Karya: Rahma Fitri
Namaku Rara, Aku adalah anak yang selalu salah di mata Ibuku, apa yang ku lakukan tidak pernah benar di matanya. Selalu di banding bandingkan dengan Kakakku.
Brrushh.....(guyuran air), "Rara.... Rara... Bangunnnn!!!, Sudah pukul berapa ini, kenapa belum bangun, cepat bangun!". Aku terbangun dan sudah basah kuyup. "Ibuu, tapi kan tidak perlu menyiramku dengan air juga". "Halahh kalau gak begitu, kamu gak mau belajar, sudah berapa kali ibu bilang anak gadis jangan kebiasaan bangun siang, coba liat kakak kamu tu, pagi² udah bangun, kerja cari uang, gak kayak kamu kebiasaan bangun siang". Yap, Kakak lagi, Dia adalah anak emas Ibu. "Kan sekarang hari Sabtu Bu, apa salanya Aku bangun siang?". "Apa salahnya?, Walaupun gak sekolah, harus tetap bangun pagi, tolong Ibu beresin rumah, jangan jadi beban aja. Udah cepat mandi, habis itu cuci piring!". "Baik Bu, jawabku dan bergegas ke kamar mandi.
Setelah mandi Aku bergegas ke meja makan, dan melihat meja makan kosong, tidak ada makanan. "Bu jatah makanan untuk ku gak ada?". "Gak ada, udah dihabisin sama Kakak, makanya jangan kesiangan". "Terus Aku makan apa Bu?". "Beli di luar aja nanti, kamu cuci dulu tu piring, Ibu mau jemur pakaian". "Iya Bu ". Jawabku dan bergegas mencuci piring.
Di sore hari, Kakak telah pulang bekerja. "Assalamualaikum, Nia udah pulang!!!". "Waalaikumsalam, Ehh anak Ibu udah pulang, kok lebih awal pulangnya?". "Iya Bu aku kurang enak badan, jadi mau pulang lebih awal". "Yaampun sayang, kamu sakit?, Ayo cepat beberes, habis itu istirahat". "Baik Bu".
Aku hanya berdiam di kamar dan mendengar sekilas pembicaraan mereka. Entah kenapa Ibu bersikap sangat tegas padaku dan tidak pernah mengungkapkan kasih sayangnya, tapi jika dengan Kakak, Ibu selalu bersikap lembut, tidak pernah bicara kasar, dan memanjakannya. Terkadang Aku berfikir apakah Aku ini anak tiri?. Bagaimanapun itu Aku sangat iri dengan Kakak. "Rara, ternyata kamu di kamar, tolong ambilkan air hangat untuk Kakak!". Perintah Ibu. "Iya Bu, akan Aku ambilkan, dimana kakak?". "Dia lagi mandi". "Ohh begitu". Aku pun segera mengambil air hangat yang di suruh Ibu. " Eh, Rara lagi ngapain?", tanya Kakak tiba-tiba dari kamar mandi. "Lagi ngambil air hangat buat Kakak, tadi disuruh Ibu. Kakak demam?". "Iya, tapi gak parah kok, ini airnya biar Kakak aja yang bawa, makasih ya". "Iya Kak".
