Hari ini tak jauh berbeda dengan kemarin. Yera masih menjalani kehidupan keduanya, yang menurutnya tidak bermakna. Mungkin, karena orang-yang penting untuknya, tertinggal di dunia lain. Yera masih tak sadar Betapa beruntungnya ia.
Bel masuk pun berbunyi. Dan yang membuat hari ini berbeda adalah dengan datangnya murid baru. Ketika guru memasuki kelas bersama ia dibelakang nya, suasana kelas langsung riuh memuji lelaki itu. Tapi tidak dengan Yera yang tahu murid baru itu akan duduk di kursi kosong yang sebangku dengannya. Tak lama kemudian, murid itu bicara untuk memperkenalkan diri dengan suara beratnya.
"Perkenalkan nama ku, Kei." Dan, tanpa dipersilakan pun, ia langsung duduk di samping Yera.
Yera yang duduk di pojok itu, sengaja memalingkan wajah saat telinganya terasa panas mendengar omongan pelan dengan tatapan sinis murid lain.
"Lihat Yera, ia tak tahu betapa beruntungnya ia."
"Wajah sih, pelacur!"
"Kayaknya pake pelet, deh."
Yera mengepal tangannya berusaha menahan diri. Bukan karena disebut 'pelacur' ia marah tapi, saat mendengar ia orang yang tak tahu diuntung.
Kalianlah yang tidak tahu. Batin Yera.
Kei yang melihat Yera diam-diam menahan diri saat dibicarakan begitu merasa penasaran. Kebanyakan wanita memang tak bisa menahan diri. Key mengira pertempuran hebat akan dimulai namun, ia salah.
"Hei, beritahu aku nama mu." Kata Kei. Yera sengaja mengacuhkan nya dan memilih menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Merasa diacuhkan, Kei semakin penasaran. Ia mulai berkata lebih keras.
"Oi, telingamu sumbat?" Katanya sambil memainkan daun telinga Yera.
Yera bergidik geli dan menjauhkan telinganya. Ia memberikan tatapan super tajam pada Kei. "Kenapa, sih?" Katanya dengan wajah yang mulai memerah. Kei tertawa lepas melihat reaksi Yera.
"... Siapa nama mu?" Tanya Kei.
"Yera."
***
Yera menghempaskan tubuhnya di atas kasur untuk menghilangkan lelah. Dia berbaring terlentang menatap langit-langit kamar dengan posisi tangan terbuka. Napas lembut keluar dari hidungnya, saat ia memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara tawa gemuruh dari ruang tamu. Ia bangkit dan mencoba mencari tahu.
Padahal, baru saja ingin merebahkan tubuh sebentar, ada sesuatu lagi Yang mengusiknya. Saat dia menuju ruang tamu ia melihat adiknya berdua dengan seorang pria.
Harusnya aku tahu.. Batin Yera yang malas.
Inggit, adik perempuan Yera memang sering membawa pacar nya ke rumah. Yang aneh bagi era adalah pria yang Inggit bahwa berbeda-beda. Tapi, yang selalu dibawa adalah pria dengan jarak umur jauh berbeda dengannya.
Melihat kakaknya datang canda tawa Inggit dan pacarnya hilang seketika. "Kenapa, kak? Apa suara tawa kami mengganggu?" Kata Inggit dengan wajah seakan mengatakan iri kah?
"Kau... bawa simpanan lagi?" Tanya Yera terang-terangan. Mendengarnya detak jantung Inggit berdetak dua kali lebih cepat. Seakan yang dikatakan adalah rahasia terbesarnya.
"M-maksud nya apa ya, kak? Kamu sebagai kakak nggak berhak nuduh tanpa alasan yang tepat. Kamu kalo iri, bilang aja!" Kara Inggit mulai tersulut emosi demi menutupi kebohongan.
"Siapa bilang aku kakak mu? Aku cuma anggap... kamu anak dari istri ayah aku. Bukan... saudara dari ibu tiri aku." Balas Yera dengan santai.
"Kalau begitu kenapa kamu tinggal di rumah ibu aku?! Karena kamu, aku harus berbagi kamar yang udah sempit banget, tahu!!" Drakk! Inggit mendorong bahu Yera dengan keras.
Yera benar-benar tak paham cara berpikir adiknya. Dia baru berusia lima belas tahun tapi, sudah sering berganti pria. Yera berusaha mengenalnya, dan mengerti adik tirinya. Tapi, Inggit tak menyukai Yera. Oleh sebab itu, Yera tak pernah marah saat ingin memarahinya atas kesalahan Inggit sendiri.
"Kalau bukan karena ayah, aku juga tak mau tinggal disini... Apalagi tidur dikamar dengan cairan putih kental melekat di seprei kasur." "kata Yera yang memang sengaja memancing Inggit. Wajah Inggit Kian memerah. Pria asing yang mungkin berumur dua puluhan itu menaikkan alisnya, kebingungan.
