Kalian pasti punya cita-cita kan? Sama halnya dengan Risha, Aerishaka Leonard nama lengkapnya. Seorang gadis remaja yang bercita-cita untuk menjadi seorang psikolog. Akankah dia bisa mewujudkan cita-citanya? Ataukah dia akan berubah pikiran tentang cita-citanya?
Dimulai di saat dia kelas 3 SMP, dia berkeinginan untuk menjadi seorang psikolog karena ingin membantu anak-anak penyandang disabilitas dan juga anak-anak yang mentalnya sudah rusak. Dia se berusaha mungkin untuk mendapatkan nilai bagus, supaya dia dapat masuk ke SMA ternama dan supaya lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa kuliah jurusan psikologi. Tetapi takdir berkata lain, Risha tetap tidak lolos ke SMA ternama itu, dan juga karena ekonomi keluarganya Risha berakhir memilih SMK supaya saat lulus nanti dia bisa langsung bekerja jika orang tuanya tidak uang untuk biaya kuliah nya. Dia memilih jurusan perkantoran di SMK Nusa Bangsa. Awalnya dia tidak menyukai jurusan nya, tetapi lama kelamaan dia menyukai jurusan nya dan mulai berpikir untuk menjadi pengusaha sukses saja di bandingkan psikolog dengan biaya kuliah nya yang mahal.
“Kan untuk membantu anak-anak penyandang disabilitas tidak harus menjadi psikolog “ ujar Risha saat itu dalam hati...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak terasa Risha sekarang sudah berada di kelas 3 SMK. Tidak hanya itu, pembelajarannya pun semakin sulit. Dia pun se berusaha mungkin untuk mendapatkan nilai yang bagus supaya bisa mendapatkan beasiswa kuliah, karena kedua orang tuanya menginginkan dia kuliah. Ketika dia mendengar orang tuanya menginginkan dia kuliah dia keingat lagi dengan cita-citanya yang dulu yaitu menjadi seorang psikolog. Dia pun membicarakan kepada orang tuanya bahwasanya dia ingin menjadi seorang psikolog dan ingin mencari beasiswa kuliah jurusan psikologi.
“Ma, pa, Risa mau jadi psikolog, gimana kalau aku cari beasiswa jurusan psikologi saja? “ ujar Risa kepada kedua orang tuanya.
"Kamu yakin ingin jadi psikolog Rish? Berarti kamu akan mempelajari semuanya dari awal, di saat kamu kuliah nanti. Kenapa kamu nggak lanjut kuliah di jurusan yang kamu jalani di SMK sekarang?“ jawab Mama Risha sedikit tidak suka dengan perkataan anaknya.
Risha hanya diam saja setelah mendengar jawaban mamanya..
“seandainya kamu dapat beasiswanya dan ternyata kamu tidak lulus sampai batas waktu beasiswa yang ditentukannya, gimana Rish? Ya syukur aja kalo papa ada uang untuk membiayainya, jika tidak?” Sambung papa Risha.
Setelah mendengar jawaban dari kedua orang tuanya Risa menjadi ragu dan bimbang ke mana dia akan melangkah setelah lulus nanti. Apakah kuliah dengan mencari beasiswa jurusan psikologi? Atau kuliah dengan mencari beasiswa jurusan perkantoran? Atau mungkin bekerja saja untuk membantu perekonomian keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul di pikiran Risha.
Ketika malam tiba, Risha terbangun dan sulit untuk tidur lagi. Alhasil dia lebih memilih untuk shalat tahajud untuk mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul di pikirannya itu. Selesai shalat dia pun lanjut tidur lagi.
Pagi pun tiba, Risha siap-siap sekolah lalu berangkat. Sesampainya di sekolah Risha mendapatkan suatu informasi dari teman sebangkunya, bahwasanya ada beasiswa kuliah jurusan psikologi di salah satu universitas ternama di kotanya.
“Rish, kamu jadi masuk kuliah jurusan psikologi?” tanya teman sebangkunya
“Belum tau pasti sih Zur, emangnya kenapa Zur? Kamu tertarik juga untuk masuk jurusan itu?” tanya balik Risha kepada Azura.
Ya namanya Azura Vernata, yang kerap dipanggil Zura. Yang merupakan sahabat sekaligus teman sebangkunya Risha.
“Ya nggak lah Rish, aku tuh tertariknya kan masuk jurusan PGSD, bisa jadi guru SD gitu...” jawab Zura dengan semangat dan bangga
“Sebenarnya aku tuh mau kasih tahu ke kamu kalau ada beasiswa psikologi di universitas Indonesia Jaya dan pendaftarannya dibuka mulai bulan April pada tanggal 27-30, dan untuk info lebih lanjutnya kamu bisa baca sendiri dari website yang aku kirim Rish.” Sambung Zura, Risha pun langsung melihat HP nya.