Aku pun mengintip dari luar, dan melihat Ibu sedang mengompres Kakak dengan penuh kasih sayang. Aku pun masuk dan berbaring di samping Kakak. "Rara, jangan disini, nanti Kakak terganggu". Ujar Ibu. "Tapi kan Aku mau istirahat juga Bu". Jawabku. "Gak papa Bu, Rara gak mengganggu kok". Bela Kak Nia. "Hmm ya sudah, Ibu keluar dulu". Aku berbaring dan membelakangi kakak, tiba² air mataku menetes karena mengingat perilaku Ibu yang beda terhadapku. Tak kusadari ternyata Kak Nia menyadari bahwa Aku menangis. "Rara, kenapa menangis?". "Nggak kok kak, Rara gak nangis". Elakku. "Itu matanya merah, kamu kenapa?, Sini cerita sama kakak". "Aku tu iri sama kakak, Ibu selalu memanjakan kakak, bicara dengan lembut pada kakak, bahkan tidak pernah menyuruh nyuruh kakak. Sementara Aku, selalu saja dimarahi Ibu, di suruh suruh bahkan Aku juga dibanding bandingin sama kakak, Ibu bersikap seolah olah Aku ini anak tirinya". Jawabku sambil terisak. "Yaampun Raa, jangan bilang begitu, kamu anak Ibu juga kok, mungkin Ibu sersikap seperti itu, agar kamu bisa lebih mandiri dan jadi anak yang baik". Jawab kakak. "Tapi kenapa Ibu tidak melakukan hal yang sama terhadap Kakak?, dari kita kecil perlakuan ibu selalu berbeda terhadapku. Jawabku. "Maaf ya kakak gak bisa jawab soal itu, Kakak pun kurang tau mengapa Ibu begitu. Udah Kamu jangan sedih, ini kakak punya coklat". Umbuknya. "Gak mau, makan aja sendiri, Aku mau tidur". Balasku.
Sekitar pukul 21.00, Aku pun terbangun karena kebelet pipis, Aku segera ke kamar mandi, Saat ingin balik ke kamar Aku melihat Ibu dan Kakak sedang membicarakan sesuatu di ruang tamu. Aku pun menguping pembicaraan mereka. "Bu, tadi Rara nangis karena Dia merasa perlakuan Ibu berbeda antara kami". Ungkap Kakak. "Hm, berbeda Gimana, Sama kok". Jawab Ibu. "Tapi Bu, menurutku Ibu terlalu tegas padanya, tidak pernah memanjakannya, bahkan sering memarahinya sementara denganku Ibu begitu baik". Ujar Kak Nia. Ibu terdiam dan tampak menghela napas. "Sebenarnya, Rara bukanlah anak Ibu, Dia adalah Anak hasil selingkuhan Ayahmu dengan pelakor itu". Mendengar perkataan itu, rasanya jantungku berhenti berdetak dan hatiku hancur berkeping keping. Dugaan ku selama ini benar, aku bukanlah darah daging Ibu, pantas saja Ibu bersikap seperti itu padaku, karena Aku ini bukanlah anaknya. Air mata yang tak berhenti mengalir membuat pandanganku buram, tetapi Aku tetap berdiri di posisi yang sama dan mendengar hal yang lebih menyakitkan, yang tak pernah Ku ketahui sebelumnya. "Wajah pelakor itu selalu terbayang ketika Ibu menatap Rara, makanya Ibu selalu marah kepada Rara, karena Ibu sangat membenci Ibunya Rara". Sambung Ibu. "Aku sungguh tidak menyangka itu Bu, mengapa Ibu menyembunyikan hal ini dari kami?, tanya Kak Nia. "Ibu ingin memberitahu kalian tentang ini, tapi Ibu takut Rara akan tersakiti". "Tapi Bu, yang lebih menyakitkan bagi Rara, adalah karena Ibu bersikap buruk padanya, ini semua bukan salah Rara Bu, setidaknya Ibu bersikap adil antara Kami". Balas Kak Nia. "Ibu tau, tapi Ibu bersikap tegas padanya, agar Dia tidak menjadi seperti Ibunya kelak, Rara mirip dengan Ibunya, wanita itu, bukan wanita yang benar, Ibu takut Rara menyalin perangai Ibunya". "Tapi, bagaimana Ibu tahu tentang Ibu Rara?. Tanya Kak Nia. "Ibu Rara adalah sahabat Ibu, kami sangat akrab, Ibu tidak menyangka, ternyata wanita itu menjalin hubungan dengan ayahmu di belakang Ibu, Rara adalah hasil hubungan gelap antara mereka, saat melahirkan Rara, Ibunya meninggal. Lalu Rara di bawa pulang oleh Ayah, awalnya Ibu tidak setuju anak itu di bawa kemari, tetapi karena keluarga Ibunya Rara jauh di luar sana, tidak ada yang bisa menjaganya selain Ibu. Beberapa Minggu kemudian, Ayah kecelakaan dan meninggal, sebelum menghembuskan napas terakhir, Ayah menyuruh ibu berjanji padanya , untuk selalu menjaga Rara seperti anak sendiri".
