Saat itu, adalah waktu pagi yang tenang. Gadis itu terbangun untuk masuk ke kamar mandi. Dan terlihatlah setelah mandi, langit pagi menyambutnya. Sungguh amat indah langit biru pagi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kattara keluar kamar setelah memakai bajunya dan berdandan rapi. Terlihat ada sang ayah, ibu dan kakaknya, Sokka. Keluarga Taulania itu berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Kattara begitu bersemangat untuk sarapan hari ini. Dan segeralah ia berangkat ke kampus barunya. Sementara Andre (sang ayah) dan Sokka ke kantor untuk bekerja.
Di kampus barunya, Kattara mencari tempat untuk membaca bukunya dulu. Terlihat amat megah dan mewah gedung kampus ini. Bagaikan hotel bintang lima. Hingga ia bertemu seorang gadis yang dikenalnya.
"Hei, Toph Beifong!" serunya memanggil temannya itu.
Itu adalah sahabatnya, Toph Beifong. Sahabatnya sejak masih duduk di bangku SMA dulu.
"Lho, Kattara! Kaukah itu?" tanya Toph tak percaya.
"Iya, ini aku!" jawab Kattara.
Keduanya saling berpelukan. Mereka pun berjalan bersama. Sambil mengobrol dan kebetulan mereka satu jurusan.
"Ku kira, kau sungguh-sungguh kuliah di Jakarta. Ternyata, tetap kuliah di Bandung juga," ucap Toph.
"Tidak jadi. Ayahku batal memindahkan Sokka ke sana," balas Kattara.
"Oh...pantas saja. Baguslah! Jadi, aku nggak akan kesepian di sini."
"Tidak akan. Bukankah kau sudah ada Aang?"
"Aang memang masih berhubungan denganku. Tapi, dia tidak kuliah lagi di sini. Dia pindah ke Bogor."
Kattara mengangguk paham. Hingga ketika sedang berjalan, tiba-tiba Kattara menabrak seseorang. Hingga beberapa buku yang ia bawa berjatuhan.
"Ah, maaf! Aku tak melihat-lihat!" seru orang itu meminta maaf. Suaranya terdengar pria.
Kattara hanya terdiam. Namun ia bersama dengan pria itu mengambil buku yang berjatuhan itu. Hingga tak sengaja, Kattara dan pria itu memegang salah satu buku bersamaan. Disadari atau tidak, kedua tangan mereka saling bersentuhan. Dan keduanya saling beradu pandang.
Toph yang melihat langsung mencairkan suasana, "Ehem! Sudah belum ambil bukunya?"
Kattara dan pria tinggi itu mulai sedikit goyah. Pria itu yang mengambil buku Kattara dan memberikannya.
"MMM...ini bukunya! Sekali lagi, aku minta maaf!" ucap pria itu sambil memberikan bukunya.
Kattara menerimanya sambil membalas, "Tak apa-apa."
Toph melihat siapa yang Kattara tabrak. Ia pun menyapa pria itu, "Eh, hai Zuko!"
Pria yang bernama Zuko itu melirik Toph dan membalas, "Euh, Toph! Hai juga!"
Kattara mengangguk paham. Rupanya nama pria itu Zuko. Zuko kembali meminta maaf dan pamit pergi, sambil mengutak-atik ponselnya. Lalu menempelkan ponselnya ke telinga kiri.
"Toph! Siapa dia?" tanya Kattara dengan sedikit berbisik.
"Zuko? Dia itu primadona kampus. Dia disebut "Pangeran kampus". Sekaligus juga kapten basket di kampus ini. Dia banyak penggemarnya dari kalangan perempuan di sini. Walaupun ada sedikit bekas luka bakar di mata kirinya. Untungnya sih, itu tidak membuatnya buta sebelah," jelas Toph.
Kattara mengangguk paham. Ia bertanya lagi, kini sambil berjalan, "Bekas luka bakarnya kenapa?"
"Katanya sih karena kecelakaan gitu. Di waktu usianya masih 13 atau 14 tahunan," jawab Toph.
Kattara mengangguk paham lagi. Keduanya berhenti bicara sesampainya di kelas.
