Saat kecil, Andi dan aku adalah sahabat tak terpisahkan. Setiap hari, kami akan berlari pulang sekolah menuju Hutan Belakang Sekolah untuk petualangan tak terlupakan. Namun, seiring berjalannya waktu, Andi tiba-tiba menghilang dari kehidupanku. Orang tua Andi memberi tahu bahwa dia pindah ke sebuah pulau yang jauh.
Tahun-tahun berlalu, dan keingintahuanku membawaku kembali ke hutan itu. Ternyata, di belakang situlah sekolah kami yang dulu pernah begitu ramai, kini tinggal reruntuhan yang ditinggalkan. Bangunan itu hampir roboh dan hutan yang dulu menjadi tempat kami bermain, kini tak lagi terurus.
Saat aku melangkah masuk ke dalam hutan yang kini tak terawat, ingatanku segera mengambil alih. Hutan itu begitu penuh dengan kenangan masa kecil, tetapi kali ini, suasana terasa berbeda. Angin yang berdesir di antara pepohonan membuatku merasa seolah-olah ada mata yang memperhatikan, tapi aku merasa sepi.
Hutan itu dulu adalah tempat kami bermain sepanjang hari, mengeksplorasi setiap sudutnya dan menciptakan petualangan-petualangan sendiri. Namun, kini hutan ini tampak menyeramkan. Bayangan-bayangan pepohonan dan suara-suara yang mengerikan seperti desisan angin menghantui setiap langkahku.
Aku mencoba untuk menemukan tempat di mana kami dulu sering bermain. Namun, semuanya tampak berubah. Bahkan reruntuhan sekolah yang tadinya tempat kami mengejar satu sama lain, kini telah dikuasai oleh tanaman liar yang tumbuh tak terkendali. Bangunan yang dahulu menyimpan kenangan, sekarang hanya tinggal puing-puing dan sedikit bangunan yang masih bertahan.
Dalam keheningan yang menakutkan, aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengamatiku dari balik pepohonan, sesuatu yang tak bisa kulihat. Aku merasa semakin terjebak dalam nostalgia yang kini berubah menjadi ketakutan yang membelenggu.
Sambil merenung, aku teringat saat kami dulu mengubur sesuatu di hutan ini. Aku mencari dan menggali di tempat itu, dan benar saja, aku menemukan sebuah benda yang tidak pernah aku atau Andi tulis. Ini adalah surat misterius, bertuliskan, "Jika kamu menemukan Surat Ini, maka sudah saatnya kau menemukan aku - Andi."
Saat aku membaca surat itu, suasana mulai berubah. Angin berhembus keras, dan langit yang tadinya cerah menjadi mendung. Pohon-pohon hutan bergoyang tanpa henti mengikuti arah angin yang semakin deras. Aku merasa tegang, seakan ada sesuatu yang menunggu di dalam hutan ini.
Aku merasa seolah-olah ada mata yang memperhatikan setiap gerakanku. Suasana yang tadinya dipenuhi kenangan indah masa kecil, kini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Aku terus membaca surat itu, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Aku melihat bayangan anak kecil yang tidak dikenal di balik pohon. Matanya bersinar dengan warna yang tak wajar. Aku merasa rasa takut yang tak bisa dijelaskan. Aku mencoba untuk melarikan diri dari hutan ini, tetapi tampaknya aku terjebak di dalamnya.
Semua yang ada di sekitar hutan menjadi semakin mencekam. Aku merasa bahwa apa pun yang terjadi, ini bukan lagi tempat yang dulu aku kenal. Aku mencari jalan keluar dengan hati berdebar, tetapi semuanya menjadi semakin gelap dan misterius.
Aku melanjutkan perjalananku dalam kebingungan yang semakin membesar. Hutan ini terasa semakin gelap, dan suara-suara aneh seakan memenuhi udara. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tetapi aku merasa bahwa aku harus menemukan jalan keluar secepat mungkin.
Tiba-tiba, di tengah keheningan yang menakutkan, aku melihat seorang kakek tua yang membawa tas ranjang yang penuh dengan ketela. Pertemuan kami yang tiba-tiba ini membuatku merasa curiga, dan aku merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, aku memutuskan untuk bertanya padanya, mencari petunjuk untuk keluar dari hutan yang semakin mencekam ini.
Aku mendekatinya dan bertanya, "Kek, di mana jalan keluar dari hutan ini?" Dengan suara yang serak, kakek itu menjawab sambil tertawa pelan, "Kakek tidak bisa membantu mu, nak. Kakek hanyalah seorang bawahan. Tapi, ada seseorang di tengah hutan, di sebuah rumah kayu, yang mungkin bisa membantu mu." Kata-kata kakek itu membuat rambutku merinding.