“apa ini ya jawaban yang diberikan Allah? Pokoknya aku harus daftar beasiswa ini kalo pendaftarannya sudah buka.” Ujar Risha dalam hati
“Makasih infonya Zur, makasihhh banget. Mulai hari ini aku akan belajar supaya nilai aku cukup mungkin mendapatkan beasiswa itu” ujar Risha dengan kesenangan.
Dan dimulai hari ini Risha memang benar-benar lebih giat, fokus, dan rajin lagi untuk belajar supaya bisa dapat beasiswa tersebut. Tetapi di sisi lain dia tidak memberitahukan kepada orang tuanya karena dia akan memberitahukan nanti setelah dia daftar beasiswa itu.
Waktu pun berlalu dan hari itu pun tiba. Persyaratan yang diperlukan sudah disiapkan oleh Risha. Risha pergi ke Universitas Indonesia Jaya ditemani oleh sahabatnya ya siapa lagi kalau bukan Azura.
Sesampainya di sana, Risha langsung menuju ruangan pendaftaran dan memberikan persyaratannya ke panitia beasiswa lalu lanjut melakukan tes tulis di ruangan sebelah. Selesai tes tulis, Risha pergi ke Mading kampus untuk melihat kapan jadwal pengumuman penerimaan beasiswa ini, dan ternyata jadwal pengumumannya tanggal 5 bulan Mei. Setelah itu dia pergi ke tempat Zura berada dan mereka langsung pulang.
Selagi menunggu hasil pengumumannya keluar, Risha menjalani hari-harinya seperti biasa. Sehingga tidak terasa hari pengumumannya pun tiba dan ada surat yang diantarkan ke rumahnya untuk dirinya. Risha melihat surat yang dikirim dari universitas Indonesia Jaya tersebut. Tidak disangka-sangka ternyata Risha mendapatkan beasiswa tersebut. Dia pun memberitahukan kepada kedua orang tuanya kabar gembira itu.
“mah, pah, alhamdulillah Risha dapat beasiswa kuliah full di jurusan psikologi di universitas Indonesia Jaya dan juga dapat uang jajan per semester mah, pah” ujar Risha dengan sangat senang.
“Alhamdulillah” ujar kedua orang tuanya Risha yang turut senang juga.
“Risha sayang, kamu benar-benar yakin nak dengan keputusan kamu? Kuliah di jurusan itu cukup berat loh nak. Dan juga kamu masih ingat kan kata papa kamu dulu?” tanya mama Risha
“Aku yakin mah, yakin banget malahan. Dan untuk perkataan papa dulu aku ingat mah, dan akan aku usahakan semaksimal mungkin untuk wisuda sesuai batas waktu yang di tentukan” jawab Risha dengan senyuman yang lebar
“Baiklah nak, kami menghargai keputusanmu” ujar papa Risha
“Dan kamu harus lebih giat lagi untuk belajar ya nak, supaya beasiswa Kamu tidak dicabut karena nilai kamu turun” sambung mama Risha sambil memeluk Risha, dan Risha pun membalas pelukan mamanya dengan mengangguk-anggukan kepalanya
“Terima kasih ya Allah, terima kasih” ujar Risha dalam hati
Kabar gembira ini pun terdengar sampai ke teman-teman sekelasnya. Ada yang mengucapkan selamat kepadanya dan ada juga yang meremehkannya.
Beberapa minggu kemudian, Risha melaksanakan ujian akhir sekolah selama 3 hari dan ujian praktek selama 3 hari juga. Satu minggu kemudian kepala sekolah SMK Nusa Bangsa mengumumkan di lapangan ketika upacara Senin, yang dimana upacara itu menjadi upacara terakhir bagi murid kelas 3, bahwasanya murid kelas 3 lolos 100%. Seluruh murid kelas 3 pun bersorak kegirangan di lapangan, termasuk juga dengan Risha dan Azura. Dan di hari Sabtu mereka mengadakan acara perpisahan di sekolahnya dari sore sampai malam.
Beberapa bulan kemudian...
Akhirnya Risha menjadi mahasiswa di universitas Indonesia Jaya dan di hari Senin ini, tepatnya di bulan Juli 2019 dia ospek hari pertama Dan itu membuatnya senang. Dan yang lebih membuat Risha senang adalah Azura berkuliah juga di universitas Indonesia Jaya, ya walaupun beda jurusan sih...
