Jika ku hitung dengan jari, sudah lima jari yang aku lipat. Artinya sudah lima tahun lelaki itu pergi entah ke mana. Aku kira kisah yang diagung-agungkan oleh banyak orang akan berakhir mulus tanpa celah. Tapi takdir tidak bisa aku minta.
Waktu itu, kami tak sengaja bertemu, saat aku sedang berteduh di warung dan dia mewarkan payung. Macam laksamana yang melindungi tuan putri dari perompak di lautan. Gayung bersambut, kami jadi sering bertemu.
Satu waktu saat aku mengantar pekasam, makanan khas kampungku ke rumah nenek. Kami juga bertemu, tanpa sengaja di tikungan pertama. Aku jalan kaki menenteng rantang, hanya mengenakan training dan kaos oblong. Belum mandi sore, bau tanah karena merawat bunga-bunga yang ku tanam di halaman. Kami bertemu, ia menawarkan untuk mengantarku karena searah dengan jalan pulangnya.
Lagi-lagi aku bodoh untuk menumpang.
“Abang sering liat kamu jalan sore ke arah sini. Kebetulan searah juga dengan tempat abang menginap. Jadi gak ada salahnya kan ngasih tumpangan ke kamu”
Di bawah langit sore kala itu aku tersanjung dengan kebaikan hatinya.
Lain waktu lagi kami bertemu di beranda rumah Nenek. Ia mengenakan pakaian kasual, meneteng tas hitam. Lagi-lagi kontras dengan pakaian yang aku kenakan saat itu. Kami mengobrol lama di beranda rumah nenek sampai senja berubah menjadi gelap. Sedikit banyak aku tahu, kalau dia menjadi dokter tambahan di puskesmas daerah sini.
“Abang sukanya lagu-lagu lama, tau lagu kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kamu tahu?”
Aku tahu, ini lagu lama yang sering dinyanyikan bapak. Setiap sore kalau bapak ada waktu luang, di rumah selalu muter lagu ini. Tapi sayang aku gak tahu siapa penyanyinya. Bahkan lagu-lagu lawas yang gereja tua itu aku juga tahu. Sampai menit-menit berlalu kami hanya membicarakan lagu-lagu lama yang masih hitz di kalangan anak muda. Di aransemen ulang oleh penyanyi pendatang baru.
Ditemani secangkir kopi yang dibuatkan bibi, obrolan kami mengalir dengan lancar. Terjun bebas tak mengenal waktu. Dari yang aku simpulkan selama kami berbincang ria. Abang ini tipe orang asik kalau diajak ngobrol, semua hal dia tahu bahkan sampai hal-hal yang remeh ia sudah katam.
“Maksudnya gimana caranya orang-orang bersihin kaca yang ada digedung tinggi gitu?” katanya memastikan pertanyaanku yang aneh.
“Iya bang, apa mereka pakai tangga yang tinggi- gitu buat naiknya?”
Ia tertawa, sampai tangannya memegangi perut. “Iya enggak dong. Mereka punya pegawai khusus, jadi pakai semacam alat yang bisa dinaik turunin gitu. Abang lupa deh nama alatnya. Nanti ya kapan-kapan kalau Abang ada waktu dan kamu juga libur, kita jalan-jalan ke kota ya”
Aku hanya menganggung. Seikit percaya tapi ragu.
Sejak senja itu kami semakin dekat. Dibumbui beberapa pertemuan tak di sengaja, kami jadi semakin dekat. Abang jadi sering main ke rumah, menghabiskan waktu bersama bapak bermain catur sambil menghabiskan secangkir kopi. Sesekali mereka juga berbincang tentang penyanyi lawas yang jadi favorit bapak bertahun-tahun.
Di waktu yang lain mereka membahas hal-hal yang berat. Yang tak pernah aku pahami, seperti sepakbola. Membicarakan kemungkinan besar Indonesia akan menang melawan negara tetangga lalu lanjut ke kancah Internasional seperti Piala Dunia.
“Kan bisa aja Pak. Beli aja pemain dari luar negeri, kayak siapa itu namanya, Messi sama Ronaldo. Nanti kita bisa menang deh.” Kataku santai sambil menambahkan tanah ke pot bunga aster yang akan ku tanam.
“Ya enggak segampang itu dong dek” itu suara abang, aku tentu sudah khatam dengan intonasinya. “Kalau Indonesia mau beli pemain, duitnya banyak. Dari mana duitnya dong, kamu mau ngasihnya?” ia melanjutkan dengan jenaka kepadaku yang disahut tawa dari bapak.
“Ya cetak duit banyak-banyak, gampang kan. Kan Indonesia negeri yang kaya, orangnya lucu-lucu”
Mereka tertawa semakin kencang. Emang aku salah ya? Atau aku yang lucu gitu. Kan aku hanya bertanya yang menurutku perlu ditanyakan.
“Kamu yang lucu dek.” Abang menambahkan sambil tertawa. Sontak tawa bapak bertambah keras, bukannya membela anak gadisnya justru tambah terbahak.
“Aduh, kayaknya bapak harus pergi deh ini” iya deh aku emang lucu
Kami sudah cukup lama dekat, banyak senja yang kami lukis dengan cerita. Di warung angkringan atau sekedar bercanda ria di beranda rumak nenek setelah mengantar pekasam, makanan khas kampungku. Apalagi saat nenek ikut nimbrung, kami rasanya lupa waktu. Cerita tentang nenek yang ikut berjuang saat masih muda begitu menarik perhatian kami.
Saat penjajah datang membawa senapan, dan pejuang hanya bermodalkan bambu runcing. Juga tentang kisah cinta nenek bersama kakek yang penuh dengan perjuangan. Cerita saat mereka harus berpisah karena kakek harus merantau dan nenek yang mengurus anak. Saat mereka banting tulang, berjualan kain hingga ke kota seberang sampai pernah ditipu habis-habisan. Semauanya kami dengar berulang tanpa bosan.