***
Siangnya, Kattara duduk sendiri di taman kampus. Toph pulang sendiri karena ada urusan keluarga mendadak. Untungnya selesai kuliah hari ini. Namun, Kattara masih belum mau pulang sekarang.
Sampai datanglah seorang lelaki yang beda. Kattara meliriknya. Bukan, itu bukan Zuko. Lelaki itu nampaknya menyukai Kattara langsung.
"Hai! Nama gue Jet! Gue dengar, loe mahasiswi baru di kampus ini," ucap lelaki bernama Jet itu. Sambil mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.
Kattara nampaknya tidak terlalu suka Jet. Namun, ia balas sapaan Jet, "Aku Kattara. Iya, aku mahasiswi baru di sini."
"Boleh gue duduk sama loe?"
Kattara tiba-tiba sedikit takut. Namun ia izinkan Jet duduk dengannya. Jet duduk di sebelah kanan Kattara. Sementara Kattara malah terus fokus pada buku yang dibacanya.
Jet berusaha menarik perhatian Kattara, "Loe...gue lihat cantik juga ya!"
Mendengar pujian itu, Kattara hanya tersenyum kecil. Dan kembali fokus ke bukunya. Masih tak mau menyerah, Jet menarik perhatian Kattara lagi.
"Hei! Sekarang ada acara nggak?" tanyanya dengan nada sedikit merayu.
Kattara jadi makin takut. Ia menutup bukunya dan menjawab, "Mmm...nggak sih. Emang kenapa?"
"Oh...kalau gitu ikut gue aja! Mau, ya?"
"Kemana?"
"Ikut aja dulu. Ke tempat enak pokoknya."
Mulailah Kattara di titik takutnya. Ia berusaha menjauh dari Jet. Ia menolak perlahan ajakan Jet barusan. Namun, Jet malah memaksa, dengan nada yang semakin merayu.
Semakin tak tahan, Kattara meminta tolong. Dengan sedikit menjerit. Hingga datanglah Zuko ke tempat itu.
"Heh! Bukan gitu cara hadapin wanita!" seru Zuko geram. Kattara berlindung di belakang Zuko.
Jet mulai marah melihat kedatangan Zuko. Pria itu akhirnya membalas dorongan Zuko barusan padanya. Dan keduanya berkelahi. Hingga akhirnya babak belur, dan Kattara berhasil melerai keduanya. Ia pun meminta Zuko untuk pergi.
Zuko menurut. Dengan wajah yang ditambah luka biru dan mimisan dari hidungnya membuatnya harus menyerah. Segera saja Kattara membawanya ke mobil Zuko sendiri.
Jet semakin marah. Ia akan membalas perbuatan Zuko barusan. Dengan luka biru dan merah di wajahnya juga, membuatnya harus menyerah.
Di mobilnya Zuko, Kattara mengobati Zuko. Pria itu hanya merintih kesakitan di wajahnya. Darah mimisannya juga dihapus oleh Kattara dengan perlahan, menggunakan tissue basah.
"Tahan sebentar ya!" ujar Kattara.
"Akh! Sakit banget!" seru Zuko lirih.
Setelah sedikit membaik, Zuko melirik gadis baru di sebelahnya. Ia sedikit malu untuk bicara. Namun, akhirnya ia bisa melakukannya.
"Kita belum sempat kenalan. Nama kamu siapa?" tanya Zuko.
Kattara melirik, dan menjawab, "Namaku Kattara."
"Zuko!" ucap Zuko menyebut namanya.
"Aku sudah tahu dari Toph. Dia teman SMA-ku dulu."
Zuko hanya mengangguk paham. Keduanya terdiam sejenak. Hingga Zuko melirik Kattara lagi dan berkata, "Lain kali kalau ketemu Jet lagi, kabur atau panggil aku! Dia laki-laki berakhlak ancur. Pokoknya cowok gila dia!"
"Pantas dia terus merayuku begitu tadi. Namanya juga baru kenal. Jadi wajar aku baru tahu sekarang," balas Kattara.
"Iya. Terima kasih kau telah membantuku tadi!"
"Aku juga berterima kasih karena kau sudah menolongku!"
Zuko dan Kattara saling beradu pandang lagi. Keduanya tersenyum. Hingga Zuko menawarkan Kattara untuk diantarkan pulang. Kattara menerima.