Soalnya kan Azura mau jadi guru SD jadi dia masuk jurusan PGSD di sini deh. Katanya sih...
“biar bisa bareng Risha terus, hehe” ujar Zura dengan cengengesan
Sesampainya di kampus Risha menemui Azura yang sudah menunggunya datang di parkiran. Dan mereka pergi ke lapangan bersama lalu berpisah dan bergabung ke rombongan jurusan masing-masing. Mereka mengikuti kegiatan ospek selama 1 Minggu. Lalu kegiatan ospek ditutup dengan acara penerimaan mahasiswa baru.
Risha mendapatkan jadwal ke kampus dari hari Senin-Jum’at. Awalnya Risa menjalani hari-harinya bisa terbilang biasa-biasa saja.
“Mungkin karena masih semester 1, kali ya?” ujar Risha dalam hati
Risa juga lumayan cepat menangkap materi-materi yang diajarkan dosennya dan jika ada materi yang kurang dipahaminya, maka dia akan sesering mungkin untuk mengulangi materi yang kurang dipahaminya sampai dia paham.
Dan semester 1 pun berlalu...
Ketika memasuki semester 2 Risha mulai mengikuti beberapa organisasi salah satunya yaitu organisasi MAPALA. Awalnya dia susah untuk membagi waktu untuk belajar dan ikut organisasi tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa dan tetap bertahan di organisasi tersebut sampai menjadi anggota tetap. Meskipun materi kampus yang dipelajarinya mulai sulit dia tidak pernah menyerah dan dia tidak pernah sekalipun untuk keluar dari organisasi yang sudah di ikutinya.
Tiga tahun pun berlalu, sekarang Risha sudah di semester akhir. Dia juga sudah jarang aktif di organisasi yang diikutinya, Karena sekarang dia mau fokus untuk skripsinya dulu. Judul skripsi yang di ambil Risha yaitu tingkat kebutuhan untuk Mendominasi Siswa Dengan Kecenderungan Bullying Di Sekolah.
Risha melakukan penelitian untuk skripsinya ke beberapa sekolah yang ada di kota tempat tinggalnya. Dia pun menghabiskan waktu kurang lebih 6 bulan untuk membuat skripsinya. Dan Karena itulah dia hampir saja tidak bisa wisuda sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh beasiswanya kalau tidak dia bakalan bingung mau cari uang ke mana untuk lanjut kuliah.
Di saat dia sedang sidang skripsi, dewi keberuntungan berpihak kepadanya. Karena dosen penguji yang mengujinya, menerima skripsi yang dibuatnya dan dosen pengujinya cukup puas dengan skripsi Risha. Risha pun sangat-sangat bahagia saat mendengarnya, saking bahagianya tanpa sadar dia menangis saat memberitahukan berita gembira ini kepada kedua orang tua dan sahabatnya yang berada di luar ruangan sidang skripsi.
Pada bulan September, Risha pun wisuda. Dan tidak disangka-sangka juga ternyata Azura juga wisuda di hari yang sama dengan dirinya.
Jadi ceritanya beberapa hari sebelum Risha sidang skripsi ternyata Azura sudah terlebih dahulu melakukan sidang skripsi, dan ternyata skripsinya juga diterima oleh dosen penguji. Tetapi Azura tidak memberitahukan kepada Risha, karena dia ingin memberi tahu kan ketika wisuda saja, supaya menjadi kejutan untuk sahabatnya. Karena itulah mereka bisa wisuda bareng.
Meskipun dulu Azura merahasiakan hal itu darinya, Risha tidak marah terhadap sahabatnya itu, melainkan dia turut bahagia terhadap hal itu.
“Aku senang banget deh Zur, akhirnya aku bisa menggapai cita-cita yang aku impikan sejak dulu. Apalagi aku menggapai cita-cita ku bersama sahabat terbaik aku, jadi aku makin senang deh. Hehe” ujar Risha kepada Azura dengan cengengesan
“Iya, Rish. Aku juga senang banget.” ujar Azura
“sebanyak apa pun rintangan dan hambatan yang datang, kamu janganlah pernah menyerah! Meskipun orang sekitarmu kurang mendukung, janganlah kamu patah semangat, abaikan saja mereka yang tidak mendukungmu dan fokus saja ke jalan yang kamu tuju. Dan juga jangan lupa berdoa kepada Tuhan untuk dilancarkan jalan yang kita pilih karena berusaha tanpa doa itu hanyalah perbuatan yang sia-sia” ujar Risha dalam hati dengan bahagia