Kemudian, tanpa jejak, kakek itu tiba-tiba menghilang, seolah-olah dia hanya menjadi bayangan semu. Aku merasa semakin sendirian dan terjebak dalam kebingungan yang semakin mendalam. Tapi, aku harus terus maju, mencari rumah kayu itu, mencari jawaban, dan mencari jalan keluar dari hutan ini yang penuh dengan misteri dan ketakutan.
Setelah berjalan cukup jauh ke dalam hutan, aku akhirnya menemukan rumah kayu yang dimaksudkan oleh kakek tadi. Dengan hati berdebar, aku mengetuk pintu rumah itu, meskipun rasa ketakutan masih menghantui diriku. Pintu itu terbuka perlahan.
Di dalam, aku melihat bayangan seorang pria. Pria itu menatapku dengan tatapan yang aneh, seakan-akan sudah menunggu kedatanganku. Dia berkata, "Itu kamu ya?"
Aku menjawab dengan ragu, "Kamu?" Pria itu tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar, "Ini aku, teman lamamu dari SD, namaku Andi. Silakan masuk."
Aku memasuki rumahnya dengan hati-hati, dan suasana menjadi agak lebih tenang. Aku mencoba untuk melupakan kejadian-kejadian mengerikan yang baru saja aku alami. Andi, teman lama dari masa SD, menyambutku dengan ramah dan menawarkan makanan yang sudah ia siapkan.
Kami duduk bersama, dan aku merasa ada perubahan suasana dari yang sebelumnya mencekam kembali menjadi lebih tenang. Kami pun mulai berbincang. Andi menceritakan tentang pekerjaannya sebagai penjaga hutan dan mengapa ia memilih hidup di hutan ini.
Saat dia menceritakan ceritanya, aku merasa ada yang aneh, sesuatu yang tidak aku bisa pahami. Tapi aku mencoba untuk menjaga ketenangan dan tetap mendengarkan. Hutan ini, dengan semua misterinya, menjadi latar belakang percakapan kami. Dan meskipun aku ingin lupa akan pengalaman mencekam yang aku alami tadi, bayangan-bayangan itu masih menghantui pikiranku. Apakah semuanya hanyalah ilusi, ataukah ada rahasia yang lebih dalam di hutan ini?
Ketika Andi bertanya bagaimana aku bisa sampai ke sana, aku pun menjawab dari pengalaman melihat bayangan anak kecil dan kakek yang aneh tadi. Tiba-tiba, wajah Andi berubah, dan tubuhnya berubah menjadi kecil seperti seorang anak. Wajahnya banyak luka dan berlumuran Darah, dan matanya terlihat hitam seperti yang aku lihat tadi. Kemudian, ia berteriak dengan keras.
Aku panik dan berlari secepat mungkin, tanpa benar-benar memikirkannya. Aku berlari tanpa tujuan dan akhirnya terjatuh, pingsan. Saat aku akhirnya sadar, aku mendapati diriku di bangunkan oleh seorang bapak.
Bapak itu bertanya dengan khawatir, "Mas, mas, kenapa tidur di sini? Tempat ini sudah ditinggalkan, tidak ada lagi yang berani datang ke sini." Aku bingung dan bertanya perlahan, "Pak, bapak siapa? Aku di mana?"
Bapak itu menjawab, "Saya warga dekat sini. Saya sedang menjaga sapi ternak saya, lalu saya melihat Mas terbaring di belakang bangunan sekolah ini. Saya langsung datang ke sini dan membangunkan Mas." Aku berterima kasih kepada bapak tersebut.
Lalu, aku bertanya pada bapak, "Pak, pernahkah bapak melihat penampakan anak kecil di sini?" Bapak itu menjawab, "Oh, sering, Mas. Biasanya lari-larian di sini. Makanya saya langsung bangunkan Mas saat melihat Mas pingsan di sini." Bapak itu melanjutkan, "Rumor di sini Dulu mengatakan ada anak yang bermain di sini sendirian dan kemudian tersesat di hutan ini. Sampai sekarang, mayatnya tidak pernah ditemukan, bahkan orang tuanya mengatakan bahwa anak itu sebenarnya sekolah di tempat lain."
Aku merasa kaget dan mengerutkan kening. Itu berarti bahwa yang aku lihat tadi mungkin adalah Andi (pikirku dalam hati). Aku berterima kasih lagi kepada bapak tersebut dan berpamitan untuk pulang. Aku masih memikirkan nya di dalam hatiku kenapa aku bisa bertemu sosok Andi di Hutan ini. Saat aku meninggalkan hutan, dari kejauhan, sesosok bayangan anak kecil di tengah hutan terlihat melihat ku, ia kemudian berkata "Selamat tinggal, temanku." Dan menghilang dalam kegelapan hutan.
*TAMAT*