***
Bel berbunyi, pertanda jam pelajaran pun berganti. Semua murid mulai berhamburan untuk mengganti pakaian dan bersiap pada jam olahraga. Begitu juga dengan Yera. Namun, siapa sangka? Di toilet ia mendapat gangguan aneh. Kelebat bayangan hitam secepat kilat menyambar nya. Baju olahraga Yera hilang tiba-tiba. Yera mengira ini hanya keusilan semata. Tapi, siapa yang bisa seperti itu saat ia sendirian di toilet?
Tatapan mata yera yang tajam bagai burung elang sangat mudah memperhatikan sekitar. Tapi, percuma mencari benda yang benar-benar sirna. Akhirnya, ia kembali ke kelas tanpa mengganti pakaian nya. Padahal, murid-murid lain sudah mulai berkumpul di lapangan.
Dikiranya kelas itu kosong. Ia terkejut saat melihat Kei masih duduk santai di mejanya. Kei pun dibuat bingung saat melihat Yera yang awalnya semangat tiba-tiba kembali dengan keadaan begini.
"Tidak olahraga?" Tanya Kei sambil menaikkan alis.
Yera masih sering tak menghiraukan nya. Ia menganggap kei tak pernah ada dan tetap berjalan ke bangku nya. Merasa tak dihiraukan lagi oleh Yera, Kei menarik lengan baju nya seperti meminta untuk manja.
"Kemana baju mu?" Tanya Kei dan berhasil membuat Yera menatap nya.
"Baju ku hilang." Kata Yera sejenak dan kembali menatap jendela.
"Mau pinjam baju olahraga ku?" Mendengar tawaran Kei, Yera langsung menoleh dan menghadap ke arahnya. Kei pun juga menyadari perubahan sikap Yera yang menatap nya lebih dalam.
"Memang ukuran nya sama?" Tanya Yera. Kei tak bisa menahan tawa saat Yera memandangi tubuh nya dari atas sampai bawah.
"Ntah, pakai saja." Yera pun terlihat semangat kembali mengikuti pelajaran kesukaan nya.
***
Malam pun kembali datang. Hujan deras membuat Yera berlindung di balik selimut nya. Angin malam menusuk hingga menembus kulit nya. Ia kedinginan. Ditambah aroma khas dari tubuh Kei yang melekat di badan nya. Dikamar Yera sendirian. Tapi, suasana malam membuat nya merasa ada sepasang mata yang memperhatikan nya.
Di saat ia membuka berbagai website horor di balik selimut nya, ia melihat bayangan seseorang berdiri tepat didepannya. Lampu mulai berkedip-kedip dan akhirnya mati. Selimut yang menutupi tubuhnya pun tiba-tiba ditarik kebawah kasur membuat Yera bangkit dan menyenter ruangan itu. Tubuhnya mulai gemetaran dengan suhu ruangan yang mendingin. Namun, bukannya berteriak ketakutan ia malah membisu saat melihat wujud dari bayangan itu.
"H-hiro?" Gumam nya pelan.
Seketika penglihatan Yera memburam. Memori 913 tahun lalu terungkit sedikit demi sedikit. Rasa pusing pun menyambar disertai nyeri pada pelipis nya. Keringat pun mulai keluar. Tapi, ia terap berusaha memandangi wajah Hiro yang mulai samar. Yera berlari dan memeluknya erat. Tak ingin kehilangannya lagi. Jarak tinggi yang berbeda jauh membuat Yera mendekap pada dada bidangnya. Dipeluknya tubuh yang penuh bercak darah itu.
"...jangan pergi." Kata Yera semakin memeluknya erat.
"hm?" Hiro mengangkat dagu Yera dan menatap mata nya dalam-dalam. Di situlah Yera kembali merasa tenggelam di mata biru Hiro. Detak jantung yang sama pun kembali berdebar-debar saat Hiro memainkan bibir Yera.
"Hiro, aku akan menghidupkan mu kembali. Janji." Kata Yera sambil menengadah menatap Hiro yang tinggi.
"Bagaimana caranya?" Dari bibir, tangan Hiro turun ke pinggang ramping Yera. Yera tampak tak peduli dengan sentuhan sensitif itu, walau sempat bergidik geli. "Bumi berbeda dengan dunia kita, lho." Sambung Hiro sambil mendekat kan wajahnya pada bibir Yera dan berhasil membuat wajah Yera memerah. Hiro dapat merasakan napas Yera.
"A-aku... akan pergi ke dunia tepat 913 tahun lalu..." Kata Yera sambil memalingkan wajah nya yang merah padam.
Tak tahan melihat tingkah gemas Yera, Hiro akhirnya kembali tersenyum setelah sekian lama. Hiro mengelus lembut pipi Yera.
"Pemberani..."
***
Malam ini keluarga Yera menghabiskan waktu bersama di rumah. Ibu masak di dapur ditemani Inggit. Ayah Yera menonton televisi tepat disamping Yera yang bermain ponsel. Yera dan ayahnya sangat dekat. Walau saat ini mereka terpaku pada benda yang berbeda, tapi mereka tetap bercanda.
