Langit biru terbentang luas, awan-awan bagai kapas yang mengumpal di segala arah bergerak maju tertiup angin, melaju dengan lambat beriringan, tak ada
sedikitpun awan hitam. Semuanya cerah matahari juga bersinar hangat, tumbuhan
berwarna hijau, semilir angin yang berhembus, kombinasi yang indah bukan?
Adakah orang yang tidak menyukai kondisi seperti ini?.
Diana bergegas keluar rumah, menuju sebuah lapangan yang berjarak
sekitar 20 meter dari rumahnya. kampungnya dipenuhi oleh nuansa merah putih, setiap rumah yang berjajar di sepanjang jalan,sang merah putih berkibar dengan gagah. Pernak-pernik yang menghiasi kampung ini bermacam-macam.Sepanjang jalan dari atap ke atap rumah lainnya bendera kecil-kecil yang terbuat dari kertas minyak, mungkin. Menghiasi jalan ini dengan pola zig-zag.
Ada pula plastik-plastik berukuran kecil diisi air warna-warni kemudian
digantung di pohon-pohon,mirip pohon natal yang dipercantik aneka aksesoris.
Tembok-tembok yang dilukis sedemikian rupa. Wajah-wajah para pahlawan dengan senyuman manis dilukis persis aslinya,ada juga lukisan di tembok yang
mencerminkan perjuangan berperang melawan penjajah. Di lukisan itu kami
pribumi melawan hanya menggunakan tombak, sementara para penjajah telah
menggunakan teknologi modern, senjata-senjata modern misalnya pistol serta
senjata modern lainnya.
17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia, hari dimana negara ini bebas dari penderitaan selama hampir 350 tahun, hari dimana semua orang telah menunggunya,dimana orang-orang akhirnya tersenyum lebar, mata-mata itu
berbinar memancarkan kebahagiaan. Dan juga hari dimana Diana dilahirkan.
“Waduh,sebentar lagi perlombaanya dimulai.” Ucapnya resah.
“Untung saja sakit perutku tidak lama, aduh,Jangan sampai terlambat. Aku
harus bergegas cepat.” Kata Diana sembari berlari dengan kencang.
Hembusan angin meniup rambutnya yang tergerai panjang berwarna hitam
legam, bola matanya didominasi warna kecoklatan serta bulu matanya yang lentik,
menyuguhkan kecantikan alami yang diwariskan Ibu dan Neneknya.
Lapangan yang sudah penuh dikerumuni oleh masyarakat sekitar. Ibu-ibu,
Bapa-bapa, remaja,anak-anak, bahkan balita maupun batita hadir disana dipangku
oleh para Ibu. Semuanya menunggu acara lomba agustusan yang rutin dilakukan
setiap tahun.Ada yang hanya menonton, menjadi peserta dan yang mengurus
serta mengatur acara ini.
Macam-macam perlombaan ini diikuti oleh kalangan dewasa remaja dan
juga anak -anak dengan antusias. Karena lomba ini dikhususkan bagi semua
kalangan tanpa terkecuali dari mulai lomba makan kerupuk,balap karung, tarik
tambang, panjat pinang, lomba bakiak dan masih banyak lainnya. Lapangan yang
berukuran cukup besar ini dibagi beberapa bagian untuk memisahkan lomba
lomba itu.
Diana mengikuti lomba makan kerupuk, karena lomba ini bisa mengisi
perutnya. Bukan apa-apa ia hanya ingin memeriahkan 17 agustusan ini, sekaligus
hari ulang tahunnya. Bangga sekali baginya, karena hari spesialnya bertepatan
dengan merdekanya negeri ini. Negeri dimana ia dilahirkan serta dibesarkan.
Saat ia telah sampai di lapangan dengan nafas terengah-engah. Ia langsung menyiapkan diri lalu menempati posisi lomba makan kerupuk. Karena Diana tadi
telat jadi tidak ada waktu untuk ia rehat sebentar sekedar istirahat. Siap ataupun
tidak lomba makan kerupuk akan segera dimulai dalam 3 menit. Semua peserta
juga sudah berada di posisinya masing-masing.
“Aku pasti bisa kali ini, walaupun sebelumnya selalu gagal hari ini aku
akan berjuang,” tekad Diana dengan optimis.
“Semangat Diana sayang.!” Teriak seseorang dengan kencang.
Diana menoleh ke sumber suara itu, ternyata Ibunya sudah stand by untuk
menonton dan menyemangati dirinya.
Senyumnya mengembang rasanya ia
semakin bersemangat untuk lomba ini. Sementara di sisi Ibunya, Nenek Diana
yang sudah tua renta duduk di kursi roda datang melihatnya juga.Nenek terseyum lebar matanya berbinar menatap Diana. Menyemangati serta mendukung dengan
ekspresi khusus.
Pluit pun sudah ditiup dalam hitungan ketiga, kemudian Diana mulai
memakan kerupuk dengan sangat lahap. Kakinya berjinjit menggapai kerupuk
yang lebih tinggi dari mulutnya. Tangannya tidak diperbolehkan curang jadi
disimpan di belakang badan. Sulit sekali menghabiskan satu kerupuk saja, pikir
Diana.