Blankk!!!(barang jatuh), upss Aku tidak sengaja menjatuhkannya. "Rara!!" Sahut Ibu dan Kakak serentak. "Sejak kapan kamu berdiri di situ?, tanya Kakak. "Maaf Aku menguping pembicaraan kalian". Jawabku sambil mengusap air mata. Aku berbalik badan dan segera ke kamar. "Rara, sini sebentar!". Seketika panggilan Ibu menghentikan langkah ku. Aku berbalik arah dan menuju ruang tamu, "Ya Bu". Jawabku dengan suara bergetar menahan tangis. "Ibu tau kamu sudah mendengar semuanya, maafkan Ibu tidak pernah memberitahu mu soal ini". "Ya". Jawabku singkat karena tidak tahu harus berkata apa. "Apakah Aku boleh ke kamar?", tanyaku. Ibu menganggukkan kepalanya. Aku segera berlari ke kamar dan menangis terisak-isak, sebisa mungkin Aku meredam suaraku dengan bantal agar tidak terdengar sampai keluar. Beberapa menit kemudian tangisku berubah menjadi kantuk, sehingga membuatku tertidur.
Kring...kringgg!!!!(suara alarm) membangunkan ku, masih pukul 06.00 Pagi, Aku segera mematikan alarm agar tidak menggangu Kakak. Setelah kejadian kemarin, Aku ingin berubah menjadi anak yang lebih baik, disiplin, mandiri, sebagaimana yang diinginkan Ibu. Sebelum mandi Aku ingin membuat sarapan untuk kami bertiga.
"Ehh Rara, udah bangun ternyata, lagi ngapain?". Tanya Ibu mendadak sontak membuat ku kaget. "Hmm, ini Bu Aku lagi bikin sarapan". Jawabku gugup. "Oalahh ini yang bunyi blank! blunk! blank! blunk!, Ibu kira tikus". Jawab Ibu. "Maaf Bu kalau mengganggu" ujarku. "Ga papa, sini biar Ibu bantu, Kakakmu masih tidur?". "Iya Bu". "Bangunin Kakak Ya kita sarapan bersama". Pinta Ibu. "Baik Bu".
Di meja makan, kami menyantap sarapan kami masing-masing, sempat diam sejenak, hingga Ibu membuka pembicaraan. "Raa, maafin Ibu ya, selama ini Ibu selalu bersikap kurang baik terhadap kamu, sering marahin kamu, bahkan kadang banding bandingin kamu sama kakakmu, walaupun kamu bukan lah darah daging Ibu, tapi mulai sekarang Ibu akan adil dalam membagi kasih sayang, dan menganggap kamu seperti darah daging Ibu". Aku pun langsung berdiri dan memeluk Ibu sambil berkata, "Aku juga minta maaf Bu, karena selama ini Aku mengira ibu sama sekali tidak menyayangiku, dan Aku bukanlah anak yang baik"."Kamu bilang apa, kamu itu anak yang baik, Ibu bangga Sama kamu".
"Eheem, mau ikut peluk pelukan juga dong". Tutur kakak. "Ahh Kakak ganggu aja". jawabku sedikit jengkel.
"Hahaha".
Akhirnya Aku merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang Ibu, sebenarnya selama ini beliau memang sudah sayang padaku, tapi mungkin caranya menyanyangiku berbeda.
••• TAMAT •••