***
Dua minggu sudah berlalu. Kattara dan Zuko semakin dekat. Sampai akhirnya, Zuko akan menyatakan cintanya pada Kattara. Ia sudah membeli bunga, dan berdandan setampan mungkin ke kampus.
"Tumben rapi banget! Pakai parfum segala. Mau kencan atau ke kampus?" tanya adiknya Zuko, Azula. Yang masih duduk di bangku SMA kelas 3.
"Ke kampuslah. Nggak ada salahnya 'kan aku berubah," jawab Zuko sambil menyisir rambutnya.
"Mulai naksir cewek di kampus Abang ya?"
"Cerewet loe, ah!"
Azula hanya tertawa cekikikan melihat kakaknya yang tiba-tiba berubah itu. Memang biasanya, Zuko hanya memakai baju pergi apa adanya. Dan menyisir rambutnya pun asal-asalan. Serta tak pernah memakai parfum. Ia hanya akan memakai parfumnya jika pergi ke acara-acara.
Tapi sekarang, ini jauh berbeda 180⁰. Zuko jadi menyisir rambutnya serapi mungkin. Dan ini memakan waktu cukup lama. Ternyata, ia menyisir rambut selama 5 menit. Ia juga memakai parfum cukup banyak. Zuko juga menyemprotkan parfum itu ke ketiaknya juga, walau ketiaknya sudah wangi karena deodoran.
"Nah, beres juga!" serunya singkat sambil tersenyum.
Zuko segera mengambil kunci mobilnya dan membawa tas ranselnya. Tak lupa bunga di pegang di tangan, agar tidak hancur. Akan tetapi, keanehan mulai terjadi.
Zuko merasa kepalanya seperti pusing. Matanya seperti berkunang-kunang. Namun, ia menyangka mungkin ini hanya karena kurang tidur. Pusingnya pun hilang, dan lanjut berjalan keluar kamar.
***
Sesampainya di kampus, buru-buru Zuko keluar mobil. Ia membawa tas dan rangkaian bunga itu. Sambil melihat kesana-kemari, mencari-cari Kattara. Terlihat Kattara tengah mengobrol sambil bercanda tawa dengan Toph di kantin.
Zuko segera mendekatinya. Ia memanggil Kattara. Dua gadis yang didekatinya sedikit kaget. Apalagi, Toph merasa sangat tak tahan dengan aroma badan Zuko yang terlalu wangi karena parfumnya yang cukup banyak dipakai.
"Zuko! Ada apa, kau terlalu wangi?" tanya Toph sambil menutup hidungnya.
"Untuk hal romantis pada seorang wanita hari ini," jawab Zuko.
"Siapa maksudmu?" tanya Kattara.
Zuko segera memberikan bunganya pada Kattara. Kemudian menjawab, "Kamu!"
Kattara dan Toph kaget. Terlihat oleh para mahasiswa/siswi lainnya di momen itu. Sungguh amat romantis.
Dengan nada manja, Zuko berlutut dan bertanya, "Kattara! Maukah kau jadi pacarku?"
Satu kantin heboh, termasuk juga Toph. Banyak yang meneriaki Kattara untuk menerima cinta Zuko. Toph juga ikut meneriaki kata "terima". Hingga akhirnya, Kattara menerima cinta dan bunga dari Zuko.
Zuko tentu senang sekali. Cintanya diterima. Di saat itulah, Zuko mengecup pipi Kattara dengan tiba-tiba. Kantin kembali heboh dengan suitan romantis. Toph melihatnya hanya dengan tersenyum.
***
Di rumahnya, Zuko memperhatikan ponselnya. Ada foto yang dipotret oleh Toph di kantin. Foto itu adalah fotonya berduaan dengan Kattara. Ada dua foto yang ia miliki. Yang satu saat merangkul, yang satunya lagi saat saling berciuman.
Namun ditengah kebahagiaannya, tiba-tiba Zuko merasa kepalanya pusing lagi. Dan ia merasa mual. Segera saja ia berlari ke kamar mandi. Terlihat di bak cuci tangan, Zuko muntah darah. Tak hanya itu, tambah lagi ia mimisan. Hidungnya mengucurkan darah. Cairan merah itu menetes juga ke bak.
