Di suatu pagi, saat langit biru menghiasi angkasa, burung-burung berkicau, disertai angin sepoi yang menyejukkan. Seorang siswa SMA tertentu menarik dan duduk di sebuah kursi, menaruh tas lalu mengambil sebuah pulpen. Dengan jari-jemari dia memainkan pulpen itu dengan lincah seperti seorang ahli, sampai kemudian berhenti karena bel masuk berbunyi. Seraya menaruh pulpen pada saku baju, laki-laki itu menelusuri jauh dalam lautan ingatan, tentang pertemuan pertamanya dengan pulpen yang sekarang seolah menjadi sahabat baginya.
Dulu, tepatnya satu tahun lalu, ketika laki-laki itu membeli pulpen dengan harga yang siswa SMA mana pun dapat membelinya. Pada dasarnya itu adalah pulpen biasa—setidaknya, dilihat dari tampilan luarnya memang sangat biasa saja dan murahan.
Dalam perjalanannya menuju rumah, tidak jarang dia mendapat pendengaran yang tidak diketahui dari mana, seakan menggema dalam kepala. Awalnya laki-laki itu mengabaikannya, menganggap itu tidak lebih dari halusinasi dan akibat dari kelelahan. Akan tetapi, semakin jarak antara dia dan rumahnya mengecil, pendengaran itu semakin keras seperti sedang memanggil-manggil. Ini bukan hal yang disebabkan oleh halusinasi, sakit kepala, maupun efek dari kelelahan. Seiring suara yang memanggil dirinya terus menggema, rasa sakit menjalar melalui setiap saraf dalam kepala dan otak. Itu tidak tertahankan dan pada akhirnya dia meminum satu pil obat penenang dan menutup mata, berharap rasa sakit itu hilang setelah dia terbangun nanti.
Namun, bukan sembuh yang didapatkan melainkan suara itu memanggilnya lagi. Kini, itu semakin jelas dan dapat dipahami kalau itu adalah bahasa manusia. Kata suara itu, dirinya sekarang dalam wujud sebuah pulpen, yang baru saja dibeli oleh laki-laki tertentu. Sontak lelaki yang sebelumnya telentang di atas kasur langsung mencari-cari dalam tasnya, sebuah pulpen hitam murahan yang siswa SMA mana pun dapat membelinya.
Meletakkan pulpen di atas meja, laki-laki itu duduk bersila. Tidak lama, suara-suara yang sama kembali menggema. Kali ini, itu berdialog langsung ke dalam kepalanya seperti sebuah telepati.
Pulpen itu menamakan dirinya sebagai Rukh. Kemudian Rukh berkata, melalui telepati, kalau seharusnya laki-laki itu bersujud syukur karena berhasil mendapatkan dirinya. Dia juga bilang, laki-laki itu boleh berbangga atas dirinya sendiri karena sudah mendapat dan memperoleh kemampuan untuk berbicara dengannya. Selain itu, pulpen tersebut mengucapkan kata-kata bahwa dia sanggup mengabulkan satu permintaan, apa pun itu. Harta, takhta, dunia, kuasa, bahkan kiamat sekalipun. Meski, sebelum mulai mengatakan sebuah keinginan laki-laki itu harus mendengar beberapa celoteh pulpen bernama Rukh itu.
Dikatakan oleh Rukh, bahwa dirinya dahulu adalah sosok roh agung, yang selalu dicari baik oleh manusia, hewan, maupun iblis—tidak, bahkan semua makhluk dunia berebut demi kemurahan hatinya.
Rukh hadir jauh sebelum manusia pertama diciptakan. Dengan kata lain, dia lebih tua daripada sejarah manusia itu sendiri. Dapat dikatakan kalau Rukh setara dengan para malaikat. Selain sebagai rekan para malaikat ia juga ikut terlibat dalam proses-proses atau momen-momen terbentuknya semesta. Sesekali juga memperdalam hubungan dengan umat manusia, meski berakhir canggung dan melonggarnya tali hubungan di antara keduanya.
Waktu itu adalah ketika manusia pertama kali mengenal agama. Rukh tidak lagi berupa roh agung, namun dia dimasukkan dalam wujud sebatang pohon, kendi, lampu ajaib, hingga akhirnya menjadi sebuah pulpen. Proses ini memakan waktu setara atau mungkin lebih lama daripada sejarah manusia itu sendiri.
Tugasnya adalah sama, yaitu memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk mewujudkan keinginannya apa pun itu. Ini tidak berubah bahkan sedari wujud fisik pertamanya sebagai sebatang pohon di tengah gurun pasir.
Adapun syarat-syarat yang wajib dipenuhi supaya keinginan apa pun itu dapat terwujud, di antaranya ialah mempunyai hati bersih nan suci, percaya sepenuh hati kepada Rukh, dan yakin bahwa keinginan itu berasal dari dalam dirinya sendiri dan bukan atas kehendak pihak tertentu.
Lelaki itu paham, lalu mengangguk ringan.
Laki-laki yang duduk bersila setuju dengan syarat-syarat yang diajukan. Pun sama dengan Rukh—dia suci, tidak ada niatan tersembunyi ataupun paksaan dari pihak lain, dan yakin kalau apa yang hendak dikatakan laki-laki itu benar-benar berdasarkan nurani. Maka, keinginan apa pun itu kini dapat terkabul semudah mengembuskan napas.
Sudah sedari dulu laki-laki itu ingin sekali mengucapkan kata-kata yang terpendam dalam benaknya. Setiap kali dia mencoba hasilnya selalu nihil, seakan sudah takdirnya kalau memang dirinya harus hidup seperti itu. Namun, kini, saat ini, sekarang juga, di hadapannya, sebuah pulpen yang mampu merealisasikan keinginan, harapan, atau apa pun itu.
Hidupnya dipenuhi dengan sayatan luka baik fisik maupun batin. Itu berlalu sudah sejak lama, seakan kini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Hanya ditemani kesendirian, dia terus bertahan. Kedua sosok yang melahirkan dan mengasuh dirinya sedari kecil sudah lama tiada, semenjak dia menginjak taman anak-anak. Bagi lelaki itu, hidup tidak lebih sebagai penderitaan dan akan terus menderita. Pemahaman ini tentu berasal dari pengalaman nyata seorang laki-laki tertentu.
Bagaimana laki-laki itu mampu bertahan sampai saat ini adalah keyakinan dirinya akan harapan yang kelak terwujud. Harapan, yang meski bagai mimpi belaka, tetapi ia tetap berkeinginan supaya harapan itu terealisasikan. Itu adalah egoisme terakhirnya juga sebagai kepasrahan dan bentuk penerimaan.
Maka, dengan segala keberanian dan tekad yang bulat, dari lubuk hati terdalam, seolah sudah sangat lama agar hal ini terwujud. Sedikit meneteskan air mata, laki-laki itu pada akhirnya mengucapkan sebuah kalimat.
"Maukah kau menjadi sahabatku?"