Aku paling suka bagian cerita saat mereka menemukan anak kecil, seorang lelaki yang kini menjadi orang tuaku. Anak kecil kumal yang kerap disangka pencuri oleh pembeli dan pedagang, hingga bertemu dengan nenek yang kala itu sedang kesusahan. Bagi mereka bapak bukan lagi anak yang ditemukan, sudah seperi anak sendiri.
Abang betah di sini, katanya begitu. Dia berkata orangnya ramah-ramah, udaranya sejuk tapi sayang, akses internet kadang masih susah.
Kata orang kampungku, kami pasti bahagia. Lelaki tampan yang bersanding denganku sungguh beruntung. Siapa yang tidak kenal denganku. Dengan bangga aku mendkalasikan diri kalau aku cantik. Aku narsis tapi tidak seperti gadis-gadis di ftv yang harus pakai rok atau dress ke mana-mana. Bagiku pakai training dan berkaos sudah nyaman. Tentunya berbanding terbalik dengan abang yang selal rapi.
Aku anak SMA yang sedang berbunga hatinya. Sedangkan dia kumbang menawan yang jelas-jelas tak akan ada perempuan yang bisa menolaknya. Seorang dokter muda yang sudah mapan dan juga baik hati. Bahkan Nenek pun terang-terangan mengakatakan jatuh hati padanya saat ia ikut serta mengantarkan ikan pekasam buatan ibu.
Aku masih ingat, percapakan waktu itu di bawah rembulan yang mengintip. Kami berjalan ke arah rumahku setelah jajan di angkringan. “Abang lusa harus pergi” katamu singkat.
“Ke mana Bang?” Aku bukan pula tipe gadis sok tuli yang menurutku telalu menye-menye. Rasanya kalau bukan ditempat berisik, orang berbisik pun aku pasti dengan jelas dapat mendengarnya.
“Tugas abang sudah usai di sini. Puskesmas juga sudah ada petugas baru, jadi abang diminta dokter kepala untuk kembali ke kota”
Kami diam, tapi tetap berjalan hingga sampai depan rumahku. Kepalaku rasanya berisik sekali. Aku ingin melarangnya pergi, tapi aku sadar jika aku bukan siapa-siapa baginya. Mungkin dianggapnya aku hanya anak pak sekdes yang orang tuanya murah hati menyediakan tempat tinggal. Atau mungkin aku ini anak SMA biasa yang suka bergaul, dan bersedia menemai ia bertugas.
“Kamu mau ikut abang aja? Kuliah di kota, kan sebentar lagi selesai SMA”
Aku yang masih membisu hanya bisa mengangguk kecil. Kalau dipikir bisa juga, nanti aku rayu bapak agar bisa memberi izin kuliah di kota sebelah. Dengan perjanjian tidak akan aneh-aneh.
“Nanti abang bantu kamu nyari tempat tinggal di sana. Oke” katanya lagi sampil menggenggam tanganku.
Aku mengangguk.
Malam itu kami terakhir bertemu dan berbincang. Karena kepulangannya harus dipercepat, kami tidak ada waktu bertemu lagi. Hanya pesan singkat yang ia kirim padaku. Setelahnya aku melanjutkan hari-hari seperti biasa. Sekolah dipagi hari, main di sore hari atau setelah pulang ikut ibu berkebun di sebelah rumah. Semuanya aku lakukan dengan semangat seraya membayangkan saat kuliah aku akan lebih sering lagi bertemu dengan abang.
Tapi semua bayangku sirna. Beberapa minggu berikutnya aku mendengar kabar bahwa ia bertunangan dengan rekan sesama dokter. Tanpa pikir panjang aku langsung memblokir semua akses kami untuk berbicara. Tanpa aku tahu kelanjutannya. Sekarang sudah lima tahun, apa kabar abang di sana. Apakah abang jadi menikah, atau itu hanya kabar burung saja.
“Kau sudah lama di sampai di sini?”
Teriakan nenek dari jauh membuyarkan lamunan ku tentang abang. Aku emnghela napas, menghampiri nenek untuk membantunya naik tangga yang ada di depan rumah.
“Aku nih cuma tua, bukan lumpuh” Aku hanya tertawa.
“Ya kan aku berniat membantu, kali aja nenek susah naik ke sini”
“Berisik. Bawa sini pekasam itu.” aku menyerahkan rantang ke nenek. “Nah kau bawa ini masuk ke dalam, suruh bibi ganti wadahnya”
Eh ?
“Makanya jangan suka melamun jadi orang. Gadis kok suka melamun” nenek menampar pipiku pelan.
“Itu tad ... “
“Iya itu dia, kenapa kau mau ngajak balikan?” kalimatku langsung terpotong oleh ucapan nenek.
“Aduh ! kok aku ditampar lagi nek” aku mengaduh sambil memegang pipi yang sebenarnya tidak sakit
“Kau macam orang kesurupan bengong aja.”
Tunggu dulu. Aku melihat kakiku, kali aja kan ini mimpi. Kakiku gak ngambang kok, aku masih menapak, ini bukan mimpi. Aku juga masih jadi manusia, belum jadi mbak yang ditakuti banyak orang.
Aku mimpi gak sih?
“Hallo dek, apakabar? Sudah selesai belajar jadi dokternya?”
Aku langsung membalik badan, tidak peduli lagi pada nenek yang duduk di teras menatap kami. Bang mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dijarinya gak ada cincin, dilehernya juga gak ada kalung yang dibanduli dengan cincin.
Aku gak mimpi kan?