Di tengah kesunyian malam, angin bernyanyi lirih mengiringi tetesan air hujan. Rembulan bersembunyi di balik awan hitam seakan malu menyaksikan kesedihan yang menyelimuti hati seorang gadis kecil, ia meringkuk memeluk tubuh mungil itu seorang diri di atas dipan kayu.
Bintang-bintang pun ikut menangis, meneteskan air mata ke bumi. Hujan deras turun tanpa henti, seolah menangisi kesedihannya. Angin berhembus kencang, seolah menghembuskan sejuta duka. Gelap gulita menyelimuti langit, seolah menutupi segala harapannya.
Habibah, anak yatim-piatu di saat usianya baru genap 5 tahun itu menangis tersedu-sedu, anak sekecil itu memikul segala pedih nan getir yang tak seharusnya ia tanggung. Tak ada siapa pun yang mau memberi bahu kokoh untuk sekadar sandaran diri. Habibah menangis, terisak, dengan hati yang kian sesak.