Tahukah kamu bahwa aku dan kamu bisa menjadi kita?
Maaf, humor. Tahukah kamu bahwasannya writer's block juga ada penyebabnya. Mau tahu gak? Please follow dulu :D
Gak deng, berchandyaaa.
Writer's block memiliki beberapa penyebab. Di antaranya, adalah;
1. Rasa takut yang berlebihan.
Aku tahu rasanya jadi penulis pemula yang merasa gak percaya diri dengan tulisannya. Takut kena kritik, takut dibilang karyanya jelek, takut idenya ditolak, banyak kurangnya, dan lain-lain.
Rasa takut seperti itu yang justru membuatmu diserang writer's block. Belum apa-apa sudah pesimis, sudah annu duluan. Annu apa? Takut memulai!
Jangan pernah takut untuk memulai dan melakukan kesalahan. Sebagai manusia, sangat wajar untuk making a failure. Dengan begitu kamu baru bisa belajar. Tak ada penulis yang serta merta menulis bagus dan dikenal. Everything has a process and you should try to making a false until you right.
2. Perfeksionis.
Berusaha untuk menyempurnakan tulisan atau karyamu itu suatu hal yang bagus, artinya kamu benar-benar serius memperhatikan tulisanmu. Tapi, jangan jadi penulis yang perfeksionis juga. Menuntut diri dan tulisanmu untuk sempurna bisa berdampak pada mangkraknya tulisanmu.
Kenapa begitu? Karena, tiap kali kamu menyunting tulisanmu di tengah proses menulis, pasti muncul niat untuk merubah tulisanmu agar lebih sempurna. Ngaku, deh!
Percaya atau tidak, kamu akan selalu merasa tulisanmu kurang yang ujung-ujungnya berakhir pada penyuntingan terus menerus.
Sunting terus, nulisnya kapan?
Jangan karena niat hati menyempurnakan tulisan, ceritamu tak kunjung dirampungkan. Sesekali tak apa untuk membuat tulisanmu terlihat apa adanya. It's like you look so beautiful when you deserve yourself what you are. Dan menurutku, tulisanmu juga begitu.
Tulis aja dulu, kamu bisa memperbaiki tulisanmu kapanpun. Jangan sunting-sunting terus, rawan kena WB lho!
3. Tekanan dari luar.
Biasanya, writer's block terjadi karena adanya tekanan dari pihak luar, entah itu editor ataupun pembaca yang meminta kelanjutan cerita. Apalagi untuk para penulis di platform online seperti ini. Pernah mengalaminya?
Merasa dikejar-kekar pembaca atau dihubungi editor terus menerus kerapkali membuat seorang penulis merasa buntu untuk melanjutkan menulis.
Solusinya, tetaplah tenang. Dan fokus pada apa yang mau kamu tulis.
4. Kritik terhadap diri sendiri.
Sering mengkritik diri sendiri biasanya datang dari si perfeksionis yang kadangkala membandingkan diri sendiri dengan penulis lain. Yang kadang-kadang membandingkan karyanya dengan karya orang lain.
Kok karya dia bagus?
Kok aku enggak?
Kok dia annu?
Kok aku gak annu?
Terlalu banyak annu-annu, eh, maksudnya tuh membandingkan diri sendiri dengan orang lain justru akan membuatmu minder sendiri. Membandingkan karyamu dengan karya orang lain justru akan membuatmu merasa tidak layak.
Padahal, menurutku. Sama seperti orang jatuh cinta dan menemukan peluk yang tepat. Tulisanmu juga akan menemukan pembacanya sendiri. Pasti akan ada pembaca yang menyukai tulisanmu.
Alih-alih membandingkan, better to stay focus on yourself and your goals. Kalau mau membanding-bandingkan terus, sampai kapanpun gak akan pernah selesai :)
Jadi, yuk mulai nulis!
Sekian, kalau ramai kita lanjut part 3, hehe. See you sooooon.
#cmiiw