“Ayo Diana, ayo, sayang kamu bisa.” Sahut Ibunya dengan sangat
bersemangat.
Ekspresi wajah Ibunya amat serius menatap lurus Diana dengan segudang
harapan,walaupun hanya lomba seperti ini tetapi rasanya sangat berharga.
Jantungnya berdegup kencang melihat anaknya sedang berjuang, serta tubuhnya
pun serasa panas, mulutnya tidak berhenti berbicara dan terus menerus
melontarkan kata kata dukungan untuk anak tercintanya.
“kriiiukk..” Ah,setengah sudah Diana menghabiskan kerupung yang
tergantung itu ,dan kau tau? Talinya itu tak berhenti mengayun kesana-kesini
seakan menghindar untukdilahap, seseorang jahil melakukan itu supaya lombanya
susah untuk dimenangkan.
Melihat Ibu yang sedari tadi menyemangati semakin membuat dirinya
berambisi untuk segera melenyapkan benda yang tergantung itu dengan
mulutnya,aku pasti bisa tekadnya dalam hati.
Sekitar bibir Diana sudah dipenuhi oleh sisa-sisa kerupuk berwarna putih.
Dirinya fokus menghabiskan kerupuk itu, tinggal dua gigitan terakhir Diana akan
berhasil.
Saat Diana telah memakan satu gigitan itu, telinganya menangkap sebuah
suara sorakan keberhasilan di sisi kanan dua orang sebelah dirinya. “Yey, aku
berhasil hore..” ucapnya sembari loncat-loncat kegirangan.”Kerupukku
habis..hore…”
Dan suara itu mengganggu kefokusannya. Diana menoleh ke orang itu lalu
beberapa detik kemudian orang yang di pinggirnya juga bersorak menang. Lalu
jantungnya serasa berhenti sedetik saja.Ia kebingungan, terhenyak. Ah tidak, aku
gagal lagi batinnya.
Satu gigitan terakhir itu ia lahap dengan gesit dan alhasil Diana menang
diurutan ketiga. Ia tidak bersorak bahagia hanya cemberut mengkerucutkan
bibirnya ia termenung sejenak. Kemudian langsung menghampiri Ibunya dengan
sedikit berlari. Lalu memeluknya begitu saja.
“Ibu aku kalah, maaf, selalu kalah lagi…” Isaknya pelan.
Diana hanya gadis berusia 10 tahun, ia punya ambisi untuk memenangkan perlombaan Agustusan selain karena hari ulang tahunnya itu, juga karena
Indonesia merdeka dihari itu. Indonesia negara yang amat ia cintai, ia banggai,
lantaran neneknya juga selalu membanggakan Indonesia. Sebab Indonesia
memiliki keragaman
suku, bahasa, budaya, makanan serta masih banyak lainnya. Pulau-pulau
yang indah,ah pokoknya menakjubkan.
“Haha sayang tidak apa-apa. Itu tadi sangat luar biasa” kata Ibunya
menangkan.” kamu tadi hebat sekali sayang. Itu juga kamu bisa jadi urutan ketiga. Tidak apa apa.” Ibunya mengusap kepala Diana dengan lembut penuh kasih
sayang.
“Tapi bu..”Rengek Diana
“Sudah sayang. jangan menangis, Ibu sudah bilang tidak apa-apa kan?!”
sahut ibunya dengan lembut.
Diana hanya mengisak pelan tidak mengiyakan dan juga tidak menolak
hanya terus memeluk Ibunya.”Ya sudah, kita ke pinggir dulu nak, kamu juga
harus beristirahat.” Ibunya mengusap air mata yang mengalir menyusuri pipinya
itu.
”Sudah,jangan menangis, kamu yang terbaik sayang.”
Diana mengangguk, wajahnya masih berantakan.”Kamu kesana duluan
sayang, Ibu mau mendorong kursi roda nenek.”
“Iya bu,” jawabnya pelan.
Setelah Diana,Ibu dan juga Neneknya sampai di sebuah kursi yang
berjajar di pinggir lapangan, kursi panjang itu berukuran seperti kursi yang biasa
tersedia di taman-taman . Yang di sediakan oleh panitia untuk orang yang ingin
beristirahat. Atau yang tidak kuat berdiri bisa juga untuk orang yang tidak
kebagian nonton di depan lapangan. Disediakan serbaguna pokoknya.
“Diana duduk dulu ya,temani Nenek, Ibu mau membeli makanan dulu
untuk kita.”kata Ibunya.
“Iya bu.” jawab Diana sembari mengangguk.
“Ibu, aku ke depan dulu beli makanan ya.” Kata Ibu Diana kepada nenek,
seakan menegaskan ulang.
Ibu lalu melenggang pergi membeli makanan-makanan
ringan dan juga kerk telor kesukn din,kerak telor ini makanan asli dari daerah
jakarta perpaduan bahan bahannya sangat menggugah selera, sebenernya sekedar
untuk agar Diana tidak bersedih lagi. Karena setiap tahun Diana tidak pernah
berhasil akan lomba lomba Agustusan yang Diana sukai. Pantas kalau dia
bersedih maka dari itu sebagai Ibunya ia akan membuat Diana selalu tersenyum.
