adalah hari terakhirnya hidup di dunia. Sebuah kecelakaan tragis telah merenggut nyawanya. Nyawa gadis yang sangat aku cinta, yang telah menjadi cinta pertamaku.
Tak pernah kusangka kalau dia akan secepat itu meninggalkanku. Kukira, selama aku masih hidup di dunia, dia pun sama. Tapi nyatanya, sang kuasa tak merestuinya dan menciptakan takdir yang berbeda.
Di samping makam dengan nisan bertuliskan nama "Alisa Handayani", aku menangis tersedu-sedu. Berharap sang kuasa mengabulkan permintaanku. Berharap sang pencipta mengabulkan doaku, dan juga berharap yang maha pengasih mengembalikan Alisa Handayani-ku.
Senja telah tiba. Aku masih duduk bersedih di sana. Kenangan indah bersama yang pujaan hati terus-menerus merasuk ke dalam pikiranku. Aku rindu dia, sungguh.
"Alisa, aku tidak tahu apa aku bisa jatuh cinta lagi atau tidak setelah ini. Kalau seandainya aku boleh meminta, aku ingin Tuhan segera mempercepat kematianku. Agar aku bisa bertemu kamu lagi," ucapku.
Aku tahu itu bodoh. Tak baik bagi seseorang berdoa agar kematiannya dipercepat. Tapi, sebuah kerinduan atas dirinya telah mendorongku untuk berdoa seperti itu ke sang kuasa.
Kini, Alisa telah benar-benar pergi dan tak mungkin kembali. Tapi kuharap, ia masih hadir di dalam mimpi. Agar rinduku bisa sedikit terobati.
Oh, Tuhan. Aku rindu dia. Yang parasnya bagai Bidadari surga. Yang cantiknya selalu memanjakan mata. Yang cerianya bisa menghangatkan jiwa. Yang candanya sering membuatku tertawa. Yang hadirnya membuat hatiku berbunga-bunga. Kalau boleh aku meminta, hidupkanlah lagi dia ke dunia. Agar aku bisa mengatakan, bahwa aku tak pernah mau kehilangannya.
Alisa, tenanglah di sana. Tunggu aku! Suatu hari aku juga akan menyusulmu.