Segera saja Zuko mengambil sehelai tissue di sebelah tempat penyimpanan sabun. Ia berusaha menghilangkan darah mimisannya. Namun, kejadian tak diinginkan terjadi. Zuko jatuh pingsan. Terlihat oleh Azula yang hendak masuk ke kamar mandi. Segera ia panggil kedua orang tuanya.
Sekeluarga panik. Zuko dilarikan ke rumah sakit. Ia langsung masuk ICU. Dokter memeriksanya cukup lama. Hingga hasilnya keluar, setelah menunggu 10 menit. Hasil menyatakan, Zuko mengidap penyakit kanker. Satu keluarga bersedih. Ini membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
***
Besoknya, Kattara mendapat kabar dari Toph tentang kondisi Zuko. Toph tahu itu dari Azula. Hingga keduanya berniat akan menjenguk Zuko sepulang kuliah nanti.
Begitu sampai di rumah sakit, belum ada tanda-tanda Zuko tersadar. Ia masih terbaring koma. Cairan infus sudah terpasang. Ditambah lagi ventilator yang menutupi hidung dan mulut. Monitor masih menunjukkan detak jantungnya masih berfungsi. Garis itu masih kusut berliku-liku.
Baru saja mengalami kebahagiaan, kini Zuko harus menerima dulu cobaan berat. Ia terbaring lemas tak berdaya. Matanya tertutup rapat sekali. Kattara menangis. Tak tega melihat Zuko seperti ini.
Ia dirangkul oleh Toph. Dipeluk dan ditenangkan. Kemudian berdoa, semoga Zuko segera sadar. Nampaknya, doa Kattara lebih kuat dengan ibunya Zuko. Terlihat oleh Toph, jari Zuko sedikit bergerak. Ini pertanda pria itu akan segera sadar. Dokter pun dipanggil.
Dokter menyatakan Zuko akan segera pulih. Namun, masih harus menunggu dengan waktu yang lama.
Kattara menggenggam tangan Zuko dengan erat. Ia cium telapak tangan itu. Setelah menciumnya, Kattara berkata, "Tolong, Sayang! Bangunlah! Aku selalu merindukanmu, bersama keluargamu!"
Keajaiban terjadi. Zuko membuka kedua matanya perlahan. Ia lihat keluarganya dulu, barulah menoleh ke arah Kattara. Pria itu tersenyum.
Dengan senyuman dan suara lirih kecil, ia menyebut nama Kattara. Gadis itu tersenyum dan membalas, "Aku disini. Selalu di sini untukmu."
Suara lirih rintihan terdengar kembali. Zuko berkata, "Terima kasih...kau...selalu disini!"
Kattara mengangguk pelan. Ia membalas, "Iya. Aku selalu disampingmu!"
Setelah mengatakan itu, Kattara mencium dahi Zuko. Akan tetapi, itu membuat Sang Maha Kuasa berkehendak lain. Tepat setelah Kattara mengecup dahi Zuko, layar monitor memberikan garis lurus. Zuko dinyatakan meninggal dunia.
Dokter sudah memeriksa. Benar saja, Zuko meninggal karena penyakitnya. Keluarganya tentu bersedih. Termasuk juga Kattara dan Toph. Khususnya bagi Kattara. Baru saja mau berbahagia, tapi kehendak Sang Maha Kuasa harus memanggilnya datang. Tak mungkin ia tentang.
***
Zuko sudah dikebumikan. Batu nisan sudah tertancap di tanah makamnya. Penaburan bunga sudah selesai. Semuanya sudah pulang juga.
Kattara dan Toph yang ada di makam itu. Namun sesedih apapun, Kattara tetap harus mengikhlaskan kepergian Zuko. Cinta pertama dan terakhirnya. Namun ia yakin, Zuko akan bahagia "disana", jika Kattara sendiri bahagia karena orang lain. Mungkin, memang ini jalannya.
"Asal aku bahagia, kau pasti bahagia juga di sana! Selamat tinggal, Zuko! Semoga kau tenang disana! Dengan siapapun aku, cintaku dan kamu akan tetap abadi. Selamanya!"
~ The End ~