“Dian jangan bersedih .”kata neneknya pelan.”kamu tidak bisa menyerah
karena satu lomba saja, masih banyak yang lainnya.”Nenek berbicara terbata bata
berusaha menghilangkan rasa sedih Diana.
Diana masih berwajah murung “Iya nek, dian tidak bersedih lagi.”
Nenek mengelus-elus kepala Diana dengan lembut. Diana duduk di kursi
panjang sementara Nenek di sisinya duduk di kursi roda.
“Kau tau Dian, Nenek senang, bahagia sekali saat melihat kalian, mereka
semua sangat antusias saat menyambut 17 agustusan. Menyambut kemerdekaan
negera ini. Menyambut kelahiran negeri ini.”
Din menatap nenek yang sedang berbicara, tatapanya jauh seakan
mengingat ngingat sesuatu.
“Dan kamu Dian,dirimu yang bersemangat sekali terhadap hari ini, Iya
nenek tahu karena hari ini hari kelahiranmu,tapi kamu begitu bahagia bukan
karena itu saja kan?” Tanya neneknya meyakinkan.
“Iya Nek, Dian bahagia juga karena hari ini, hari dimana indonesiaku bisa
merdeka nek.” Jawab Dian tegas.
Nenek tersenyum tipis, ia menghembuskan nafas berat. “Dahulu tidak
seperti ini nak, saat Nenek masih kecil. Tidak ada kebebasan sama sekali tidak ada
masa kanak-kanak yang indah.” Gumamnya.
Diana tak berkomentar apa-apa dirinya fokus mendengarkan
Nenek.“Semuanya berjuang melawan penjajah,bapak maupun ibu nenek, terus
menerus berusaha melindungi kami.” Lanjut Nenek suaranya memelan, sesuatu
tiba-tiba terasa menghantam jantungnya, sakit rasanya mengingat masa lalu.
“Saat itu Nenek tidak bisa apa-apa hanya anak kecil yang polos dan tak
mengerti apapun.”Tambahnya.
Nenek memegang dada dengan sebelah tangannya, sakit sekali.“Adik
Nenek yang masih beriusia 11 tahun, saat ia keluar rumah. Mereka menculiknya.
Para penjajah itu membawa dia entah kemana. Kami sudah mencarinya. Berhari-
hari berminggu-minggu .kami tidak menemukannya.” Air mata itu mengalir
begitu saja.
Diana mengerutkan kening, tak pernah melihat Neneknya seperti itu, ia
merasa khawatir.”Nenek….“ucapnya pelan.
“Dia masih kecil, tak tahu apapun, tapi mengapa mereka melakukan
itu,menculiknya. Nenek tidak tahu nasibnya sampai saat itu.”potong Nenek
meneruskan pembicaraan.
“Apakah ia baik-baik saja atau tidak, apakah ia masih hidup atau tidak.
Nenek tidak tahu. Mengapa harus seperti itu.”Gumam Nenek.
Matanya tiba- tiba menatap lurus raut wajahnya serius. “Dan saat
Indonesia merdeka, dimana anak-anak bisa bebas bermain, berekspresi. Tidak
tertekan ataupun dihalangi.”
“Semua orang mendambakan kemerdekaan ini dari dulu,kau tau mengapa
mereka menjajah negeri ini?”
Diana menggeleng.
“Karena negeri ini kaya akan sumber daya alam. Suku suku yang beragam
makanan rupa-rupa. Berbagai bahasa. Jadi saat melihat kalian sangat bersemangat
untuk menyambut kemerdekaan indonesia itu. Sama dengan kalian menghormati
dan menghargai kami yang berjuang untuk kemerdekaan indonesia itu.”Kata
Nenek dengan seksama.
“Nenek sangat bahagia melihat ekspresi kalian semuan ceria penuh canda
tawa dan rasa cinta kalian pada negeri ini.”Nenek tersenyum dan menggenggam
tangan diana.
Diana tak berkata apapun Ia hanya meresapi segala apa yang dikatakan
Nenek.
“Indonesia kita”.Sahut Nenek.
Diana ikut tersenyum.
“Berikan yang terbaik untuk indonesia ini nak, Sebagai pelajar kau harus
berjuang mengerjar apa keinginanmu itu cita citamu. Jika hanya karena satu
lomba saja kau langsung menyerah, bagaimana nanti? Masa depanmu itu masih
misteri tak ada yang tahu, masalah apa yang akan datang padamu kecil atau besar.
Kegagalan sekarang ini akan membentuk mentalmu agar nanti dimasa depan kau
bisa menghadapi badai yang menghadang dan kamu harus menjadi anak yang
berguna bagi bangsa dan negara.”Nasehat Nenek.
“Iya Nek, Dian akan membanggakan Indonesia, Dian berjanji. Terima
kasih Nek”Tekadnya.
.
.