"Oh iya, Yera. Du hari lagi ayah harus pergi ke luar negeri dalam beberapa bulan dengan ibu. Tolong jaga adik mu Inggit ya!" Kata nya sejenak menepuk-nepuk rambut Yera. Yera mengangkat alis kebingungan.
"Kenapa ayah percaya banget sama Yera...? Memang ayah nggak khawatir Yera sama Inggit ngelakuin hal aneh?" Tanya Yera, sedikit memiringkan kepala dengan polos.
"Lah, kenapa harus khawatir? Anak nya polisi kan harus visa dipercaya. Lagi pula, Yera mau jadi polisi kan? ikut ibu kandung Yera.." Membicarakan tentang ibu, wajah ayah jadi murung seketika. Yera tahu bahwa sang ayah sangat mencintai mendiang ibu nya.
Ting!
bel rumah berbunyi. Yera dan ayahnya bersama mengangkat alis. Sapa yang datang jam segini? Walau masih belum terlalu larut. Yera pun membuka pintu dan mendapati Kei lah yang datang ke rumahnya.
"Kenapa kesini? Tahu darimana rumahku?" Tanya Yera seperti mengintrogasi seseorang.
"Oi, diam lah. Aku datang ke sini untuk mengambil baju ku." Kata Kei. Tanpa disengaja ternyata sang ayah mendengar pembicaraan mereka dan ikut keluar.
"Siapa dia, Yera? Pacar mu? Wah, anak ayah sudah besar!" (meme coy, lupain dahh_-) Yera yang mendengar nya lansung menautkan alis pertanda kesal.
"Bukan. Dia datang untuk mengambil baju yang ku pinjam." Jawab Yera sambil memutar bola matanya malas. "Sebentar, aku ambil." Sambungnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayo masuk dulu. Teman sekelas Yera ya?" Tanya ayah, Kei pun mengangguk-angguk. Kei melangkah kan kaki nya masuk mengikuti ayah yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Inggit, tolong bawakan jamuan!" Teriak ayah seakan menyuruh pembantu membawakan makanan. Inggit tak bisa menolak dan menuruti permintaan sang ayah walau sempat mencibir kesal.
Tak perlu menunggu lama, segelas minuman pun datang dan jamuan lainnya.
"Nggak usah repot-repot, om. Bentar aja, kok. Haup! " Kata Kei tak menolak jamuan dari keluar Yera. Ia melahap cepat roti itu dan dalam sekejap. Ayah Yera hanya tertawa kecil melihat tingkah nya. Memang impian sang ayah dari dulu untuk memiliki anak laki-laki.
Tak begitu lama pertemuan mereka, semua nya sudah merasakan kehangatan masing-masing. Tapi, Yera tetap tak kunjung datang. Bahkan, sampai semua dari sekian banyaknya jamuan telah habis dimakan Kei dan ayah. Kei jadi khawatir. Apa jangan-jangan bajunya hilang? Atau, belum dicuci? Ternyata sang ayah pun merasakan hal yang sama.
"Kenapa Yera belum keluar juga? Kei, coba kau lihat apa yang terjadi pada Yera di kamar nya." Pinta ayah pada Kei. Kei menurutinya tanpa ragu. Lagi pula, kapan lagi bisa begini?
Kei mulai berjalan ke arah kamar Yera dan mulai terbayang-bayang di benaknya tentang apa yang akan terjadi di kamar. Kai memegang pegangan pintu, menarik nafas panjang untuk meluruskan pikiran.
Di bukanya pintu itu dan melihat keadaan di dalam. Rasa canggungnya berubah menjadi rasa penasaran saat melihat Yera a menyendiri di pojok ruangan. Jendela yang terbuka menghembuskan angin malam dan lampu yang dibiarkan mati. Yera duduk di sudut menyembunyikan wajahnya
Kei pun berjalan mendekat Yera si pojok ruangan yang gelap. Rambutnya yang berantakan berusaha menutupi wajah cantiknya yang menunduk. Kei berjongkok dihadapannya. Perlahan ia menepikan rambut yang menutupi wajah Yera dan mengangkat dagu kecilnya.
Yera tampak sangat terkejut melihat Kei masuk ke kamar nya. Tapi bagi Yera itu tak penting lagi. Saat melihat Kei, tanpa sadar Yera memeluknya sangat erat seakan meminta perlindungan. Ia tak berani melihat dan memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Kei. Sesenggukan tangis Yera mulai terdengar. Kei yang masih tak paham akan situasinya hanya mengusap-usap punggung Yera. Dia berbisik pelan di telinga Yera yang sensitif.
"Jangan menangis...."
Sekian lama aksi itu berlangsung, Detak jantung Yera akhirnya kembali normal. Aliran darahnya tak lagi memanas. Tapi, ia enggan melepas Kei dari pelukannya. Rasa nyaman mulai menjalar ditubuh Yera. Kei pun tetap mempertahankan posisi itu senyaman mungkin untuknya. Tapi karena masih bingung, ia mulai melihat sekeliling. Dan, tanpa sengaja mata Kei, melihat sepasang mata.
#Bersambung...
Pesan author:
Lanjutannya di novel Another Universe. Sorry jeleg bang, pemula...